MENGHADAPI PERILAKU ANAK LAYAN

PENGANTAR
Menjadi pelayan PA tidak cukup hanya mampu menyampaikan Firman Tuhan dengan baik pada anak layan, mengajarkan nyanyian dalam ibadah atau bernyanyi dengan anak, membantu anak belajar berdoa dan berdoa untuk anak. Seorang pelayan PA yang baik diharapkan dapat mengenal anak layan yang dihadapinya di jemaat. Pelayan PA hendaknya mengenali potensi, keunikan atau kekuatan khas tiap anak secara pribadi meskipun anak layan tersebut seringkali dikeluhkan oleh orang lain termasuk keluarga dan lingkungan terdekatnya.

Dalam menjalankan tugas pelayanan sebagai pelayan PA, tidak bisa dihindari pelayan PA seringkali merasa kesal, kecewa, marah, sedih, bingung dan banyak penghayatan lainnya atas perilaku anak layan yang dinilai bermasalah, mengganggu pelayan PA. Sebagai pelayan PA hendaknya kita selalu melihat bahwa berbagai perilaku anak yang dianggap bermasalah karena mengganggu atau menimbulkan ketidaknyamanan pada kakak pelayan maupun anak layan itu sendiri di dalam kegiatan Pelkat PA merupakan suatu tantangan dalam pelayanan. Perilaku anak tidak hanya dilihat sebagai suatu masalah yang mengganggu kakak pelayan. Pelayan anak perlu menghadapi berbagai masalah berhubungan dengan perilaku anak tersebut dengan tepat bahkan membantu anak maupun orangtua untuk dapat menghadapi dan mengatasi masalah perilaku anak tersebut. Pola pendekatan dalam menghadapi berbagai masalah perilaku yang tampil anak dengan menggunakan pendekatan kekerasan harus dihindari dilakukan oleh kakak pelayan dalam kegiatan Pelkat PA.

Perilaku eksesif maupun defisit sebagai perilaku bermasalah
Perilaku anak yang seringkali dinilai sebagai perilaku bermasalah adalah perilaku yang eksesif dalam arti perilaku yang berlebihan, misalnya: anak yang suka berbicara terus – menerus, anak yang senang berlari – larian. Namun, perilaku yang bersifat defisit dalam arti: sedikit muncul juga perlu diperhatikan oleh kakak pelayan sebagai suatu perilaku bermasalah, seperti: anak yang selalu diam, tidak terlibat dalam kegiatan. Intinya, perilaku anak yang perlu diperhatikan lebih lanjut adalah perilaku anak yang dibawah maupun diatas rata – rata, dibawah maupun diatas batas wajar.

Penting untuk diingat bahwa perilaku bermasalah anak pasti ada latar belakangnya sebagai suatu penyebab. Penyebab perilaku bermasalah anak layan sangatlah beragam, mulai dari faktor internal anak layan, seperti: kepribadian, temperamen, kondisi fisik dan biologis anak, faktor genetik, dll, maupun faktor eksternal anak layan, seperti: pola asuh keluarga, lingkungan pergaulan dan pendidikan anak.

Berikut akan dijelaskan hal praktis yang dapat dilakukan dalam menghadapi perilaku bermasalah anak:

LANGKAH PERTAMA:

Memahami masalah anak atau masalah kakak pelayan 

Dalam menghadapi berbagai ‘masalah’ sebagai suatu tantangan dalam pelayanan di Pelkat PA, LANGKAH PERTAMA yang perlu dilakukan seorang pelayan anak adalah menjawab pertanyaan utama: apakah masalah ini merupakan masalah anak atau masalah kakak pelayan ?

Dalam menjawab pertanyaan tersebut terdapat 3 kondisi apakah suatu perilaku bermasalah/mengganggu yang ditampilkan oleh anak sebagai masalah anak atau masalah kakak pelayan , yaitu :

    Perilaku bermasalah merupakan masalah anak jika anak yang menampilkan perilaku bermasalah tersebut terhalang kebutuhannya. Perilaku bermasalah menjadi masalah anak karena anak yang menampilkan perilaku bermasalah tersebut yang paling merasa ‘terganggu’, terhambat, tidak nyaman atas perilaku yang ditampilkannya.

Contoh dari masalah anak adalah: anak yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), anak dengan kebutuhan khusus, misalnya: anak dengan autisme, anak keterbelakangan mental. Dalam mengikuti kegiatan di Pelkat PA, perilaku mereka tidak mengganggu kakak pelayan dan teman – temannya.

    Perilaku bermasalah sebagai masalah kakak pelayan jika kakak pelayanlah yang paling merasa ‘terganggu’, tidak nyaman atas perilaku anak layan yang dinilai bermasalah sedangkan anak tidak bermasalah dengan diri dan perilakunya. Dalam hal ini, kebutuhan anak terpenuhi akan tetapi kakak pelayan merasa terganggu.

Masalah kakak pelayan seringkali terjadi dalam kegiatan Pelkat PA, terutama mengenai masalah kedisiplinan, contohnya: anak suka menganggu teman, anak sering ngobrol sendiri bersama teman ketika IHMPA, anak suka mengganggu teman maupun anak yang tidak taat aturan.

    Suatu perilaku bermasalah dapat merupakan masalah anak maupun masalah kakak pelayan. Hal ini terjadi jika masalah tersebut dirasakan mengganggu oleh kakak pelayan maupun anak layan itu sendiri. Misalnya: seorang anak dengan masalah hiperaktivitas: sulit diam, bergerak kesana kemari tentunya mengganggu kakak pelayan menyebabkan kakak pelayan sulit berkonsentrasi saat menyampaikan Firman Tuhan namun anak hiperaktivitas tersebut pun sebenarnya terganggu karena ia sulit untuk mengendalikan dirinya, duduk dengan tenang mengikuti kegiatan di IHMPA. Perilaku anak dengan hiperaktivitas dalam hal ini bukan merupakan perilaku bermasalah karena kedisiplinan yang rendah melainkan karena penyebab yang bersifat neurobiologis, yaitu: adanya gangguan di otak anak tersebut sehingga ia menampilkan perilaku yang hiperaktif.

Menentukan perilaku bermasalah sebagai masalah anak atau masalah kakak pelayan atau keduanya sangat penting untuk menemukan pendekatan yang tepat dan efektif terhadap perilaku bermasalah tersebut.

kalau itu masalah anak ... ...
Untuk dapat membantu anak layan menghadapi masalahnya, kakak pelayan harus bisa memahami kondisi anak layan.

Jika masalah anak mengenai kondisi anak berkebutuhan khusus (ABK)

ABK adalah anak yang menyimpang dari rata-rata anak normal dalam hal: ciri-ciri mental, kemampuan sensorik, motorik, fisik, perilaku sosial – emosional maupun kemampuan berkomunikasi, seperti: anak dengan masalah autisme, anak keterbelakangan mental, anak dengan kecacatan fisik. Hal yang penting dilakukan oleh pelayan adalah: menerima kondisi anak layan tersebut. Penerimaan terhadap kondisi anak layan tersebut tampil dalam sikap dan perilaku pelayan sebagai berikut:

  • Tidak menuntut ABK tersebut seperti anak normal
  • Menyediakan aktivitas atau kegiatan yang sesuai dan dapat dilakukan oleh ABK
  • Lebih toleran terhadap munculnya perilaku bermasalah dalam kegiatan Pelkat PA sehingga tidak memberikan hukuman terhadap perilaku ABK yang mengganggu kakak pelayan.
  • Berupaya meminimalkan penilaian atau komentar negatif dari temannya yang normal
  • Mengelola kelas sehingga perilaku ABK tidak mengganggu jalannya kegiatan Pelkat PA (penjelasan lebih lanjut di bagian Manajemen Kelas)
  • Berupaya menemukan kekuatan, potensi atau apa yang masih dapat dilakukan oleh ABK tersebut
Sebagai kakak pelayan yang memiliki anak layan ABK sangat penting untuk membantu orangtua memahami dan menerima kondisi anak mengingat seringkali orangtua tidak menerima kondisi bahwa anaknya merupakan ABK. Usaha yang dapat dilakukan kakak layan adalah memberikan edukasi mengenai anak kebutuhan khusus baik melalui percakapan lisan dengan orangtua secara pribadi maupun melalui kegiatan pertemuan orangtua anak layan.

