MULIAKANLAH RAJAMU

(Kedaulatan Kristus di tengah Tantangan Iman) 

Wahyu 11:15-18   mencatat sebuah adegan surgawi yang dahsyat: "Lalu malaikat yang ketujuh meniup sangkakalanya, dan terdengarlah suara-suara nyaring di dalam sorga, mengatakan: 'Pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan dan Dia yang diurapi-Nya, dan Ia akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya.'" Nubuat ini menggema di sepanjang zaman, termasuk pada Minggu Pemuliaan Yesus Kristus saat kita merenungkan kenaikan Tuhan Yesus ke takhta sorgawi. Esai ini mengajak kita untuk menjalani hidup penuh tantangan iman dengan meyakini dua hal: pertama, memuliakan Yesus sebagai satu-satunya Raja atas hidup kita; kedua, percaya bahwa Ia tidak membiarkan kita bergumul seorang diri.

1. Kedaulatan Kristus di Tengah Berhala Zaman Ini

Ayat 15 menegaskan bahwa "pemerintahan atas dunia" kini dipegang oleh Tuhan dan Kristus. Kata Yunani basileia (kerajaan) menunjukkan bukan sekadar kuasa politik, tetapi otoritas mutlak atas seluruh ciptaan. Ini adalah deklarasi teologis bahwa meskipun secara kasatmata dunia dikuasai oleh kejahatan, kekaisaran, dan ideologi yang menentang Allah, pada kenyataannya takhta sorgawi telah dimenangkan oleh Anak Domba.

Namun, tantangan iman di masa kini tidaklah berkurang. Berhala-berhala modern—kekayaan, ketenaran, teknologi, ideologi, bahkan diri sendiri—terus menawarkan penyembahan alternatif. Mereka berbisik: "Sembahlah aku, maka engkau akan bahagia, sukses, dan terhormat." Seperti umat percaya abad pertama yang menghadapi kultus Kaisar, kita pun digoda untuk kompromi. Minggu Pemuliaan mengingatkan kita bahwa Yesus bukan sekadar salah satu raja, melainkan *Raja di atas segala raja* (Wahyu 19:16). Memuliakan Dia berarti menolak segala tawaran berhala dengan tegas, mengakui bahwa hanya Dia yang layak menerima hormat, kuasa, dan kemuliaan (Wahyu 4:11).

2. Penghakiman dan Pembelaan: Allah yang Tidak Membiarkan Sendirian

Ayat 18 berbicara tentang murka bangsa-bangsa yang menolak Allah, namun juga tentang "saatnya orang-orang mati dihakimi" dan "memberi upah kepada hamba-hamba-Mu". Ini menunjukkan bahwa sejarah tidak berjalan tanpa arah. Tuhan Yesus yang dimuliakan bukanlah Raja yang pasif; Ia adalah Hakim yang adil dan Pembela umat-Nya.

Kita diyakinkan bahwa sehebat apa pun pergumulan—penganiayaan, pencobaan, kesepian, atau krisis iman—Kristus tidak membiarkan kita melewatinya seorang diri. Dalam Wahyu 11:19, "Bait Suci Allah yang di sorga terbuka", melambangkan akses langsung kepada hadirat Allah. Di sinilah kita menemukan kekuatan: bukan dari dalam diri kita sendiri, melainkan dari Dia yang duduk di takhta. Ia berjanji menyertai hingga akhir zaman (Matius 28:20). Roh Kudus adalah Penolong (Parakletos) yang berjalan bersama kita dalam setiap lembah kekelaman.

3. Teguh dalam Iman: Menuju Mahkota Kemuliaan

Minggu Pemuliaan adalah kesempatan untuk mengarahkan pandangan ke depan. Ayat 15 berkata, "Ia akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya." Kerajaan Kristus bukanlah kerajaan duniawi yang fana, melainkan kerajaan kekal yang puncaknya adalah penyempurnaan segala sesuatu. Bagi mereka yang tetap teguh dalam iman, ada "mahkota kemuliaan" (1 Petrus 5:4) yang disediakan.

Teguh dalam iman berarti terus memuliakan Raja meskipun dunia mengejek. Teguh dalam iman berarti bersandar pada janji-Nya bahwa setiap air mata akan dihapuskan (Wahyu 21:4). Tidak ada pergumulan yang sia-sia karena Kristus sendiri telah melewati salib menuju kemuliaan. Dan kini, sebagai Raja yang hidup, Ia membela kita di hadapan Bapa (Roma 8:34).

