MASALAH PENGADILAN

Bacaan1 Korintus 6 : 1 – 11

Jumat, 15 Jun 2012 (malam)


Sulit juga memikirkan masalah pengadilan dalam konteks bergereja. Pada tahun 1989 misalnya ada seorang warga gereja GPIB di Balikpapan yang menggugat Kodam VI Mulawarman dan Majelis Sinode GPIB dalam kasus pemindahan gedung Gereja GPIB di Klandasan, Balikpapan. Sebagai fungsionaris Majelis Sinode waktu itu, peristiwa ini amat menguatirkan. Apabila lima orang warga gereja dari lima Jemaat menggugat Majelis Sinode GPIB ke Pengadilan Negeri, betapa repot Majelis Sinode GPIB.
Jemaat di Korintus berada di tengah kerumunan masyarakat. Masyarakat Yunani terbiasa menghadapi gugat menggugat di dalam pengadilan negara. Sementara itu kita tahu bahwa mencari keadilan dalam suatu dunia yang tidak adil sulit ditempuh melalui gugat menggugat. Pada pihak lain di kalangan Yahudi, apabila terjadi perselisihan, maka pertama-tama masalah pertikaian ini diselesaikan secara internal oleh pemimpin agama dan bukan oleh pihak Negara. Menurut kenyataan ada banyak kejahatan yang menimbulkan pertikaian yang diselesaikan melalui pengadilan negara. Rasul Paulus mengingatkan jemaat di Korintus agar jika terjadi perselisihan, janganlah mencari keadilan di luar lingkungan jemaatnya. Pengarahan, nasehat dan wibawa pemimpin jemaat, mestinya menjadi pertimbangan utama sebagai jalan keluar yang prima. Hidup Kekristenan tidak saja mampu mengendalikan perselisihan di jemaat tetapi juga menjadi kekuatan mendasar bagi pembangunan jemaat.
Masalah gugat menggugat dalam gereja-gereja di Indonesia termasuk GPIB telah berkembang menjadi kenyataan. Padahal kita menyaksikan bahwa wadah pengadilan seringkali telah menjadi tontonan dari ketidak-adilan yang mengenaskan. Yang dapat diandalkan adalah penyelesaian konflik di jemaat diatasi secara adil melalui nasehat dan wibawa penggembalaan oleh pelayan Tuhan di jemaat. Jika hal ini dapat dilakukan maka masalah internal gereja tidak perlu diselesaikan diluar gereja. Asal semua pihak mau terbuka menerima koreksi. Di dalamnya nama Tuhan dimuliakan dan tidak dinodai. (SBU)

KJ.446 ; 3
Doa: Pemberlakuan hukum gereja dan hukum negara secara adil

HINDARI MANAJEMEN KOMPROMISTIS

Bacaan1 Korintus 5 : 9 – 13
Jumat, 15 Jun 2012
Saudara  terkasih ...
Jangan dikira air tenang itu akan terus menyenangkan. Kadangkala di bawah permukaan air yang tenang itu ada pusaran arus deras. Bisa juga ada buaya yang mengintai mangsanya. Jadi lebih baik berhati-hati atau ciptakan kondisi agar buaya ini dapat muncul kepermukaan air. Coba kita kenakan kondisi ini pada jemaat. Artinya begini. Jika anda melihat suatu jemaat tenang-tenang saja, jangan mengira bahwa tidak ada kesulitan mengintai dari dalamnya. Bisa juga bahwa bahaya itu hanya menunggu waktu tepat membuat malapetaka besar, menangkap mangsanya.
Tidak selalu, tetapi kadangkala kondisi ini diciptakan oleh sistem kepemimpinan Majelis Jemaat atau pendeta di jemaat. Maksudnya begini, ada pendapat, yang penting jemaat tenang, tidak ribut-ribut. Tujuan utama pendeta menjaga ketenangan jemaat. Sadar atau tidak terkadang dengan mengorbankan azas-azas berjemaat. Misalnya jemaat itu mempunyai misi untuk memberitakan Injil sukacita. Tetapi ada yang berpikir jika pekabaran Injil ini membawa kesulitan, lebih baik berdiam diri saja, daripada menimbulkan gejolak. Ada anggota Majelis Jemaat yang selingkuh. Daripada tegoran akan menimbulkan keributan, lebih baik mendiaminya. Dengan demikian jemaatnya tenang, tetapi kompromi dengan kejahatan demikian ini akan segera menimbulkan konflik yang berkelanjutan.
Rasul Paulus mensinyalir kejahatan lingkungan diluar jemaat Korintus amat menonjol sehingga perlu menata kondisi jemaat secara positip dan kondusip. Terdapat orang-orang cabul, kikir, penyembah berhala, pengfitnah, pemabuk dan penipu yang ikut mempengaruhi situasi internal jemaat. Jika kondisi ini dilakukan masyarakat diluar jemaat, biarlah mereka dihakimi Allah. Tetapi apabila kejahatan ini dilakukan warga jemaat, maka "usirlah orang yang melakukan kejahatan dari tengah-tengah kamu." (ay.19). Jangan mengembangkan kepemimpinan kompromistis dengan menyebarkan kesalahan warga jemaat dan menimbulkan kekacauan luar biasa yang tidak dikehendaki Allah. Kita perlu membedah kanker kejahatan, agar tidak menular racun berbisa di Jemaat.

