Tampilkan postingan dengan label MATERI KATEKESASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MATERI KATEKESASI. Tampilkan semua postingan

TATA IBADAH GPIB



Materi ke – 40
Pokok Bahasan : Ibadah dan Doa
Sub Pokok Bahasan : Tata Ibadah GPIB
Tujuan Pembelajaran Khusus :
  1. Mengetahui dan memahami Tata Ibadah GPIB.
  2. Mampu menghayati setiap rumpun Ibadah dalam Tata Ibadah GPIB dengan benar.
  3. Dapat merefleksikan Ibadah seremonial dalam ibadah aktual sehari-hari.
TATA IBADAH GPIB
I.           PENGANTAR
Kegiatan ibadah tidak serta merta dapat dilakukan begitu saja tanpa pemahaman dan penghayatan yang sungguh dan benar. Karena itu Rasul Paulus menulis : “Latihlah dirimu beribadah” (1 Timotius 4:7b). Lebih lanjut Rasul Paulus berkata, “……. ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini, maupun untuk hidup yang akan datang. (1 Timotius 4:8). Dengan demikian ibadah adalah suatu hal yang amat penting bagi hidup orang-orang percaya, karena ibdah itu ternyata tidak hanya sekedar kita berkumpul di dalam ruangan ibadah (gedung gereja) semata-mata melainkan juga menyangkut kehidupan sehari-hari masa kini dan masa depan orang Kristen. Karena itu maka Ibadah orang Kristen harus diatur atau ditata dengan baik.

II.          IBADAH SEBAGAI PERJUMPAAN ALLAH DENGAN UMAT.
Mengapa Ibadah orang Kristen harus berlangsung dengan hikmat dan tertib? Karena Ibadah merupakan media yang dikuduskan oleh anugerah kasih Allah, sehingga melalui ibadah tersebut Allah berkenan menyatakan diri-Nya kepada Umat.
Dengan demikian makna Ibadah pada prinsipnya bukan sekedar suatu perbuatan ritual atau seremonial kerohanian, tetapi lebih tepat dalam ibadah tersebut terjadi pengalaman iman orang percaaya yaitu perjumpaan Allah dan manusia.
Banyak kosa kata tentang ibadah dalam Alkitab. Diantaranya adalah kata Yunani “Latreuo” atau “Latreia “ (Roma 12 : 1 ; Filipi 3 : 3). Kata Latreuo atau Latreia dapat berarti melayani ; mengabdikan seluruh hidup kepada Allah ; pelayanan kepada Allah atau ibadah kepada Allah.
Jadi ibadah adalah, menyembah Allah atau mengabdi kepada Allah. Dan dalam rangka mempersembahkan ibadah kepada Allah, para hambaNya harus menundukkan diri untuk mengungkapkan rasa takut penuh hormat, kekaguman dan ketakjuban penuh puja kepada Tuhan. (Kejadian 24 : 26 … berlutut dan sujud menyembah Tuhan). Hal itu dapat dilakukan secara pribadi, tapi juga melalui ibadah umat (bersama).
Umat datang menyembah Tuhan karena Tuhan datang dalam kemuliaan dan menyatakan kebesaran kasih-Nya. Inilah sebuah perjumpaan kudus yang terjadi antara Tuhan dengan umat-Nya. Perjumpaan ini dihayati orang Kristen dalam Ibadah.

III.         APA ITU TATA IBADAH ?
Tata Ibadah adalah sarana yang dipergunakan umat dalam rangka menata jalannya Ibadah, sebagai perjumpaan Allah dengan umat-Nya. Kalau kita mau bertemu / menghadap Presiden pasti ada aturan (protokoler) yang mengatur jalannya pertemuan tersebut, apalagi kita mau bertemu/menghadap Tuhan, tentu tidak boleh sembarangan.
Tata Ibadah bermuasal dari apa yang disebut dengan “liturgi”. Liturgi berasal dari kata Yunani: leitourgia (Kisah Para Rasul 13:2). Asal katanya adalah “laos” (artinya rakyat) dan “ergon” (artinya pekerjaan). Jadi, liturgi adalah pekerjaan yang dilakukan oleh rakyat / umat secara bersama-sama. Dalam konteks ibadah Kristen, liturgi adalah kegiatan peribadahan di mana seluruh umat yang dating beribadah terlibat secara aktif dalam pekerjaan bersama untuk menyembah dan memuliakan Tuhan.
Oleh karena semua anggota jemaat harus terlibat secara aktif, maka perlu ditentukan kapan giliran mereka berpartisipasi dalam ibadah dan bagaimana bentuk partisipasi itu (apakah bernyanyi, berdoa, mendengar Firman Tuhan, memberi persembahan, dengan cara berdiri, duduk dll). Penata jalannya ibadah tersebut adalah TATA IBADAH, yang menata dengan rapi dan tertib proses jalannya peribadahan Umat. Dapatkah kita membayangkan kalau pelaksanaan ibadah tanpa penataan yang baik?, pasti kacau balau. Karena itu agar tidak terjadi kekacauan dalam ibadah umat maka semua pelaksanaan atau pelayanan perlu didasari pada sikap dan spiritualitas yang baik, sopan dan tertib, “Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera” (1 Korintus 14:33). Rasul Paulus juga menyampaikan suatu nasihat agar kita mengutamakan ketertiban yang dilandasi oleh kasih. Ia menasehatkan “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban” (2 Timotius 1:7).

IV.        TATA IBADAH GPIB
Tata Ibadah sebagai penata jalannya perjumpaan Tuhan dengan umat dikemas dalam 4 (empat) “babak”. Dalam Tata Ibadah dipakai istilah “rumpun”, yaitu:
Rumpun I             : MENGHADAP TUHAN
Rumpun II            : PELAYANAN FIRMAN /SAKRAMEN
Rumpun III           : JAWABAN UMAT
Rumpun IV          : PENGUTUSAN
Setiap Rumpun terdiri dari beberapa unsur. Selengkapnya (Tata Ibadah Hari Minggu) adalah :

I. M E N G H A D A P  T U H A N
Nyanyian Umat datang menghadap Tuhan

VOTUM
PF : Pertolongan kepada kita adalah dalam nama Tuhan yang menjadikan langit dan bumi
U : 1 . 1
A – min

NAS PEMBIMBING
PF :
 . . .
SALAM
PF        : Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita dan dari Tuhan kita Yesus Kristus, menyertai Saudara sekalian

U : 1 . 7 . 1
A – min
U : (menyanyi) duduk

PENGAKUAN DOSA
P : (mengajak umat mengaku dosa)
U : menyanyi (Kyrie Eleison)

BERITA PENGAMPUNAN DOSA
PF : Sebagai Pelayan Yesus Kristus, kami memberitakan, bahwa pengampunan dosa telah berlaku dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus ~ disertai nas tentang Berita Pengampunan
U : menyanyi . . .
AMANAT HIDUP BARU
PF     : (mengajak umat berdiri, membaca Amanat Hidup Baru) .......    Kiranya Roh Kudus menolong kita untuk mewujudkan kemuliaan Allah dalam hidup kita dan diseluruh dunia
U : menyanyi (Nyanyian Kemuliaan)
Duduk
II. PELAYAN FIRMAN & SAKRAMEN
DOA MOHON BIMBINGAN ROH KUDUS
PF :
PEMBACAAN ALKITAB
Pembaca : (mengajak umat membaca Alkitab) ..
Demikianlah Firman Tuhan,Terpujilah Kristus, Maranatha / Hosiana / Haleluya
Umat : menyambut dengan nyanyian Maranatha / Hosiana / Haleluya

