Tampilkan postingan dengan label MATERI BINA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MATERI BINA. Tampilkan semua postingan

PEMUDA MEMBACA ALKITAB DI DALAM KONTEKS KEKINIAN INDONESIA



Berapa kali biasanya seorang pemuda membaca Alkitab? Mengapa seorang pemuda membaca Alkitab? Apa yang didapatkan dari bacaan tersebut? Jika seseorang pernah membaca Alkitab di dalam kehidupannya maka apa manfaat yang dirasakan dari kegiatan tersebut? Jika suatu saat Alkitab dilarang untuk digunakan di negara ini apakah hal tersebut akan membuat umat Kristen kecewa dan marah? Mengapa? Bagaimana cara seorang pemuda membaca Alkitab di dalam konteks kekinian Indonesia?
Pertanyaan-pertanyaan di atas merupakan hal-hal yang menjadi pertanyaan penting di masa sekarang yang serba modern yang ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kita tidak bisa memungkiri kenyataan bahwa banyak sekali anak muda Kristen terutama yang berada di kota-kota besar yang sudah mulai tidak lagi kelihatan di gereja. Ada berbagai alasan mengapa jumlah kehadiran para pemuda tersebut berkurang di antaranya adalah karena tata ibadah yang monoton dan cara penyampaian firman yang terkadang sangat membosankan bagi para pemuda tersebut. Tidak jarang pesan-pesan yang disampaikan di dalam penyampaian firman Tuhan tidak kena mengena dengan kehidupan mereka sehingga para pemuda merasa tidak tertarik untuk mendengarkan apa yang hendak disampaikan di berbagai kebaktian yang mereka hadiri. Banyak gereja yang saya hadiri terutama di konteks-konteks Barat yang tidak lagi mempunyai para pemuda di dalamnya. Lalu bagaimana dengan keadaan kita sendiri di Indonesia? Tidak bisa kita pungkiri bahwa keadaan gereja-gereja di Indonesia masih jauh lebih baik dibandingkan dengan yang ada di Barat. Banyak pemuda yang masih menghadiri kebaktian-kebaktian utama dan kategorial yang diadakan oleh setiap gereja. Namun pertanyaannya adalah berapa banyak di antara anak-anak muda tersebut yang hadir di gereja setiap minggunya yang benar-benar mengambil waktu khusus untuk membaca dan memahami Alkitab? Berapa banyak di antara mereka yang ketika membaca Alkitab dapat memahami apa yang dibaca tersebut? Bagaimana caranya seseorang dapat membaca Alkitab dan memahaminya secara efektif?
Di dalam tulisan ini saya akan menguraikan secara singkat tentang bagaimana membaca Alkitab khususnya Perjanjian Lama di dalam konteks Indonesia. Saya akan mengawali dengan menjelaskan tentang apa pentingnya seorang muda membaca dan menafsirkan kitab suci. Saya akan melanjutkan dengan penjelasan tentang langkah-langkah yang harus dipelajari di dalam membaca kitab suci. Hal ini saya lakukan dengan memperkenalkan sebuah metode sederhana yang dapat dipakai oleh siapa saja untuk membaca kitab suci yaitu metode narasi. Tulisan ini akan saya akhiri dengan mengajak para pemuda untuk berlatih tentang bagaimana membaca sebuah teks Alkitab Perjanjian Lama dengan menggunakan metode narasi.

