"CINTA, CANTIK, CITA"

Bacaan : Kidung Agung 1: 2-6.

“… karena cintamu lebih nikmat dari pada anggur, harum bau minyakmu, bagaikan minyak yang tercurah namamu…”  (ay. 2b,3a)
Orang bisa bertanya, apa makna rohani nas ini. Yang terbaca hanya yang lahiriah belaka, yang lumrah ketika orang jatuh cinta. Yang wanita menyatakan dirinya cantik, walaupun hitam kulitnya. Hitam karena teriknya matahari, katanya, ketika disuruh menjaga kebun anggur (ay.5-6). Ia tidak menyembunyikan kekagumannya terhadap pria yang didambakannya. Kata-kata sanjungan atas sosok dan penampilan pria terucapkan. Cita rasa tercetus serta merta karena hubungan cinta.
Karena cinta terjalin hubungan antara dua insan. Hubungan yang istimewa itu adalah bagian dari pada hidup, yang menjadi cikal bakal kehidupan baru. Ketika Adam dipertemukan dengan pendampingnya, seorang perempuan, tercetus gejolak cintanya: “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki” (Kej. 2:33). Perempuan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari laki-laki. Ia menjadi sesama yang melekat dan dekat pada diri laki-laki. Tuhan sudah menetapkan bahwa kehidupan ini selalu dalam kebersamaan, bukan dalam keseragaman.
Tidak dapat dihindari perjumpaan antar sesama dalam kebersamaan hidup yang begitu majemuk. Acapkali orang merasa lebih aman dan tenteram pada kehidupan yang serba seragam dengan latarbelakang yang sama. Sesama dalam cita rasa itu biasanya  dimaksudkan ‘orang-orang sebangsa’ dengan budaya dan agama yang sama (baca Imamat 19:18).
Ketika Yesus mengutip nas dari Imamat dan menyebutnya ‘hukum yang kedua’. Tidak ada pemahaman di dalamnya bahwa sesama itu orang yang berlatarbelakang sama. Bahkan musuh pun adalah sesama (Mat.5:44), cita rasa yang begitu akrab antara Kristus dan jemaat digambarkan oleh Paulus, laksana hubungan kasih antara suami dan isteri. Kasih adalah  sendi hidup yang tertuju kepada sesama, tanpa menuntut balas jasa (Yoh.3:16). Di bukit Golgota Ia wujudkan kasih itu sepenuhnya.

BERANI BERTANGGUNG JAWAB

Bacaan : Keluaran 22 : 14-17
      Masalah yang sering terjadi dalam kehidupan manusia, dari dulu sampai sekarang adalah terkait pinjam meminjam dan sewa menyewa. Demikian juga masalah seksual, seperti seorang laki-laki membujuk seorang anak perempuan untuk tidur dengannya. Jika dicermati maka tampak bahwa masalah tersebut sangat kena mengena dengan kebutuhan manusiawi. Artinya, orang meminjam uang atau menyewa sesuatu barang, seperti rumah atau kendaraan, karena belum memiliki, dan sangat membutuhkan. Juga dalam hal seorang laki-laki membujuk seorang perempuan adalah karena ia (laki-laki) membutuhkan teman tidur, sekaligus untuk melampiaskan nafsunya.
 
     Upaya pemenuhan kebutuhan tersebut terkadang menjadi masalah yang mengancam kerukunan dan ketentraman masyarakat oleh karena belum adanya aturan baku yang mengaturnya. Apalagi orang yang meminjam atau menyewa tidak bertanggung jawab. Terkadang barang yang dipinjam rusak atau hilang, tanpa penggantian yang layak.
     Dalam kehidupan masyarakat Israel sebagai masyarakat agamis, Musa memandang perlu mengatur masalah tersebut. Pertama, supaya masing-masing pihak tahu hak dan kewajibannya, terutama dalam hal meminjam dan menyewa. Kedua, agar kehidupan moral etis warga Israel terjaga dan tertata dengan baik. Inti dari aturan yang ditetapkan Musa adalah bahwa orang yang meminjam atau yang ditetapkan Musa adalah bahwa orang yang meminjam atau yang menyewa atau yang meniduri seorang perawan harus bertanggung jawab.
    Firman Tuhan mengingatkan kita selalu bertanggung jawab dalam segala hal yang kita lakukan. Dengan melakukan segala sesuatu secara bertanggung jawab maka dipastikan bahwa kehidupan kita di tengah masyarakat akan makin tentram, damai dan sejahtera. Karena kita melakukan sesuatu bukan hanya untuk diri kita semata tetapi juga kepada sesama.

KEKERASAN FISIK DAN PENGANIAYAAN SESAMA

(Keluaran 21 : 26 – 27)
Minggu, 26 Jun 2011
Saudara terkasih...
     Masih adakah perasaan belas kasihan dan nilai-nilai luhur untuk memper-tahankan kehidupan yang saling menghargai sesama manusia? Masih adakah nilai-nilai manusiawi tertanam dalam hati setiap manusia, sehingga hukum rimba tidak berlaku dalam hidup sesama manusia? Jika dikatakan bahwa belas kasihan dan nilai-nilai manusia masih ada dalam kehidupan mengapa masih banyak manusia yang lebih senang menciptakan penderitaan sesama daripada sukacita bagi sesama? Sekarang ini banyak sekali penderitaan yang dialami oleh manusia akibat dari perbuatan manusia sendiri. Bahkan tidak sedikit manusia yang harus kehilangan organ tubuh sehingga menjadi cacat karena kekerasan fisik dan penganiayaan yang terjadi. Yang sangat mengenaskan mereka yang menjadi korban adalah masyarakat kecil bahkan mereka yang harus menjadi tulang punggung keluarga untuk memenuhi kebutuhan hidup.
 
