Tampilkan postingan dengan label RENUNGAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RENUNGAN. Tampilkan semua postingan

Harapan di Balik Tembok "Mustahil"

Dunia sering kali mendikte kita untuk menjadi realistis. Ketika pintu tertutup.diagnosa memburuk,atau jalan di depan tampak terputus. kata "mustahil" biasanya menjadi titik henti bagi banyak orang.


Namun, bagi kita, kata "mustahil" bukanlah titik akhir; ia hanyalah panggung di mana keajaiban sedang dipersiapkan.

 1.Harapan Bukan sekadar Optimisme

Optimisme adalah percaya bahwa hal baik akan terjadi karena situasinya mendukung. Namun, Harapan adalah percaya bahwa sesuatu itu benar dan bermakna, tidak peduli bagaimana pun hasilnya. Harapan adalah jangkar yang dilemparkan ke masa depan agar perahu kita tidak hanyut oleh badai masa kini.

2. Ketika Logika Berhenti, Iman Bekeria.

Dalam iman, kita mengenal konsep -Spes contra spem- berharap dalam ketidakpastian (Roma 4:18). Seperti Abraham yang berharap memiliki keturunan meskipun secara biologis mustahil, kita pun dipanggil untuk melihat melampaui apa yang terlihat oleh mata. Mata kita melihat tembok, tetapi harapan melihat pintu.

3. Kekuatan dari Penyerahan.

Tetap berharap pada hal yang mustahil bukan berarti kita memaksakan kehendak kita kepada Tuhan.Sebaliknya, itu adalah keberanian untuk berkata:"Tuhan, menurut logikaku ini tidak mungkin, tetapi aku tahu bagi-Mu tidak ada yang mustahil. Aku meletakkan harapanku pada kuasa-Mu, bukan pada kemampuanku."

Jemaat Tuhan, Jangan menyerah hanya karena situasi mengatakan "tidak mungkin". Ingatlah bahwa pelangi hanya muncul setelah hujan, dan fajar selalu hadir setelah malam yang paling gelap.

Tetaplah melangkah, tetaplah berdoa, dan tetaplah percaya. Sebab, sering kali Tuhan menyimpan mukjizat-Nya justru satu langkah tepat setelah kita merasa ingin menyerah.

"Sebab bagi Allah tidak ada vang mustahil" Lukas 1 : 37

BUMI AKAN PENUH PENGETAHUAN TENTANG KEMULIAAN TUHAN

 Bacaan Habakuk 2:9-14

"Sebab bumi akan penuh dengan pengetahuan tentang kemuliaan TUHAN, seperti air menutupi lautan." (ay. 14 TB-2)

Kisah Yesus membangkitkan Lazarus dalam Injil Yohanes pasal 11 menjadi pelajaran yang berharga bagi kita, terutama ketika kita ingin memahami apa arti sesungguhnya dari kemuliaan TUHAN. Dalam kisah tersebut, Yesus menantang Marta, saudara perempuan Lazarus, untuk membuka batu penutup kubur saudaranya yang sudah empat hari dikuburkan. Marta sempat ragu dan keberatan, tetapi Yesus menyampaikan kepadanya bahwa ketika ia percaya maka ia akan melihat kemuliaan TUHAN. Lalu Yesus membangkitkan Lazarus dari kematiannya.

Nabi Habakuk menubuatkan bahwa bumi akan dipenuhi dengan pengetahuan tentang kemuliaan TUHAN, dan benar bahwa nubuat itu dipenuhi oleh percaya kita pada perbuatan TUHAN dalam Yesus Kristus. Ketika kita percaya dalam nama Yesus, maka segala kemuliaan TUHAN akan dinyatakan: keselamatan, pertolongan, kesembuhan, mukjizat, keberhasilan dalam studi, penghargaan melalui pekerjaan, dlsb.