A.  Pentingnya Membaca Kitab Suci
           
            Seseorang dapat menjadi Kristen dengan berbagai cara. Ada yang memeluk agama Kristen setelah ia menjadi dewasa. Ada yang memeluk agama ini melalui pernikahan tetapi kebanyakan memeluk agama ini karena kedua orang tuanya mewariskan agama tersebut kepadanya. Namun, janganlah kita mengira bahwa ketika kita menjadi pemeluk agama Kristen maka kita secara otomatis menjadi orang-orang yang memiliki tingkat spiritualitas yang tinggi di dalam mengikut Yesus. Kemampuan spiritual memang telah ada di dalam diri setiap orang ketika ia lahir namun kemampuan itu harus diasah dan dikembangkan dengan baik agar dapat bertumbuh dengan suburnya. Di dalam Kekristenan kita mengenal seorang tokoh Kristen yang bernama Marthin Luther. Ia adalah seorang tokoh reformator yang mengumandangkan semboyan “Sola Scriptura” yang artinya kembali kepada Alkitab. Artinya, seseorang hanya dapat menumbuhkembangkan kehidupan spiritualnya ketika ia membiarkan dirinya untuk kembali kepada Alkitab sebagai firman Allah. Di dalam Alkitab, ia dapat belajar tentang Tuhan yang diimaninya. Ia dapat belajar tentang berbagai cara untuk menghadapi berbagai kondisi di dalam kehidupannya. Ia dapat belajar tentang cara untuk hidup dengan sesamanya di dunia ini. Singkatnya, dengan kembali ke Alkitab maka seorang muda dapat mengetahui tentang bagaimana cara untuk hidup secara baik di dunia ini. Oleh karena itu, adalah penting bagi seorang muda untuk mau meluangkan sedikit dari waktunya setiap hari untuk membuka Alkitabnya, membacanya dan kemudian berusaha memahami arti dari apa yang dibacanya tersebut di hari itu.
Namun, pertanyaan yang sering saya dengar adalah tentang bagaimana caranya membaca dan memahami firman Tuhan? Apakah seorang muda juga berhak untuk menafsirkan teks Alkitab yang dibacanya? Ataukah ia harus menunggu pendetanya yang melakukannya untuknya? Jawaban atas pertanyaan ini adalah bahwa setiap orang muda berhak dan bahkan harus belajar untuk membaca dan memahami firman Tuhan secara mandiri. Ia tidak boleh menunggu siapapun untuk menafsirkannya untuk dirinya. Ketika di dalam proses penafsiran ia menemui kesulitan maka di situlah ia dapat meminta bantuan dari orang yang lebih tahu dari dirinya untuk membantunya misalnya pendetanya atau majelis-majelis di gerejanya. Untuk itu pada kesempatan ini saya akan mengemukakan tentang beberapa langkah sederhana di dalam membaca dan menafsirkan kitab suci.