Jika masalah anak dialami oleh anak ‘normal’

Tidak hanya ABK, kakak pelayan tentunya juga akan menghadapi masalah anak yang dialami oleh anak normal. Masalah anak ‘normal’ seringkali dialami dalam relasinya di keluarga maupun lingkungan sosial anak. Masalah anak dalam bagian ini, antara lain: anak yang mengalami masalah karena konflik rumah tangga (orangtua bercerai, Kekerasan Dalam Rumah Tangga), menjadi anak tiri, iri hati/benci pada saudara kandung dan lain-lain. Selain itu, dapat pula dialami oleh anak yang ditolak atau dijauhi oleh teman-temannya, dan anak yang mengalami pengalaman traumatis, seperti: pelecehan/kekerasan seksual, dll.

Dalam materi ini, akan lebih memfokuskan pada masalah anak ‘normal’ daripada ABK mengingat jumlah anak normal jauh lebih banyak daripada ABK yang mengikuti dan aktif di kegiatan Pelkat PA.

Dalam menghadapi masalah anak seperti yang telah disebutkan diatas, kakak pelayan perlu berperan sebagai pendamping yang menerima kondisi anak layan tersebut, memahami pikiran, perasaannya. Sebagai pendamping, kakak pelayan menjadi tempat yang menyenangkan bagi anak untuk berbagi cerita, berbagi perasaan. Kakak pelayan tidak bertindak sebagai orang yang paling tahu sehingga menuntut anak untuk melakukan hal-hal tertentu dengan memberikan solusi/pemecahan masalah secara langsung. Kakak pelayan perlu memahami dari sudut pandang anak layan mengenai masalahnya. Untuk dapat memahami kondisi anak layan, kakak pelayan harus memiliki:

·         Kemampuan berempati (merasakan apa yang dialami anak)
·         Kemampuan untuk mendengar aktif

Berikut akan dijelaskan kemampuan yang penting dimiliki oleh kakak pelayan dalam membantu anak menghadapi masalahnya:

1. Kemampuan berempati

Empati adalah kemampuan memahami apa yang dirasakan, diinginkan, dipikirkan anak layan yang bersumber dari kemampuan mengenali dan ikut merasakan adanya perasaan tersebut. Memahami perasaan (empati) berbeda dengan menunjukkan rasa kasihan atau hanyut dalam kesedihan karena penderitaan/masalah anak layan.  

Contoh:
Seorang anak layan dengan berlinang air mata menceritakan kesedihannya kepada kakak mengenai kedua orang tua yang sering bertengkar dan akhirnya bercerai.
Tanggapan Simpati (memiliki perasaan, keinginan, dan pandangan yang sama dengan dengan orang lain) : “Aduuuuh kasihan kamu (mata kakak berkaca-kaca), orangtua kamu kok tega berbuat itu sama kamu, kakak sedih sekali mendengarnya (kakak menangis bersama dengan anak layan) ”. Tanggapan simpati merupakan tanggapan yang tidak sesuai untuk diberikan oleh kakak pelayan sebagai pendamping.
Kakak pelayan diharapkan memberikan tanggapan empati.

Tanggapan Empati (memahami apa yang dirasakan anak layan tanpa hanyut)
“Kelihatannya kamu sedih memikirkan kedua orang tuamu yang sering bertengkar. Sedih rasanya kalau orangtua bercerai (sambil menunjukkan ekspresi wajah sedih dan nada suara yang lembut)”
Kadang seorang anak layan datang kepada kita dengan cerita yang memilukan hati yang membuat kita terbawa emosi. Namun, yang perlu ditekankan pada saat menunjukkan empati adalah bahwa kakak pelayan perlu mendengarkan dan menanggapi tanpa terlalu terbawa secara emosional. Turut merasa sedih atau marah pada saat mendengarkan cerita anak layan adalah suatu hal yang sangat wajar (karena mungkin anda pernah mengalami hal yang sama), dan ketika kita menunjukkan emosi pun berarti kita menunjukkan kepedulian kita. Namun ingatlah bahwa kakak pelayan berperan sebagai pendamping, yaitu: orang yang membantu anak layan untuk menghadapi masalahnya.

Kakak pelayan dapat melakukan empati dengan cara:
·         Memposisikan diri sejajar dengan anak layan. tidak menganggap diri kita lebih tahu tentang kondisi anak layan karena yang lebih mengerti keadaan anak layan adalah anak layan itu sendiri.
·         Mendengarkan dengan penuh perhatian.
·         Tidak menilai atau menghakimi.
Misalnya; ketika seorang anak layan yang bercerita bahwa ia merasa sedih karena merasa tidak disayang orangtua melainkan selalu dimarahi, pelayan menanggapi: ”itu karena kamu sering melawan dan tidak patuh pada orang tua, tidak ada orang tua yang membenci anaknya.”
·         Tidak memaksa anak layan untuk menceritakan sesuatu yang tidak ingin dia ceritakan
·         Memberikan kalimat-kalimat yang dapat memberikan dukungan, misal “kakak mengerti kalau hal ini sangat berat bagi kamu, kamu boleh cerita pada kakak kapanpun kamu mau”
·         Untuk mengungkapkan bahwa kakak memahami perasaan anak layan, kakak juga dapat menggunakan bentuk pernyataan seperti di bawah ini:
 “Kamu merasa………………………….karena………………..”

2. Kemampuan Mendengar aktif

Mendengar aktif berbeda dengan sekedar mendengar. Mendengar aktif memerlukan perhatian dan kepekaan terhadap perasaan dibalik apa yang dikatakan seseorang. Hal yang didengarkan bukan hanya yang tersurat tapi juga yang tersirat. Jadi, dalam mendengar aktif selain berupaya memahami isi pesan (kata-kata, kalimat) tapi juga memperhatikan non-verbal (misalnya: nada suara dan mimik wajah). Sekedar mendengar tidak memerlukan upaya untuk memahami isi pesan. Misalnya ketika sedang serius menonton acara TV, kita mendengar suara orang yang sedang berbincang. Kita hanya sekedar mendengar tanpa upaya memahami isi perbincangan.



Mendengar aktif dapat ditampilkan melalui:
  • Memberikan kesempatan anak untuk berbicara menyampaikan maksudnya.
  • Menunjukkan kepedulian melalui bahasa tubuh
  • Misalnya: memandang matanya, sesekali mengangguk dan menampilkan ekspresi yang sesuai dengan ekspresi yang diungkapkannya saat bercerita, tidak mengambil posisi terlalu jauh sehingga terkesan menolak, dan sebagainya.
  • Memberikan tanggapan singkat tanda bahwa kakak pelayan menghargai, memahami dan menerima.
  • Misalnya: “lalu ... (sambil menganggukkan kepala saat anak bercerita)”
  • Mengajukan pertanyaan-pertanyaan terbuka,
  • Pertanyaan yang bersifat menggali informasi lebih dalam dan luas tidak hanya sekedar jawaban singkat/pendek, seperti: “kamu dipukul papa ?” (anak hanya menjawab ya/tidak), sebaiknya: apa yang papa buat sehingga kamu sedih ?” (anak dapat menjawab bahwa dirinya dipukul, dibentak, dihukum dengan tidak boleh sekolah, dll).
  • Mengulang isi pesan dalam bahasa yang lebih singkat dan padat.
  • Ini penting untuk memastikan bahwa pemahaman kita tidak keliru, sekaligus meyakinkannya bahwa ia sungguh-sungguh didengar. Misalnya: setelah anak bercerita mengenai perlakuan kasar orangtuanya, kakak membuat kesimpulan: “kamu sangat sedih karena papa kamu sering memukul dan bicara kasar sama kamu, betul begitu ?”
  • Merefleksikan perasaan yang terkandung dalam cerita.
  • Kita mendengar apa yang disampaikan, kemudian mencoba menemukan perasaan yang terkandung dalam cerita. Misal: Seorang anak layan mengatakan bahwa ia tidak mau lagi pergi ke IHMPA karena di IHMPA ia diejek ‘banci’ oleh temannya. Kakak mengatakan: kamu kesal sama teman-temanmu di IHMPA.

Bila anak layan betul-betul merasa bahwa dirinya didengar dan kakak pelayan tidak memberikan penilaian negatif terhadap apa yang dikatakan atau dirasakan anak layan, maka anak layan akan lebih dapat mempercayai kakak pelayan dan merasa lebih terbuka dalam  berbicara,.