Penutup: Hidup di Hadapan Wajah Raja

Wahyu 11:15-19 mengundang kita untuk menyembah dengan penuh keyakinan: "Muliakanlah Rajamu!" Di Minggu Pemuliaan Yesus Kristus, marilah kita menjalani tantangan iman dengan dua pegangan kokoh: pertama, hanya Tuhan Yesus yang kita sembah, bukan berhala zaman ini; kedua, kita tidak sendirian karena Dia berkuasa menolong dan membela. Sebab pada akhirnya, bukan kekuatan kita yang menang, melainkan kedaulatan-Nya. Dan ketika Sang Raja datang dalam kemuliaan-Nya, kita yang setia akan menerima mahkota kehidupan. Amin.

"Dan Ia akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya."  (Wahyu 11:15)

Harapan di Balik Tembok "Mustahil"

Dunia sering kali mendikte kita untuk menjadi realistis. Ketika pintu tertutup.diagnosa memburuk,atau jalan di depan tampak terputus. kata "mustahil" biasanya menjadi titik henti bagi banyak orang.


Namun, bagi kita, kata "mustahil" bukanlah titik akhir; ia hanyalah panggung di mana keajaiban sedang dipersiapkan.

 1.Harapan Bukan sekadar Optimisme

Optimisme adalah percaya bahwa hal baik akan terjadi karena situasinya mendukung. Namun, Harapan adalah percaya bahwa sesuatu itu benar dan bermakna, tidak peduli bagaimana pun hasilnya. Harapan adalah jangkar yang dilemparkan ke masa depan agar perahu kita tidak hanyut oleh badai masa kini.

2. Ketika Logika Berhenti, Iman Bekeria.

Dalam iman, kita mengenal konsep -Spes contra spem- berharap dalam ketidakpastian (Roma 4:18). Seperti Abraham yang berharap memiliki keturunan meskipun secara biologis mustahil, kita pun dipanggil untuk melihat melampaui apa yang terlihat oleh mata. Mata kita melihat tembok, tetapi harapan melihat pintu.

3. Kekuatan dari Penyerahan.

Tetap berharap pada hal yang mustahil bukan berarti kita memaksakan kehendak kita kepada Tuhan.Sebaliknya, itu adalah keberanian untuk berkata:"Tuhan, menurut logikaku ini tidak mungkin, tetapi aku tahu bagi-Mu tidak ada yang mustahil. Aku meletakkan harapanku pada kuasa-Mu, bukan pada kemampuanku."

Jemaat Tuhan, Jangan menyerah hanya karena situasi mengatakan "tidak mungkin". Ingatlah bahwa pelangi hanya muncul setelah hujan, dan fajar selalu hadir setelah malam yang paling gelap.

Tetaplah melangkah, tetaplah berdoa, dan tetaplah percaya. Sebab, sering kali Tuhan menyimpan mukjizat-Nya justru satu langkah tepat setelah kita merasa ingin menyerah.

"Sebab bagi Allah tidak ada vang mustahil" Lukas 1 : 37

BUMI AKAN PENUH PENGETAHUAN TENTANG KEMULIAAN TUHAN

 Bacaan Habakuk 2:9-14

"Sebab bumi akan penuh dengan pengetahuan tentang kemuliaan TUHAN, seperti air menutupi lautan." (ay. 14 TB-2)

Kisah Yesus membangkitkan Lazarus dalam Injil Yohanes pasal 11 menjadi pelajaran yang berharga bagi kita, terutama ketika kita ingin memahami apa arti sesungguhnya dari kemuliaan TUHAN. Dalam kisah tersebut, Yesus menantang Marta, saudara perempuan Lazarus, untuk membuka batu penutup kubur saudaranya yang sudah empat hari dikuburkan. Marta sempat ragu dan keberatan, tetapi Yesus menyampaikan kepadanya bahwa ketika ia percaya maka ia akan melihat kemuliaan TUHAN. Lalu Yesus membangkitkan Lazarus dari kematiannya.

Nabi Habakuk menubuatkan bahwa bumi akan dipenuhi dengan pengetahuan tentang kemuliaan TUHAN, dan benar bahwa nubuat itu dipenuhi oleh percaya kita pada perbuatan TUHAN dalam Yesus Kristus. Ketika kita percaya dalam nama Yesus, maka segala kemuliaan TUHAN akan dinyatakan: keselamatan, pertolongan, kesembuhan, mukjizat, keberhasilan dalam studi, penghargaan melalui pekerjaan, dlsb.