PEMBERITAAN FIRMAN

PF : memberitakan Firman
U : menyanyi . . .
Pelayanan Sakramen Baptisan / Perjamuan Kudus
III. JAWABAN UMAT
PENGAKUAN IMAN diucapkan bersama sambil berdiri, sikap sempurna
DOA SYAFAAT  (alternatif : Syafaat, syafaat + Doa Bapa Kami, Doa Bapa Kami)
UNGKAPAN SYUKUR
Diaken : Mengajak umat bersyukur disertai landasan Nas Alkitab dan mengajak jemaat menyanyi
Umat : menyanyi . . . . memberi persembahan (diiringi organ) menyanyi . . .
berdiri
Diaken : Doa Persembahan
duduk
IV. P E N G U T U S A N
WARTA JEMAAT
AMANAT PENGUTUSAN

PF : mengajak umat berdiridan menyampaikan Amanat Pengutusan
U : menyanyi .............
BERKAT
PF : Arahkanlah hatimu kepada Tuhan dan terimalah berkat-Nya : . . . . .
U : menyanyikan : Amin, amin, amin
V. PENJELASAN SETIAP RUMPUN
a. MENGHADAP TUHAN
Votum mengandung arti sebagai proklamasi kehadiran Tuhan dan bahwa Ibadah yang berlangsung adalah dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus. Sedangkan salam diucapkan oleh Pelayan tanpa mengangkat tangan, karena salam bukanlah berkat. Formulasi salam dapat disesuaikan dengan tahun gereja. Nas Pembimbing adalah nas yang berhubungan dengan tahun gereja serta nas khotbah. Ketika mempersiapkan nyanyian dan unsur tetap lainnya, sebaiknya nas pembmbing juga disesuaikan. Pengakuan Dosa merupakan sikap umat yang menyadari akan semua bentuk kegagalan dalam mentaati kehendak Tuhan yang disampaikan dalam doa kepada-Nya. Berita Anugerah merupakan ungkapan penegasan bahwa pengampunan dosa telah Kristus nyatakan melalui pengorbanan-Nya.
Amanat Hidup Baru perlu dipahami sebagai amanat bagi umat yang telah menerima pengampunan. Amanat Hidup Baru disesuaikan dengan Tahun Gereja. Amanat Hidup Baru disambut oleh umat dengan nyanyian Kemuliaan.
b. PELAYANAN FIRMAN
Doa Mohon Bimbingan Roh Kudus atau yang juga disebut Epiklese merupakan doa yang berisi permohonan bimbingan Roh Kudus untuk Pembacaan dan Pemberitaan Firman. Alkitab sebagai landasan Pemberitaan Firman mengikuti jadwal pembacaan Alkitab yang ditetapkan oleh Gereja (GPIB). Pemberitaan Firman perlu dipahami sebagai penjelasan terhadap Bacaan Alkitab dan merupakan petunjuk bagi kehidupan beriman umat sehari-hari.
c. JAWABAN UMAT
Pengakuan Iman bukanlah doa. Karena itu Pengakuan Iman diucapkan sambil berdiri, dengan sikap sempurna dan tidak diakhiri dengan Amin. Pengakuan Iman dipahami sebagai jawaban umat terhadap Firman Tuhan dalam bentuk pengakuan. Pengakuan Iman diucapkan sambil berdiri, adalah simbol dari sikap gereja dan orang percaya yang berdiri dihadapan Tuhan dan di tengah-tengah dunia dengan berbagai macam keyakinan agama, aliran, tantangan, hambatan dan pengaruh. Di hadapan Tuhan dan di tengah dunia ini gereja dan orang percaya mengikrarkan pengakuan imannya.
Gereja mengenal 3 bentuk Pengakuan Iman, yakni Pengakuan Iman Rasuli, Nicea-Konstantinopel dan Pengakuan Iman Athanasius. Pengakuan Iman Nicea dan Athanasius dapat digunakan pada hari-hari Raya Gerejawi.

Berdasarkan Ketetapan Persidangan Sinode, ada tiga bentuk doa syafaat yang dapat digunakan dalam Ibadah Minggu, yakni Doa Syafaat tanpa Doa Bapa Kami, Doa Syafaat diakhiri dengan Doa Bapa Kami, dan hanya Doa Bapa Kami. Doa Bapa Kami sebaiknya diakhiri dengan Doksologi yang dinyanyikan. Karena berlajar dari sejarah, kalimat terakhir dari doa tersebut merupakan puji-pujian yang dinyanyikan.

Ungkapan Syukur merupakan istilah yang digunakan untuk menggantikan istilah persembahan syukur. Karena syukur umat diungkapkan melalui tiga bentuk ungkapan: menyanyi, memberi persembahan dan doa persembahan. Sebaiknya ketiga ungkapan tersebut tidak diungkapkan secara sekaligus melainkan secara terpisah. Itulah sebab-nya mengapa umat diajak untuk mengungkapkan syukur melalui nyanyian syukur, kemudian memberi persembahan syukur, lalu menaikkan doa syukur.

d. PENGUTUSAN

 Warta Jemaat dipahami sebagai warta pengutusan. Artinya warta jemaat bukan sekedar informasi tentang perkembangan Jemaat, melainkan sebagai panggilan bagi umat untuk berperan serta dalam pelayanan Jemaat. Sebagai contoh, jadwal ibadah keluarga yang diwartakan merupakan panggilan bagi umat untuk berperan di dalamnya. Warta tentang warga Jemaat yang sakit adalah panggilan bagi warga jemaat untuk mendoakannya, baik dalam ibadah keluarga maupun dalam doa masing-masing keluarga.

Pesan Pengutusan adalah rangkuman dari inti pemberitaan Firman yang disampaikan kepada umat untuk diberlakukan sebagai pengutusan dalam kehidupan sehari-hari. Berkat dipahami sebagai janji penyertaan Tuhan bagi umat dalam melaksanakan Firman Tuhan yang telah diberitakan di tengah-tengah kehidupan sehari-hari. Berkat Tuhan diaminkan oleh umat dengan menyanyi amin. Setelah itu umat diberi kesempatan untuk saling bersalaman satu dengan yang lain sebagai wujud persekutuan, dan juga bersalaman dengan para pelayan ibadah. Demikianlah ibadah sebagai ritual telah selesai dan diteruskan dengan ibadah aktual dalam hidup sehari-hari; Karena itu di akhir ibadah tidak ada nyanyian yang biasanya disebut nyanyian pengiring. Fungsi nyanyian bukan untuk mengiring pelayan ke luar ruang ibadah melainkan untuk memuji Tuhan.

Daftar Pustaka
1.     Abineno, JL,Ch, Ibadah Perjanjian Baru, BPK Gunung Mulia, 1997
2.     GPIB, Tap. Persidangan Sinode GPIB tahun 1982 dan 2005.
3.     Rachman, Rasid. Hari Raya Liturgi: Sejarah dan Pesan Pastoral Gereja. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003.
4.     Vatican Council II.The Constitution on the Sacred Liturgy.
5.     White, James F. Introduction to Christian Worship: Third Edition. Nashville: Abingdon, 2000.
6.     Willemon, William H. The Service of God: How Worship and Ethics Are Related. Nashville: Abingdon, 1990

TATA GEREJA
Adalah himpunan dan susunan semua penata aturan gerejayang teranyam dan terurai dengan serasi, seimbang dan selaras untuk mengatur dan memberi arah bagi seluruh kegiatan gereja.
Informasi garis besar Tata Gereja pada halaman berikut hanya terbatas pada Daftar Isi / Pasal-pasal.