     Ada banyak kekuasaan dan materi yang banyak dimiliki manusia bukan menciptakan kepedulian di antara sesama manusia tetapi justru digunakan untuk menguasai dan berbuat sewenang-wenang kepada orang lain, akibatnya nilai-nilai kemanusiaan yang melekat pada diri sesama manusia menjadi hilang. Kekerasan dilakukan untuk merampas harkat manusia. Sesama manusia menjadi sangat menderita, di pihak lain ada kebanggaan yang hadir pada saat mampu membuat orang lain menjadi menderita. Inilah kenyataan hidup masa kini di mana manusia merasa berhak untuk melakukan apa saja yang disukainya, tanpa ada rasa takut akan tanggungjawabnya kepada Allah.
     Menciptakan atau membuat sesama manusia menderita memang bukan sesuatu hal yang baru dalam kehidupan sesama manusia. Maksudnya adalah bahwa sejak jaman bangsa Israel atau dalam Perjanjian Lama situasi ini telah berlangsung. Para tuan memberlakukan budaknya laki-laki dan perempuan dengan tidak lagi manusiawi. Mereka bukan lagi hanya bekerja keras pagi, siang dan malam untuk mengikuti kemauan tuannya dan bukan pujian atau upah yang mereka terima. Namun banyak yang masih menerima kekerasan fisik dan penganiayaan dari tuannya; bukan hanya rasa sakit yang harus mereka tanggung, tetapi juga kehilangan organ tubuh yang membuat mereka menjadi cacat seumur hidupnya. Walaupun mereka hanya budak yang tidak memiliki hak atas diri mereka sendiri bukan berarti bahwa mereka layak untuk menerima perlakuan yang keji. Bagaimanapun mereka juga adalah manusia ciptaan Allah yang harus dihargai kemanusiaannya. Inilah yang menjadikan Alkitab yang adalah Peraturan Allah memuat tentang hukum yang mengatur tentang kekerasan fisik dan penganiayaan yang dialami oleh budak-budak pada waktu itu. Peraturan ini memuat tentang hak budak untuk menerima kemerdekaan dan pembebasan jika mereka mengalami kekerasan fisik dan penganiayaan serta membuat mereka harus kehilangan organ tubuhnya. Para majikan harus melaksanakan aturan ini tanpa syarat dan tentunya ini akan mengakibatkan kerugian bagi majikan itu sendiri, karena mereka akan kehilangan budak yang harus didapatkan dengan harga yang mahal. Dengan perhitungan akan mengalami kerugian yang besar, maka para majikan akan berhati-hati lagi memberlakukan budak mereka dan menghindari kekerasan fisik dan penganiayaan terhadap budaknya apalagi sampai menghilangkan salah satu organ tubuh mereka. Peraturan Allah ini akan meminimalkan bahkan akan menghilangkan kekerasan fisik dan penganiayaan bagi budak-budak pada waktu itu serta menjunjung nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri. Ada yang lebih utama lagi dari Peraturan Allah ini yang memelihara, menjaga dan melindungi hak manusia untuk hidup sebagai ciptaan Allah yang sering terabaikan dan terlupakan oleh manusia sendiri.
     Kekerasan fisik dan penganiayaan manusia terbukti masih terus terjadi sekarang ini. Sudah banyak korban yang berjatuhan akibat dari tindak kekerasan yang dilakukan oleh manusia terhadap sesamanya. Bahkan bukan hanya kehilangan organ tubuh saja tetapi juga harus kehilangan nyawa. Perlindungan Hukum Allah dan hukum negara sekarang ternyata tidak memberikan kesadaran bagi para majikan untuk lebih bersikap manusiawi terhadap buruh dan pekerja. Hal ini sangat memprihatinkan, karena nilai-nilai kemanusiaan berada dalam titik yang terendah. Jeritan dan perjuangan buruh dan pekerja seolah-olah hilang oleh semakin kejamnya perlakuan terhadap tindakan para majikan. Akibatnya banyak kehidupan para buruh dan pekerja yang berasal dari masyarakat bawah semakin menderita, karena tidak memiliki daya untuk keluar dari kekerasan fisik dan penganiayaan yang datang dari masyarakat atas yang memiliki kuasa yang besar. Praktek-praktek perdagangan manusia juga menambah daftar kekerasan fisik dan penganiayaan yang dialami dalam kehidupan sesama manusia. Menyedihkan sekali karena yang menjadi korban mereka yang berada di bawah umur. Peristiwa ini bukan hanya membuat korban perdagangan manusia yang ikut menderita tetapi penderitaan itu juga dialami oleh setiap keluarga yang kehilangan anggota keluarganya. Melihat realitas yang ada sekarang ini maka bisa kita simpulkan bahwa penderitaan dalam kalangan masyarakat bawah semakin meningkat dan perlu mendapat perhatian dari semua pihak dan perlu meningkatkan kesadaran kepada para majikan agar lebih manusiawi terhadap kehidupan para pekerja dan buruh.
     Kekerasan fisik dan penganiayaan sesama manusia di Indonesia sekarang ini ternyata tidak hanya dialami oleh mereka yang berasal dari masyarakat kalangan bawah saja, tetapi juga harus dialami oleh masyarakat yang berasal dari kelompok penganut agama yang kecil, karena kekerasan fisik dilakukan oleh masyarakat penganut agama terbesar. Hal ini mengakibatkan tidak adanya lagi kebebasan dan kemerdekaan untuk menjalankan ibadah. Seharusnya pemerintah yang adalah alat Allah (lih. Roma 13:1) memberikan perlindungan yang nyata bagi setiap warga negaranya, sehingga tercipta suasana damai dan suka cita dalam kehidupan ini, terlebih warga negara tidak diliputi oleh kekhawatiran dan ketakutan.

Pertanyaan untuk Diskusi :
1. Apa yang ingin disampaikan oleh firman Allah hari ini ?
2. Sebutkan bentuk-bentuk kekerasan fisik dan penganiayaan yang terjadi dalam hidup sesama manusia dan terjadi di sekitar kita !
3. Apa yang harus dilakukan Gereja dan orang percaya sekarang ini dengan semakin meningkatnya kekerasan fisik dan penganiayaan yang terjadi ?
(Sabda Guna Krida)