Terkadang memang sulit bagi kakak pelayan untuk mendengarkan anak layan dengan kesulitan emosi tertentu, mereka mungkin akan menangis, mudah marah, merasa tertekan, atau tidak berdaya. Kakak pelayan sebagai  orang yang membantu, perlu untuk tetap bersikap tenang. Cobalah untuk menahan keinginan untuk mencoba membuat anak layan merasa lebih baik dengan cepat. Saat bersama anak mendengarkan ceritanya, bukanlah waktunya untuk mencoba memecahkan masalah. Lebih baik sediakan lingkungan yang nyaman dan dorong anak layan untuk membicarakan apa yang dia pikirkan dan rasakan.

kalau itu masalah kakak pelayan ... ...
Jika perilaku bermasalah anak layan lebih merupakan masalah kakak pelayan, maka kakak pelayan perlu lebih aktif melakukan hal – hal untuk mencegah atau meminimalkan munculnya perilaku bermasalah tersebut. Dalam materi ini, ada 3 cara yang akan dijelaskan, yaitu:
  1. Teknik komunikasi PESAN DIRI
  2. Teknik DISIPLIN tanpa kekerasan
  3. Manajemen/mengelola kelas IHMPA
Berikut akan dijelaskan satu per-satu tiga cara tersebut:

1. Teknik komunikasi PESAN DIRI (I-messages)
Cara komunikasi dengan teknik PESAN DIRI ini lebih efektif untuk menggantikan cara komunikasi yang umumnya dilakukan orang dewasa pada anak yang bersifat menyalahkan dan menyudutkan anak, yaitu: PESAN KAMU (You-messages), contoh: KAMU gimana sih ! susah sekali diatur !”, “KAMU nakal yah !”.
Dalam teknik komunikasi PESAN DIRI, kakak pelayan menyampaikan kepada anak secara terus terang dengan tegas dan tidak menyalahkan mengenai perilaku anak yang mengganggu kakak pelayan. Pesan tidak diawali dengan kata ‘KAMU’ yang membuat anak merasa disalahkan dan disudutkan melainkan diawali dengan kata ‘KAKAK (AKU)’.
Pesan yang disampaikan terdiri dari:
  • Perasaan yang dialami kakak pelayan karena perilaku anak tersebut

  • Perilaku yang tidak diterima atau mengganggu kakak pelayan

  • Gambaran akibat konkret perilaku anak layan terhadap perilaku kakak pelayan

Contoh:

Ketika menegur anak layan yang terus berbicara dengan temannya (ngobrol) saat kakak bercerita adalah:
”Kakak sedih (perasaan), kakak bercerita, Lusi ngobrol terus (perilaku yang tidak diterima), jadi kakak susah deh melanjutkan ceritanya (akibat)

2. Teknik DISIPLIN tanpa kekerasan 

Disiplin seringkali diartikan dalam 2 hal berikut:

  • Kegiatan atau aturan yang dirancang untuk mencapai tujuan tertentu yang diinginkan.
Misalnya, ketika anak layan rajin hadir IHMPA maka ia akan memperoleh penghargaan tertentu (hadiah, pujian), kakak pelayan memberi kesempatan anak layan yang duduk rapih mengikuti IHMPA dengan baik untuk bersalaman dengan kakak pelayan dan pulang terlebih dahulu setelah IHMPA selesai daripada anak layan yang tidak mengikuti IHMPA dengan baik.
Disiplin dalam arti pertama ini disebut “disiplin positif”.
  • Arti disiplin yang kedua adalah hukuman terhadap tingkah laku yang dianggap ‘buruk’ atau tidak pantas, misalnya anak layan yang terlambat datang ke IHMPA mendapatkan hukuman atau terkena disiplin. Jadi disiplin dalam arti yang kedua ini disebut “disiplin negatif”.
Hal yang seringkali dilakukan oleh orang dewasa terhadap anak adalah disiplin yang kedua, yaitu: disiplin negatif sehingga disiplin seringkali disama artikan dengan hukuman. Disiplin berhubungan dengan pemberian konsekuensi. Seringkali yang dilakukan adalah memberikan hukuman atau konsekuensi yang tidak menyenangkan saat perilaku yang tidak diinginkan muncul namun saat perilaku yang diinginkan muncul maka tidak diberikan konsekuensi apapun atau didiamkan saja. Sebagai kakak pelayan, sebaiknya lebih berfokus pada munculnya perilaku baik yang dilakukan oleh anak layan daripada fokus pada perilaku tidak baik yang dilakukan oleh anak layan. Jika kakak pelayan terlalu fokus pada perilaku tidak baik anak layan maka pendekatan yang umumnya sering digunakan adalah pendekatan hukuman, yang umumnya berupa: kata-kata yang merendahkan anak, menyinggung perasaan anak bahkan hukuman yang bersifat fisik, seperti: dicubit atau dijewer.
Hal yang perlu diperhatikan adalah membantu anak layan memahami tingkah laku baik apa yang diinginkan oleh kakak pelayan dan tingkah laku buruk apa yang tidak diinginkan kakak pelayan (melanggar disiplin). Anak layan dapat memahaminya tanpa melalui pemberian hukuman dengan kekerasan. Anak layan dapat memahami melalui belajar dari hubungan antara perilaku yang ditampilkan dan konsekuensi yang diterimanya.
Misalnya: kalau anak menyelesaikan gambar (perilaku) maka kakak akan memberikan stiker atau kakak tersenyum sambil memberi gambar bintang di buku anak layan (konsekuensi), tetapi kalau anak layan tidak menyelesaikan gambar maka di IHMPA minggu ini (perilaku) maka anak layan tidak mendapatkan stiker dan tidak mendapatkan tambahan gambar bintang di bukunya (konsekuensi).

Disiplin tanpa kekerasan yang baik bersifat:
  • TEGAS (1 for ALL) : Terdapat suatu aturan yang berlaku untuk semua anak layan tanpa terkecuali termasuk aturan tersebut juga berlaku untuk kakak pelayan. Hindari karena status orangtua anak di gereja maupun di masyarakat maka anak tertentu terlindungi dari konsekuensi. Jika aturan dipenuhi maka konsekuensi harus diberikan, demikian pula ketika aturan tidak dipenuhi.

  • JELAS : Anak layan memahami mengapa ia mendapatkan konsekuensi tertentu dari perilaku yang ditampilkannya, baik konsekuensi positif karena perilaku baik maupun konsekuensi negatif

  • KONSISTEN : Aturan dan konsekuensi terjadi terus-menerus dan dilakukan oleh setiap kakak pelayan. Hindari penilaian pada anak layan bahwa kalau kakak tertentu maka aturan akan digunakan tetapi pada kakak yang lain aturan tidak digunakan sehingga ada kesan kakak tertentu galak sedangkan kakak tertentu baik hati.

Dengan demikian pada akhirnya anak layan dapat memilih untuk: IKUT ATURAN atau TERIMA KONSEKUENSI

3. MANAJEMEN KELAS IHMPA
Mengenai perilaku bermasalah yang muncul saat IHMPA, kakak pelayan juga dapat mengatasinya dengan melakukan manajemen kelas. Dalam manajemen kelas IHMPA, kakak pelayan berusaha untuk mengatur lingkungan sehingga gangguan terhadap proses kegiatan yang berlangsung karena perilaku anak layan menjadi seminimal mungkin. Kelas IHMPA diatur sedemikian rupa sehingga tiap anak dapat diawasi dan dijangkau oleh kakak pelayan. Dalam manajemen kelas, semaksimal mungkin situasi, kondisi dan suasana IHMPA yang menyenangkan, positif dan partisipatif bagi anak diciptakan oleh kakak pelayan. Dengan situasi, kondisi dan suasana demikian maka harapannya anak dapat terlibat aktif dan tidak menampilkan perilaku bermasalahnya saat IHMPA.