B.  Membaca Alkitab Perjanjian Lama

            Sebelum mencoba untuk menafsirkan kita suci maka ada baiknya jika kita memahami bahwa Alkitab adalah merupakan kumpulan-kumpulan teks yang harus ditafsirkan agar dipahami karena tidak setiap teks memiliki arti yang langsung disampaikan kepada kita. Semua teks ditulis pada konteks waktu tertentu dengan latar belakang sejarah yang mempengaruhinya serta ditujukan kepada komunitas tertentu sehingga penting sekali bagi kita untuk memahami semampu kita tentang unsur-unsur yang mempengaruhi pembentukkan sebuah teks. Namun Alkitab adalah sebuah misteri yang kompleks yang menarik untuk disingkap. Kita akan mengawalinya dengan memahami tentang apa itu Alkitab Perjanjian Lama (PL). Adapun pembahasan akan saya batasi pada PL saja karena itu merupakan bidang yang saya tekuni.
Perjanjian Lama (PL) adalah laporan para penulis Alkitab tentang bagaimana Tuhan berinteraksi/berhubungan dengan dunia dan khususnya dengan orang Israel. PL secara keseluruhan bukanlah sebuah narasi atau cerita yang berkesinambungan. PL adalah sebuah antologi yaitu koleksi tulisan-tulisan yang diproduksi dan dikumpulkan di dalam tahapan-tahapan yang berlangsung lebih dari beribu-ribu tahun. Antologi itu berisi apa yang kita sebut buku-buku atau kitab dan buku-buku itu dibagi menjadi pasal-pasal dan ayat-ayat. Sebagai sebuah antologi, PL adalah sebuah kumpulan yang diseleksi. Orang Israel memiliki banyak tulisan yang lain yang disebutkan di dalam Alkitab tetapi tidak bertahan. Contohnya: “Kitab Peperangan-peperangan Tuhan” (Bilangan 21:14).
Tidak seperti antologi di dalam literature lainnya, PL tidak disusun berdasarkan kapan mereka ditulis melainkan oleh sistem-sistem sebagai berikut:
  1. Kronologi narasi yaitu dua belas kitab pertama atau lebih melaporkan kembali peristiwa-peristiwa tentang penciptaan dunia hingga pada awal abad ke-6 BCE. Meskipun demikian bukan berarti bahwa buku-buku tersebut ditulis pertama. Kitab Kejadian misalnya yang berada pada awal PL ditulis pada masa yang lebih kemudian pasal-pasal dan kitab-kitab yang mengikutinya.
  2. Kitab-kitab PL diatur secara tematikal. Setiap komunitas mempunyai cara tersendiri untuk mengatur penyusunan daftar urutan kitab-kitab yang ada termasuk menentukan kitab yang mana yang harus dimasukkan di dalam daftar yang ada.
Istilah yang digunakan untuk menyebut daftar kitab-kitab yang membentuk Alkitab adalah KANON. Kata ini berasal dari bahasa Yunani yang berarti sebuah batang yang digunakan untuk mengukur seperti  penggaris . Dengan demikian  KANON dapat diartikan sebagai sesuatu yang sudah di fix-kan secara pasti dengan aturan tertentu. Ada tiga bagian dari Alkitab Ibrani: Taurat (kitab Hukum)/Torah, kitab Para Nabi (Neviim) dan Tulisan-tulisan (Ketubim). Ketiga bagian ini disingkat dengan istilah TANAKH.
Adapun lima kitab Taurat terdiri dari Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan. Kitab-kitab ini berbicara tentang penciptaan hingga kematian Musa di akhir kitab Ulangan. Kata Taurat berasal dari bahasa Ibrani yang berarti “Pengajaran” atau “hukum.” Sementara itu kitab Para Nabi terdiri dari dua bagian yaitu Nabi-nabi awal: Yosua, Hakim-hakim, Samuel, dan Raja-raja yang merupakan kesinambungan dari cerita Taurat karena diawali persis setelah kematian Musa dengan penunjukan Allah akan Yosua sebagai pengganti Musa dan laporan tentang sejarah bangsa Israel di tanah perjanjian, mulai dari masuknya Israel ke Kanaan di bawah pimpinan Yosua hingga pada kehilangan tanah perjanjian akibat penyerbuan Ba bilonia tahun 586 BCE. Sementara itu bagaian yang kedua disebut kitab Nabi-nabi Kemudian. Kitab-kitab ini dinamakan sesuai dengan nama-nama para nabi yang juga terbagi menjadi Nabi-nabi besar dan nabi-nabi kecil. Nabi-nabi besar adalah kitab-kitab yang lebih panjang seperti Yesaya, Yeremia, dan Yehezkiel. Sementara kitab-kitab nabi kecil adalah dua belas kitab yang lebih pendek yaitu mulai dari Hosea hingga Maleaki. Pemberian nama para nabi sendiri menghubungkan cerita sejarah dengan nubuat sehingga membuat sejarah tidaklah merupakan suatu laporan langsung namun merupakan pandangan Tuhan yang ditafsirkan oleh penerima pesan atau para nabi. Bagian kitab yang terakhir disebut Kitab-kitab tulisan mengandung berbagai buku yang ditulis di dalam berbagai aliran. Kitab-kitab ini terdiri dari: 1) Cerita sejarah: Kitab Tawarik mencakup rentang kronologi sejarah yang sama dengan Taurat dan kitab-kitab Nabi awal yang disimpulkan dengan kepulangan dari pembuangan di Babilonia di paruh kedua abad k-6 BCE.; kitab Ezra-Nehemia melanjutkan cerita ini, menghubungkan sejarah orang Yahudi di abad ke-6 dan ke-5 BCE; 2) Kitab-kitab Tulisan juga mengandung apa yang disebut fiksi sejarah yang terdapat di dalam kitab Ruth, Ester, dan Daniel; kitab puisi seperti Mazmur, Amsal, Kidung Salomo, dan Ratapan; refleksi-refkelsi dari kondisi manusia di dalam kitab Ayub yang hampir semuanya berupa puisi dan juga Pengkhotbah.
Adapun kronologi sejarah PL dapat digambarkan di dalam tabel berikut ini:

 GARIS BESAR PERIODE SEJARAH ISRAEL KUNO

WAKTU
1250-1000 SZB (Abad ke-13-11)
1000-930 (Abad ke-10)
930-800  (Abad ke-10-9)
800-700 (Abad ke-8)
700-586 (Abad ke-7 dan awal abad ke-6)
586-538 (Abad ke-6)
538-332 (Abad ke-6 - ke-4)
332-63 (Abad ke-4 – ke-1)
Peristiwa Utama (Sesuai urutan kurun waktu)
Penyebaran desa-desa di wilayah perbukitan.