Sahabat, seluruh bumi akan menerima pengetahuan tentang kemuliaan TUHAN melalui iman yang percaya. Karena itu, apalagi yang kita tunggu? Mulailah untuk percaya! Percaya bahwa TUHAN sanggup menjawab doamu. TUHAN sanggup menyembuhkanmu. TUHAN sanggup memberkatimu. TUHAN sanggup menolongmu. TUHAN sanggup membuat engkau bertahan di tengah badai. TUHAN sanggup membelamu ketika orang-orang lain meninggalkanmu. TUHAN sanggup menghapus air matamu. TUHAN sanggup memberi kesabaran dalam setiap situasi. Dan TUHAN sanggup membuat segala sesuatu yang tidak mungkin dan menjadikannya indah pada waktunya.

Mari wujudkan iman percaya kita melalui kesetiaan dan ketaatan, dengan hati yang berserah dan penuh syukur dalam segala keadaan. TUHAN memelihara hidup kita, hari ini sampai selama-lamanya. Bersaksilah terus bagi dunia bahwa dengan percaya kita akan memenuhi bumi ini dengan kemuliaan TUHAN. ROR/jmj

Doa: Ya TUHAN, ajari kami untuk senantiasa percaya sehingga kemuliaan-Mu dinyatakan. Amin

KUNCI UNTUK MELIHAT KEMULIAAN TUHAN ADALAH PERCAYA!

KESOMBONGAN AWAL DARI KEHANCURAN

 Bacaan Habakuk 1:15-17

"Itulah sebabnya dipersembahkannya kurban kepada pukatnya dan dibakarnya kurban kepada jalanya. Sebab, dengan alat-alat itu pendapatannya melimpah dan rezekinya berlimpah ruah." (ay. 16 TB-2)

Kerajaan Singasari pernah mencapai masa kejayaannya di bawah pemerintahan raja Kertanegara. Namun, karena ambisi dan kesombongannya untuk menguasai seluruh Nusantara dan mengabaikan keamanan internal kerajaan, akhirnya kerajaan Singasari hancur akibat serangan tak terduga dari raja Jayakatwang dari kerajaan Kediri pada tahun 1292.

Demikian pula ketika Nabi Habakuk menggambarkan bahwa Kerajaan Babel, yang menghancurkan Yehuda adalah Kerajaan yang jahat dan sombong. Mereka membunuh musuh-musuh mereka tanpa belas kasihan dan menganggap bahwa semua keberhasilan yang diraih adalah hasil dari kemampuan mereka sendiri, terlepas dari campur tangan TUHAN. Padahal, jika bukan karena telah ditetapkan oleh TUHAN (ay. 12), maka Kerajaan Babel itu tidak ada artinya. Pada akhirnya, mereka pun tidak akan luput dari hukuman TUHAN.

Apabila engkau meraih keberhasilan dalam hidup, ingatlah bahwa semua itu terjadi atas anugerah TUHAN. Oleh karena itu, janganlah engkau tergoda untuk menjadi sombong dengan menganggap bahwa keberhasilan tersebut sepenuhnya merupakan hasil jerih payahmu sendiri. Sikap demikian mencerminkan lupa diri dan dapat berujung pada kehancuran yang berasal dari TUHAN. Demikian pula, apabila engkau menyaksikan keberhasilan orang lain, bahkan ketika keberhasilannya melampaui pencapaianmu dan disertai dengan kesombongan yakinlah bahwa keberhasilan tersebut pun berasal dari TUHAN. Namun, kesombongan yang menyertainya pada akhirnya akan mendatangkan kehancuran.

Marilah kita merendahkan hati di hadapan TUHAN, mengucap syukur kepada-Nya, dan setia melakukan kehendak-Nya, sebab hanya dari TUHANlah segala kebaikan dan keberhasilan berasal. Kesombongan akan menuntun manusia pada sikap lupa diri dan meremehkan peran TUHAN, yang pada akhirnya menjadi awal dari kehancuran. Sebab, di luar TUHAN, segala sesuatu tidak memiliki makna dan hanya membawa kesia-siaan. ROR/jmj

Doa: Ya TUHAN, ajarku merendahkan hati untuk mengakui bahwa semua keberhasilanku karena Engkau, Amin

KESOMBONGAN MEMBUAT JURANG KEJATUHAN MU SEMAKIN DALAM.