KANON PERJANJIAN BARU

Materi 8
Pokok Bahasan : Alkitab
Sub Pokok Bahasan : Perjanjian Baru (1)
Tujuan Pembelajaran Khusus
Agar peserta Katekesasi dapat 
  1. Mengidentifikasikan ciri dan corak kitab-kitab Perjanjian Baru.
  2. Memahami apa yang menjadi pertimbangan pengelompokan susunan kitab-kitab Perjanjian Baru.
Alkitab sebagai Kitab Suci Kristen terdiri dari dua bagian. Bagian yang pertama kita disebut Perjanjian Lama (disingkat PL), yang kita terima atau warisi dari orang Yahudi, terdiri dari 39 (tiga puluh sembilan) kitab dan sebagian besar ditulis dalam bahasa Ibrani. PL adalah Kitab Suci orang Yahudi. Bagian kedua disebut Perjanjian Baru (PB), yang khas Kristen, terdiri dari 27 (dua puluh tujuh) kitab dan ditulis dalam bahasa Yunani.
Beberapa puluh tahun sesudah naiknya Yesus ke surga, mulai bermunculan tulisan-tulisan mengenai kehidupan dan perbuatan Yesus (yang kemudian membentuk kitab-kitab Injil), tulisan mengenai kehidupan dan perbuatan para rasul (Kisah Para Rasul), tulisan yang berisikan nubuat tentang masa depan Gereja (Wahyu) serta surat-surat berisi pengajaran yang ditujukan entah kepada jemaat tertentu atau keseluruhan Gereja, entah kepada perorangan (Filemon, Titus, Timotius). Dari tulisan-tulisan itu segera dipilih dan dikhususkan sejumlah tertentu, yang kemudian menjadi 27 (dua puluh tujuh) kitab-kitab PB. Jadi PB bukan satu kitab, melainkan suatu kumpulan kitab-kitab, suatu perpustakaan kecil. Semua kitab-kitab PB berbicara tentang Yesus Kristus, karya-Nya dan ajaran-ajaran-Nya. Meskipun PB berpusat pada Yesus Kristus, namun di dalamnya terdapat juga hal-hal mengenai orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus, yakni jemaat Kristen mula-mula dan hal-hal yang mereka hadapi. Kitab-kitab PB tidak sama ciri-coraknya; mereka berbeda satu dengan yang lain. Susunan ke-27 kitab-kitab PB - seperti yang sekarang kita jumpai dalam Alkitab - disusun menurut urutan tertentu, bukan menurut waktu penulisannya. Artinya, kitab yang pertama (Matius) dalam PB tidak menunjukkan bahwa ditulis paling dahulu dan merupakan kitab PB yang paling tua.
1. Injil - injil
PB dibuka dengan empat kitab-kitab yang disebut "Injil". Kata "Injil" berasal dari bahasa Yunani euanggelion, yang berarti "kabar baik" atau "berita kesukaan." Kitab-kitab ini hendak memberitakan "kabar baik," yaitu mengenai Yesus Kristus. Kitab-kitab Injil Perjanjian Baru adalah Injil Matius, Injil Markus, Injil Lukas dan Injil Yohanes. Isinya sebagian besar berupa cerita-cerita mengenai hidup Yesus, karya-Nya, ajaran-ajaran-Nya, kematian dan kebangkitan-Nya. Semua cerita-cerita dalam kitab-kitab Injil berakhir pada cerita tentang penampakan diri Yesus sesudah kematian-Nya di salib dan kebangkitan-Nya dari antara orang mati. Karena iman Kristen berpusat pada Yesus Kristus, wajarlah kitab-kitab Injil (yang berisi cerita-cerita mengenai Yesus) ditempatkan pada urutan pertama dalam PB. Injil yang dianggap paling tua adalah Injil Matius. Injil Markus dianggap ditulis sesudah Injil Matius, maka ditempatkan pada urutan kedua. Injil Lukas menyusul Injil Markus, dan terakhir Yohanes. Jadi para penyusun kitab-kitab PB mengurutkan kitab-kitab Injil berdasarkan urutan waktu. Namun sekarang ini para ahli Kitab Suci umumnya menganggap Injil Markus adalah yang tertua dari keempat kitab-kitab Injil itu.
2. Kisah Para Rasul
Kitab Kisah Para Rasul berisi kisah mengenai apa yang terjadi setelah Yesus dimuliakan, naik ke surga. Ciri-coraknya hampir mirip dengan kitab Injil. Di dalamnya kita membaca cerita-cerita tentang munculnya jemaat Kristen mula-mula, kehidupannya dan penghambatan yang dihadapinya. Disebut kisah para "rasul", sebab di dalam cerita-cerita Kisah Para Rasul ditampilkan tokoh-tokoh rasul yang memainkan peranan dalam kehidupan jemaat mula-mula, khususnya rasul Petrus dan rasul Paulus. Kisah Para Rasul sebenarnya merupakan jilid kedua dari Injil Lukas (lihat Lukas 1:1; Kisah Para Rasul 1:1). Namun dalam urutan yang sekarang, Kisah Para Rasul terpisah dari Injil Lukas oleh Injil Yohanes. Kisah Para rasul berakhir dengan cerita mengenai rasul Paulus dalam tahanan di kota Roma.
3. Surat-surat
Sesudah kitab Kisah Para Rasul, kita berjumpa dengan sejumlah kitab yang ciri-coraknya sangat berbeda dari kelima kitab-kitab PB yang terdahulu. Kitab kitab ini tidak berisi cerita atau kisah, tetapi lebih berupa anjuran, nasihat atau wejangan, yang lazim disebut "surat" rasuli (yang ditulis oleh rasul atau murid rasul). Sebagian memang berupa surat, namun ada juga yang isinya sebenarnya adalah risalah, khotbah atau kumpulan petuah. Ada yang panjang sekali, tetapi ada juga yang amat pendek.
a.  Surat-surat Paulus. Yang paling banyak dalam kelompok surat-surat ini adalah surat-surat tulisan rasul Paulus (ada 14 surat). Surat-surat Paulus diurut sesuai dengan alamatnya. Surat-surat kepada jemaat ditempatkan lebih dahulu. Surat-surat kepada jemaat-jemaat diurut dari yang paling panjang (Roma) hingga yang paling pendek (2 Tesalonika). Jadi urutan itu tidak berdasarkan pada waktu penulisan. Sesudah surat-surat kepada jemaat, barulah surat-surat kepada pribadi-pribadi tertentu, yang juga diurut sesuai panjangnya. Lazimnya surat-surat Paulus dibedakan: surat-surat besar (Roma, 1 & 2 Korintus, Galatia); surat-surat dari penjara (Efesus, Filipp, Kolose, Filemon) karena di dalamnya disebut bahwa ia mengirimnya dari dalam penjara; dan, surat-surat pastoral (1 & 2 Timotius, Titus), karena berbicara mengenai soal pastoral (penggembalaan) dan/atau pastor (gembala) jemaat. Surat Ibrani ditempatkan dalam urutan paling akhir dalam kelompok surat-surat Paulus, meski surat ini cukup panjang. Mengapa? Ini dikarenakan orang masih ragu apakah surat Ibrani ditulis oleh rasul Paulus. Di dalam surat Ibrani tidak disebutkan siapa yang menjadi penulis atau pengirim surat itu.
b.  Surat-surat Katolik (Am). Sesudah kelompok surat-surat Paulus, ada 7 (tujuh) surat lain. Ketujuh surat-surat itu lazim disebut "surat-surat katolik" atau "surat-surat am," artinya umum. Surat-surat ini tidak dialamatkan kepada jemaat atau pribadi tertentu, tetapi kepada sejumlah (1 Petrus) atau pada umum (1 Yohanes), tanpa menyebut alamat yang dituju (Yakobus, 2 Petrus, Yudas). Hanya 2 Yohanes yang dialamatkan kepada tertentu (Yang tidak disebutkan namanya) dan 3 Yohanes kepada orang tertentu.
4. Wahyu 
Kitab Wahyu Yohanes ditempatkan terakhir dalam susunan kitab-kitab Perjanjian Baru. Kitab ini mempunyai ciri-corak yang lain lagi. Meski kitab ini nampak sebagai surat, namun sebenarnya merupakan kumpulan penglihatan mengenai kehidupan jemaat Kristen dan dunia seanteronya. Kitab ini mengarahkan pandangan jemaat ke masa depan, masa terakhir dari sejarah. Pantaslah kitab ini ditempatkan pada urutan terakhir dari susunan Perjanjian Baru, bahkan dari seluruh susunan Alkitab (PL & PB). Kitab Wahyu menjadi penutup dari sejarah penyelamatan dalam Alkitab.