Munculnya suku “Israel”

Kepemimpinan Saul

Pembentuk-an kerajaan Daud

Yerusalem sebagai ibukota Yehuda/Is-rael

Daud dan Salomo
Pemben-tukan kerajaan Israel Utara

Kemuncu-lan dan kejatuhan dinasti Omri
Domina-si dan penghan-curan ke-rajaan Utara oleh Asiria

Penaklu-kan Yehuda oleh Asiria
Kemundu-ran kekuasaan Asiria

Diberlaku-kannya reformasi Yosia

Kemundu-ran Yehuda akibat kekuasaan Babilonia

Arus pembua-ngan yang pertama
Penghan-curan Yerusalem dan bait Allah

Arus pembua-ngan kedua dan ketiga para elite ke Babilonia
Kemenangan Persia, kembali dari pembuangan, pembangu-nan kembali bait Allah

Nehemia membangun kembali tembok Yerusalem

Penceraian istri-istri yang berasal dari bangsa asing di bawah pengawasan Ezra dan peninggian Taurat
Masa kepe-
mimpin-
an Yunani

Krisis peng-
Yunani-an

Kerajaan Hasmo-
nean
Tulisan Utama (dan tradisi lisan)
(Tidak ada tulisan, hanya tradisi-tradisi lisan tentang keluaran, para leluhur yang licik/menipu)
Mazmur-mazmur raja dan Zion

Sejarah lampau para leluhur menurut sumber J

Kitab Perjanjian

Kidung Agung

Pengkhotbah


Cerita Yakub

Cerita Yusuf

Cerita Keluaran – padang gurun

Nyanyian Deborah

Nubuat bagi kerajaan utara oleh Amos dan Hosea

Nubuat bagi kerajaan selatan oleh Mikah dan Yesaya
Edisi awal oleh Deutero-nomistic history
(Ulangan-2 Raja) yang dimulai dari Ulangan-reformasi Yosia)

Nahum

Zefanya

Nubuat awal dari Yeremia
Deuteronomistik History pada masa pembua-ngan

Ratapan

Yehezkiel dan Yesaya kedua

Sejarah penciptaan hingga Israel non-P

Sejarah penciptaan hingga Israel menurut sumber P
Hagai

Zakharia

Nehemia

Pembangunan
Kembali bait Allah/cerita Ezra

Yesaya ketiga

Pemazmur
Bagian awal Enok

Ben Sira

Ezra-Nehemia

1-2 Tawarik

Daniel
Ide dan tema baru yang utama
Teologi keterpilihan
Teologi Raja/Zion


Penyem-bahan ekslusif kepada Yahweh yang dipaksakan oleh Yosia
Monoteis-me
Fokus terhadap Bait Allah dan Taurat
Yudais-me