YESUS MENGHAPUS SEGALA AIR MATA


Bacaan Kitab Wahyu 21 : 1 – 8
PENGANTAR
Kitab Wahyu ditulis untuk menguatkan dan meneguhkan iman jemaat-jemaat Kristen (tujuh jemaat) di Asia Kecil yang sedang menghadapi penghambatan dan penindasan besar. Di Tengah kemilau dan gemerlapnya kehidupan di tujuh kota yang terkenal tersebut, jemaat-jemaat Kristen hadir sebagai persekutuan kecil, minoritas, di tengah mayoritas penduduk yang non Kristen. Tantangan dan hambatan yang dihadapi jemaat, di satu sisi adalah perilaku hidup bebas, pesta pora, kemabukan, pencabulan dan penyembahan berhala. Di sisi lain, pemberlakuan aturan dan tuntutan kepada seluruh penduduk dalam wilayah kekuasaan Romawi untuk menyembah kaisar dewa atau tuhan.
Kesetiaan jemaat untuk tetap beriman kepada Tuhan Yesus dan memberlakukan pola hidup saleh, adil, benar, jujur, menyebabkan mereka dibenci dan dimusuhi. Jemaat Kristen dianggap ‘yang lain’ sehingga harus ditindas dan disingkirkan. Ketidaksediaan untuk mengakui dan menyembah kaisar sebagai tuhan menyebabkan jemaat Kristen makin dikejar-kejar untuk ditindas dan dihancurkan. Para tokoh dan pemuka jemaat yang vocal menyuarakan perlawanan, ditangkap, dibuang, bahkan dibunuh. Salah satunya adalah penatua Yohanes, penulis kitab Wahyu, yang dibuang di pulau Patmos. Beberapa warga jemaat yang tidak kuat menghadapi tekanan dan penindasan tersebut akhirnya meninggalkan imannya kepada Kristus.
Tujuan penulisan kitab Wahyu adalah menguatkan iman dan pengharapan jemaat Kristen kepada Yesus Kristus, juga mengajar mereka untuk tetap tekun dan setia? Sebab Tuhan Yesus akan segera datang untuk menghancurkan para musuh jemaat, termasuk penguasa lalim, dan membawa kelepasan dan keselamatan bagi seluruh jemaat.
MEMAHAMI TEKS DALAM KONTEKS
Penulis menyajikan suatu visi atau penglihatan masa depan tentang suatu proses penciptaan kembali yang Tuhan lakukan terhadap langit dan bumi. Langit dan bumi lama, termasuk penguasa lalim telah berlalu, diganti dengan langit dan bumi baru, yang di dalamnya Tuhan memerintah. Tuhan turun dari sorga dan menghadirkan wilayah kekuasaan-Nya, yakni Yerusalem baru yang diperuntukkan bagi jemaat-Nya di bumi. Di Yerusalem baru, jemaat sebagai pengantin perempuan akan berhias menyambut kedatangan pengantin laki-laki, yakni Yesus Kristus (ayat 1-2).
Kehadiran Allah dan pemerintahan-Nya di tengah-tengah manusia melalui kemah-Nya yang dibentangkan menunjukkan kesediaan Allah untuk menaungi dan menolong jemaat Kreisten yang tetap setia beriman. Allah juga mengikat perjanjian kekal dengan jemaat-Nya. Allah pun berjanji untuk menghapus segala air mata, ratap tangis, perkabungan dan dukacita bahkan maut pun dilenyapkan (ayat 3-4). Perjanjian kekal yang telah diikat dengan jemaat-Nya membuat Allah terus bertindak untuk membaharui bumi ciptaan-Nya, secara khusus kehidupan jemaat-Nya yang sangat tersiksa dan menderita (ayat 6).