DOSA, ANUGERAH, PERTOBATAN, PENGAMPUNAN DAN HIDUP BARU

Materi Katekisasi 18
Pokok Bahasan        : Manusia
Sub Pokok Bahasan : Dosa, Anugerah, Pertobatan, Pengampunan dan Hidup Baru

Tujuan Pembelajaran Khusus

  1. Mengetahui dan memahami ajaran Gereja tentang dosa dan anugerah.
  2. Menghayati pengorbanan Kristus bagi manusia.
  3. Menjelaskan pentingnya pertobatan dan hidup baru

Pengertian Dosa

Kita mulai dengan pertanyaan dari mana datangnya dosa? Yang pertama, pandangan bahwa dosa adalah bagian dari penciptaan dan dengan demikian dosa berasal dari Allah. Dasarnya ialah bahwa "segala sesuatu di dunia ini dari Dia dan oleh Dia dan untuk Dia" (Roma 11:36). Mengapa dosa dapat hadir dan terus ada di dunia, kalau Allah tidak menghendakinya? Pandangan ini tidak dapat diterima, sebab bagaimanakah Allah dapat memurkai dosa, bila ternyata Ia sendiri menghendakinya? Yang kedua, anggapan bahwa dosa berasal dari iblis, atau malaikat yang telah jatuh ke dalam dosa dan menjadi iblis. Yohanes 8:44, Yudas 6, 2 Petrus 2:4. Namun anggapan ini pun tidak dapat diterima, sebab nas-nas itu tidak bermaksud menjelaskan asal-usul dosa.
Untuk itu kita perlu mencermati apa yang terjadi dalam kitab Kejadian 1 s/d 3. Ketika manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, ia diberi kebebasan dan tanggung jawab untuk mengembangkan kehidupan bersama ciptaan Allah yang lain (Kejadian 1:27-28). Dengan gambar dan rupa Allah itu ia pun mendapat kesempatan untuk merealisasikan dirinya sebagai mitra Allah. Namun ia memilih untuk melawan Allah dan perintah-Nya (Kejadian 3:6). Inilah yang menyebabkan manusia jatuh ke dalam dosa. Dari nas ini dosa dipandang sebagai perbuatan yang berasal dari dalam diri manusia sendiri, dan bukan berasal dari luar. Dosa lahir oleh karena manusia, dalam kebebasannya, memiliki kehendak (keinginan) yang berlawanan dengan perintah Allah. Jadi dapat diterangkan bahwa dosa adalah sikap hati dan perbuatan manusia melawan perintah Allah yang dilakukan dalam kebebasannya sebagai makhluk ciptaan. Ketika kebebasan dilepaskan dari tanggung jawab maka ia jatuh ke dalam dosa. Dosa terjadi bukan karena sesuatu yang datang dari luar, tetapi berdasarkan keputusan dan pilihan manusia sendiri, oleh karena ia merasa tidak bebas berada di bawah perintah Allah. Ia ingin menjadi otonom yang sama seperti Allah, bebas menentukan pilihannya sendiri.
Di dalam Alkitab, salah satu akar kata dosa ialah: "chatat" (Ibrani) dan "amartia" (Yunani) yang artinya pelanggaran atau pemberontakan terhadap hukum Allah. Dosa adalah sifat dan motivasi yang terkandung dalam hati manusia, yang menyatu dengan kodratnya sebagai manusia berdosa, sedangkan kesalahan adalah perbuatan yang tampak dari hati yang berdosa.
Kejatuhan manusia pertama ke dalam dosa telah membuat semua manusia menjadi pendosa (Roma 5:19). Ini disebut dosa asal atau turunan atau warisan, yang membuat semua manusia, bahkan sejak dari dalam kandungan sudah bertabiat dosa (Mazmur 51:7). Jadi, ajaran Pelagius yang mengatakan bahwa dosa Adam hanya mencelakakan dirinya saja dan tidak menyebar pada keturunannya, bahwa dosa itu ada bukan karena diwariskan melainkan karena ditiru, adalah pandangan yang tidak dapat diterima. Sejak dosa pertama manusia sudah menempatkan dirinya di bawah hukuman Allah, yaitu maut (1 Korintus 15:21-22). Maut adalah terputusnya hubungan dengan Allah dan bukan hanya menyangkut kematian badani. Maut lebih dari itu, yakni manusia menjadi seteru Allah dan mati secara rohani.
Anugerah dan Pengampunan
Oleh karena dosa telah menempatkan manusia di bawah hukuman Allah, Alkitab menunjukkan bahwa manusia mencari jalan untuk keluar dari hukuman itu melalui hukum Taurat atau berdasarkan perbuatan (Roma 3:20). Namun semua hikmat dan usaha manusia tidak dapat menyelamatkannya dari kutuk dan hukuman Allah (Roma 9:16). Keselamatan itu hanya diperoleh melalui rencana dan tindakan Allah yang membebaskan dan menyelamatkan manusia dari hukuman maut. Alkitab menyaksikan berkali-kali Allah berjanji untuk membebaskan dan menyelamatkan. Perjanjian Allah dengan Nuh (Kejadian 9), Abraham (Kejadian 15), dan Israel di gunung Sinai (Keluaran 24) menyatakan janji keselamatan itu. Nabi Yehezkiel menegaskan: "Bukan karena kamu Aku bertindak,.." (Yehezkiel 36:22,32). Ini berarti tindakan penyelamatan yang dikerjakan Allah tidak didasari atas perbuatan baik manusia; melainkan tindakan itu didorong oleh kemurahan hati Allah sendiri. Dia bertindak berdasarkan perjanjian kasih karunia-Nya.
Keseluruhan janji Allah tadi berpuncak dan terwujud di dalam kematian Yesus Kristus. Sebab itu keselamatan adalah anugerah Allah semata-mata, dan manusia tidak ikut di dalam karya tersebut. Kristus menyatakan keselamatan itu melalui pengorbanan-Nya di kayu salib. Yesus Kristus telah menjadi Perantara yang mendamaikan hubungan Allah dengan manusia dan dunia. Berdasarkan pekerjaan pendamaian yang dilakukan Kristus, Allah memulihkan kembali kedudukan manusia, bukan menurut garis keturunan Adam tetapi berdasarkan gambar Allah yang tampak dalam Kristus (1 Korintus 15:45-47). Dengan demikian salib menunjukkan dua kebenaran: Pertama, bahwa di hadapan Allah kita adalah orang-orang berdosa. Kedua, bahwa dosa kita diampuni. Bukan kita sendiri yang tahu akan dosa kita, melainkan ketika manusia berjumpa dengan Allah melalui Roh Kudus (bandingkan Yesaya 6:5, Lukas 5:8). Perjumpaan ini menghasilkan kesadaran bahwa manusia sudah diampuni hanya oleh anugerah Allah dan ia dapat terus hidup berdasarkan kasih karunia Allah saja (Efesus 2:8).