KERAGAMAN ADALAH RAHMAT ILAHI

1 Korintus 12;12-26

Saudara terkasih....
      Realitas (kenyataan) serta Otoritas (kuasa) Ilahi yang memberikan pencerahan (hikmat dan pengetahuan) perihal makna kehidupan bagi semua makhluk ciptaan Tuhan melalui kisah penciptaan mula-mula sebagaimana yang dicatat dalam Kitab Kejadian, menyatakan bahwa Allah menghendaki "kepelbagaian". Bahwa "keragaman" atau "keberagaman" itu adalah dari Allah. Karena  ia berasal dari Allah atau karena ia adalah juga bagian dari ordo penciptaan Allah-meski tidak langsung, namun terdapat di dalam keberadaan seluruh ciptaan Allah -, maka "kemajemukan" atau "pluralistik" atau "keragaman" itu adalah indah dan baik adanya. Sedangkan, karena kehidup[an yang "seragam"  atau uniform atau cuma satu rupa/bentuk itu adalah bukan merupakan bagian dari ordo penciptaan Allah (bukan kehendak Allah), maka bila ia dipaksakan untuk secara mutlak dan terus-menerus diberlakukan dalam kehidupan ini, akan menimbulkan masalah kemanusiaan bahkan akan menimbulkan kejahatan kemanusiaan yang menyebabkan celaka, petaka dan bencana yang mengerikan. Sebutlah misalnya : kengerian dari bencana kemanusiaan yang dialami oleh kaum Yahudi dari rezim Nazi yang dipimpin Adolf Hitler sebelum perang duania ke dua; kengerian yang terjadi di 'ladang pembantaian' warga non komunis oleh rezim komunis Khemer Merah di Veitnam pada sekitar tahun 1970-an; kengerian akibat gnosida : pembersihan (dengan pembantaian) etnis Bosnia oleh penguasa Hersegovina; kengerian dari tindak kekerasan atas nama agama di negeri ini sebagaimana yang pernah terjadi di Ambon dan di Poso serta yang terjadi beberapa waktu lalu di Cikeusik (pembantaian terhadap umat Ahmadiah) dan di Temanggung : pengrusakan dan pembakaran Gereja. Inilah contoh-contoh daari kenyataan yang terjadi akibat pemaksaan kehendak dari apa yang Tuhan tidak kehendaki.
     Selain dari pada beberapa catatan mengenai bencana kemanusiaan yaang mengerikan tersebut diatas, bila kecerdasan kita juga kita gunakan untuk menelaah catatan sejarah tentang kegagalan dua perang besar bermotif agama pada zaman dulu untuk tujuan "Kristenisasi" dan Islamisasi"' menunjukan bahwa, Tuhan tetap tidak berjkehendak umat ciptaan-Nya menggunakan kekerasan atas nama agamauntuk memaksakan kehendak guna terjadinya keberdaan hidup yang 'seragam'; bukan 'beragam' sebagaimana yang Tuhan mau. Akibatnya yang terjadi adalah bukan kedamaian dan kesejahteraan hidup melainkan kesusahan dan penderitaan yang tiada berujung, sampai peperangan demi pewujudan ambisi dan nafsu kedagingan yang berkedok petahuan pada perintah agama itu manusia hentikan.
     Akan halnya "kepelbagaian" atau "keragaman" yang terjadi di Korintus  akibat dorongan semangat dan kreatifitas untuk membangun dan meningkatkan pelayanan sehingga bermunculan kelompok-kelompok pelayanan di jemaat Korintus. Secara teologis dan secara sistematika (managemen-pelayanan) bagi Paulus merupakan hal yang sebenarnya dapat bermakna positif dan prospektif (menjanjikan); suatu dinamika berjemaat yang berpotensi dapat merubah kelemahan menjadi kekuatan dan tantangan menjadi peluang untuk mewujudkan kebersamaan yang berdaya-guna dan berhasil-guna menghadirkan shalom bagi pembangunan jemaat (pembangunan tubuh Kristus). Itulah sebabnya dalam bagian dari perikop bacaan kita Paulus menulis : "...Allah telah memberi kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya. Andaikata semuanya adalah satu anggota, di manakah tubuh? Memang ada banyak anggota, tetapi hanya satu tubuh... Supaya jangan terjadi perpecahan di dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan." (ayat 18-21, 25).
     Perhatikan kalimat : "... Allah telah memberi kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya.."  dalam nas bacaan kita. Dengan menganalogikan (mengibaratkan) kepelbagaian (keragaman) peran dan fungsi serta tanggung-jawab dalam berjemaat atau dalam menanggung-jawabi pelayanan dalam berjemaat bagaikan "anggota-anggota tubuh" yang Tuhan tempatkan pada tempat dan fungsinya masing-masing secara unik (secara khas/khusus) dalam keberadaannya yang berbeda tapi satu dalam semangat; "semua untuk satu" dan 'satu untuk semua". Seharusnya "kepelbagaian" tersebut adalah 'aset' atau 'modal' untuk dapat mewujudkan karya-karya yang besar yang menyukacitakan hati Tuhan dan hati sesama; namun karena "kepelbagaian" atau "keragaman" (perbedaan) itu lantas digunakan untuk tujuan persaingan yang tidak sehat serta digunakan untuk kepentingan diri dan kelompok sendiri maka yang mewujud adalah realitas (kenyataan) yang bertentangan dengan apa yang dikatakan di ayat 25 : supaya jangan terjadi perpecahan di dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan.."
     Yang terjadi di Korintus adalah ibarat masing-masing anggota tubuh saling menyombongkan diri dan melecehkan yang lain; yang satu merasa tidak memerlukan bantuan anggota tubuh yang lain; ibarat kaki bilang pada mata : aku tidak membutuhkan engkau. Maka selanjutnya yang terjadi adalah tubuh yang celaka dan lumpuh atau tubuh yang cacat/tubuh yang tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Itulah realitas Korintus dalam konteks penulisan surat 1 dan 2 Korintus; komunitas yang terpecah; komunitas yang kehilangan toleransi; komunitas kehilangan kerukunan; komunitas yang mengalami kematian solidaritas serta mengalami kematian kesatuan dan persatuan. Akibatnya, menjadi komunitas atau jemaat yang gagal; gagal menghadirkan diri menjadi rahmat bagi alam semesta. Buktinya, mereka adalah jemaat yang kaya dan mapan tapi tidak kunjung dapat mengumpulkan dana kemanusiaan atau bantuan diakonia bagi jemaat Yerusalem yang tengah dilanda bencana kelaparan yang dasyat. Mereka sebenarnya kaya dan banyak memiliki tokoh intelektual, tapi menjadi miskin dan tampak begitu lamban dan bodoh serta memalukan.
     Pesan spiritual atau pesan etis-teologis dari nas bacaan kita adalah : (1) Sadarilah akan realitas "keragaman" atau realitas "kebhinekaan" yang ada dalam kehidupan berumah-tangga dan berjemaat kita lalu bersyukur dalam doa (ibadah ritual) maupun dalam kegiatan pelayanan yang konkret (ibadah aktual) untuk saling melengkapi, saling bertolong-tolongan, bergandengan trangan serta bahu-membahu demi mencapi visi dan misi pelayanan ber GPIB kita bersama, yakni hadir mewujudkan damai sejahtera Allah bagi seluruh ciptaan melalui praktik hidup sebagai gereja  yang terus menerus diperbaharui. Kita hadir untuk memberlakukan kesetiakawanan-sosial serta kerukunan serta melalui kehadiran  yang membangun keutuhan ciptaan dalam memberi perhatian terhadap lingkungan hidup, semangat keesaan dan semangat kesatuan dan persatuan. (2) Bawa dan berkelakuan pula pola serta semangat kehidupan "rupa-rupa karunia tapi satu Roh" itu ke ranah kehidupan sosial kemasyarakatan dengan turut berperan membangun dan memperkuat jejaring dialog lintas iman (dialog antar umat beragama) baik di tingkat sinodal, mupel maupun lokal jemaat oleh masing-masing Majelis Jemaat setempat baik berupa dialog dengan perkataan tapi utamanya  dialog dalam program kegiatan kemasyarakatan yang konkret. (3) Berhentilah berbantah-bantahan dan hidup dalam perselisihan/ketidak-akuran; bangunlah dengan tulus dan jujur persekutuan jemaat Tuhan; karena hidup dalam perbantahan dan perselisihan/hidup dalam ketidak-aturan hanyalah akan mendatangkan celaka. Kita Amsal mengingatkan : "lebih baik sekerat roti disertai dengan ketentraman, dari pada makan daging serumah disertai dengan perbantahan. Orang yang serong hatinya akan jatuh kedalam celaka." (Amsal 17:1 dan 20). (4) Kelola dan manfaatkan semaksimal mungkin "kebhinekaan" atau "keragaman" yang Tuhan anugerahkan dalam kehidupan  ini untuk mewujudkan "kesatuan" dan "kekompakan" serta "kerukunan". Karena jelas hukumnya : bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Hidup dalam "kerukunan" adalah hidup yang baik dan indah di mata Tuhan. Mengenai hal ini, dengan gamblang Alkitab kita katakan : "Sungguh alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun .... sebab kesanalah TUHAN akan memerintahkan berkat, kehidupan untuk selaman-lamanya." (mazmur 133). ++++E.R.R+++++SGD.

PENJELASAN TATA IBADAH

       Istilah 'Ibadah' berasal dari bahasa Arab, yang mempunyai akar kata yang sama dalam bahasa Ibrani 'abodah' yang berarti pengabdian kepada Tuhan (perhatikan akar kata yang sama digunakan : ' b d ). Jadi, beribadah berarti mengabdi kepada Tuhan. Istilah 'ibadah' mempunyai arti yang sama dengan 'kebaktian' yang diturunkan dari bahasa Sansekerta, yang artinya berbuat bakti kepada Tuhan.
     GPIB menggunakan istilah ibadah bukan kebaktian; karena itu salah satu perangkat teologi adalah 'Tata Ibadah'; bukan Tata Kebaktian.
     Ibadah merupakan kegiatan utama yang dapat ditemui dalam semua agama. Walaupun demikian, pemahaman tentang ibadah serta bentuk dan tatanan ibadah di masing-masing agama, berbeda yang satu dengan yang lainnya; baik bentuk, isi, maupun tujuannya. Jika, di dalam agama-agama non Kristen, ibadah dipahami sebagai upaya manusia untuk memperoleh berkat dari Tuhan maka ibadah Kristen dipahami sebagai suatu ungkapan syukur atas berkat yang Tuhan sudah berikan kepadaa umat-Nya; khususnya atas karya penyelamatan Allah dalam Yesus Kristus.
     Ibadah adalah perayaan (ritual)  dan penghayatan (aktual) umat atas perbuatan penyelamatan Allah bagi seisi bumi, khusus manusia melalui hidup dan karya Kristus. Karena itu, Ibadah bukan upaya umat untuk memperoleh atau menggapai keselamatan, melainkan sebagai jawaban umat atas keselamatan yang telah  dikaruniakan Allah. Itu sebabnya GPIB meletakan 'Pokok Keselamatan' sebagai pokok pertama dalam 'Pemahaman Iman-nya.
     Ibadah sebagai perayaan ( Ritual) terjadi dalam pertemuan umat dengan Tuhan untuk memperingati perbuatan penyelamatan Allah dalam kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Karena itu pusat ibadah adalah Yesus Kristus, Firman yang hidup itu.
     Kata 'memperingati' disini bukan dalam arti mengenang kembali atau menggali ingatan kita tentang peristiwa yang pernah terjadi di masa lampau. Tetapi, 'memperingati' mengandung arti menghadirkan atau mengaktualisasikan peristiwa yang pernah terjadi di masa lalu untuk dialami kembali pada masa kini. Peristiwa yang diaktualisasikan dalam ibadah adalah peristiwa kematian  dan kebangkitan Yesus. Walaupun telah terjadi di waktu lampau namun kematian dan kebangkitan Kristus tetap aktual di masa kini.
    Ketika umat mengaktualisasikan kematian dan kebangkitan Kristus, Tuhan berkenan hadir. Oleh sebab itu, ibadah menjadi pertemuan antara umat dengan Tuhan, dimana pertemuan itu berlangsung secara dialogis; bukan monolog. Itulah hakekat ibadah bagi gereja.
     Ibadah sebagai pertemua umat dengan Tuhan yang telah dialami, akan mempengaruhi serta mewarnai  kehidupan umat setiap hari. Dengan perkataan lain, ibadah ritual selalu harus bermuara dalam kehidupan sehari-hari. Ibadah ritual berlanjut menjadi ibadah sebagai kehidupan nyata atau disebut ibadah aktual.
     Jelas bahwa ibadah mempunyai arti ganda, yakni ibadah sebagai perayaan (ritual) dan ibadah sebagai kehidupan nyata (aktual). Keduanya adalah ibadah umat. Yang satu mengambil bentuk perayaan, sedangkan yang lain mewujudnyata dalam kehidupan sehari-hari. Keduanya tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain; sebaliknya saling menujang, melengkapi, mempengaruhi dan mewarnai.