Yohanes diminta untuk menuliskan semua penglihatan dan perkataan yang didengarnya sebagai bukti atas tindakan Allah yang membaharui alam semesta dan kehidupan jemaat-Nya sedang terjadi. Tuhan Allah menjadi pangkal dan tujuan dari pembaharuan yang dilakukan-Nya dari awal sampai akhir. Jemaat terhisab di dalam seluruh karya Allah yang membaharui dan menyelamatkan. Di bumi yang baru tersebut, mereka yang haus akan diberi minum, yang menang akan mendapat bagiannya yang membahagiakan, yakni keselamatan kekal sebagai anak-anak Allah (ayat 7). Sebaliknya, mereka yang tidak setia, penakut, yang tidak percaya, berlaku keji, pembunuh, orang sundal, tukang sihir, penyembah berhala dan pendusta, akan mendapat bagian kebinasaan dan kematian kekal.
KHOTBAH
Kita bersyukur karena dibimbing Tuhan sampai di hari terakhir tahun 2016. Beberapa jam ke depan, kita akan memasuki tahun baru, 2017. Sejenak kita menoleh atau kilas balik perjalanan hidup di tahun 2016, kita dengan yakin dapat berkat: Kalau bukan Tuhan yang membimbing, kita pasti sudah binasa. Beratnya tekanan, perjalanan yang berliku-liku, naik gunung, turun lembah, bahkan terkadang jurang yang dipenuhi batu-batu terjal dan tajam menjalani pengalaman hidup. Sehingga kita pun harus melaluinya dengan penuh derita, susah, sedih dan air mata. Terkadang kita kuat dan mampu tegak berdiri untuk melangkah dan melewati semua kesulitan dengan baik. tetapi kadang pula kita lemah, jatuh dan terjatuh lagi. Air mata mnejadi makanan sehari-hari, siang dan malam. Kehidupan kita seolah menjadi tertawaan orang-orang disekitar. Iman, pengharapan dan kasih kita tergerus oleh dukacita, kecewa dan marah karena merasa seoalah Tuhan tidak menolong.
Susah, derita dan air mata karena beriman kepada Yesus Kristus, tidak berakhir dengan sia-sia. Itulah yang kita alami di malam akhir tahun. Di sini, kita berdiri dan memandang ke depan, menerobos kelamnya susah dan derita yang masih terus membayang. Dengan sangat yakin kita bisa berkata bahwa Yesus Kristus yang telah datang ke dunia, dan yang telah kita sambut di dalam hati, Dia akan membuat segala sesuatu baru di dalam seluruh hidup dan aktifitas kita.
Visi zaman baru yang meliputi langit dan bumi, bahkan kota Yerusalem merupakan karya keselamatan Allah di dalam Yesus Kristus bagi setiap kita yang setia beriman kepada-Nya. Di dalam zaman baru tersebut, Allah di dalam Yesus Kristus hadir dan memerintah sebagai penguasa utama; mengatasi penguasa dunia. Ia akan membaharui alam semesta, termasuk kehidupan seluruh umat manusia. Kemah (kerajaan) dan pemerintahan-Nya meliputi semua manusia di dunia, khusus mereka yang menjadi umat-Nya karena terikat dalam perjanjian baru dan kekal dengan-Nya. Di dalam kerajaan dan pemerintahan-Nya tidak ada lagi air mata, perkabungan, dukacita, ratap tangis bahkan maut. Segala sesuatu yang lama telah berlalu dan yang baru telah datang.
Yesus telah datang. Ia adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir. Kehadiran-Nya untuk meng-akhiri yang lama dan meng-Awali yang baru dalam hidup kita. Bersama Tahun lama, 2016 yang akan berakhir ini, kita pun akhiri semua yang lama dalam hidup. Dan bersama Yesus, kita siap memasuki Tahun Baru 2017, sebagai umat baru yang tetap terikat dalam perjanjian-Nya dan mengalami pemerintahan-Nya yang menjadikan kita sebagai pemenang di zaman baru. SELAMAT. A.F/asp|GPIB|SGDK|20161231