Agustinus mengajarkan bahwa anugerah Allah mendahului semua perbuatan baik dari manusia, termasuk kesadaran untuk mengakui dosa. Jadi manusia diampuni bukan karena ia memliki kemauan untuk mengakui dosanya, namun sebelum hal itu terjadi anugerah Allah sudah diberikan kepadanya. Gagasan ini kemudian dilanjutkan oleh Calvin dengan menekankan pentingnya kemauan dari pihak manusia untuk bertobat dan hidup baru. Menurutnya, kalau kemauan itu dihapus, itu tidak berarti bahwa kemauan hilang oleh karena ketika manusia bertobat, apa yang termasuk kodrat aslinya tidak berubah, yakni pendosa. Di lain pihak, kemauan tidak boleh ditonjolkan sebab seluruh kebaikan yang terdapat di dalam diri manusia pun adalah hasil anugerah Allah semata-mata.
Pertobatan dan Hidup Baru
Perjumpaan manusia dengan Allah melalui Roh Kudus selanjutnya menuntun manusia untuk sampai kepada pertobatan dan hidup baru. Menurut Calvin, pertobatan ialah membalikkan kehidupan kita kepada Allah, dengan digerakkan oleh rasa takut yang tulus dan sungguh-sungguh akan Dia. Ada tiga unsur pertobatan: 1] terjadi perubahan dalam jiwa, bukan hanya perubahan perbuatan lahiriah, 2] harus ada rasa takut yang sungguh-sungguh akan Allah, 3] pematian daging dan dihidupkannya kita oleh Roh.
Yang dimaksud oleh Calvin dengan pertobatan sama dengan kelahiran kembali. Ia memakai istilah yang ditulis oleh rasul Paulus : "menanggalkan manusia lama" dan "mengenakan manusia baru" (Efesus 4:22,24) atau "mati dalam tubuh dan hidup dalam Roh" (Roma 8:10). Namun di dalam diri orang yang telah dilahirkan kembali itu masih tetap ada tempat yang subur untuk kejahatan, yang daripadanya terus menerus timbul nafsu-nafsu yang menggodanya untuk berbuat dosa. Oleh karenanya, pertobatan atau pembaruan itu tidak selesai dalam sekejap mata atau sehari dan setahun, tetapi terus menerus (Kolose 3:10). Terkadang lambat jalannya, sebab Allah hendak membersihkan kotoran dalam diri mereka dan menguduskannya, supaya di sepanjang hidup mereka belajar bertobat, dan mengetahui bahwa perjuangan ini tidak berakhir sebelum kita mati.
Calvin memang menginginkan semua orang Kristen hidup bernafaskan Injil. Namun tekanannya bukanlah pada kesempurnaan, sebab jika demikian menurutnya, gereja akan tertutup bagi semua orang, karena belum ada seorang pun yang dekat dengan kesempurnaan itu. Walaupun demikian, hendaklah kesempurnaan itu menjadi tujuan hidup orang kristen yang harus diusahakan dengan tekun. Menurutnya, janganlah kita berhenti berupaya supaya kita terus menerus maju di jalan Tuhan, dan jangan kita berputus asa karena kecilnya kemajuan itu. Jadi, yang penting bukanlah kesempurnaan melainkan ketekunan. Dalam hal itulah Calvin menekankan pentingnya kesalehan (pietis) bagi hidup orang Kristen. Bahkan menurutnya, Allah tidak dapat dikenal bila tidak ada kesalehan, dalam arti rasa hormat dan kasih kepada-Nya. Jadi kesalehan dimaknai sebagai kebajikan yang terpuji, yang timbul dari kesadaran, hormat, cinta, tunduk dan patuh kepada Allah yang hidup, berdaulat dan berkuasa. Allah yang telah melakukan kebaikan-kebaikan kepada kita.
Luther mengatakan, siapa yang sudah dianugerahi pengampunan oleh Kristus terbebas dari segala sesuatu yang memperbudaknya, tidak tunduk terhadap siapapun, tetapi pada saat yang sama ia terikat untuk melayani sesamanya. Pernyataan itu berarti iman membebaskan manusia dari setiap peraturan, tetapi kebebasannya tidaklah tanpa kendali. Manusia dibimbing sedemikian rupa oleh Kristus, sehingga dengan bebas ia melakukan lebih daripada yang dituntut oleh hukum (Galatia 5:18).
Maknanya Bagi Katekisan
Pedoman hidup bagi orang percaya yang telah diampuni dosanya oleh Allah dan yang telah dibarui di dalam Kristus, ialah sebagai berikut:
Memiliki etika yang baru
Kristus telah memulihkan citra Allah yang rusak oleh dosa. Pemulihan citra Allah itu berdampak pada pemberian kemampuan untuk melakukan hal-hal yang baik. Dengan kata lain, hidup dalam pengampunan adalah hidup dalam rahmat dan kasih karunia untuk mempersembahkan hidup itu sendiri demi kemuliaan Allah (Roma 12:1, Galatia 2:19). Hidup yang demikian adalah hidup yang memiliki etika baru dalam dunia dan masyarakat. Hidup dalam etika yang baru ialah hidup yang mengampuni dan menghargai hak-hak orang lain.
Bertumbuh, berkembang dan berbuah.
Orang yang sudah dibarui harus menampakkan proses pertumbuhan (bertumbuh) dan perkembangan (berkembang), dan akhirnya berbuah, sebab memang demikianlah maksud panggilan Tuhan bagi kita, yakni bekerja (melayani) dan memberi buah (Galatia 5:22).

Kepustakaan :

  1. Buku Pemahaman Iman GPIB.
  2. Dr. Harun Hadiwijono, Iman Kristen, BPK-Gunung Mulia
  3. Dr. J.L.Ch. Abineno, Pokok-Pokok Penting Dari Iman Kristen, BPK-     Gunung Mulia.
  4. Dr. J.L.Ch. Abineno, Aku Percaya Kepada Allah, BPK-Gunung Mulia.
  5. Dr. R. Soedarmo, Ikhtisar Dogmatika, BPK-Gunung Mulia.

