Pemahaman yang menonjol dalam Calvinis adalah Gereja sebagai "TUBUH KRISTUS" yang menekankan persekutuan dengan TUHAN dan sesama manusia. (Pemahaman tubuh terhadap kepala dan anggota - anggota dari satu tubuh).
Pemahaman lain Gereja sebagai "ibu" di mana para anggota keluarga dipelihara, dibina dan didewasakan melalui tiga aspek, yakni : Pelayan Firman, Pelayan Sakramen dan Tatanan Disiplin.
Gereja Missioner :
Yang dimaksud gereja yang missioner adalah Gereja yang melakukan misinya dengan menghadirkan diri seutuhnya bagi keselamatan / kesejahteraan sesama manusia. Maka warga gereja GPIB harus dibina dan diarahkan agar mampu melakukan misinya dengan hadir seutuhnya bagi kesejahteraan sesama manusia dengan sifat - sifat keteladanan dan peduli pada lingkungannya.
Baptisan :
GPIB meneruskan tradisi Baptisan anak, dimana pengakuan iman dinyatakan oleh orang tua yang membawa dan menyerahkan anak untuk dimateraikan dalam sakramen Baptisan Kudus. Baptisan dilakukan dengan cara dipercik. Hakekat dari Baptisan itu bukanlah terletak pada ritus baptisan, dan tempat dimana baptisan itu dilakukan di Gereja atau sungai, dengan cara diselamkan atau dipercikan. Penentu arti baptisan itu adalah pada ungkapan wibawa ALLAH yang didalamnya namaNYA baptisan itu dilakukan. Bagi orang dewasa yang baru percaya dan ingin menjadi pengikut KRISTUS akan diberikan kesempatan untuk belajar tentang ajaran Kristiani. Mereka mengikuti Katekisasi setelah itu menerima Baptisan Kudus atas pengakuan imannya sendiri secara pribadi dan dewasa.
Tentang Bergereja :
GPIB berpemerintah Presbyterial Sinodal;
Presbyterial Sinodal berarti melalui sistem kepemimpinan dan kepengurusan didalam GPIB tergambar melalui kepemimpinan dan kepengurusan para presbiter yakni: Pendeta, Penatua dan Diaken yang memimpin dan mengurus GPIB secara bersama - sama, yang juga nampak dalam alur vertikal - horisontal.
Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat ( GPIB ) lahir tanggal 31 Oktober 1948. GPIB hadir sebagai perwujudan Gereja bagian mandiri yang ke Empat dari Gereja Protestan di Indonesia (GPI), dulu De Protestantsche Kerk in Nederlandsch-Indie. Kehadirannya merupakan kelembagaan dari jemaat - jemaat yang berada di bagian barat dari ketiga gereja saudara yang sebelumnya sudah mandiri, Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM-1934), Gereja Protestan di Maluku (GPM-1935), dan Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT-1947).
GPIB sebagai gereja, pada dasarnya GPIB dipanggil ALLAH ke dalam persekutuan dengaNYA, dikuduskan dan diutus ke dalam dunia untuk memberitakan Injil YESUS KRISTUS.
Saat ini GPIB melayani di 25 propinsi di Indonesia, yang terdiri dari 24 Musyawarah Pelayanan (MuPel) dan 295 jemaat yang tersebar di perkotaan dan pedesaan, serta +/- 350 jemaat pos Pelayanan dan Kesaksian ( POS PelKes ); dengan jumlah warga jemaat +/- 375.000 jiwa dan Pendeta yang melayani berjumlah 460 orang.
Ajaran : Mewarisi tradisi CALVINIS
Azas : Presbiterial Sinodal
Sakremen : Baptisan dan Perjamuan Kudus
GPIB Jemaat Maranatha di Denpasar berada di tengah-tengah kota Madya Denpasar. Sekarang ini dengan +/- 1.684 KK atau 6.152 jiwa dilayani oleh Presbiter (Penatua dan Diaken) 198 orang, 257 orang pengurus Bidang Pelayanan Kategorial (Pelayanan Anak, Persekutuan Teruna, Gerakan Pemuda, Persatuan Wanita, Persekutuan Kaum Bapak dan Persekutuan Kaum Lanjut Usia). Dibagi dalam 27 Sektor Pelayan dan 1 Pos Pelayanan dan Kesaksian (Pos Pelkes) di Jembrana - Negara (bagian Barat Pulau Bali).
SEKELUMIT TENTANG PERJALANAN GPIB MARANATHA DI DENPASAR
AWAL PERSEKUTUAN
Berawal sekitar tahun 1935, persekutuan Kristen protestan dengan anggota orang - orang Belanda dan pegawai pemerintah (Belanda) pimpinan J. Luhulima menumpang di Gereja Bali Jl. Debes sampai tahun 1946; Persekutuan berdiri atas inisiatif pribadi, Pemerintahan Belanda tidak menderikan gereja di Bali dengan alasan pelestarian adat Bali.
PERSEKUTUAN PASCA KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA
•Tahun 1946 Jumlah umat Kristiani bertambah oleh sebab sebagian anggota KNIL memilih tinggal di Indonesia dan masuk ke Bali sebagai anggota TNI.
•Mohon tempat ibadah ke pemerintah untuk pembinaan rohani anggota TNI
• Disediakan tanah kosong oleh pemerintah di Jl. Surapati utk pelayanan rohani anggota TNI dan sebagai Pelopor Ds. Struik (Protestan), Pastor Beer (Katolik)
TEMPAT IBADAH PERTAMA
Lokasi: Jl. Surapati; Tiang batang kelapa, dinding gedeg, atap ilalang, lantai semen, kursi dan tempat duduk bangku panjang dengan sandaran, kapasitas 100 jemaat; Pembangunan dibantu Genie A.D dan diresmikam Juni 1947, Pelayan firman pertama: Ds. Aipasa; padaNopember 1948 umat Katolik mendirikan gereja sendiri di Jl. Kepundung dan pada 1949 umat Kristen Tionghoa mendirikan gereja sendiri di Jl. Tegallinga; Tinggal jemaat Kristen Protestan Denpasar
LAHIRNYAGPIB
31 Oktober 1948 lahir GPIB, Jemaat Kristen Protestan Denpasar termasuk Klasis Jawa Timur – Bali -Lombok, bersama jemaat Singaraja dan Mataram. Ketua Majelis Jemaat GPIB Denpasar pertama Ds. BWG Gramberg
PROSES PEMBANGUNAN GEREJA PERMANEN
Dalam perjalanan umat mengalami Kendala atas STATUS LAHAN / TANAH dan untuk menjawab pergumulan tersebut dibuat Permohonan penggunaan tanah pemerintah; pada 01 Nopember 1952 oleh MJ ke Pemda; kemudian pada 23 April 1955, TT oleh Ds. JD Purukan; 27 Maret 1956, PW Martha Maria menghadap Gubernur Bali dan kurang lebih tiga tahun kemudian yaitu tahun 1958 keluar ijin Gubernur Bali; 02 Pebruari 1956 mengajukan permohonan ke Menteri Pekerjaan Umum; Keluar Surat Hak Guna Bangunan (HGB)
PELAKSANAAN PEMBANGUNAN
27 Oktober 1959 keluar IMB Pemda Bali dan pada 01 Nopember 1959 peletakan batu pertama oleh Residen J. Pelo, kebaktian dipimpin Ds. Joh. Siahaya, Pembanguna selesai dalam 2 tahun, biaya Rp 1.200.000 dan pad Ditahbiskan a tanggal 01 Nopember 1961
PENDETA / KETUA MAJELIS JEMAAT GPIB “MARANATHA” DENPASAR