YESUS BINTANG PENUNTUN JALAN HIDUP



Bacaan : Kitab Matius 2: 1 – 6
PENGANTAR
Injil Matius ditulis dan ditujukan kepada jemaat Kristen yang berlatar belakang Yahudi.
Orang-orang Yahudi selalu menganggap/mengakui diri sebagai anak-anak / keturunan Abraham secara lahiriah, dan Abraham adalah Bapa leluhur mereka. Orang-orang Yahudi juga masih selalu menganggap Daud sebagai raja idaman. Mereka tetap memiliki pengharapan mesianis; bahwa raja/mesias dari keturunan Daud masih akan datang untuk memerintahdan memulihkan kerajaan Israel. Ini menjelaskan bahwa orang-orang Yahudi belum mengakui Yesus sebagai Mesias/Raja dari keturunan Daud.
Injil Matius ditulis untuk meyakinkan jemaat Kristen bahwa Yesus adalah keturunan Abraham. Yesus juga adalah Mesias/Raja dari keturunan Daud; Yang Diurapi; Anak Allah. Hal ini tampak dalam kisah kehidupan-Nya; sejak kelahiran, pelayanan, penderitaan, kematian, kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga. Itu sebabnya, penginjil secara sadar memulai tulisannya dengan menyajikan silsilah Yesus, anak Abraham, anak Daud.
Dengan cara demikian, jemaat mau diingatkan dan diyakinkan bahwa mereka tidak perlu menunggu mesias yang lain. Karena Mesias yang dinantikan dari keturunan Daud telah datang, yaitu Yesus. Jemaat Kristen juga diingatkan supaya tidak membiarkan orang-orang Yahudi tertentu memengaruhi dan menarik mereka kembali kepada Yudaisme yang terus menanti kedatangan Mesias dari keturunan Daud.
MEMAHAMI TEKS DALAM KONTEKS
Teks bacaan kita dimulai dengan tempat Yesus Lahir, yaitu di Betlehem, di tanah Yehuda. Betlehem (Rumah Roti), pada zaman dulu disebut Efrat atau Efrata. Betlehem adalah rumah atau kota Daud (1 Samuel 16:1; 20:6). Hal ini menjelaskan bahwa Yesus adalah Raja dari keturunan
Daud; sebagaimana telah dinubuatkan oleh nabi Mikha. “Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, daripadamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.” (Mikha 5:1)
Teks kita juga menyebut nama raja yang berkuasa pada saat Yesus lahir, yaitu Herodes; seorang keturunan Idumea (Edom), yang di-Yahudi-kan. Ia sangat berjasa kepada Roma dalam peperangan melawan Palestina. Sehingga menjadi gubernur pada tahun 47 sM dan mendapat gelar raja pada tahun 40 sM dan memerintah sampai tahun 4 sM. Herodes adalah raja yang keras, kejam dan selalu curiga. Ia tidak segan membunuh orang-orang lain, bahkan anggota keluarganya sendiri, jika dianggap dan dicurigai ingin mengambil kedudukan dan kuasanya. Meskipun kejam dan tirani, tetapi Herodes selalu berusaha menyenangkan dan mengambil hati orang-orang Yahudi dengan membangun Bait Allah, meringankan pajak, menyediakan pangan. Tujuannya agar orang-orang tidak berontak melawan dia, tetapi selalu patuh dan mendukung pemerintahnya.
Dengan mengisahkan demikian, penginjil ingin mempertentangkan antara Yesus, raja Yehuda dari keturanan Daud yang sesungguhnya dengan Herodes, raja Yehuda yang bukan dari keturunan Daud. Yesus adalah  raja damai dipertentangkan dengan Herodes sebagai raja tirani dan kejam.
Kisah selanjutnya menampilkan kedatangan orang-orang majus dari Timur, ke Yerusalem. Mereka adalah orang-orang pintar dan bijak yang bisa melihat tanda-tanda di langit melalui bintang dan meramalkan kejadian yang akan datang. Karena itu, ketika melihat bintang raja terbit di langit, mereka yakin bahwa seorang raja Yahudi telah lahir. Seorang raja yang besar dan penuh kuasa. Oleh karena itu, mereka rela meninggalkan negeri dan pekerjaan, menempuh perjalanan jauh dan datang ke Yerusalem. Mereka yakin bahwa Yesus sebagai raja orang-orang Yahudi telah lahir di Yerusalem. Sebab Yerusalem adalah pusat kekuasaan politik dan keagamaan orang-orang Yahudi. Herodes juga bertempat tinggal di dalam kompleks Yerusalem. Mereka tidak tahubahwa Yesus lahir di Betlehem. Tetapi dengan cara hadir di Yerusalem dan bertanya-tanya, “Di mana Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah-Nya” para majus telah memberitakan tentang kelahiran Yesus, raja dari keturunan Daud kepada Herodes dan orang-orang di Yerusalem.