YESUS KRISTUS

Materi  14
Pokok Bahasan        : Ajaran Gereja
Sub Pokok Bahasan : Yesus Kristus
Tujuan Pembelajaran Khusus, agar katekesan dapat:
  1. Memiliki pemahaman tentang Tuhan berdasarkan Alkitab.
  2. Percaya dan mengaku Yesus Kristusadalah Tuhandan Juruselamat
  3. Menjadi Warga Gereja yang bertanggungjawab dalam melaksanakan misi Kristus di tengah-tengahkeluarga, Gereja, Masyarakat dan bagi seluruh ciptaan. 
PENDAHULUAN
Yesus Kristus adalah seorang Yahudi. Ia dikenal sebagai anak seorang tukang kayu yang bernama Yusuf dan ibunya bernama Maria. Ia lahir sekitar tahun 6 s.M di masa pemerintahan Herodes Agung.
Seperti para nasir (pelihat) dan nabi serta para tokoh penting lainnya di zaman Perjanjian Lama, termasuk Yohanes Pembaptis di akhir masa “Antar Perjanjian”, maka kelahiran Yesus dan tugas-tugas yang akan diemban-Nya diberitahukan terlebih dulu oleh Tuhan melalui malaikat. Sesuai berita yang disampaikan malaikat kepada Maria bahwa Yesus, sesuai dengan nama-Nya (Yosua = yang menyelamatkan), telah ditentukan untuk menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka. (Luk. 1)
Tidak diketahui dengan pasti masa kanak-kanak, masa remaja dan masa muda Yesus. Sebab Alkitab tidak memberitahukan dengan rinci tentang hal itu. Namun, dipastikan masa kanak-kanak dan masa remaja Yesus adalah adalah seperti yang anak-anak dan remaja Yahudi pada umumnya. Yaitu bahwa Yesus mengikuti pendidikan agama di tingkat dasar dan lanjutan di rumah pengajaran (Bethamidras) sampai lulus sebagai seorang anak Taurat pada usia 12 tahun. Tidak aneh jika dicatat oleh penginjil bahwa pada usia 12 tahun Yesus sudah bisa bersoal jawab tentang taurat dengan poara pengajar di Bait Allah (Mat…)
Mengacu pada pergerakan yang digagas Yesus, yang sangat mirip pergerakan pembaharu Yudaisme, khusus kelompok Esseni (kelompok yang berusaha memurnikan Yudaisme), maka mereka berpendapat bahwa Yesus sesudah lulus sebagai anak Taurat, Yesus pergi ke padang gurun untuk belajar dan menjadi penganut kelompok Essenit. Sementara ada ahli lain yang mengatakan bahwa mengamati pada kedekatan Yesus dengan Yohanes Pembabtis, maka bisa dipastikan bahwa Yesus sesudah lulus sebagai anak taurat langsung melalangbuana ke padang gurun dan belajar bersama Yohanes Pembabtis, dan sekaligus menjadi salah seorang pengikut yang setia.
Anggapan ini lebih dapat diterima karena beberapa alasan : Pertama, Yesus muncul di muka umum, ketika mendatangi Yohanes Pembabtis di sungai Yordan dan memberi diri-Nya dibabtis oleh Yohanes Pembabtis. Pada kesempatan itulah, Yesus mendapat kejelasan status-Nya, yaitu ditetapkan sebagai Anak Allah serta mendapat kuasa oleh pengurapan Roh Allah dalam bentuk burung merpati.
Gelar Anak Allah yang dikenalkan kepada Yesus bukanlah suatu istilah biologis (sebuah sebutan untuk diri-Nya Kis. 9:20; 2 Kor 1:19; Gal 2:20; Ef 4:3; 1 Yoh 3:8; 4:15; Ibr 4:14; 5:8; Why 2:18) tidak pada saat kelahiran-Nya di Betlehem tetapi sedari kekal Ia adalah “Anak Allah”. Istilah Anak Allah dalam Perjajjian Lama menunjuk kepada bangsa Israel sebagai umat Allah. Gelar Anak Allah yang pada satu sisi menunjuk pada cara berada Allah yang tidak berada di atas atau yang transenden (Allah Bapa), Allah yang berada di dalam diriNya sendiri tetapi menunjuk pada Allah yang ada di dekat kita, bersama kita, menyertai kita (Imanuel Mat 1:23; Yes 7:4) Allah yang berdiri di tempat kita manusia serta mendamaikan dunia ini dengan diriNya sendiri (2 Kor 5:19).
Istilah Anak Allah dalam Perjanjian Lama menunjuk kepada bangsa Israel sebagai umat Allah. Dalam diri Yesus sebagai Anak Allah, kita yang bukan orang Israel terhisap dalam umat pilihan Allah.
Kedua, Yesus memulai pergerakan-Nya, ketika Yohanes Pembabtis ditangkap dan dipenjara, dan akhirnya di bunuh oleh Herodes Antipas.
Ketiga, mengikuti Yohanes Pembabtis, Yesus pertama kali tampil di Galilea dan menyerukan pertobatan dan bersiap diri untuk menyambut Kerajaan Allah yang menyatu dengan diri dan seluruh pelayanan-Nya.
PERGERAKAN YESUS
Yesus memulai pergerakan (pelayanan)-Nya di tempat asalnya, yaitu di Galilea dan sekitarnya. Ia pun memilih para pengikut-Nya sejumlah 12 orang; umumnya dari lingkungan para nelayan ditambah beberapa anggota pergerakan, misalnya : Yudas Iskariot (dari kelompok Sicaari, suatu sayap dari pergerakan zelot), dan Simon orang Zelot.
Seperti para tokoh pembaharu Yudaisme, khususnya orang Zelot, yang pada masa itu berjuang untuk menentang penjajahan Romawi demi membebaskan dan memerdekakan Israel, maka Yesus pun demikian. Hanya berbeda dengan kelompok Zelot yang memakai kekuatan senjata dan melakukan kekerasan, Yesus dan pergerakan-Nya tidak menggunakan kekuatan senjata dan kekerasan dalam melawan penjajahan Romawi. Yesus menempuh cara-cara damai dengan bertindak seperti seorang nabi kharismatik yang berkeliling untuk mensosialisasikan ajaran yang mengandung ide tentang Kerajaan Allah.
Yesus mengajar dengan penuh kuasa dan charisma, memakai metode perumpamaan yang mudah dimengerti orang yang tidak terpelajar. Kuasa-Nya bukan dari diri-Nya sendiri, tetapi dari Bapa-Nya. Kuasa itu Ia terima melalui hubungan yang akrab di dalam doa kepada Bapa-Nya yang dilakukan disela-sela kepadatan kegiatan-Nya.
Yesus mendekati semua orang, khususnya kaum marginal yang tersingkir dari lingkungan masyarakat, dengan penuh simpati dan empati, tanpa merasa jijik, untuk membawa mereka kembali ke jalan Tuhan. Ia bersikap ramah dan bertutur lemah lembut dalam setiap laku dan ajaran-Nya. Ia tidak hanya mengajar, tetapi juga melakukan banyak tidakan mujizat.