Berikut akan disajikan beberapa contoh tips praktis dalam manajemen kelas IHMPA:
  • Suasana kelas yang positif: Untuk menciptakan suasan kelas yang positif, kakak pelayan dapat melakukannya dengan cara pengaturan fisik kelas (kursi disusun melingkar, anak dengan perilaku bermasalah duduk di tempat yang dapat dijangkau kakak pelayan atau dibagian samping/belakang sehingga tidak terlalu mengganggu anak lain), membuat kelas lebih terasa nyaman untuk anak dengan menambahkan dekorasi atau menempel hasil karya anak layan, dan lain-lain.
  • Menciptakan kegiatan rutin yang kreatif dan menyenangkan untuk anak: Misalnya: menempel tanda kehadiran di awal/ di akhir ibadah, selalu memberikan kesempatan anak layan bertugas secara bergiliran, dan lain-lain.
  • Jaga iklim ‘emosi’ di kelas IHMPA : Hindari kakak pelayan melakukan sesuatu yang membuat anak merasa takut namun tidak juga memberikan kesempatan anak menampilkan perilaku yang mengganggu anak layan atau jalannya IHMPA, misalnya: ketika perilaku yang tidak diharapkan muncul, kakak pelayan segera melakukan tindakan seperti: memindahkan tempat duduk anak yang perilakunya mengganggu, memberikan pujian/senyuman ketika perilaku yang diharapkan dari anak layan muncul. Dalam menegur/mendisiplinkan anak perlu diingat bahwa yang tidak disukai oleh kakak pelayan adalah perilaku anak layan tersebut bukan anak layan sebagai individu.
  • Memberikan kesempatan semua anak layan untuk berpartisipasi : Kakak pelayan memberikan kesempatan yang adil dan merata untuk semua anak termasuk anak yang dinilai seringkali menampilkan perilaku bermasalah.

Tips umum dalam menghadapi masalah anak ... ...
Secara umum, ada hal-hal yang sebaiknya dilakukan ketika kita menangani anak-anak. Demikian pula, ada juga hal-hal yang sebaiknya dihindari ketika kita berinteraksi dengan anak. Hal-hal tersebut antara lain:

1. Hal-hal yang harus dilakukan
  • Menyediakan waktu yang cukup untuk membantu
Mendampingi anak menghadapi masalahnya membutuhkan komitmen kakak pelayan mengingat perubahan terjadi merupakan hasil dari suatu proses yang bukan sekejap mata.
  • Menerima anak layan apa adanya
Pelayan memahami dan menerima bahwa tiap anak berbeda-beda dan masalah perilaku yang ditampilkan anak memiliki latar belakangnya. Seringkali perilaku bermasalah merupakan cara anak untuk mengkomunikasikan bahwa dirinya membutuhkan perhatian yang lebih dari kakak pelayan karena hal ini tidak didapatkan dari keluarganya.
  • Bersabar dalam menghadapi berbagai perubahan yang terjadi
Perubahan perilaku anak membutuhkan proses yang tidak sebentar. Seringkali kakak pelayan merasa lelah karena hasil tidak seperti yang diharapkan.
  • Lakukan hal praktis yang memenuhi kebutuhan anak yang menampilkan perilaku bermasalah
Kakak pelayan seringkali tidak perlu melakukan hal yang rumit untuk anak lain. Kakak pelayan dituntut untuk melakukan hal yang sederhana yang membuat anak merasa nyaman, merasa bahwa dirinya dimengerti, misalnya: melalui perilaku non-verbal kakak pelayan (senyum, sentuhan yang sesuai, kontak mata yang hangat, dll).
  • Menunjukkan kepedulian dan harapan positif pada anak.
Kakak pelayan perlu memotivasi dan menguatkan anak bahwa masalah dapat teratasi.
  • Fokus pada potensi atau yang positif pada anak
Kakak pelayan harus menemukan kekuatan atau hal baik pada anak layan yang bermasalah sekalipun.
  • Melibatkan orang dewasa yang terkait langsung dengan anak
Hindari merasa bahwa kakak pelayan bertanggungjawab terhadap upaya membantu anak menghadapi masalahnya atau mengatasi perilaku anak bermasalah. Pelibatan orang lain perlu dilakukan, terutama orangtua anak layan yang secara langsung berhubungan dengan anak layan tersebut.
  • Mencegah kekerasan dan hal-hal yang menimbulkan ketidaknyamanan
Niat baik dari upaya yang dilakukan untuk membantu anak seringkali malah berdampak negatif bagi anak layan. Karena itu tiap langkah yang dilakukan harus dianalisis konsekuensinya,  misalnya: menegur orangtua anak yang sering melakukan kekerasan jangan sampai mengakibatkan anak layan malah semakin mengalami kekerasan di rumah.
  • Menjaga kerahasiaan.
Apapun cerita atau informasi yang diberikan oleh kakak pelayan maupun orangtua sebaiknya tidak diceritakan kepada orang lain. Kakak pelayan perlu menjaga kepercayaan anak dan keluarganya.
  • Melakukan atau merekomendasikan rujukan
Kakak pelayan perlu menyarankan pada orangtua untuk membawa anaknya ke profesional terutama apabila anak tampak sangat terganggu dengan perilakunya dan  anak juga sangat mengganggu orang lain.

2. Hal-hal yang harus dihindari
  • Terlalu banyak bicara atau menasehati :Seringkali orang dewasa termasuk pelayan terlalu cepat untuk memberikan nasehat atau terlalu banyak berbicara mengenai hal-hal yang harus dilakukan anak layan. Solusi yang kita anggap baik untuk dilakukan seringkali tidak sesuai atau tidak cocok untuk anak layan.
  • Memberikan harapan palsu atau yang tidak realistisKakak pelayan tidak disarankan memberikan janji atau harapan yang maksudnya untuk lebih menenangkan anak layan karena hal ini akan membuat anak menjadi tidak percaya pada kakak pelayan terutama kalau janji dan harapan tidak menjadi kenyataan.
  • Cepat memberikan label :  Kakak pelayan tidak perlu memberikan label terhadap masalah anak, misalnya: mengatakan bahwa anak yang bermasalah adalah anak autis. Memberikan label autis/istilah untuk menggambarkan masalah anak layan bukan urusan kakak pelayan melainkan merupakan urusan profesional, seperti: psikolog, dokter.
  • Under-estimate (meremehkan) anak : Hindari menganggap bahwa anak layan tidak mampu sehingga kakak pelayan melakukan semua atau banyak hal untuk anak layan.
  • Terlalu hanyut dalam masalah anak :Kakak pelayan perlu menghindari dirinya larut dalam masalah anak, seperti: terus-menerus memikirkan anak layan yang bermasalah sehingga mengorbankan kepentingan kakak pelayan secara pribadi, atau menunjukkan perilaku yang terlalu mengasihani anak layan.
  • Mau menjadi pahlawan bagi anak layan: Kakak pelayan juga perlu menghindari untuk mengambil tanggung jawab penuh untuk mengatasi masalah anak layan.
  • Menjadikan masalah anak menjadi bahan ‘gosip’ pelayan : Hendaknya fokus pada apa yang bisa dilakukan tidak hanya mempergunjingkannya.
Dalam menghadapi perilaku anak layan yang merupakan masalah anak maupun masalah kakak pelayan, fokuskan pada apa yang bisa dilakukan dan hindari hal-hal yang malah berdampak negatif pada anak layan (DO NO HARM). Sebagai pelayan anak, terima anak layan apa adanya dan terus doakan anak layan yang dinilai bermasalah tersebut, serta sabar karena perubahan merupakan suatu proses. Penulis: Nael Sumampouw

Kesatuan dalam Perbedaan



Pembacaan dari Kitab  Filipi 2 : 1 – 7
LAI 1958
1 Sebab itu jikalau di dalam Kristus ada nasehat, jikalau ada penghiburan kasih, jikalau ada persekutuan Roh, jikalau ada pengasihan dan belas kasihan,
2  kamu genapkanlah kesukaanku, supaya kamu bersehati, dan menaruh sama kasih, menjadi sejiwa dan sepikir.
3  Satu pun jangan dilakukan dengan berlawan-lawanan atau dengan sombong, melainkan dengan rendah hati, masing-masing menyangkakan orang lain ada lebih daripada dirinya sendiri.
4  Jangan seseorang memikirkan dirinya sendiri sahaja, melainkan hal orang lain juga.
5  Taruhlah di dalam hatimu ingatan ini yang sudah ada di dalam Kristus Yesus,
6  yang, walaupun Ia dengan keadaan Allah, tiada mengirakan hal itu sebagai suatu keuntungan menjadi setara dengan Allah,
7  melainkan menghampakan diri-Nya menjadi hamba di dalam keadaan sama dengan manusia, dan kelihatan di dalam sikap seperti manusia;
 