C. Membaca Alkitab dengan Metode Narasi
            Hendaklah setiap orang mengingat bahwa pekerjaan menafsir adalah pekerjaan yang biasanya identik dengan mereka yang belajar secara khusus metode penafsiran di sekolah khusus untuk mendidik calon pendeta. Namun belakangan ini telah ditemukan berbagai metode yang dapat digunakan oleh para pemuda untuk membaca dan menafsirkan kitab suci secara mandiri. Karena keterbatasan waktu maka pada kesempatan ini saya hanya akan membahas salah satu metode yang digunakan yaitu metode narasi. Metode ini merupakan metode favorit saya karena metode ini adalah “congregational friendly” artinya sangat dekat dan mudah diakses oleh siapa saja terutama jemaat. Analisa narasi adalah analisa yang bertujuan untuk membaca sebuah teks secara dekat dengan memperhatikan kata-kata kunci yang ada di dalam bacaan pasal alkitab yang anda gumuli, struktur, bahasa, repetisi dll dari pasal tersebut, menggarisbawahi karakterisasi, plot cerita, dan sudut pandang/point of view yang disajikan di dalam teks. Hal-hal yang perlu dipersiapkan untuk melakukan metode inipun sangat mudah yaitu teks kitab suci, pensil warna/spidol/stabilo dan diri anda sendiri.
     Adapun langkah-langkah untuk melakukan analisa narasi adalah dengan memperhatikan:
a.  Perkembangan plot
  1. Di  mana awal dan akhir dari narasi? Bagaimana anda menandainya? Apakah narasi ini  adalah bagian dari cerita yang lebih luas?
  2. Apa saja peristiwa-peristiwa/ adegan yang terjadi? Siapa yang ada di setiap adegan?  Bagaimana proses transisi di antara setiap adegan?
  3. Apa saja problem/konflik yang menggerakkan plot? Apa saja konflik yang diperkenalkan seiring dengan plot yang berlangsung?
  4. Di mana krisis atau sesuatu yang dianggap sebagai turning point (sesuatu yang mengubah jalan cerita)? Apa yang terjadi di bagian penyelesaian?
  5.  Apakah harapan-harapan yang diberikan oleh cerita kemudian dipenuhi, dilanggar,   bahkan berubah?
  6. Apakah ada gap di dalam cerita? Apakah narator menghilangkan sesuatu? Apakah penghilangan itu mengatakan sesuatu kepada kita tentang plot atau karakter?
  7. Apakah jalan cerita dirusak (dintervensi) oleh penjelasan, kesimpulan atau pandangan dari narator? Apakah narator memasukkan tanggapannya yang mengkonfirmasi atau mengkontradiksikan elemen-elemen di dalam cerita?
b. Karakterisasi
  1. Apa deskripsi langsung dari karakter yang diberikan oleh narator?
  2. Apa yang karakter katakan tentang diri mereka melalui percakapan di dalam hati? Apa yang mereka katakan tentang diri mereka yang mereka katakan secara keras?
  3. Apa yang dikatakan tentang karakter oleh karakter-karakter yang lain? Apa yang  deskripsi tidak langsung ini katakan tentang sang pendeskripsi atau yang dideskripsikan?
  4. Bagaimana dialog pengkarakterisasian dari tokoh-tokoh utama? Siapa yang berbicara di dalam cerita? Siapa yang tidak? Apakah perkataan mereka dapat dipercaya, yang  dikonfirmasi oleh tokoh yang lain, oleh narator atau peristiwa?
c. Point of view/sudut pandang
  1. Melalui pandangan/mata siapa/penceritaan siapa kita melihat setiap adegan?
  2. Di dalam pandangan narator yang omniscient/tahu segalanya, apakah kita mendengar  pikiran-pikiran terdalam dari setiap/salah satu karakter?
  3. Apakah pandangan dari suatu karakter secara terus-menerus diingkari di hadapan pembaca?
  4. Berapa jumlah pandangan, sekalipun singkat, yang kita lihat? Apakah ada tanda-tanda  di antara pandangan-pandangan yang berbeda misalnya hinne/lihatlah!
d.  Waktu
  1. Di adegan yang manakah waktu berjalan lambat atau cepat di dalam cerita? Apakah waktu berpindah cepat/melombat di antara transisi setiap adegan?
  2. Bagaimana setiap peristiwa dihubungkan dengan pemwaktuan di dalam cerita? Apakah ada indikasi tentang masa lalu atau masa depan?
e.  Repetisi/pengulangan
1.    Apakah repetisi muncul di dalam bagian tertentu di dalam cerita – kata-kata, frase,  peristiwa atau adegan?
2.    Apakah repetisi menekankan tentang pentingnya karakter atau ide atau tema di  dalam cerita?
3.    Apakah ada tema tertentu yang digunakan oleh cerita seperti  adegan “perintah-pelaksanaan-laporan” atau “nubuat-penenuhan-laporan”? Jika ada, apakah elemen yang diulangi, mengkonfirmasi, mengubah, mengkontradiksikan, tanggapan yang telah ada di pidato/peristiwa/elemen sebelumnya? Apa yang hal ini bisa katakan tentang plot, karakter dan pandangan yang ada di cerita ini?
            Setelah semua langkah dilakukan maka yang dapat dilakukan adalah menentukan paling sedikit tiga tema besar yang dapat diambil dari teks yang dianalisa tersebut. Misalnya:
            Teks ini menekankan tiga tema yaitu….
            Teks ini membahas tiga tema yaitu….
            Ada tiga hal yang dapat dipelajari dari teks ini yaitu ….
Setiap tema tersebut harus disertai bukti. Misalnya:
            Tema yang pertama adalah tentang kasih setia Tuhan kepada manusia yang tidak berkesudahan.
Bukti-bukti di dalam teks yang dapat mendukung pernyataan ini adalah:
  1. Pada teks terdapat repetisi pada kata kasih yang muncul selama 8 kali (sebutkan bagian-bagian yang menyebutkan.
  2. Pada teks terdapat pengkarakterisasian sosok Tuhan yang penuh kasih, dll.
D.  Membaca Alkitab di dalam Konteks Kekinian Indonesia
            Setelah melakukan penafsiran terhadap terhadap teks maka langkah akhir yang dilakukan oleh pembaca adalah menghubungkan analisa narasi ini dengan keterangan awal tentang latar belakang PL yang telah diberikan pada bagian sebelumnya. Pertanyaan-pertanyaan penghubung adalah seperti demikian:
  • Siapa yang menulis atau mengatakan hal-hal yang terdapat di dalam teks?
  • Kapan teks tersebut ditulis atau dikatakan?
  • Di mana kejadian yang diungkapkan di dalam teks berlangsung?
  • Situasi atau peristiwa apa yang mendorong terjadi suatu peristiwa yang terjadi ataudi dalam teks?
  • Mengapa orang-orang di dalam teks melakukan apa yang dilakukan atau mengatakan apa yang dikatakan?
Setelah menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut maka akhirnya tibalah saatnya kita melakukan refleksi terhadap bacaan tersebut dan menghubungkan dengan kehidupan kita sendiri dengan menjawab beberapa pertanyaan sebagai berikut:

  • Bagaimana caranya saya sebagai orang Indonesia menerapkan apa yang saya pelajari di dalam kehidupan saya?
  • Apakah ada sikap/sifat yang perlu saya ubah?
  • Apakah ada tindakan-tindakan yang harus saya lakukan atau saya hindari?
  • Apakah ada contoh yang harus saya tiru?
  • Apakah saya harus mengaku sesuatu kepada Allah?
  • Apakah ada janji yang harus saya berikan kepada Allah?

Guna mengetahui cara kerja metode ini maka marilah kita membaca dan menafsirkan bersama-sama 2 Samuel 13:1-22 tentang cerita Amnon dan Tamar.
(Pembinaan PeLKaT Gerakan Pemuda di Wisma Nangun Kerti Bedugul-Bali)
Ira D. Mangililo, PhD[1]

[1] Dosen Perjanjian Lama di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga.

KUALITAS IMAN (Daniel 1:1-21; Lukas 17:5-10)



Ada pepatah yang mengatakan bahwa hidup adalah sejumlah pilihan. Ia  ibaratnya pohon oak yang bertumbuh dari buah acorn kecil. Kita membuat pilihan dan pilihan kita akan berbalik dan membentuk kita. Kita adalah kita hari ini karena keputusan-keputusan dan pilihan-pilihan yang dibuat di masa yang lalu. Selama ini ada di antara kita yang tidak paham bahwa keputusan kita sekecil apapun itu adalah sangat penting. Hal ini khususnya benar ketika kita masih muda karena kebanyakan keputusan-keputusan penting kita buat pada saat kita muda. Keputusan-keputusan itu di antaranya berhubungan dengan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: 
universitas mana yang kita akan masuk? 
Jurusan apa yang kita ambil? 
Apakah saya harus menikah? Jika ya, maka dengan siapa dan bagaimana caranya saya mendapatkan pendamping masa depan saya dan kapan hal itu akan terjadi? 
Apa karir yang akan saya pilih? 
Siapa yang akan menjadi best friend saya? 
Musik apa yang akan saya dengar? 
Film-film apa yang akan saya tonton? 
Apa yang akan saya minum? 
Apakah saya akan minum alkohol? 
Apakah saya akan memakai narkoba? 
Sejauh apa saya akan melangkah? 
Bagaimana gaya pacaran saya? Apa kriteria saya memilih pacar?  
Apakah saya boleh melakukan hubungan seks sebelum menikah?
Ketika kita bertanya seperti itu maka kita tidak sendirian. Daniel, seorang pemuda juga menghadapi krisis yang saya seperti anda di perantauan yaitu di Babilonia. Keputusan yang harus dibuatnya akan sangat mempengaruhi kehidupannya secara radikal. Latar belakang kehidupan Daniel ditandai dengan keberadaannya bersama-sama dengan para temannya di Babilonia. Mereka dipisahkan dari keluarga mereka yang berada di Yerusalem oleh Raja Nebukadnezar.  Daniel dan teman-temannya berasal dari keluarga terpandang sehingga raja memerintahkan mereka untuk dilatih untuk menjadi abdi raja. Di sinilah Daniel dan teman-temannya dipaksa untuk berasimilasi di Babilonia.
Di sekolah di Babilonia, Daniel diharuskan untuk berasimilasi atau meleburkan diri bersama-sama dengan murid-murid Babilonia lainnya selama tiga tahun. Namanya diubah menjadi Beltsazar dan ia diharuskan untuk mempelajari pengetahuan, kebudayaan, sejarah, bahasa dan agama Babilonia. Daniel mematuhi segala yang diinginkan daripada. Kecuali, ia tidak patuh pada satu perintah yaitu memakan makanan dan meminum anggur raja. Di sini kita melihat bahwa bagi Daniel sebuah nama tidak mendefinisikan siapa dirinya; pendidikan tidak akan menyakiti dirinya. Tetapi apa yang diterima perutnya begitu menjadi perhatian dan prioritas kehidupannya.  Mengapa? Ada tiga permasalahan sehubungan dengan makanan yang dipersiapkan oleh Raja Babilonia:
1. Tidak kosher/bersih sesuai dengan peraturan di dalam Perjanjian Lama.