KEUNGGULAN KRISTUS

Bacaan : Ibrani 1 : 1 -4
Bacaan selama satu minggu berbicara dan memberi pemahaman pada KEUNGGULAN KRISTUS. Yesus Kristus yang adalah Tuhan dan Juruselamat. Hal ini oleh penulis Ibrani memberi tekanan mendasar dan berfokus pada dan tentang "KARYA atau TINDAKAN PENYELAMATAN" dan dikembangkan dengan tema 2011-2012 : "MANUSIA YANG TERUS MENERUS DIPERBAHARUI" dan khususnya tema Mei - Juni 2011 "MANUSIA BARU MENJADI BERKAT BAGI LINGKUNGAN".

Keunggulan Kristus berawal bahwa "oleh DIA" Allah telah menciptakan alam semesta (ayat 2). Dia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah (ayat2). Seluruh katya ciptaan-Nya tidak dibiarkan terlantar dan punah. Firman-Nya yang penuh kekuatan menopang seluruh ciptaan-Nya. Termasuk lingkungan hidup sekitar manusia. Manusia yang mendapat tugas untuk memelihara dan mengelola ciptaan secara bertanggung-jawab. Bertanggungjawab kepada Sang Pencipta (kejadian 1:28). Memelihara dan mengelola. Tugas pokok manusia bertitik tolak dari tindakan Allah yang memelihara dan memerintah ciptaan-Nya. Pemeliharaan dan pemerintahan ini disimpulkan dalam pengertian "PROVIDENTIA" (PROVIDENSIA). Providensia : Kepercayaan bahwa diatas segala perubahan kehidupan manusia dan perkembangan  jagat ada tujuan kebaikan dari Allah. Untuk segala sesuatu ada alasan, betapapun pahitnya. Allah tidak saja bertanggungjawab menciptakan tetapi juga memelihara tata ciptaan itu. Dan sejarah adalah suatu perkembangan yang terus maju ke suatu tujuan yang Tuhan ketahui sebelumnya (mazmur 104:31-33)

Dalam Perjanjian Baru Providensia Allah itu terutama nyata dalam Yesus. Yesus adalah jaminan bahwa janji Allah dari sediakala digenapi dan akan membawa umat manusia kepada keselamatan (1 Petrus 1:3-9). Ibrani menulis pengertian menopang bermuatan dan berdasarkan Providensia Allah tersebut diatas.

Selanjutnya harus dikemukakan bahwa pemeliharaan dan pemerintahan Allah tersebut mempunyai maksud bahwa Allah menunjuka seluruh umat manusia itu menjadi sasaran perawatan-Nya dan yang dijaga-Nya. Kita (=gereja) wajib dan layak menjadi berkat bagi lingkungan hidup/lingkungan sekitar kita. Kita(=gereja) wajib bertanggungjawab untuk bekerja dalam rangka memelihara dan melestarikan alam. Tuhan mempercayakan pemeliharaan dan pemerintahan (Providensi) tersebut kepada kita ( =gereja) dengan penuh tanggungjawab demi kesejahteraan manusia dan kelangsungan hidup sesama ciptaan-Nya.

Kalau Tuhan mencipta dengan Firman-Nya. Ia memelihara dan memerintah serta menata ciptaan-Nya dengan karya dan tindakan-Nya. Maka kita (=gereja) mendengarkan dan memberlakukan Firman-Nya dalam kata dan karya kita.  ====G.J.S.+++ SGU mei 2011)

HANYA OLEH KASIH KARUNIA ALLAH

Efesus 2 : 1 - 7
Minggu, 22 Mei 2011
       Pernahkah kita melihat putra-putri kita atau anak-anak mudah jatuh cinta dan dia menjadi sangat semangat untuk melakukan apa saja demi orang yang dicintainya atau demi kekasihnya? Apa yang mereka lakukan kadang menurut kita tidak masuk akal. Misalnya walau hari hujan lebat tetapi demi janji dengan sang kekasih seorang pemuda rela kehujanan untuk berjumpa dengan kekasihnya. Suatu tindakan yang belum tentu dilakukannya terhadap saudaranya atau bahkan orang tuanya. Siapa pun pasti akan mengerti hal seperti itu kalau dia pernah merasakan kekuatan cinta kasih. Kekuatan kasih itu sungguh luar biasa dan itulah yang sesungguhnya dialami oleh setiap orang beriman. Tuhan Allah di dalam Kristus telah memilih untuk mencintai atau mengasihi manusia walaupun sesungguhnya manusia tidak layak untuk dicintai atau dikasihi.
       Paulus memulai pasal ini dengan pernyataan "kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa." Pernyataan ini menegaskan bahwa setiap orang sebelum berada dalam Kristus, ia telah mati karena pelanggaran dan dosanya. Mati berarti berada di luar harkat diri sebagai manusia yang serupa dan segambar dengan Sang Khalik. Sebelum orang berada dalam iman kepada Kristus, ia hidup menurut keinginan-keinginan manusianya yang dikendalikan oleh nafsu dunia.
     Berada di luar Kristus digambarkan oleh Paulus sebagai mati. Tidak mampu membawa diri dan kehidupannya ke arah yang baik dan menyenangkan. Berada di luar Kristus membuat setiap orang selalu mengarahkan dirinya  kepada kehancuran diri sendiri. Menurut Paulus, kita semua sebenarnya ada dalam keadaan seperti itu. Mati karena dosa dan pelanggaran kita. Kita menjadi terpisah dari Allah. Keterpisahan dari Allah dapat membuat kita lama kelamaan tidak lagi kuatir terhadap akibat dosa dan pelanggaran kita; membuat kita tidak lagi merasa ngeri atau takut, bahkan makin menyenangi hal-hal yang semula kita anggap dosa dan pelanggaran. Kita senang dan suka melakukannya dengan pengetahuan dan kesadaran penuh. Akibatnya kita kehilangan tujuan dan arah hidup kita sebagaimana tujuan Tuhan menciptakan kita.
    Allah menciptakan kita dengan tangan kasih-Nya. Dia menciptakan kita sehakekat atau serupa dan segambar dengan-Nya, yang dirasakan-Nya dalam hati, yang penuh kasih, dituangkan-Nya dengan dengan polesan tangan kasih-Nya ketika dia membentuk kita dari debu. Atau ketika kita dibentuk dalam rahim ibu, orang tua kita tidak mampu menentukan bagaimana kita dibentuk, tetapi yang pasti pertumbuhan kita di dalam rahim ada di dalam perhatian Kasih-Nya; di sana pun tangan kasih Allah membentuk kita. Mengapa? Karena Dia melalui hidup kita, dunia mengenal Dia yang mengasihi dunia. Melalui kehadiran kita, dunia mengenal cinta-kasih dan kehendak-Nya serta menerima semua yang baik yang diberikan Allah bagi dunia.
     Hal ini hilang ketika dosa menyebabkan kita terpisah dari Allah. Kita kehilangan tujuan penciptaan-Nya atas kita dan kehilangan arah hidup kita. Namun kita bersyukur karena Allah, di dalam kasih-Nya yang luar biasa telah menjatuhkan pilihan hati-Nya untuk mengasihi kita kembali. Allah di dalam Yesus Kristus memilih kita untuk menjadi milik-Nya yang dipulihkan. Ia memilih kita, bukan karena kita pantas dan layak; bukan karena Ia menghargai apa yang kita buat setiap waktu. Dia memilih kita karena Ia mau. Ia ingin agar kita mengalami lagi kasih-Nya; memiliki lagi citra kita sebagai 'serupa dan segambar dengan_nya.' Itulah anugerah yang dilimpahkan Allah kepada kita. Di dalam Kristus, Allah melakukan karya besar yang sulit dimengerti oleh dunia dan manusia. Karya besar yang didasarkan pada kasih yang tidak terbandingkan, yang melampaui segala sesuatu dan sangat berlimpah. Kasih yang sangat lebar dan panjang, tinggi dan dalam, dan yang tidak terselami. (band. 3 : 18).
     Demi pilihan kasih-Nya atas kita Ia rela mengambil rupa seorang hamba, lahir di kandang, dewasa dalam pengembaraan untuk berkarya walau tidak punya tempat untuk membaringkan kepala-Nya, lalu menderita dan mati di salip. Sebuah pilihan cinta kasih yang tidak dapat dan tidak mampu dilakukan oleh siapa pun dan tidak dapat ditiru oleh siap pun.Dan itulah yang telah dilakukan oleh Allah di dalam Kristus. Karena kasih-Nya, Allah di dalam Kristus telah dan selalu melakukan hal-hal yang sungguh indah dan berguna bagi kita. Kini sebagai wujud kasih kita atas anugerah yang telah memilih kita dan menguduskan kita untuk mengalami kebaikan-Nya maka mari kita pakai kehidupan kita untuk melakukan hal-hal yang baik, indah dan berguna bagi semua orang dan untuk kemuliaan Tuhan. S.H.R.  SGD 