Mungkin sudah lama dan sering kita mendengar tentang filosofi sapu lidi, satu gampang patah; banyak jadi kuat. Satu batang lidi saja pasti gampang patah/tidak kuat, tapi kalau satu lidi itu diikat menjadi satu dengan lidi-lidi yang lain, maka lidi-lidi yang diikat jadi satu itu pasti kuat. Jemaat Tuhan, pasti capek jika kita harus menyapu halaman dengan satu batang lidi saja, tentu sulit serta membuang waktu dan tenaga, tapi jika banyak lidi diikat menjadi satu kesatuan, sapu lidi, maka sampah sebanyak apapun akan dapat dibersihkan dengan mudah dalam waktu yang singkat.
Sebagai manusia kita cenderung suka sekali beroleh pujian, sanjungan dan acungan hempol dari orang lain atas segala jerih payah dan prestasi yang telah kita torehkan. Kerap kita 'membusungkan dada' ketika menyadari bahwa pelayanan kita lebih berhasil, gereja kita lebih 'besar' dibanding gereja lain, perusahaan kita paling bonafide atau segala sesuatu yang ada pada diri kita memiiliki nilai lebih dibandingkan dengan orang lain di sekitar kita. Firman Tuhan mengingatkan, "Sebab bukan orang yang memuji diri yang tahan uji, melainkan orang yang dipuji Tuhan." (2 Korintus 10:18). Adalah sia-sia belaka bila kita meninggikan diri sendiri dan beroleh pujian manusia apabila hidup kita tidak berkenan di hadapan Tuhan! Paulus melihat adanya ancaman internal yang berpotensi mengoyak kesatuan jemaat Filipi, yaitu sikap yang mementingkan diri sendiri sehingga menganggap orang lain tidak penting. Sikap ini merupakan wujud kesombongan karena menganggap diri lebih baik dan lebih hebat daripada orang lain. Sikap sombong ini dapat menghancurkan hubungan antar pribadi dan berpotensi menghambat kemajuan dalam komunitas orang percaya, ”Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”(Matius 23:12). Maka dari itu rendahkanlah diri kita di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kita (Yakobus 4:10). "Tinggi hati mendahului kehancuran, tetapi kerendahan hati mendahului kehormatan." Amsal 18:12. Orang dengan sikap seperti ini senang mendapatkan pujian bagi dirinya sendiri (ay 3). Ia menganggap dirinya yang paling hebat dan menginginkan orang lain pun menganggap dia demikian. Orang seperti ini biasanya sulit untuk bekerja sama dengan orang lain. Bagi orang tersebut keutuhan komunitas bukanlah prioritasnya.
Menanggapi ancaman tersebut, Paulus mengajak segenap jemaat Filipi untuk menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat di dalam Kristus Yesus (ay 5). Yesus sendiri rela melepaskan identitas dengan segala hak-Nya walaupun Ia adalah Allah. Ia rela mengosongkan diri-Nya supaya orang berdosa dapat diselamatkan. Ia mengabaikan kemuliaan diri-Nya dengan membiarkan diri dihina, direndahkan, disiksa, bahkan dibunuh. 
Jemaat yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, kita semua pernah berselisih. Baik itu dengan orang tua, guru, teman, bahkan adik atau kakak kita. Perselisihan itu bisa hanya perdebatan kecil, namun bisa juga pertengkaran hebat yang berujung pada permusuhan dan pemutusan hubungan. Gereja Filipi juga mengalami masalah perselisihan. Rasul Paulus melihat bahwa sesungguhnya perselisihan dapat membawa perpecahan, yang tentu saja merugikan diri sendiri dan komunitas. Pertumbuhan iman dan kasih akan tersendat dan tidak membawa berkat bagi masyarakat di sekeliling kita. Dan akhirnya nama Tuhan dipermalukan. Mengetahui akan akibat yang fatal dari sebuah perselisihan, Paulus menasihati jemaat Filipi dalam bagian yang baru saja kita baca. Ada 2 pokok yang dibahas oleh Paulus dalam bagian ini:
Penyebab perselisihan (ay. 3a-4)
Menurut Paulus, ada 2 penyebab terjadinya perselisihan:
a.  Hanya memperhatikan kepentingan sendiri (ay. 3a-4).
Kamus Bahasa Indonesia menjelaskan bahwa kepentingan sendiri adalah keuntungan atau kesenangan sendiri yang diperoleh dengan tidak memperhatikan orang lain. Jika seseorang selalu terlebih dahulu memperhatikan keuntungan sendiri, ia pasti akan berselisih dengan orang lain. Ia cenderung berbicara tentang orang lain sehingga mereka kelihatannya jahat dan ia nampaknya baik. Ia akan berusaha mati-matian agar pendapat dan keinginannya yang diterima dan dipenuhi. Tidak peduli apabila keinginannya itu bisa menyakiti atau merugikan orang lain. Gagasan ini nampak dalam Yakobus 3:14: “Mementingkan diri sendiri itu menuju kesombongan”.
b.  Mengharapkan pujian yang sia-sia (ay 3b)
Untuk dikagumi, untuk dihormati, untuk mendapat kursi kehormatan, untuk dipandang bijaksana, untuk terkenal, untuk menjadi orang yang perkataannya selalu didengar, adalah hal-hal yang diidamkan orang. Namun tujuan orang Kristen bukanlah memamerkan diri, melainkan supaya mereka memuliakan Bapanya. Orang Kristen harus mengarahkan pandangan manusia bukan kepada dirinya, melainkan kepada Allah yang bekerja melalui dirinya.
Dalam Alkitab, perselisihan bisa menimbulkan konflik/pertentangan melalui:
Perbedaan Karakter ( Yakobus 4 : 1 – 2 )
Perbedaan Kerohanian ( Keluaran 17 : 2 )
Perbedaan Status karena suku dan budaya (Yohanes 4 : 9 )
Perbedaan Prinsip (Kisah Para Rasul 15 : 7 )
Manusia memiliki berbagai macam perbedaan di dalam setiap aspek hidupnya. Dari begitu banyak perbedaan, ada yang dapat dipersatukan, tetapi ada pula perbedaan yang tidak pernah dapat berjalan dengan selaras. Dalam hal inilah iblis akan selalu bekerja di dalam perbedaan manusia untuk memecah belah dan menghancurkan. Seperti ada tertulis bahwa iblis datang untuk membunuh, mencuri dan membinasakan. Karena itu kita perlu waspada. Jika kita berada pada kondisi/hal yang berbeda dengan orang lain, jangan sampai emosi kita terpancing sehingga kita dipermainkan oleh iblis.Perpecahan adalah masalah yang berbahaya bagi pelayanan jemaat di Filipi, karena itu Rasul Paulus memberikan nasehat kepada jemaat "hendaklah kamu sehati, sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan". Tentunya nasehat ini tidak hanya ditujukan bagi jemaat di Filipi saja, tapi bagi semua jemaat Kristen dimana saja dan kapan saja. Tuhan menghendaki kesatuan, baik kesatuan antara Tuhan dengan jemaat-Nya maupun kesatuan antara jemaat dengan jemaat. Tuhan menghendaki kesatuan sedangkan iblis menginginkan perpecahan.
Marilah kita bersatu, karena kesatuan adalah kehendak Tuhan, kesatuan adalah kekuatan kita. Mari bersatu! bekerjasama dalam melaksanakan tugas pelayanan yang telah Tuhan percayakan pada masing-masing kita. Sama seperti Tuhan yang sudah mengesampingkan kemuliaanNya, mengesampingkan ke-AllahanNya, mengesampingkan kekayaanNya, mengesampingkan hak-hak sorgawiNya. Dalam kehidupan berjemaat pun kiranya kita belajar untuk tidak menonjolkan diri sendiri saja, tetapi juga memberi kesempatan kepada orang lain untuk maju.
Kerjasama menuntut kebersamaan/kesatuan, dan kesatuan menuntut keterbukaan, keterbukaan menuntut kepercayaan, saling mempercayai bahwa kita dapat bekerjasama. Saling mengisi bukan menguras, saling berbagi bukan mencari kepentingan diri, saling mengasihi bukan menguasai. Tuhan memampukan kita menjalani kehendakNya. Amin 
catatan : 
kesatuan /ke·sa·tu·an/ n 1 perihal satu; 2 keesaan; sifat tunggal: demi - dan persatuan bangsa; 3 satuan;- penggiling padi mesin pengolah padi yg dilengkapi dng pemecah kulit padi, pemisah gabah, dan pemutih beras; - sosial 1 unsur studi dl kemasyarakatan yg diberi batasan tertentu dan yg secara relatif bersifat konstan, spt individu, keluarga, taraf hidup; 2 kesatuan orang yg terikat atas ciri-ciri tertentu dl kehidupan masyarakat; http://kbbi.web.id/satu
perbedaan /per·be·da·an/ n 1 beda; selisih: perpecahan terjadi krn - paham; 2 perihal yg berbeda; perihal yg membuat berbeda: - perlakuan thd tamu menyalahi aturan rumah penginapan itu;