2.  Anggur dan makanan telah dipersembahkan kepada dewa-dewa Babilonia.
3.  Makan bersama raja berarti menerima nilai-nilai yang dianut oleh sang raja. Makan
     bersama di satu meja menunjukkan persahabatan, dukungan, sokongan dan
     penganutan nilai-nilai yang sama.
            Daniel menolak untuk menerima nilai-nilai kehidupan Babilonia yang tidak sama dengan nilai-nilai yang dianutnya.  Di sinilah kita bisa mengubah kebudayaan tetapi tidak karakter kita. Kita dapat mengubah nama kita tetapi tidak sifat dasar kita. Daniel mengubah hal-hal lahirian tetapi tidak hal-hal batiniah termasuk kenyataan bahwa ia adalah hamba Allah. Pilihan Daniel ini tentu berbahaya karena dapat menimbulkan kemarahan raja. Namun ia lebih mengutamakan imannya kepada Allah dari pada bersandar pada pengasihan siapapun di dunia ini termasuk raja sekalipun. Di sinilah dapat dikatakan bahwa Daniel memiliki kualitas iman yang tinggi.  Apakah kualitas iman itu?
            Berbicara tentang kualitas iman maka Emily Dickinson pernah menulis demikian: Pengharapan adalah hal yang memiliki bulu yang bertengger di dalam jiwa dan menyanyikan lagu tanpa kata-kata dan tidak pernah berhenti – sama sekali. Di dalam Lukas 17:5-10 murid-murid Tuhan Yesus berkata kepadaNya: “Tambahkanlah iman kami.” Mereka ini adalah orang-orang yang telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Yesus dan menemukan diri mereka di dalam arus kebimbangan dan tersesat di dalam kebingungan. Namun Yesus menjawab, “Jika engkau memiliki iman sebesar biji sesawi saja, maka engkau dapat mengatakan kepada pohon ara ini ‘tercabutlah dan tertanamlah di lautan’ maka ia akan menuruti engkau.” Di sini perkataan Yesus ini bisa saja berarti bahwa para murid tidak dapat memindahkan pohon oleh karena itu iman mereka bahkan tidak sebesar biji sesawi. Namun hal yang perlu mereka ingat adalah bahwa Yesus sendiripun tidak pernah melalukan hal tersebut yaitu mencabut pohon ara dan menanamkannya di lautan atau memindahkan gunung dari tempatnya.
            Jika demikian maka apa itu iman: apakah iman adalah sebuah perasaan dan oleh karena itu berakar di dalam hati? Apakah iman adalah sebuah doktrin sehingga ia berakar di dalam pikiran? Apakah iman adalah tentang dunia yang kita kenal atau yang tidak kita kenal? Apakah ia adalah sebuah misteri atau kebijaksanaan? Ada saat di mana iman adalah pengharapan namun tidak selalu. Ada saat di mana iman adalah percaya namun di saat-saat yang sulit iman juga berarti sebuah kecurigaan yang mendasar. Ada saat iman adalah ketenangan, keberanian, kedamaian, ataupun kemarahan. Namun iman adalah suatu kepercayaan yang tidak tergoyahkan , hal yang paling sering didoakan sebagai lawan dari rasa takut dan bimbang. Yesus sendiri telah memiliki masa-masa di mana ia merasa goyah.
            Lebih lanjut di dalam bacaan kita yang sama, Yesus berpindah dari pohon ara kepada kehidupan seorang budak. 17:7 "Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan! 17:8 Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku d  sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum. 17:9 Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? 17:10 Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.