YESUS MENYERAHKAN NYAWANYA DAN MATI


 Bacaan Matius 27 : 45 - 50
Hari ini semua orang percaya di seluruh dunia memperingati Hari Kematian Yesus Kristus. Ia mati sebagai akibat persekongkolan politik yang dilakukan penguasa agama Yahudi dan penguasa Romawi pada masa itu.  Yesus Kristus dituduh sebagai pemberontak. sebab sepanjang hidup-Nya Dia melakukan aksi-aksi  yang dianggap melawan kekuasaan yang sah; baik kekuasaan agama, maupun politik. Oleh karena itu, Dia dihukum mati secara tersalib. Dalam pikiran mereka para penguasa yang menghukum-Nya, penyaliban dan kematian Yesus akan menghentikan dan bahkan mematikan seluruh aksi dan gerakan-Nya. Sebab para pengikut-Nya tidak akan berani menghadapi resiko disalib seperti yang dialami oleh Yesus.

Para penguasa, tentu tidak merasa sedih karena telah menyalibkan Yesus. Para murid pun, meskipun sedih namun karena diliputi ketakutan maka mereka tidak berani menampakkan kesedihannya di hadapan Yesus yang tersalib. Hanya beberapa perempuan, termasuk ibu Yesus, juga Yohanes, yang tetap berdiri dari jauh sambil memandang Yesus yang sedang tergantung di salib dengan wajah dan hati yang hancur dan sedih. Yang justru sangat memperlihatkan wajah kesedihannya atas penyaliban dan kematian Yesus adalah alam ciptaan-Nya. memang, disadari atau tidak bahwa alam lebih menghormati dan mengagungkan Tuhan, sang Pencipta, daripada manusia. Alam ikut rusak oleh ulah manusia yang jahat dan berdosa. Dan alam sadar dan tahu betul bahwa kematian Yesus di salib adalah juga untuk menyelamatkan dan memulihkan alam semesta dari kerusakan akibat dosa. Itu sebabnya alam sedih dan berduka atas kematian Yesus. Itulah yang kita baca dalam bacaan Alkitab.

Dinyatakan dengan jelas bahwa tiba-tiba hari menjadi gelab. Matahari menyembunyikan wajahnya dan enggan bersinar karena tidak tega melihat derita dan kematian Yesus. Kegelapan meliputi seluruh daerah sekitar Golgota, tempat Yesus disalib selama tiga jam. Guntur dan kilat sahut-menyahut menggemakan bunyi sebagai tanda protes terhadap tindakan manusia, khusus para penguasa yang telah menjatuhkan hukuman mati bagi Yesus.

Peristiwa kegelapan tiga jam  mengingatkan kita pada peristiwa yang sama yaitu kegelapan selama tiga jam  yang terjadi mengawali kematian anak-anak sulung orang-orang Mesir. Perbedaannya adalah jika kegelapan tiga di Mesir mengawali kematian anak-anak sulung orang Mesir, sehingga umat Israel bebas dan selamat maka kegelapan tiga jam di golgota mengawali kematian Anak Sulung Allah sehingga seisi dunia, khusus manusia bebas dan selamat. 

 Disaksikan bahwa kira-kira jam tiga, Yesus berteriak memanggil Bapa-Nya. Sebagai manusia, Yesus sangat merasakan saat itu bahwa  Allah  Bapa meninggalkan Dia sendirian selama di salib. Orang-orang yang hadir di situ ttentu tidak mengerti perasaan hati Yesus. Mereka hanya menyangka bahwa Yesus sedang memanggil Elia untuk menyelamatkan-Nya. Ada juga yang tetap menghina Yesus dengan memberi minum anggur asam kepada-Nya, ketika Ia berkat "Aku haus!" Perasaan ditinggalkan oleh Allah, Bapa-Nya, datang seiring dengan harapan yang besar agar Allah, Bapa segera hadir untuk melenyapkan rasa sakit dan perih yang kian merasuk seluruh tubuh dan sukma. Harapan itulah yang menumbuhkan keyakinan yang makin besar di hati Yesus bahwa Allah tidak pernah meninggalkan Dia. Karena itu, apa pun yang terjadi, Yesus tetap ingin menyerahkan nyawa-Nya ke dalam tangan Allah, Bapa-Nya. Yesus tidak mau mati dalam kebimbangan dan keputusasaan. Dia sudah berkomitmen untuk menjalani semua sesuai lehendak Bapa-Nya. Dia yakin bahwa Allah sanggup menyelamatkan-Nya. Karena itu, dengan suara nyaring, Yesus berseru dan menyerahkan nyawa-Nya.

Dalam setiap penderitaan yang kita alami, baik dalam kesusahan hidup sehari-hari, maupun saat penyakit dan kematian mengancam, kita pun sering merasa sendiri. Hati kita sedih dan hancur karena orang-orang terdekat pergi menjauh; bahkan kita anggap bahwa Tuhan pun telah meninggalkan kita. Dalam situasi dan kondisi tersebut, janganlah tergoda untuk menyerahkan diri dan hidup kita kepada manusia dan kuasa apa pun. Penyerahan diri Yesus di salib mengajar kita untuk selalu menyerahkan diri dan hidup kita ke dalam tangan Tuhan Yesus. sebab hanya Dia yang sanggup menyelamatkan kita, baik selama hidup di dunia maupun saat mati. Hidup tidak selamanya gelap, karena ada siang. Tetapi jika saat ini kegelapan sedang menguasai hati, hidup dan usaha-pekerjaan kita, jalani semuanya bersama Yesus maka hanya sesaat saja kegelapan, karena terang mulai merekah dan menerangi selamanya. 