Berita ini membuat Herodes terkejut, gusar, gelisah dan marah karena takhta dan kedudukannya terancam oleh raja yang baru lahir. Hal ini mengemparkan seluruh Yerusalem karena takut terhadap tindakan kejam yang akan diambil Herodes. Namun, sebelum bertindak, Herodes berusaha mencari informasi dari para imam, farisi dan ahli Taurat tentang kapan dan di mana raja orang Yahudi dilahirkan. Herodes pun mengetahui bahwa Yesus, raja orang Yahudi, lahir di Betlehem.
KHOTBAH
Tahun ini Hari Natal bertepatan dengan Hari Minggu. Banyak warga gereja mungkin kecewa dan mengeluh karena hari libur Natal berkurang. Namun jika kita merenung bahwa Yesus Kristus, Tuhan atas waktu, bahkan Dia sebagai sang Waktu telah menciptakannya demikian maka sesungguhnya ada hikmat yang bisa kita peroleh. Sehingga perayaan Natal tahun ini mesti menjadi perayaan besar sarat makna bagi perjalanan hidup kita.
Hari Natal adalah hari  Lahir Yesus Kristus. Allah mengambil rupa manusia dan lahir sebagai seorang bayi yang polos, miskin dan hina. Hari Minggu adalah hari kebangkitan Yesus Kristus dari kematian; mengalahkan segala kuasa dunia; baik dunia orang hidup, maupun dunia orang mati. Jadi, jika dua Hari Raya ini dirayakan bersamaan maka maknanya jelas, bahwa Yesus Kristus lahir untuk menjadi pemenang. Apa dan bagaimana pun keadaan ketika Ia lahir, tidak menghalangi atau merintangi-Nya untuk meraih kemenangan. Bahwa kemenangan yang diraih bukan tanpa pengorbanan, tetapi justru dengn pengorbanan besar. Bahwa kemenangan Yesus Kristus merupakan kemenangan Allah, bahkan kemenangan seluruh ciptaan; kemenangan gereja dan orang percaya atas kuasa dosa yang merusak dan mematikan. Oleh karena itu, perayaan Hari Natal tahun ini mesti menjadi moment kelahiran baru bersama Yesus Kristus. Sehingga, kita pun akan mengalami kemenangan di setiap langkah dan jalan serta seluruh karya-layan hidup kita, meskipun banyak tantangandan rintangan menghadang.
Mencapai kemenangan tanpa tantangan, rintangan dan hambatan iman adalah kemenangan murahan. Kemenangan sejati akan diraih jika kita berjuang dalam hidup melawan kekuatan-kekuatan dunia yang kejam dengan memandang pada Yesus, sang Bintang Penuntun jalan hidup. Sebab hanya Yesus yang mampu menuntun sampai ke tujuan akhir, yaitu kemenangan sejati. Mseperti para majus yang rela meninggalkan tempat tingal dan menmpuh perjalanan jauh karena melihat bintang raja terbit di Timur. Bintang itu menuntun mereka sampai ke Yerusalem, pusat kekuasaan politik dan keagamaan. Di tengah situasi yang mencekam, karena berita tentang kelahiran Yesus, raja orang Yahudi disampaikan kepada Herodes, para majus tidak takut. Mereka sangat yakin bahwa kekuatan yang terpancar dari bintang yang mereka lihat akan menarik dan menuntun mereka sampai tujuan, yakni berjumpa dengan Yesua. Keinginan dan motivasi mereka tulus murni untuk menyembah Yesus, sang Raja Damai, membuat mereka mampu melewati setia hambatan dalam ketidaktahuan dengan tenang.
Tidak sedikit dari kita telah sampai di tujuan pencarian dalam hidup. Ada yang sesuai rencana-rencana yang kita susun di awal melangkah. Tetapi mesti diakui bahwa ada lebih banyak yang tidak kita rencanakan sebelumnya, itulah yang kita capai. Itulah mujizat karena kita menjalani kehidupan dan melakukan seluruh aktifitas kita dengan memandang pada Yesus. Karena itu, kita tidak perlu berbangga diri atas semua pencapaian diri. Kita tidak perlu resah, kecewa dan berkeluh karena Hari Natal bertepatan dengan hari Minggu. Sebaliknya, kita tetap tenang dan tetap mengarahkan pandangan dan visi hidup kita selanjutnya kepada Yesus, sang  Bintang Penuntun Jalan Hidup. Jalani setiap jejak hidup dengan motivasi yang tulus dan murni, yakni sebagai sebuah model penyembahan kepada Yesus. Dengan demikian, kita akan mampu mengatasi dan melewati setiap rintangan dan hambatan sebesar apa pun.
Yesus adalah “Bintang” yang menerangi dan menuntun jalan hidup kita menuju masa depan yang pasti cerah. Mari terima Yesus di hati kita dan serahkan hidup kita dibimbing dan dituntun oleh-Nya serta dapat bersaksi tentang nama-Nya bagi semua orang, termasuk para penguasa. A.F/asp|GPIB|SGDK|20161225