Sahabat, seluruh bumi akan menerima pengetahuan tentang kemuliaan TUHAN melalui iman yang percaya. Karena itu, apalagi yang kita tunggu? Mulailah untuk percaya! Percaya bahwa TUHAN sanggup menjawab doamu. TUHAN sanggup menyembuhkanmu. TUHAN sanggup memberkatimu. TUHAN sanggup menolongmu. TUHAN sanggup membuat engkau bertahan di tengah badai. TUHAN sanggup membelamu ketika orang-orang lain meninggalkanmu. TUHAN sanggup menghapus air matamu. TUHAN sanggup memberi kesabaran dalam setiap situasi. Dan TUHAN sanggup membuat segala sesuatu yang tidak mungkin dan menjadikannya indah pada waktunya.

Mari wujudkan iman percaya kita melalui kesetiaan dan ketaatan, dengan hati yang berserah dan penuh syukur dalam segala keadaan. TUHAN memelihara hidup kita, hari ini sampai selama-lamanya. Bersaksilah terus bagi dunia bahwa dengan percaya kita akan memenuhi bumi ini dengan kemuliaan TUHAN. ROR/jmj

Doa: Ya TUHAN, ajari kami untuk senantiasa percaya sehingga kemuliaan-Mu dinyatakan. Amin

KUNCI UNTUK MELIHAT KEMULIAAN TUHAN ADALAH PERCAYA!

KESOMBONGAN AWAL DARI KEHANCURAN

 Bacaan Habakuk 1:15-17

"Itulah sebabnya dipersembahkannya kurban kepada pukatnya dan dibakarnya kurban kepada jalanya. Sebab, dengan alat-alat itu pendapatannya melimpah dan rezekinya berlimpah ruah." (ay. 16 TB-2)

Kerajaan Singasari pernah mencapai masa kejayaannya di bawah pemerintahan raja Kertanegara. Namun, karena ambisi dan kesombongannya untuk menguasai seluruh Nusantara dan mengabaikan keamanan internal kerajaan, akhirnya kerajaan Singasari hancur akibat serangan tak terduga dari raja Jayakatwang dari kerajaan Kediri pada tahun 1292.

Demikian pula ketika Nabi Habakuk menggambarkan bahwa Kerajaan Babel, yang menghancurkan Yehuda adalah Kerajaan yang jahat dan sombong. Mereka membunuh musuh-musuh mereka tanpa belas kasihan dan menganggap bahwa semua keberhasilan yang diraih adalah hasil dari kemampuan mereka sendiri, terlepas dari campur tangan TUHAN. Padahal, jika bukan karena telah ditetapkan oleh TUHAN (ay. 12), maka Kerajaan Babel itu tidak ada artinya. Pada akhirnya, mereka pun tidak akan luput dari hukuman TUHAN.

Apabila engkau meraih keberhasilan dalam hidup, ingatlah bahwa semua itu terjadi atas anugerah TUHAN. Oleh karena itu, janganlah engkau tergoda untuk menjadi sombong dengan menganggap bahwa keberhasilan tersebut sepenuhnya merupakan hasil jerih payahmu sendiri. Sikap demikian mencerminkan lupa diri dan dapat berujung pada kehancuran yang berasal dari TUHAN. Demikian pula, apabila engkau menyaksikan keberhasilan orang lain, bahkan ketika keberhasilannya melampaui pencapaianmu dan disertai dengan kesombongan yakinlah bahwa keberhasilan tersebut pun berasal dari TUHAN. Namun, kesombongan yang menyertainya pada akhirnya akan mendatangkan kehancuran.

Marilah kita merendahkan hati di hadapan TUHAN, mengucap syukur kepada-Nya, dan setia melakukan kehendak-Nya, sebab hanya dari TUHANlah segala kebaikan dan keberhasilan berasal. Kesombongan akan menuntun manusia pada sikap lupa diri dan meremehkan peran TUHAN, yang pada akhirnya menjadi awal dari kehancuran. Sebab, di luar TUHAN, segala sesuatu tidak memiliki makna dan hanya membawa kesia-siaan. ROR/jmj

Doa: Ya TUHAN, ajarku merendahkan hati untuk mengakui bahwa semua keberhasilanku karena Engkau, Amin

KESOMBONGAN MEMBUAT JURANG KEJATUHAN MU SEMAKIN DALAM.

DOA; sangat besar kuasanya

YESUS MEMBUATMU BERHARGA