Kota Filipi dan Awal Gereja disana 

Kota Filipi, seperti yang terlihat dipeta terletak disebelah utara Yunani timur (Makedonia). Kota itu sudah lama berdiri saat Paulus pertama kali datang sekitar 49 CE (Acts 16:11-40). Sebenarnya, berdirinya kita itu sekitar 4 abad lalu saat diperintah oleh Thracians. Tahun 356 BCE, Philip II dari Makedonia, ayah Aleksander Agung, mengambil alih kota itu dan menamakannya sesuai dengan namanya. Dia kemudian mendirikan kota ini sebagai basis militer untuk melindungi daerah yang sudah ditaklukannya dan dekat tambang emas yang menghasilkan 1.000 talenta emas setiap tahun baginya. Kota itu juga penting untuk rute melewati asia.1 Tahun 168 BC Filipi menjadi bagian dari kerajaan Romawi yang waktu itu mengalahkan Persia dalam perang Pydna dan Makedonia dibagi menjadi 4 daerah kekuasaan, Filipi menjadi bagian yang pertama.
Filipi terkenal karena satu peristiwa. Tahun 42 BCE Mark Antony dan Octavian mengalahkan Brutus dan Cassius, pembunuh Julius Caesar, dalam peperangan di Filipi. Setelah itu pada tahun 31 BCE ketika Octavian mengalahkan Antony dan Cleopatra di Actium, dia mengambil nama Augustus dan membangun kembali kota Philippi. Dia menggantikan prajurit yang sudah pension untuk menguatkan loyalitas kepada Roma dan membangunnya sebagai basis militer terluar. Dia juga memberikan koloni baru itu keistimewaan tertinggi yang bisa didapat pemerintahan kota provinsi Roma -— ius italicum. Koloni bisa membeli, memiliki, atau mentransfer propertynya dan mendapat hak mengajukan tuntutan hukum. Mereka juga dibebaskan dari pemungutan suara dan pajak tanah.2
Saat Paulus datang dikota itu sekitar 49 CE, Filipi merupakan pusat kota diujung timur daerah itu, beberapa mil dari Neapolis. Orang disana terdiri dari Roma dan Yunani dan sebagian besar berbahasa Yunani walaupun latin merupakan bahasa resmi.3
Gereja di Filipi ditemukan oleh Rasul Paulus saat perjalanan misinya yang kedua, ditulis dalam Acts 16:1-40. Paulus mulanya datang ke Makedonia karena penglihatan dimalam hari yang digambarkan bagi kita dalam Acts 16:9. Penglihatan itu menunjukan kepada Paulus seorang penduduk Makedonia berdiri dan memintanya menolong mereka. Paulus menyetujuinya dan demikianlah injil dimenangkan kebarat dimulai dari Filipi sebagai kota pertama diinjili di Eropa.
Saat Paulus sampai di kota Filipi dia tinggal beberapa hari disana (Acts 16:12). Kehidupan rohani orang Filipi ditandai oleh sinkritisme termasuk pemujaan kaisar (Julius, Augustus, dan Claudius), ilah Mesir, Isis dan serapis, juga banyak ilah lainnya. Saat hari sabat datang Paulus datang keluar kota kesungai untuk mencari tempat berdoa. Tulisan Yunani Acts 16:13 tidak terlalu jelas, tapi kelihatannya tidak banyak orang Yahudi untuk sampai memiliki Sinagoge (i.e., 10). Dengan alasan inilah, Paulus mungkin pergi keSungai Gangites (atau sungai Crenides), kira-kira1.5 miles jauhnya, dengan harapan menemukan “tempat pertemuan” orang yahudi. Mungkin itu ada didekat sungai agar airnya bisa dipakai untuk ritual pembersihan orang Yahudi,4 tapi hal ini masih belum pasti.
Paulus berbicara pada wanita yang berkumpul disana, termasuk seorang wanita yang bernama Lydia (atau, mungkin wanita Lydian) seorang pemasok kain ungu dang seorang yang pindah keagama Yahudi (Acts 16:14). Dia mungkin masuk Yahudi (karena namanya nonYahudi) saat di Thyatira dan diteruskan saat di Filipi. Saat dia mendengar Paulus bicara, Tuhan membuka hatinya untuk bertobat. Pada akhirnya semua keluarganya bertobat juga, karena semuanya dibaptis bersama (Acts 16:14-15). Baik referensi di Acts 16:15 “anggota keluarganya” dan kenyataan bahwa Paulus dan temanya tinggal dirumahnya, keduanya menunjukan bahwa Lydia itu seorang wanita yang baik. Hal ini kemudian menjadi harapan pertama gereja Filipi.
Kita juga harus memperhatikan panjangnya bagian dalam Lukas dimana Paulus menghadapi budak wanita diFilipi dan peristiwa lain yang terjadi kemudian. Dalam Acts 16:16-18 Paulus menghadapi budak wanita dirasuki iblis yang bisa meramal masa depan sehingga mendatangkan untung bagi pemiliknya. Hasilnya dia kehilangan kemampuan meramal masa depan sehingga membuat pemiliknya marah besar. Jadi mereka membawa Paulus dan Silas kehadapan pejabat pengadilan rendah (Filipi seperti Roma “kecil”), menuntut para misionaris karena mereka memaksakan kebiasaan yang tidak berdasar hukum. Hasilnya Paulus dan Silas dibuang kepenjara setelah dilucuti, dipukul, dan dicambuk dengan kejam (Acts 16:20-24). Sekitar tengah malam terjadi gempa bumi dan semua pintu penjara terbuka. Paulus dan Silas tidak kabur, tapi tetap tinggal dan membagikan injil kepada kepala penjara sehingga – dia dan keluarganya - datang pada Tuhan (Acts 16:25-34). Setelah Paulus menunjukan kewaganegaraan Romawinya5 kepada pejabat pengadilan rendah yang kemudian membebaskan mereka, mereka kembali kerumah Lydia (Acts 16:35-40) dan kemudian pergi ke Apollonia dan Thessalonica (Acts 17:1). Kita tidak memiliki kepastian jumlah waktu Paulus tinggal dan melayani di Filipi saat kunjunga pertama, tapi jelas bahwa dia mengembangkan kasih yang dalam pada mereka (cf, Phil 1:7). Maka dari itu kita memiliki gambaran Lukas tentang peristiwa misi di Filipi – penaklukan strategis bagi Injil didataran Eropa.