Semua hal itu menyebabkan Yesus lebih dapat diterima oleh banyak orang daripada tokoh-tokoh Yudais lainnya. Yesus diterima bukan hanya oleh kaum marginal, yakni orang-orang kecil, miskin, lemah, sakit, dan berdosa (pelacur dan pemungut cukai), termasuk kaum perempuan dan anak-anak; tetapi juga kelompok cerdik cendikia, yakni beberapa anggota Sanhedrin yang bersimpati pada-Nya. Hal ini mengakibatkan gerakan Yesus berkembang pesat, sehingga menimbulkan iri hati dari para tokoh dan pemimpin lainnya; khusus kelompok imam, yakni para Farisi dan ahli Taurat.
Makin terkenalnya nama Yesus, seiring perkembangan gerakan-Nya yang pesat, yang terdengar sampai keluar Galilea, ternyata mengundang perhatian penguasa Galilea, yakni Herodes Antipas, dan bahkan wali negeri Roma di Yudea, yakni Pilatus. Hal itu tidak membuat Yesus takut dan mundur. Sebaliknya Yesus semakin tampil galak untuk mengkritik para raja dan pembesar karena melakukan kekerasan dan menindas rakyat. Tidak aneh jika banyak orang memahami Yesus sebagai nabi Elia yang hidup kembali. Sementara Herodes Antipasa menganggap Yesus sebagai Yohanes Pembabtis yang telah ia bunuh, tetapi bangkit kembali. Sejak itu dimulai upaya-upaya untuk membunuh Yesus.
DARI GALILEA ke YERUSALEM
Dari Galilea, sesudah mengalami pemuliaan dan penetapan kembali sebagai Anak Allah di atas gunung, mak Yesus mulai menuju ke Yerusalem dengan gerakan massa yang sangat besar. Yerusalem adalah tujuan akhir dari gerakan Yesus. Sebab Yerusalem adalah pusat kekuasaan keagamaan dan politik. Telah terjadi konspirasi jahat dan menyengsarakan rakyat antara penguasa agama dan politik di Yerusalem; dan Yesus datang untuk menghancurkan semuanya itu. Tentu, dengan semua resiko yang harus Yesus terima, seperti yang telah diprediksikan-Nya; bahwa Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan orang-orang berdosa. Mereka akan membunuh Dia. Tetapi sesudah tiga hari Ia akan bangkit.
Konspirasi polotik yang sangat kuat antara penguasa agama dan politik, bahkan menerobos masuk untuk memecah-belah pergerakan. Dengan politik uang guna menyuap Yudas, menyebabkan Yesus, akhirnya ditangkap, diadili dengan pengadilan yang tidak adil, disiksa dengan cambukan serta ditetapkan sebagai pemberontak dengan hukuman digantung secara tersalib sampai mati di tempat penyalibab di bukit Golgota.
Kematian Yesus untuk keselamatan kehidupan dunia, membuat-Nya mengalami kematian sebagai hukuman Allah atas dosa dan diserahkan kepada kebinasaan di dalam liang kubur. Sebuah kematian yang mengerikan namun ditengah penderitaan disalib itulah terdengar percakapan dengan Sang Bapa :”Ya Bapa, ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23;34). Diatas salib inilah kuasa kegelapan dikalahkan. Oleh kematianNya Ia memusnahkan dia, yaitu iblis yang berkuasa atas maut.(Ibr 2:4)
DARI GOLGOTA ke KUBUR KOSONG
Yesus dikubur di kuburan Yusuf Arimatea, anggota Sanhedrin yang bersimpati pada Yesus dan Gerakan-Nya. Dengan penguburan itu, para penginjil mau menjelaskan bahwa Yesus tidak hanya akan menjadi Tuhan atas kehidupan, tetapi juga menjelaskan bahwa Yesus tidak hanya akan menjadi Tuhan atas kehidupan, tetapi juga atas kematian dan alam maut. Di dalam kematian-Nya, Ia memasuki terowongan dan alam maut yang kegelapannya sangat menakutkan tiap manusia yang hidup maupun mati. Tetapi justru Yesus pergi ke situ, supaya kuasa-Nya dapat menjangkau kita di sana. Dengan demikian, kematian tidak lagi menakutkan karena di dalam dunia orang matipun Tuhan dan KasihNya dapat menyertai kita.
Yesus tidak bisa terus ditahan oleh kuasa alam maut. Sesudah tiga hari, dengan kuasa dan daya dorong yang dasyat dari Bapa-Nya, Yesus akhirnya menembusi alam maut dan kegelapan kubur untuk bangkit dan hidup kembali.
Kebangkitan Yesus merupakan peristiwa penting dalam iman Kristen. Salib sebagai bentuk kasih kepada Allah dan sesame dengan harga tinggi memiliki arti karena adanya kebangkitan “Jika Kristus tidak bangkit, maka sia-sialah kepercayaan kamu” (1 Kor 15:17). Dalam peristiwa kebangkitan itulah ketaatan untuk melakukan kehendak Bapa hingga di kayu salib bukanlah sebuah kekalahan, melainkan kemenangan (Yoh 12:32; Flp 2:9). Kebangkitan Yesus adalah juga sebuah jaminan bagi kebangkitan kita, Yesus adalah manusia pertama yang bangkit (Kis 26:23; 1 Kor 15:20,23; Kol 1:18; Why 1:5), dank arena itu kematian tidak menjadi kata akhir bagi manusia.
KENAIKAN dan KEDATANGAN KEMBALI
Yesus tidak harus berada di dunia, sebab Dia bukan dari dunia. Dia telah menyelesaikan karya penyelamatan dunia yang dipercayakan oleh Bapa-Nya. Karena itu, Dia harus kembali untuk menerima kemuliaan yang telah ditinggalkan-Nya ketika menjadi manusia.
Yesus adalah Allah sejati dan manusia sejati. Di dalam Dia kita berjumpa dan mengenal Allah yang sesungguhnya, dan juga berjumpa dengan manusia yang sesungguhnya, serta bagaimana seharusnya menjadi manusia sesungguhnya bagi sesame.
Sejak kenaikan Yesus ke surge maka arah iman kita kembali tertuju dan pengharapan kita menjadi kian pasti. Sebab Yesus adalah Kristus (Yesus-IESU: dalam bahasa Ibrani Yesua/Yehoshua) mengandung arti Yahweh menolong atau yang menyelamatkan. Sedangkan Kristos (Ibrani = Mesiah) = YANG DIURAPI.
Kedua kata itu dapat diterjemahkan : “Dia Yang menyelamatkan adalah Dia Yang diurapi”.
Ada tiga pemimpin rakyat yang diurapi yakni, Raja, Imam, Nabi. Ketiga jabatan ini menyatu dalam diri Yesus. Sebagai Raja, Nabi dan Imam. Yesus Sang Pemimpin rakyat itu berkarya membawa keselamatan; bukan hanya pada saat kematian dan kebangkitan-Nya, tetapi kelak pada saat Ia datang kembali dalam kemuliaan-Nya. Tindakan penyelamatan ini tidak berasal dari manusia, karena kebaikan dan kemampuannya untuk memberlakukan tuntutan-tuntutan hokum agama tetapi merupakan anugerah Allah sola gratia).
Yesus berfirman, “Siapa yang bertahan sampai akhir akan diberi mahkota kemuliaan”.