DALAM KELEMAHAN; PELAYANAN KITA SEMPURNA

Bacaan Matius 4 : 1 – 11
Minggu, 09 Januari 2011

     Saat memasuki suatu medan pekerjaan tertentu, setiap orang harus menjalani masa orientasi atau pengenalan. Hal ini dimaksudkan agar sebelum bekerja, seseorang sudah mendapat gambaran dan mengetahui kondisi dan situasi yang akan dihadapinya selama bekerja. Dengan begitu, ia mampu mempersiapkan diri dengan baik, khusus mental spiritualnya, sehingga ketika sudah bekerja ia tetap bertahan untuk bekerja dengan setia dan rajin, meskipun kondisi dan situasi yang dihadapinya sangat sulit dan menantang. Sebab umumnya, setiap orang hanya mau bekerja di dalam situasi dan kondisi yang baik dan aman. Sehingga ketika situasi dan kondisi tidak aman  maka ia akan mundur dan berhenti.
     Apa yang dituliskan oleh penginjil Matius dalam perikop kita dapat juga dipahami sebagai suatu masa orientasi atau pengenalan Yesus terhadap kondisi pelayanan yang akan dihadapi di dalam dunia. Melaluinya kita tahu bahwa kondisi ddan situasi pelayanan yang akan dimasuki dan dihadapi oleh Yesus di dunia bukanlah kondisi yang baik dan aman. Sebaliknya, penuh kesulitan, tantangan dan godaan. Kondisi tersebut akan membuat Yesus sebagai seorang manusia dapat tergoda dan jatuh, jika Ia tidak kuat untuk melawan dan menolaknya. Dikisahkan bahwa Yesus dibawa oleh Roh Allah di padang gurun untuk dicobai oleh iblis. Tidak dikatakan bahwa Yesus harus berpuasa selama empat puluh hari sebelum dicobai oleh iblis. Dan bukan juga suatu resep yang jitu bahwa orang-orang percaya harus berpuasa selama empat puluh hari agar bisa mengalahkan godaan atau cobaan dari iblis. Hanya dijelaskan bahwa setelah berpuasa empat puluh hari, empat puluh malam, maka laparlah Yesus. Jadi, dalam hal ini bukan puasa yang ditekankan, tetapi ’laparlah Yesus’. Sebab ketika Yesus lapar maka datanglah si pencoba dan mencobai-Nya.
     Tiga hal yang iblis pakai sebagai strategi untuk menggoda keinginan manusiawi serta keilahian Yesus adalah: ’merubah batu menjadi roti/makanan’ (ayat 3), ’keinginan untuk mempertontonkan kuasa’ (ayat 6) dan ’keinginan untuk memiliki seluruh kekayaan dan kenikmatan dunia (ayat 8).
Pertam, iblis tahu bahwa Yesus sangat lapar dan membutuhkan makanan, sehingga ia meminta Yesus untuk merubah batu menjadi roti. Sebagai Anak Allah, Yesus pasti bisa melakukannya. Itu hal kecil bagi Yesus. Tetapi karena iblis yang memintanya maka Yesus menolak. Strategi yang dipakai Yesus adalah percaya dan yakin pada firman yang tertulis bahwa ’Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.’
Kedua, iblis tidak mau kalah kepada Yesus. Karena itu, dalam pencobaan kedua, ia memakai strategi Yesus, yaitu mengutip firman yang tertulis. Yesus dibawa ke atas bubungan Bait Allah dan meminta Dia untuk menjatuhkan diri-Nya ke bawah. Yesus bisa mempertontonkan kuasa-Nya dengan terjun ke bawah dan melayang-layang melebihi ’supermen’ atau ’batmen.’ Tetapi Ia sadar bahwa yang meminta hal itu adalah iblis; bukan Allah. Karena itu, Yesus mengutip firman yang tertulis yang menegaskan bahwa iblis tidak boleh mencobai Tuhan Allah.
Ketiga, iblis tahu bahwa manusia sangat ingin kekayaan dan kenikmatan dunia. Bahwa manusia tidak segan-segan untuk berpaling dari Allah demi harta benda duniawi. Karena itu, dalam godaan ketiga iblis berjanji bahwa semua kerajaan dan kenikmatan dunia akan diserahkan kepada Yesus, jika Yesus sujud dan menyembah iblis. Yesus hanya sujud menyembah kepada Allah, Bapa-Nya. Ia tidak terbuai dengan semua kemegahan dan kenikmatan dunia. Apalagi menggantikan kedudukan Allah dengan iblis demi kenikmatan dunia. Maka Yesus meminta iblis untuk lenyap dari hadapan-Nya, sebab bukannya iblis yang berkuasa atas dunia tetapi Allah. Sehingga ada tertulis bahwa seluruh makhluk termasuk iblis harus sujud menyembah kepada Allah.
     Tidak seorangpun yang tahan dengan tawaran yang menggoda. Apalagi semuanya memberikan kemudahan untuk memuaskan diri di dalam dunia. Tawaran iblis sangat menggiurkan, namun akhirnya adalah maut. Iblis tidak pernah mau menunjukkan hasil akhir dari semua tawarannya karena sudah pasti manusia akan menolaknya. Iblis lebih menekankan pada prosesnya yang terkadang cara yang dipakai iblis adalah menipu korbannya. Iblis memberikan gambaran yang indah jika mengikut dia. Padahal kita tahu bahwa iblis sendiri tidak pernah menikmati keindahan itu. Yesus berani menolak semua ajakan dengan tegas, karena ia sadar bahwa Ia hanya mau taat pada perintah Bapa-Nya; bukan perintah iblis. Yesus juga percaya bahwa Bapa-Nya tidak akan pernah meninggalkan Dia dalam keadaan apa pun. Jadi, bersama dan di dalam Yesus, kita pun akan menang terhadan iblis dan semua godaannya. =====sgk===E.P.S.====

BERJUANG TANPA MERAMPOK


Renungan Minggu, 02 Januari 2011

Bacaan Alkitab Ulangan 2 : 1 – 7
Sesungguhnya  yang kita lihat pada kitab Ulangan adalah praktek ‘menceritakan ulang’ apa yang dialami Israel dalam perjalanan di padang gurun. Konteksnya adalah perpisahan. Musa mengantar umat Israel sampai ke tapal batas tanah perjanjian. Tetapi dia tidak diperbolehkan Tuhan untuk  ikut masuk kedalam tamah perjanjian itu. Yosua akan memimpin bangsa itu menyeberang Yordan untuk menduduki tanah perjanjian.
Musa sangat berkepentingan untuk menuturkan kembali apa-apa yang terjadi karena beberapa alasan. Pertama, karena pengalaman dengan generasi Mesir, maksudnya generasi yang keluar dari Mesir. Praktis mereka adalah orang tua dari umat kepada siapa Musa bertutur. Generasi Mesir mengalami penindasan tetapi juga mengalami peristiwa-peristiwa dimana Tuhan melepaskan mereka dari Mesir, malahan dengan bencana dan kematian pada pihak Mesir. Kedua, karena  selain Yosua dan Kaleb, maka yang dihadapi Musa adalah generasi padang gurun. Generasi ini mengalami peperangan-peperangan yang keseluruhannya hanya berupa penolakan terhadap mereka. Dan mereka harus menghadapi penolakan-penolakan ini dengan pengorbanan yang tidak kecil. Ketiga, Musa yakin akan rencana penyelamatan oleh Allah yang sedang dilakukan lewat Israel. Dia malah yakin bahwa setelah dia akan muncul seorang pemimpin umat yang menyelamatkan bukan hanya Israel, melainkan seluruh muka bumi. Keempat, Musa mengalami kesamaan antar generasi Mesir dan generasi padang gurun. Sama-sama keras kepala, sama-sama gampang membelok dari hukum Allah, sama-sama keras hati. Karena itu yang Musa lakukan adalah merefleksikan pengalaman bersama. Pengalaman iman bersama merupakan kenyataan yang tidak bisa dibantah oleh siapapun. Pengalaman iman bersama merupakan titik temu bagi mereka sekalian. Bagaimanapun keadaannya Israel tidak bisa menyangkal garis keturunan mereka. Pada garis keturunan itu ada ikatan-ikatan persaudaraan. Selama bergenerasi-generasi, ikatan ini tidak pernah terlihat, karena Israel di Mesir dan bani Esau diluar Mesir. Tapi Israel juga memelihara tuturan sejarah hubungan mereka dengan Esau. Bagaimana nenek moyang mereka Yakub menipu Esau. Dan bagaimana permusuhan laten antara bani Esau dengan bani Israel. Mereka sadar bahwa kalau diberikan kesempatan bani Esau akan mencelakakan mereka. Tapi berkat Tuhan memastikan bahwa Yakub menjadi tuan Esau. Jadi Israel juga bisa saja melakukan pemaksaan dan kekerasan terhadap bani Esau. Dalam hubungan inilah Tuhan berfirman  lewat Musa agar Israel tidak boleh melakukan kekerasan terhadap bani Esau. Mereka akan melewati daerah Esau. Dan mereka tidak boleh mengambil sesuatu secara Cuma-Cuma dari bani Esau. Mereka harus membeli apa yang mereka butuhkan. Sebab Esau sendiri diberkati Tuhan, sekalipun bukan berkat utama seperti yang diberikan kepada Yakub, leluhur Israel. Ada peringatan khusus dengan kata ‘hati-hati’, untuk menunjukkan bahwa Tuhan Allah sendiri yang memasang tanda ‘awas’ itu. Melewatinya akan membawa bencana.
Kita memasuki hari kedua dalam tahun ini. Suatu perjalanan panjang baru saja kita mulai. Tetapi nyatanya kita tidak melakukan perjalanan kehidupan dalam suatu situasi yang bebas kesulitan. Banyak kesulitan akan menghadang. Tapi kita diutus kedalam dunia ini untuk menjadi bagian dari dunia ini. Dengan kata lain, kita tidak diutus untuk mendatangkan kerugian bagi sesama. Kita diutus untuk menghadirkan damai sejahtera bagi sesama. Sama seperti Israel berada di tanah Esau dan tidak boleh merugikan Bani Esau, demikian juga kita diutus kedalam masyarakat kita bukan untuk mendatangkan kerugian, melainkan untuk mendatangkan damai sejahtera.
Perilaku kehidupan yang mendatangkan damai sejahtera, itulah yang akan merupakan penilaian masyarakat atas kehadiran kita. Perilaku mendatangkan damai sejahtera itu juga yang menumbuhkan benih persaudaraan dan kebersamaan. Persaudaraan dan Kebersamaan itulah yang justru makin menipis di negeri ini, sebab setiap orang dan setiap kelompok ingin menang dan sejahtera sendiri sekalipun orang lain menjadi korban. Kekerasan, keterpurukan, kebodohan dan pembodohan semuanya berawal dari egoisme primordial yang mestinya menjadi sasaran perilaku pelayanan kita. Kalau ini kita lakukan dengan serius, maka kita akan menjadi alat Tuhan untuk memperbaiki negeri ini. Dan untuk maksud itulah sebetulnya Tuhan hadirkan kita sebagai umat-Nya, kini dan disini.------------------sTh.K-----------