Pengarang

Terdapat banyak keraguan tentang pengarang/penulis surat pada jemaat Filipi. Paulus mengklaim dia yang menulisnya (1:1; hubungan Timotius dengan penulisan surat lihat, “Pelajaran 2: Salam”) dan ketika dibandingkan dengan yang dikatakan di Romans, 1 dan 2 Corinthians, dan Galatians, semua karakteristik internal bahasa, gaya tulisan, dan fakta sejarah, meneguhkan semua itu. Gereja mula-mula juga secara konsisten mengatakan otoritas dan penulisan Paulus.. Hawthorne berkomentar:
Gema Filipi bisa terdengar dalam tulisan Clement (ca. AD 95), Ignatius (ca. AD 107), Hermas (ca. AD 140), Justin Martyr (d. ca. AD 165), Melito of Sardis (d. ca. AD 190) dan Theophilus of Antioch (abad 2 kemudian). Polycarp of Smyrna (d. ca. AD 155) memperhatikan Filipi dan langsung menyebut Paulus yang menulisnya (3.2). Irenaeus (d. ca. AD 200). Clement of Alexandria (d. ca. AD 215), Tertullian (d. ca. Ad 225) dan bapa yang kemudian tidak hanya mengutip dari Filipi, tapi menujuk Paulus sebagai penulisnya. Orang Filipi ditemukan dalam daftar tertua tulisan PB—Kanon Muratorian (sekitar abad kedua) dan kanon khusus Marcion (d. ca. AD 160). Disana Bapa Gereja tidak menunjukan pertanyaan tentang otoritas kanon Filipi atau penulisnya.6
Bagi sebagian sarjana, penulis kitab ini sudah jelas : Paulus yang menulisnya. Bagaimanapun, ada keraguan apakah kitab ini terdiri dari satu kesatuan atau surat Paulus yang berbeda-beda yang dikirim ke gereja Filipi yang kemudian digabungkan oleh seorang editor. Pertanyaan literature ini sangat kompleks dan tidak bisa diselami disini. Cukup dengan mengatakan bahwa tidak ada diantara 2 sarjana yang setujua dengan berbagai surat dalam “surat”. Dan jika kelihatan seperti itu (seperti, tidak berhubungannya 3:1 dan 2) kenapa tidak disusun kembali agar lebih baik. Dalam suatu surat yang sangat pribadi – seperti Filipi – tidak ada yang mengusulkan suatu kemajemukan. Tafsiran ini akan menunjukan pembuktian bahwa walaupun ada ketidakserasian dalam surat tidak berarti majemuk dan hal yang mirip dengan itu.

Waktu dan Tempat Penulisan

Menentukan tempat penulisan dan juga waktunya tidak semudah pertanyaan tentang siapa penulisnya. Hal yang jelas adalah Paulus dalam penjara (1:7, 13, 17) dan orang Filipi tahu hal ini karena mereka mengirimkan Efaproditus kepadanya (4:18). Tapi tetap ada pertanyaan pemenjaraan yang mana dalam konteks ini. Umumnya, satu dari tiga solusi dikemukakan: (1) Roma; (2) Ephesus; atau (3) Caesarea. Setelah kita menjawab pertanyaan ini dengan baik kita bisa mengemukakan dalil waktu penulisan kitab ini.
Jawaban tradisional adalah Paulus menulis dari Roma selama pemenjaraannya disana (cf. Acts 28:30). Sementara ada banyak factor yang menunjuk pada Roma dalam surat ini, ada kesulitan dengan jawaban ini. Sebagian sarjana merasa, atas dasar kesulitan ini, solusi yang lain bisa diambil. Masalah yang dibangun disekitar waktu Paulus di Roma (2 tahun) dan jumlah kunjungan dari dan ke Filipi selama periode itu—belum lagi kunjungan yang direncanakan Paulus, menurut orang Filipi. Sebagai contoh, harus ada cukup waktu untuk: (1) seseorang yang dikirim Paulus untuk memberitahu orang Filipi kalau dia dipenjara; (2) orang Filipi mengirim Efaproditus kepada Paulus sebagai hadiah mereka kepadanya (2:25); dan (3) seseorang yang dikirim ke Filipi untuk melaporkan tentang kesehatan Efaproditus. Disini juga terdapat 3 kunjungan yang lain: (1) Efaproditus mengantarkan surat ke Filipi (2:25); dan (2) Timothy mengadakan perjalanan ke Filipi dan kembali lagi keRoma (2:19)7. Sebagian sarjana mengemukakan bahwa dalam dunia dulu hal diatas tidak mungkin diselesaikan dalam waktu 2 tahun.
Sebagian termotivasi oleh masalah dengan sumber dari Roma dan kesulitan perjalanan dalam hal ini, sebagian sarjana mengatakan bahwa surat ini ditulis dari Ephesus selama pelayanan Paulus disana (Acts 19:1ff). Pertama, kelihatannya gereja Filipi telah menolong Paulus secara keuangan dalam pelayanannya sekitar 49 CE (Phil 4:15-16). Jika surat itu ditulis dari Roma, maka sudah 10 tahun lewat sejak mereka menolongnya kembali, yang kelihatannya terlalu lama untuk sebagian sarjana—terutama bagi gereja yang memiliki hubungan yang baik dengan dia (lihat Phil 4:10ff). Maka dari itu, mereka mengatakan Paulus tidak mungkin menulis surat itu saat penahanan di Roma sekitar 60-62 CE. Tapi tidak karena Paulus menyebutkan keinginan mereka untuk kembali memberi (i.e., in 4:10) tidak langsung berarti mereka tidak menolongnya selama 10 tahun lalu.
Sarjana yang lain juga mengatakan bahwa keinginan Paulus untuk mengirimkan Timotius dengan harapan menerima berita dari orang Filipi (2:19)—walaupun dia percaya akan ada keputusan dalam waktu dekat yang bisa mengakhiri hidupnya—terlalu dipaksa karena jarak antara Roma dan Filipi. Perkataan Paulus lebih masuk akan, jika Timotius dikirim dari Efesus. Tapi hal ini tidak menimbulkan masalah bagi penahanan Roma karena Paulus, walalupun dia mengetahui kemungkinan mati, percaya bahwa dia akan hidup dan dibebaskan (Phil 1:25).
Salah satu keberatan yang dikemukakan oleh sebagian penafsir adalah musuh Paulus dalam 3:1-3 sepertinya orang Yahudi—suatu kenyataan yang mempermudah perkiraan kalau penahanannya di Efesus dimana Paulus mendapat kesulitan dengan Yahudi disana (cf. Acts 19:8-9, 33). Tapi seperti yang dikemukakan oleh Guthrie, ada penolakan setelah masalah utama diajukan di Yeursalem.8 Walaupun Paulus menyebutkan fakta bahwa dia sering dipenjara (2 Cor 11:23), tidak ada catatan dalam Kisah kalau dia pernah dipenjara di Efesus. Akhrnya, pemenjaraan Efesus berlawanan karena kekurangan referensi dalam Filipi tentang kumpulan orang miskin di Yerusalem, walaupun disebutkan dalam setiap surat saat Paulus melayani di Efesus (Rom, 1 and 2 Cor). Ini aneh, saat seseorang memikirkan kenyataakn bahwa Paulus, ingin menerima bantuan keuangan dari Filipi. Lebih baik menafsirkan Phil 4:10 dan keinginan kembali orang FIlipi memberi kepada Paulus sebagai petunjuk keinginan mereka untuk menolong dia seperti yang telah mereka berikan bagi orang percaya di Yerusalem.
Sarjana yang lain mengatakan saat penahanan Caesarean. Paulus dipenjara, menurut Acts 24:27, selama 2 tahun di Caesarea dan ada kesempatan seperti penjaga penjara dalam Phil 1:13 mungkin sama seperti dalam Acts 23:35, i.e., penjaga istana Herodes. Tapi masalah utama pandangan di Caesarean adalah seperti alasan di Roma, jarak yang cukup jauh dari Filipi. Selain kenyataan bahwa kita mengetahui kalau Paulus memang dipenjara disana, sangat sedikit yang bisa dikatakan tentang pandangan ini.
Informasi yang kita dapatkan, membuat kita tidak mungkin membuatnya dogmatic, tapi pandangan yang terkuat tetap Roma. Jika perjalanan yang digambarkan dalam Filipi bisa masuk kedalam 2 tahun pemenjaraan9 ada bukti bahwa (1) ada penjaga istana di Roma (Phil 1:13); (2) Paulus bebas mengirim dan menerima teman (Phil 2:19-30; Acts 28:30); (3) petunjuk pada isi istana kaisar cocok dengan pemenjaraan Roma (Phil 4:22); (4) “sebagian besar saudara dalam Tuhan” (Phil 1:14) menunjukan gereja yang sudah berdiri baik yang cocok dengan gereja Roma (dan lebih baik dari yang kita ketahui tentang gereja di Caesarea); (5) kenyataan bahwa Paulus menghadapi kemungkinan kematian cocok dengan Roma karena dia bisa mengajukan diri pada kaisar; (6) pembukaan dari Marcionite menunjukan bahwa Roma merupakan tempat penulisan surat ini.
Jika tempat penulisan memang Roma, tanggal surat mungkin sekitar 60-62 CE, mungkin akhir pemenjaraannya karena dia kelihatannya menunjukan keinginannya untuk cepat bebas (Phil 2:24).