Bahan Persiapan Khotbah IRT Rabu, 20 Juni 2012


Bacaan Nehemia 5 : 1 – 13

Latar Belakang
Catatan dari pasal 1 dan pasal 2, menjelaskan alasan mengapa Nehemia kemudian kembali ke Yerusalem untuk membangun kembali tembok Yerusalem yang runtuh. Untuk itu dibutuhkan tidak saja material dan biaya yang besar juga pekerja yang tidak sedikit, tetapi terutama partisipasi seluruh umat, baik yang tinggal maupun yang baru kembali dari pembuangan di Babel. Nah persoalan yang dihadapi Nehemia justru datang dari penghuni Yerusalem di bawah kendali Sanbalat dan Tobia yang tidak menghendaki tembok Yerusalem itu dibangun kembali. Pasal 4 : 7 – 8, menjelaskan kesepakatan untuk menerangi Israel guna menghambat dan menghentikan usaha pembangunan yang sudah dan tengah berjalan. Masalah lain lagi muncul. Kali ini Nehemia menghadapi keluhan umat yang digerogoti hidupnya oleh pajak yang memberatkan. Masalahnya terjadi praktek pemerasan (5:1-5) diantara sesama orang Yahudi. Praktek pemerasan ini tentu saja menghambat pembangunan karena problem ketenagakerjaan. Atas dasar teriakan umat itulah kemudian Nehemia menyampaikan pernyataan sebagaimana tertera pada pasal 5 ayat 6 – 13.

Interpretasi
Bagi Nehemia, makan riba (keuntungan berlipat) dari sesama orang Yahudi, tidak saja berakibat pada permusuhan mereka, tetapi memicu kerukunan diantara umat itu sendiri dan tentu saja itu dengan mudah dicerca dan dimanfaatkan pihak luar (musuh-musuh Israel) yang memang tidak menghendaki Israel membangun kembali tembok Yerusalem (ayat 9). Tetapi yang utama dengan praktek manipulatif seperti itu, umat kehilangan orientasi takut akan Tuhan (ayat 9). Itu sebabnya Nehemia mengingatkan pemuka dan penguasa (ayat 6) untuk : 
1.     Penghapusan hutang (ayat 10).
   2.   Mengembalikan: ladang, kebun anggur, kebun zaitun dan rumah, uang    serta gandum dan minyak hasil perampasan (ayat 11).
    3. Mengikat perjanjian untuk tidak menuntut jasa atas semua material yang    telah dikembalikan.
    4. Menaati janji.

Menyimpang dari ikatan perjanjian itu, akibat yang akan dialami adalah “dikebas Allah dari rumahnya dan hasil jerih payahnya” (ayat 13) dan respon pemuka dan penguasa saat itu adalah AMIN (ayat 13 b).

Makna Teologinya
Persoalan yang dihadapi umat saat itu adalah penderitaan akibat praktek pemerasan dari pemuka dan penguasa yang adalah sesama orang Yahudi itu sendiri. Mengapa ini terjadi? Secara sosio-psikologis, pada umumnya manusia tidak tahan menderita, menghindari kesusahan dengan mengambil jalan pintas dan cepat (melalui pemerasan), sekalipun itu merugikan kebersamaan, terpaksa diambil. Praktek KKN di Indonesia kurang labih sama, dan ini menjadi serius. Intinya manusia kehilangan orientasi pada Tuhan sumber segala berkat, secara sosiologis umat pun kehilangan rasa pedulinya terhadap sesama. Kesadaran vertikal (takut akan Tuhan) mestinya melahirkan kesadaran sosial (horisontal) terhadap sesama yang menderita. Nehemia berkata benar dan tegas serta tepat dengan mengingatkan umat akan pentingnya kesadaran umat, tentang bagaimana membangun solidaritas terhadap sesama. Allah baik dan penuh kasih telah mengembalikan umat dari pembuangan di Babel. Ini harus diingatkan dan ditegaskan agar umat tidak kehilangan orientasinya pada Tuhan dan hanya mementingkan kepentingannya sendiri. Percaya kepada Tuhan, berarti yakin akan kuasa-Nya yang mencukupkan kebutuhan hidup dan tidak perlu kuatir tentang apa pun, sebab Tuhan juga yang menyediakan segala sesuatu.

Aplikasi
Pada bulan Pelayanan – Kesaksian GPIB atau yang disebut bulan PelKes GPIB (jatuh setiap bulan Juni), warga GPIB baik secara individu / personal mau pun institusi / kelembagaan diingatkan tentang pentingnya hidup dalam bingkai kebersamaan secara sinodal. Perhatikan pernyataan Yesus dalam Injil Lukas 4:18-19 , serta seluruh tindakan pelayanan Yesus semasa hidup bersama murid-murid-Nya, misi Allah direalisasikan konkret tanpa berpikir “diri lebih dahulu ditolong baru menolong orang lain”, sama sekali tidak ! mengapa begitu? Jawabannya jelas dan tegas, segala sesuatu yang kita peroleh pun datangnya dari Tuhan. Jika Tuhan menghendaki kita menyatakan kepedulian terhadap sesama, itu tidak berarti orang lain senang lalu kita susah. Pola pikir seperti ini tentu saja melemahkan keuatan kebersamaan kita. Karena itu ntakan misi Allah itu dalam kehidupan dengan sesama dan ingat peringatan Nehemia di atas, Tuhan memberkati kita. AW-12/06/12


DOA; sangat besar kuasanya

YESUS MEMBUATMU BERHARGA