            Kata-kata ini sangat menikam karena dikatakan Yesus tentang IMAN adalah bahwa iman bukanlah sesuatu yang harus kita miliki melainkan sesuatu yang harus kita lakukan – sesuatu yang kita harus“menjadi” di dalam proses yang tidak pernah selesai. Iman adalah seorang  pekerja yang bekerja dengan tidak mengharapkan  pujian atau hadiah tetapi memahami pekerjaan itu sendiri sebagai bagian dari dirinya sendiri. Bagian dari keberadaannya sebagai manusia. Bagian dari identitas dirinya. Iman adalah ketika pohon ara meninggalkan tanah yang memberinya makan untuk tinggal di laut yang tidak dikenalinya sama sekali [sehingga dapat saja membuatnya mati] karena ia adalah sebuah pohon yang setia kepada apa yang diperintahkan oleh Sang Pengatur kehidupan. Jadi ketika kita berdoa agar iman kita ditambahkan maka yang harus kita sadari adalah bahwa peningkatan iman membutuhkan kerja keras yang membuat kita capek. Kita ibaratnya adalah pohon yang harus bertahan di tempat asing. Pengalaman ini akan membuat kita merasakan ibarat pohon yang diguncang-guncangkan sehingga pertanyaan yang muncul adalah apakah kita bisa bertahan?
            Ada beberapa hal yang harus disadari tentang iman:
  1. Memilih untuk beriman di antara penderitaan ini bukan berarti penderitaan akan berlalu secara otomatis.
  2. Memilih iman di antara penderitaan tidak akan membuat seeorang berhenti untuk bertanya (misalnya Ayub).
  3. Memilih iman di tengah-tengah penderitaan tidak akan menciptakan logika di balik penderitaan.
Sebaliknya:
  1. Memilih beriman di tengah penderitaan akan membuat orang selalu mengingat bahwa Allahlah yang memegang kendali atas kehidupan ini.
  2. Memilih beriman di tengah penderitaan akan menjadi persembahan yang hidup kepada Allah.
  3. Memilih beriman di tengah penderitaan akan membuat seseorang lebih dekat kepada Allah.
Bukti penyertaan Allah kepada orang yang beriman dapat dilihat di dalam cerita Daniel di mana karena keteguhannya maka Allah menganugerahkan kepandaian melebihi penasehat-penasihat dan orang cerdik pandai raja. Ketika diadakan ujian untuk menguji kemampuannya, Daniel tampil mengagumkan dan melampaui semua orang di Babilonia.
            Lebih lanjut, keteguhan iman Daniel mengajarkan kita untuk berani tampil beda yaitu berani berdiri tegak memegang teguh prinsip yang kita miliki dan Tuhan menghargai pilihan kita tersebut. Tuhan memberikan kepada kita hikmat dan kebijaksanaan untuk melalui kehidupan kita. Kadang-kadang kita susah untuk mempertahankan prinsip kehidupan kita karena setiap orang ingin dicintai dan diterima di lingkungannya. Kita semua diberikan hasrat alami untuk diberi persetujuan, kasih, dan perhatian positif dari teman-teman kita. Sebagai anak muda banyak bentuk tekanan yang kita terima sebagai anak muda di antaranya terlibat di dalam tindakan kekerasan, masuk dalam gang-gang, miras, menggunakan obat-obatan terlarang, terlibat di dalam seks bebas, menggunakan bahasa-bahasa makian, merokok hingga melewati batas, tidak menghargai orang tua, bolos kuliah, tidak mengerjakan tugas, dan lain-lain. Oleh karena itu tips-tips yang diberikan Daniel kepada kita:
1. Sangat mudah untuk berdiri bersama-sama dengan banyak orang, tetapi dibutuhkan  
    keberanian untuk berdiri sendiri. Beranilah berdiri sendiri!
2. Harus bijaksana dan cerdas menyiapkan jawaban yang tepat ketika akan menolak
    terlibat di dalam hal-hal yang tidak benar.
3. Ketika kita merasa berdiri sendiri, ingatlah bahwa kita tidak berdiri sendiri. Tuhan ada
    bersama-sama dengan kita. Yesus berdiri dengan kita! Tetaplah beriman kepada Tuhan karena di situlah kualitas diri kita akan semakin di asah dan dipermantap.  Tuhan beserta dengan kita senantiasa!
(Pembinaan PeLKaT Gerakan Pemuda di Wisma Nangun Kerti - Bedugul Bali )
 Oleh

Ira D. Mangililo, PhD




DOA; sangat besar kuasanya

YESUS MEMBUATMU BERHARGA