PANGGILAN DAN PENGUTUSAN GEREJA

Materi 26
A. APA ITU GEREJA
Gereja adalah salah satu realitas yang paling fundamental dari Iman Kristen. Doktrin tentang Gereja disebut Ekklesiologi. Alkitab menerangkan bahwa Gereja sebagai persekutuan orang percaya, tubuh Kristus dan Persekutuan oleh Roh Kudus. Persekutuan Orang Percaya.
Perjanjian Baru menyebut Gereja sebagai Persekutuan Orang Percaya (1 Petrus 2 : 9). Kata yang dipakai untuk Gereja adalah Ekklesia (ek : keluar; kaleo : memanggil). Jadi secara harafiah berarti kumpulan orang-orang yang dipanggil ke luar. Dalam bahasa Ibrani : Qahal yang berarti himpunan orang yang dipanggil untuk mendengarkan nasihat-nasihat atau untuk penugasan militer.
Komunitas Mesianik.
Komunitas Mesianik adalah himpunan orang-orang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai Mesias yang memproklamirkan kehadiran Kerajaan Allah (Lukas 4 : 21; 11 : 20; 12 : 32). Bandingkan pengakuan Simon Petrus (Matius 16 : 18).
Tubuh Kristus.
Istilah ini dipakai untuk Gereja dalam Pemahaman secara Universal (Efesus 1 : 22; Kolose 1 : 18). Tetapi juga untuk Gereja lokal (1 Korintus 12 : 27). Istilah tubuh Kristus menekankan Kesatuan Gereja, Saling ketergantungan warganya dan hubungan vital Gereja dengan Kristus Kepala Gereja.
Persekutuan oleh Roh Kudus.
Gereja adalah ciptaan Roh Kudus. Oleh Roh Kudus Gereja menjadi Persekutuan Kudus yang diikat oleh Kasih (Galatia 5 : 22). Gereja menjadi wadah yang memiliki Roh Kudus dan karunia-karunia Roh Kudus memperlengkapi warga Gereja untuk melaksanakan tugas kesaksian kepada dunia. Gereja sebagai Persekutuan Orang Percaya maupun Individu digambarkan juga sebagai Rumah Roh Kudus (1 Korintus 3 : 16; Efesus 2 : 21; 2 Petrus 2 : 5). Gambaran ini menunjuk pada sifat kudus Gereja. Tiang Penopang dan Dasar Kebenaran (1 Timotius 3 : 15). Simbol ini menunjuk kepada tugas Gereja sebagai pengawal dan pembela kebenaran Allah. Gereja dibangun di atas Firman Allah dan selanjutnya bertugas memelihara dengan setia kebenaran tersebut.
Keluarga Allah.
Orang-orang percaya yang telah mengalami Pembaharuan hidup oleh Roh Kudus diangkat menjadi "Anak angkat Allah" (Roma 8 : 15-16), menyebabkan Gereja disebut sebagai Keluarga Allah. Sebagai anggota Keluarga Allah, masing-masing warga Gereja terpanggil untuk saling menolong (Galatia 6 : 1). Sebagaimana yang layak terjadi di antara sesama saudara.
Catatan :
Masih ada istilah-istilah yang dipakai untuk menggambarkan Gereja seperti Kitab Wahyu : Pengantin Perempuan Kristus, Yerusalem Baru, Israel Baru.
B. CIRI-CIRI GEREJA
Keesaan.
Kristus sendiri menginginkan dan mendoakan agar Gereja bersatu. Kesatuan yang diinginkan Tuhan bukan terutama Kesatuan Organisatoris, tetapi kesatuan komunitas atau organism seperti yang terdapat dalam Keesaan Allah sendiri (Yohanes 17 : 1 - 26). Keesaan ini sama sekali tidak menghapuskan kepelbagaian dalam tubuh Gereja. Sebaliknya kepelbagaian Karunia. Fungsi dan Jabatan masing-masing warga merupakan Ungkapan dari kesatuan organis tersebut (1 Korintus 12 : 4, 6). Keesaan itu terjadi karena Gereja memiliki satu Bapa, satu Tuhan dan satu Roh. Dan juga bersama mengalami satu Panggilan, satu Pengharapan, satu Iman, satu Baptisan (Efesus 4 : 1 - 6).
Kekudusan.
Allah memilih umat-Nya yaitu Gereja-Nya agar menjadi kudus ( 1 Petrus 1 : 15 dan 16). Kekudusan tersebut tidak hanya kekudusan yang nampak secara lahiriah dalam bentuk perbuatan-perbuatan yang di cap kudus melainkan pancaran dari karya Roh Kudus, yang memisahkan kita dari dosa dan menanamkan sifat Ilahi-Nya dalam kehidupan Gereja.
Bersifat Khatolik (Am).
Gereja bersifat Universal. Ia tidak dibatasi secara Geografi. Gereja adalah satu Keluarga Allah (Efesus 4 : 6). Satu di dalam Tuhan Yesus Kristus (Efesus 2 : 14, 16; 1 Korintus 10 : 17). Satu dalam Persekutuan dalam Roh Kudus (Kisah Para Rasul 4 : 16). Bavink menjelaskan sifat Am dari Gereja menunjuk kepada :
  1. Keesaan yang utuh dari jemaat-jemaat lokal yang tersebar.
  2. Keesaan yang meliputi warga yang berasal dari segala bangsa, zaman dan tempat.
  3. Merangkul seluruh pengalaman manusia baik dalam hidup ini maupun hidup yang akan datang, yang nampak maupun yang tidak nampak. Dengan kata lain ide Am, merupakan suatu pengakuan tentang keesaan tentang Agama Kristen didasarkan atas keyakinan bahwa Keristenan adalah agama dunia yang melayani semua manusia dan menguduskan setiap makhluk tanpa memandang tempat, bangsa maupun waktu.
Bersifat Rasuli.
Gereja dibangun atas dasar pengajaran Rasul dan Nabi (Efesus 2 : 20). Gereja bersifat rasuli artinya Gereja tercipta akibat diberitakannya Injil yang apostolik yaitu Injil yang sesuai dengan yang ditradisikan dari Kristus kepada para Rasul sesuai dengan apa yang dicatat dalam Alkitab, dan tetap memelihara dan meneruskan dengan setia tradisi Injil Rasuli itu.
Dalam tulisannya kepada jemaat di Korintus Paulus sangat menekankan aspek tradisi Rasuli yang diajarkannya kepada Jemaat di Korintus. Kepada Timotius Paulus menuntut agar Timotius memelihara tradisi Rasuli itu agar regenerasi kepemimpinan itu tidak berbalik menjadi degenerasi.
C. PANGGILAN DAN PENGUTUSAN GEREJA
Panggilan Utama Gereja adalah memberitakan Injil Tuhan Yesus Kristus (1 Petrus 2 : 9 ; Matius 28 : 19-20; Markus 13 : 10-13 ; Lukas 4 : 14, 19). Panggilan tersebut dilaksanakan melalui Persekutuan (Koinonia), Pelayanan (Diakonia), Kesaksian (Marturia). Istilah-istilah ini dikenal sebagai Tri Dharma Gereja yang tidak dapat dipisahkan walaupun dapat dibedakan. Gereja adalah persekutuan yang bersaksi dan melayani; kesaksian yang harus dilaksanakan adalah kesaksian oleh persekutuan yang dibarengi dengan pelayanan. Pelayanan adalah pelayanan di dalam dan oleh persekutuan dan merupakan kesaksian.
D. TANGGUNG-JAWAB WARGA GEREJA
Pelaksanaan Panggilan dan Pengutusan adalah tanggung-jawab dari seluruh warga gereja. Adalah keliru pendapat yang mengatakan bahwa pelaksanaan Panggilan dan Pengutusan hanyalah tanggung-jawab dari para pejabat dan fungsionaris dalam organisasi Gereja. Imamat Am orang percaya menegaskan keikutsertaan aktif semua warga untuk mengemban panggilan dan pengutusan Gereja secara bertanggung-jawab.
DAFTAR PUSTAKA
  1. Sinclair B. Ferguson dkk, New Dictionery Of Theology, Intervarsity Press, Leicester, England
  2. Louis Berkhof, A Summary Of Christian Doctrine, The Banner Of Truth Trust Edinburgh England
  3. Bahan Pelajaran Katekisasi Buku 1, Majelis Sinode GPIB


DOA; sangat besar kuasanya

YESUS MEMBUATMU BERHARGA