RENUNGAN AKHIR TAHUN

TUHAN AKAN TERUS MENGEMBALAKAN HIDUP KITA

Mazmur 23 : 5 – 6

Tanpa terasa kita telah sampai di hari terakhir tahun 2010. Beberapa jam lagi kita akan menutup lembaran hidup kita di tahun yang lama 2010 dan segera memasuki tahun baru 2011.
Sebagian dari kita mungkin menganggap perjalanan hidup sepanjang tahun ini sebagai hal biasa. Tetapi kebanyakan dari kita pasti akan menganggap dan mengalaminya sebagai hal yang indah dan ajaib, yang Tuhan anugerahkan bagi kita. Sebab kita tahu bahwa kehidupan sepanjang tahun ini tidak mudah. Siapa yang bisa bertahan dalam kesulitan ekonomi, kekacauan politik, bencana alam, ancaman dan teror, kemiskinan, pengangguran, pelanggaran HAM serta semua yang telah terjadi dan mewarnai kehidupan sepanjang tahun ini? Tidak seorangpun akan mampu bertahan, jika Tuhan tidak menyertai dan menolong kita. Tuhan memperhatikan kehidupan kita sehingga ketika kita berada dalam situasi yang sulit dan penuh tantangan maka ia segera menyelamatkan kita serta memimpin kita melewati berbagai situasi sampai tiba di penghujung tahun ini.
Bacaan kita di malam akhir tahun ini ingin menggemakan kembali tantang pengembalaan Tuhan terhadap kehidupan kita sebagai domba-domba-Nya di sepanjang tahun ini. Tugas gembala adalah menggembalakan domba-domba supaya domba-domba tidak kekurangan apa pun, khusus makanan dan minuman. Karena itu, gembala selalu menggembalakan domba-domba ke padang rumput yang hijau dan air yang sejuk. Tidak hanya itu, gembala juga selalu memimpin domba-domba untuk berjalan di jalan yang rata agar domba-domba tidak terjatuh. Gembala juga harus selalu melindungi domba-domba dari serangan binatang buas, sehingga doma-domba selalu merasa terlindung dan tidak takut bahaya.
Penjelasan tersebut di atas secara umum adalah gambaran tugas dari gembala yang baik dan bertanggungjawab terhadap keselamatan domba-domba gembalaanya. Sebab kita tahu bahwa ada juga gembala yang jahat. Gembala yang jahat bekerja hanya untuk upah. Ia tidak peduli domba-domba sehat atau sakit. Ia hanya memikirkan diri dan keselamatannya sendiri. Ketika binatang buas datang ia menghindar dan tidak melindungi domba-dombanya, sehingga domba-domba tercerai-berai dan bahkan dimakan oleh binatang buas.
            Tuhan adalah Gembala yng baik. Ia selalu memperhatikan dan memenuhi kebutuhan hidup kita sehari-hari. Ia juga telah menuntun serta menggembalakan kita, sehingga kita mampu menjalani kehidupan sepanjang tahun di tengah berbagai kesulitan dan tantangan, godaan dan musuh mengganggu dan mengancam hidup kita. Kita pernah tersesat karena tidak mau dituntun oleh Tuhan sebagai gembala kita. Kita tidak berjalan di jalan yang benar sehingga musuh menerkam kita. Tetapi sang gembala yang baik, yakni Tuhan selalu mencari dan membawa kita kembali. Ia menghalau musuh-musuh kita, bahkan menjamu kita di hadapan musuh-musuh kita. Tidak hanya itu, Tuhan sebagai gembala juga mengangkat kita sebagai orang pilihan-Nya dan mengurapi kita. Ia bahkan menjamin bahwa jika kita menyerahkan kehidupan kita dibimbing oleh-Nya maka segala sesuatu yang kita lakukan akan berhasil. Piala hidup kita tidak pernah kosong, tetapi melimpah. Sehingga setiap kita melangkah di sepanjang jalan hidup ini, kita selalu akan diikuti dengan kebajikan dan kemurahan-Nya. Kita akan mengalami hidup sejahtera dan bahagia selamanya, sehingga ingin bersama dan bersekutu dengan-Nya selalu di dalam rumah-Nya.
            Tuhan Yesus yang sudah datang. Ia datang untuk kita sebagai umat gembalaan-Nya. Kita semua pasti sudah menyambut dan menerima Dia di hati dan hidup kita. Tuhan Yesus adalah gembal yang baik bagi kita. Ia sangat mengenal setiap pribadi dan keluarga kita yang sudah menyambut dan menerima-Nya. Ia juga pasti sangat mengetahui keberadaan kita, khusus apa yang kita butuhkan di tahun baru yang akan kita jelang. Tidak ada seorang pun di antara kita yang tahu apa yang akan terjadi di tahun baru nanti. Semua masih gelap dan kelam bagi kita. Tetapi Tuhan Yesus mengetahui semuanya. Segala sesuatu yang akan terjadi di tahun baru masih rahasia bagi kita, tetapi tidak bagi Tuhan Yesus. Peperangan, penindasan, kemiskinan, kelaparan, gempa bumi dan berbagai kesulitan ekonomi, politik dan sosial yang mengancam kehidupan kita di tahun baru, Tuhan Yesus tahu. Karena itu, ia pasti telah merencanakan segala sesuatu yang baik dan indah  kepada kita sehingga kita akan menghadapi dan mengatasi semua kesulitan dan ancaman tersebut. Masalahnya sekarang adalah ’apakah kita mau menyerahkan diri dan hidup serta usaha/pekerjaan atau pelayanan kita kepada Tuhan Yesus, sang gembala kita? Apakah kita mau memberi diri kita untuk dibimbing oleh-Nya? Apakah kita mau berjalan mengikuti-Nya di jalan yang benar, dan tidak berjalan mengikuti jalan kita sendiri?
            Firman Tuhan hari ini mengatakan bahwa jika memberi diri serta seluruh hidup dan kerja/pelayanan kita ke dalam pengembalaan sang gembala kita yang baik, yakni Tuhan Yesus maka lihatlah nanti bahwa di tahun baru kita semua, baik pribadi, keluarga dan persekutuan, tidak akan pernah kekurangan. Piala hidup kita tidak akan pernah kosong, tetapi melimpah terus. Setiap kali kita melangkah di sepanjang jalan hidup ini, di mana, kapan dan bagaimana pun, kita akan selalu diikuti dengan kebajikan dan kemurahan Tuhan. Tubuh, roh dan jiwa kita kuat dan sehat karena selalu dikenyangkan dengan firman Tuhan. Kita mampu melakukan tugas dan pekerjaan kita dengan sukacita. Karena Tuhan akan membuatnya berhasil. Ia juga akan menghalau semau lawan atau musuh yang menantang dan mengancam hidup kita. Sehingga kita semua akan mengalami hidup sejahtera dan bahagia selamanya. Baik di bumi, maupun di surga kelak, Ia akan selalu bersama kita dan kita kita juga akan selalu bersama dan bersekutu  dengan-Nya di dalam rumah-Nya untuk memuji Dia dan bersyukur kepada-Nya.
Mari kita tinggalkan tahun yang lama 2010 dengan penuh syukur dan bersiap menyongsong dan memasuki Tahun Baru, Tahun Rahmat TUHAN, 2011 dengan sukacita karena Tuhan Yesus akan berjalan bersama kita untuk memasukinya, dan bahkan Dia akan terus menggembalakan kita dengan kasih dan kesetiaan-Nya. SELAMAT! --------AF-----------


PESAN NATAL BERSAMA PGI DAN KWI

PESAN NATAL BERSAMA
PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA (PGI)
KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA (KWI)
TAHUN 2010

“Terang yang sesungguhnya sedang datang ke dalam dunia”

Saudara-saudari yang terkasih,
segenap umat Kristiani Indonesia di mana pun berada,
Salam sejahtera dalam kasih Tuhan kita Yesus Kristus.