YESUS: Sang Penyelamat dan IMANUEL


Bacaan Matius 1 : 18 – 25

Latar Belakang Singkat Injil Matius.

Menulis injilnya sesuadah injil Markus sekitar tahun 80-90 Sebelum Zaman Bersama (SZB). Matius berhadapan dengan kenyataan orang-orang Yahudi yang percaya Yesus sebagai Kristus. Kata Kristus adalah bahasa Yunani atau Mesias dalam bahasa Ibrani dan dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai Raja. Bangsa Yahudi yang disingkirkan itu dinilai tidak murni lagi. Mereka dianggap sudah tidak setia lagi kepada hukum dan agama Yahudi yang merupakan tradisi bangsa Yahudi turun temurun sejak nenek moyang mereka yang ditarik sampai ke Abraham. Bangsa Yahudi beranggapan bahwa Mesias belum datang, sedangkan para pengikut Yesus percaya bahwa Yesus itulah Mesias yang dinanti-nantikan bangsa Yahudi. Perbedaan inilah yang membuat bangsa Yahudi menganggap para pengikut Yesus tidak murni lagi. Mereka tercemar dengan ajaran itu sehingga mereka perlu diisolasi.

Tantangan terhadap identitas ke Yahudian mereka menyebabkan mereka berada dalam krisis identitas. Apakah mereka masih bangsa Yahudi, ataukah mereka sudah tidak lagi. Masalah kemurnian ini penting bagi bangsa Yahudi. Bangsa Yahudi beranggapan bahwa mereka adalah bahwa mereka adalah Umat (am) Tuhan sedangkan bangsa-bangsa lainnya, asing (goyim). Karena itu kehilangan status sebagai umat Tuhan itu sangatlah menyedihkan bagi mereka, karena bangsa Yahudi pengikut Yesus ini sama dengan goyim.

Sehubungan dengan permasalahan identitas Yahudi inilah Matius menuliskan Injilnya tentang Yesus Kristus. Dapat dipahami kalau dalam situasi seperti itu, Matius menekankan dengan sangat keberadaan Yesus bukan sebagai penyesat agama Yahudi, bahkan menegaskan kebenaran keYahudian yang sejati. Oleh karena itu dapat dipahami kalau dalam pemahamannya atas Yesus Kristus sehubungan dengan tradisi bangsa Yahudi, terutama Taurat, ia menolak pemahaman seolah Yesus hendak menjungkirbalikkan Taurat. Dalam Matius 5:17-48 jelas sekali Matius menggambarkan sikap Yesus yang tidak bertentangan dengan Taurat, bahkan mendukungnya, kalau tidak dapat dikatakan memurnikannya.

Yesus juga digambarkan sebagai yang mengeritik perilaku bangsa Yahudi yang tidak melakukan Taurat secara sempurna, bahkan cenderung menunjukkan gejala kemunafikan, seolah suci dan benar, padahal sebenarnya tidak (Matius 23).

Dengan kritik itu, Matius ingin membesarkan hati para pengikut Kristus untuk tidak berkecil hati ketika mereka dituduh tidak murni lagi. Mereka bahkan patut bangga bahwa Yesus, Mesias mereka itu bahkan lebih murni dari bangsa Yahudi yang dikatakan munafik lewat berbagai cara beragama mereka seperti berdoa yang panjang-panjang, di jalan-jalan, dsbnya.

GARIS BESAR KHOTBAH

Sebenarnya, ketidakbersihan bangsa Yahudi itu sudah digambarkan Matius bahkan sejak pasal 1 seperti dalam silsilah Yesus (Matius 1:1-17). Disitu diringkaskan dari sejarah bangsa Israel dan Yahudi bahwa garis keturunan mereka juga tidak sepenuhnya murni dan bersih. Paling sedikit ada empat nama perempuan yang  dalam Alkitab Perjanjian Lama cerita tentang mereka tidak menyenangkan. Mereka adalah Tamar, Rut, Rahab, dan istri Uria. Nama-nama yang diungkit Matius dalam silsilah itu menyebabkan orang Yahudi yang merasa dirinya kudus dan murni itu patut mengerenyitkan dahinya. Keempat perempuan itu dalam perjanjian lama digambarkan sebagai perempuan-perempuan yang tidak murni seperti yang diklaim oleh bangsa Israel itu. Mereka bahkan dihubungkan dengan hal-hal yang “kotor” alias tidak sempurna. Tamar adalah sosok yang digambarkan keturunannya dengan menjalankan peran sebagai seorang pelacur. Rut adalah seorang Moab, orang asing (Goyim) yang tidak layak digauli umat Tuhan (am), bahkan terkutuk karena kematian suaminya. Rahab sudah jelas adalah pelacur yang menyelamatkan juru intai bangsa Israel. Dan terakhir istri Uria yang diperistrikan Daud karena cara-cara yang tidak terpuji dengan upaya sehingga memungkinkan suaminya Uria dibunuh. Itu sejarah bangsa Yahudi yang dianggap suci dan murni.

Dalam Injilnya Matius ingin bertanya, apakah yang dapat dibanggakan dengan kesucian dan kemurnian itu dengan adanya empat perempuan itu?

Perempuan terakhir yang disebut Matius dalam injilnya di pasal 1 adalah Maria. Berbeda dengan empat perempuan lainnya, Maria tidak punya cerita “kotor”. Ia bahkan   hamil oleh Roh Kudus. Begini cara Matius menggambarkannya “ternyata ia mengandung    dari Roh Kudus,sebelum mereka hidup sebagai suami istri”. Matius 1:18b. Kalau keempat perempuan lainnya dihubungkan dengan konotasi yang “kotor” sebagai perempuan, Maria dalam hubungannya berasal dari Ro Kudus. Keperempuanannya malah disucikan. Jadi Yesus yang disebut Kristus, atau Mesias, yang dipercayai para pengikut-Nya yang Yahudi itu tidak salah. I a berasal dari keturunan yang kudus. Ia adalah yang diurapi  Tuhan, berasal dari Tuhan.

Apakah para pengikut Yesus harus malu mempercayainya sebagai Mesias, sebagai Tuhan perlu rendah diri dengan pengakuannya itu? Matius mengatakan tidak! Pilihan itu tidak salah. Pilihan itu benar karena pilihan itu adalah suci, karena keberadaan Yesus, anak Maria itu adalah keberadaan yang kudus, keberadaan karena pekerjaan Roh Kudus.

Itu pulalah kesaksian Paulus sendiri dalam 1 Korintus 12:3b “dan tidak ada seorangpun, yang dapat mengaku: “Yesus adalah Tuhan,” selain oleh Roh Kudus.”
Merayakan hari kelahiran Yesus dengan demikian adalah perayaan tentang kesucian, kekudusan Tuhan dan setiap orang yang percaya kepada-Nya.  Itulah ciptaan, perjanjian baru antara Tuhan dengan umat-Nya. Tuhan yang suci dan kudus itu telah hadir bersama umat-Nya sehingga umat-Nya tidak perlu merasa ragu karena kesendirian. Tuhan yang suci dan kudus itu telah hadir bersama umat-Nya yang dinilai tidak suci lagi hanya karena percaya kepada Yesus sebagai Kristus. JT/20161224/SGDK-GPIB

DOA; sangat besar kuasanya

YESUS MEMBUATMU BERHARGA