  1. Pada saat ini kita semua sedang berada di dalam suasana merayakan kedatangan Dia, yang mengatakan: “Akulah terang dunia; barang siapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup”. Dalam merenungkan peristiwa ini, rasul Yohanes dengan tepat mengungkapkan: “Terang yang susungguhnya itu sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya: Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya”. Suasana yang sama juga meliputi perayaan Natal kita yang terjalin dan dikemas untuk merenungkan harapan itu dengan tema: “Terang yang sesungguhnya sedang datang ke dalam dunia”.
  2. Saudara-saudari terkasih.
Kita bersyukur boleh hidup dalam suatu negara yang secara konstitusional menjamin kebebasan beragama. Namun akhir-akhir ini gejala-gejala kekerasan atas nama agama semakin tampak dan mengancam kerukunan hidup beragama dalam masyarakat. Hal ini mencemaskan pihak-pihak yang mengalami perlakuan yang tidak wajar dalam masyarakat kita. Kita semakin merasa risau akan perkembangan “peradaban” yang mengarus-utamakan jumlah penganut agama; “peradaban” yang memenangkan mereka yang bersuara keras berhadapan dengan mereka yang tidak memiliki kesempatan bersuara; “peradaban” yang memenangkan mereka yang hidup mapan atas mereka yang terpinggirkan. Peradaban yang sedemikian itu pada gilirannya akan menimbulkan perselisihan, kebencian dan balas-dendam: suatu peradaban yang membuahkan kematian daripada budaya cinta yang menghidupkan.
            Keadaan yang juga mencemaskan kita adalah kehadiran para penanggungjawab publik yang tidak sepenuhnya memperjuangkan kepentinggan rakyat kebanyakan. Para penanggungjawab publik memperlihatkan kenerja dan moralitas yang cenderung merugikan kesejahteraan bersama. Sorotan media massa terhadap kinerja penanggungjawab yang kurang peka terhadap kepentingan masyarakat, khususnya yang terungkap dengan praktik korupsi dan mafia hukum hampir di segala segi kehidupan berbangsa, sungguh-sungguh memilukan dan sangat memprihantinkan karena itu adalah kejahatan sosial.
            Sementara itu keadaan masyarakat yang semakin jauh dari sejahtera, termasuk sulitnya lapangan pekerjaan, semakin memperparah kemiskinan di daerah pedesaan dan perkotaan. Keadaan ini diperberat lagi oleh musibah dan bencana yang sering terjadi, baik karena faktor murni alami maupun karena dampak campur tangan kesalahan manusiawi, terutama dalam penanganan dan penanggulangannya. Sisi-sisi gelap dalam peradaban masyarakat kita dewasa ini membuat kita semakin membutuhkan Terang yang sesungguhnya itu.
            Terang yang sesungguhnya, yaitu Yesus Kristus yang menjelma menjadi manusia, sudah datang ke dalam dunia. Walaupun banyak orang menolak Terang itu, namun Terang yang sesungguhnya ini membawa pengharapan sejati bagi umat manusia. Di tengah kegelapan, Terang itu menumbuhkan pengharapan bagi mereka yang menjadi korban ketidak-adilan. Bahkan di tengah bencana pun muncul kepedulian yang justru melampaui batas-batas suku, agama, status sosial dan kelompok apa pun. Terang itu membawa Roh yang memerdekakan kita dari pelbagai kegelapan, sebagaimana dikatakan oleh penginjil Lukas: “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertidas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang”.
            Natal adalah tindakan nyata Allah untuk mempersatukan kembali di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu yang telah diciptakan-Nya. Semua yang dilihat-Nya itu baik adanya itu, yang telah dirusakkan dan diceraiberaikan oleh kejahatan manusia, menemukan dirinya di dalam Terang itu. Oleh karena itu, dengan menyambut dan merayakan Natal sebaik-baiknya, kita menerima kembali, - dan demikian juga menyatukan diri kita dengan – karya penyelamatan Allah yang baik bagi semua orang.
            Di dalam merayakan Natal sekarang ini, kita semua kembali diingatkan, bahwa Terang sejati itu sedang datang dan sungguh-sungguh ada di dalam kehidupan kita. Terang itu, Yesus Kristus, berkarya dan membuka wawasan baru bagi kesejahteraan umat manusia serta keutuhan ciptaan. Inilah semangat yang selayaknya menjiwai kita sendiri serta suasana di mana kita sekarang sedang menjalani pergumulan hidup ini.
  1. Saudara-saudari terkasih.
Peristiwa Natal menbangkitkan harapan dalam hidup dan sekaligus memanggil kita untuk tetap mengupayakan kesejahteraan semua orang. Kita juga dipanggil dan diutus untuk menjadi terang yang membawa pengharapan, dan terus bersama-sama mencari serta menemukan cara-cara yang efektif dan manusiawi untuk memperjuangkan kesejahteraan bersama.

Ü     Bersama Rasul Paulus, kami mengajak seluruh umat Kristiani di tanah air tercinta ini: “Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan”, karena dengan membalas kejahatan dengan kejahatan, kita sendirilah yang dikalahkannya.
Ü     Selanjutnya kita wajib ikut-serta mewujudkan masyarakat yang sejahtera, adil dan makmur, bahkan melalui uasaha-usaha kecil tetapi konkrit seperti menjalin hubungan baik dengan sesama warga masyarakat demi kesejahteraan bersama. Kita turut menjaga dan memelihara serta melestarikan lingkungan alam ciptaan, anatara lain dengan menanam pohon dan mengelola pertanian selaras alam, dengan tidak membuang sampah secara sembarangan; mempergunakan air dan listrik seperlunya, mempergunakan alat-alat rumahtangga yang ramah lingkungan.
Ü     Dalam situasi bencana seperti sekarang ini kita melibatkan diri secaraa proaktif dalam pelbagai gerakan solidaritas dan kepedulian sosial bagi para korban, baik yang diprakarsai gereja, masyarakat maupun pemerintah.
Ü     Marilah kita memantapkan penghayatan keberimanan Kristiani kita, terutama secara batiniah, sambil menghindarkan praktik-praktik ibadat keagamaan kita secara lahiriah, semu dan dangkal. Hidup beragama yang sejati bukan hanya praktik-praktik lahiriah yang ditetapkan oleh lembaga keagamaan, melainkan berpangkal pada hubungan yang erat dan mesra dengan Allah secara pribadi.
Akhirnya, marilah kita menyambut dan merayakan kedatangan-Nya dalam kesederhanaan dan kesehajaan penyembah-penyembah-Nya yang pertama, yakni para gembala di padang Efrata, tanpa jatuh ke dalam perayaan gegap-gempita yang lahiriah saja. Marilah kita percaya kepada Terang itu yang sudah bermukim di antara kita, supaya kita menjadi anak-anak Terang. Dengan demikian perayaan Natal manjadi kesempatan mulia bagi kita untuk membangkitkan dan menggerakan peradaban kasih sebagai tanda penerimaan akan Terang itu dalam lingkungan kita masing-masing. Dengan pemikiran serta ungkapan hati itu, kami mengucapkan:

SELAMAT NATAL 2010 DAN TAHUN BARU 2011

Jakarta, 12 November 2010-12-26

Persekutuan Gereja—Gereja di Indonesia (PGI)
Pendeta Dr. A.A. Yewangoe
 Ketua Umum

Pendeta Gomar Gultom, M.Th.
Sekretaris Umum

Konferensi Waligereja Indonesia (KWI)
Mgr. M.D. Situmorang, OFMCap
Ketua

Mgr. J. M. Pujasumarta
 Sekretaris Jenderal

DOA; sangat besar kuasanya

YESUS MEMBUATMU BERHARGA