Tujuan Penulisan Surat Filipi

Tidak ada kebutuhan untuk mempertahankan pendapat bahwa hanya ada satu tujuan dalam penulisan surat Filipi ini. Kenyataannya, setelah kita membaca surat ini, beberapa tujuan ada dalam pikiran Paulus. Pertama, jelas bahwa Paulus ingin gereja mengetahui apa yang terjadi dengan dirinya dalam penjara (1:12-26) dan rencananya kalau dibebaskan (Phil 2:23-24). Kedua, kelihatannya ada perpecahan dalam gereja sehingga Paulus mendorong kerendahan hati agar ada kesatuan (2:1-18; 4:2-3). Ketiga, Paulus menulis untuk menghilangkan pengajaran yang negative dan akibat dari pengajar sesat tertentu (3:2-3ff.). Keempat, Paulus menulis untuk menyuruh Timotius kegereja untuk melaporkan kesehatan dan rencana tentang Efaproditus (2:19-30). Kelima, Paulus juga menulis untuk berterima kasih pada gereja untuk perhatianya dan pemberian mereka (4:10-20).

KaSiH SeoRaNG SaHaBaT



MaTeRi KHoTBaH Ibadah PeLKaT, Jumat, 24 Oktober 2014
Bacaan Kitab Yohanes 15 : 11-13

LAI 1958

11  Maka segala perkara ini Aku katakan kepadamu, supaya kesukaan-Ku tetaplah di dalam kamu, dan kesukaanmu pun sempurnalah.

12 Inilah hukum-Ku, yaitu hendaklah kamu berkasih-kasih sama sendiri sama seperti Aku sudah mengasihi kamu.

13 Pada seorang pun tiada kasih yang lebih daripada ini, yaitu sehingga ia menyerahkan nyawanya karena segala sahabatnya.

Latar Belakang Kitab

Penulis : Rasul Yohanes

Waktu Penulisan : antara tahun 85 dan 96 Masehi

Rentang Waktu : Sekitar 3,5 tahun (Tahun 29 -33 Masehi)

Tempat Penulisan : Kemungkinan di Efesus

Meskipun Injil Matius, Markus, dan Lukas mempunyai sudut pandang yang berbeda, mereka sangat mirip satu sama lain dalam segi materi, karena itulah disebut sebagai “injil Sinopsik” (mirip dalam hal isi, urutan dan lain sebagainya). Yohanes disebut sebagai “Injil Tambahan”  karena ia berdiri sendiri dengan unik dalam kelasnya sendiri. Kitab Yohanes ini berbeda dalam berbagai hal: gaya, struktur, penggunaan wawancara yang pribadi, kurangnya cerita perumpamaan, dan penjelasan secara rohani tentang berbagai kejadian. Yohanes dan saudaranya Yakobus mengikuti Yohanes Pembaptis sampai Yesus memanggil mereka untuk mengikuti-Nya. Yesus menyebut keduanya sebagai “Putra Guntur”, tetapi kemudian Yohanes disebut murid “Yang dikasihi Yesus”. Yohanes, bersama-sama dengan Petrus dan Yakobus, menjadi sangat dekat Yesus. Mereka bertiga saja yang berada bersama-sama  Yesus  pada saat Yesus dimuliakan di atas gunung (Mat. 17:1-8) dan ditaman Getsemani (Mrk. 14 : 32 – 41). Yohanes menulis kitab ini untuk sebuah tujuan yang khusus “... supaya kamu percaya bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah,dan supaya oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya” (20:31). Yohanes juga menulis Kitab 1, 2, 3 Yohanes, dan Kitab Wahyu.

Tema : Allah begitu mengasihi kita sehingga Ia memberikan Anak-Nya supaya barang siapa percaya kepada Yesus tidak binasa tetapi memiliki hidup yang kekal (3:16). Mujizat tidak diberikan tidak hanya untuk menyembuhkan, tetapi juga sebagai sebuah tanda yang mengarah kepada Yesus. Allah ingin kita tidak hanya mengasihi-Nya, tetapi juga mengasihi sesama kita. Darah Kristus menutup segala permohonan dan pengakuan kita kepada Allah. Kristus mengerti penuh segala luka hati kita... Ia membayar harga termahal untuk menyembuhkannya. Roh Kudus memberi kita damai kekal yang tidak dapat dihasilkan atau dibeli oleh dunia.

Pendahuluan

Kata KASIH sudah begitu melekat dalam kehidupan Kristiani, bahkan seperti sudah menjadi milik Kristen. KASIH itu memang layak menjadi milik Kristen jika kasih yang dilakukan oleh orang Kristen itu berakar pada KASIH KRISTUS. Kasih Kristus sendiri bersumber dari hubungan KASIH ALLAH dengan ANAKNYA, Yesus Kristus. Yesus tinggal di dalam BAPA dan BAPA di dalam YESUS. Hubungan antara Bapa dengan Anak, dimana Anak-Nya, Yesus Kristus tinggal di dalam Bapa, maka mengalirlah kasih Bapa kepada Anak-Nya. Hubungan kasih yang demikian itulah Allah berkenan mengutus Yesus ke dalam dunia. Dalam pengutusannya, Yesus membagi kasih dengan penderitaan-Nya, dan taat sampai mati. Kesetiaan Anak, yang menerima kasih Allah Bapa itulah yang kemudian memberikan keselamatan bagi umat manusia. Melalui perkataan Yesus kepada murid-murid-Nya dalam Injil Yohanes inilah yang menjadikan diri kita mengerti apa arti KASIH dari SEORANG SAHABAT.

Ada empat kata Yunani untuk kasih yang penting dimengerti orang Kristen. Kata-kata itu adalah agape, phileo, storge, dan eros. Tiga kata di antaranya muncul di dalam Alkitab. Jika kita hendak mengerti Alkitab dan dunia alkitabiah, penting bagi kita untuk mengerti apakah arti kata-kata ini dan di manakah perbedaannya.

  1. Kata benda στοργη - STORGÊ dengan kata kerjanya STERGEIN berarti kasih mesra dari orang tua kepada anaknya dan begitu juga sebaliknya.
  2. Kata EROS dari kata Yunani, yang kita terjemahkan EROS, artinya kasih asmara antara pria dan wanita yang mengandung nafsu birahi.
  3. Kata benda φιλεω - PHILEÔ dengan kata kerjanya φιλειν - PHILEIN berarti kasih sayang yang sejati antar sahabat dekat. Biasanya kasih ini tidak mempunyai hubungan darah. Kasih ini lebih kepada persahabatan.
  4. Kata benda αγαπαω - AGAPAÔ dengan kata kerjanya αγαπαν - AGAPAN, yang kita terjemahkan AGAPE, artinya kasih yang tanpa perhitungan dan tanpa peduli orang macam apa yang dikasihinya. Seringkali disebut dengan kasih yang walaupun.

Kata ketiga untuk “kasih” yang perlu diteliti adalah phileo, yang berarti “memiliki minat yang spesial kepada seseorang atau sesuatu, sering kali dengan fokus kepada kerja sama yang dekat; memiliki kasih sayang terhadap, seperti memandang seseorang sebagai sahabat.” Mungkin menolong jika phileo tidak pernah diterjemahkan sebagai “kasih” dalam Perjanjian Baru, karena kata ini menunjuk kepada perasaan suka yang kuat atau persahabatan yang kuat. Tentu saja, kita melihat bagaimana phileo diterjemahkan sebagai “kasih,” karena di dalam budaya modern kita berkata kita “mengasihi” hal-hal yang kita sangat gemari: “Saya suka (love) es krim,” “Saya suka (love) mobil saya,” “Saya suka (love) model rambutmu,” dsb. Kata phileo menyiratkan hubungan emosional yang kuat, oleh sebab itu dipakai sebagai “kasih,” atau persahabatan yang dalam, antara sahabat. Kita dapat agape musuh Kita, tetapi Kita tidak dapat phileo mereka.

Telaah Teks

Ayat 11-13 :

Definisi kata sahabat menurut Firman Tuhan, mengandung arti lekat seperti kertas dilekatkan dengan kertas, dan lekat artinya intim atau karib. Persahabatan yang Yesus berikan kepada kita :

  1. Persahabatan yang diikatkan dengan kasih, sehingga IA rela mengorbankan nyawa-Nya.
  2. Yang disebut sahabat yaitu bila kita melakukan hukum-hukum TUHAN (Firman-Nya)
  3. Kepada sahabat Yesus akan beritahukan semua rahasia yang Bapa beritahukan pada-Nya (Firman-Nya)

Persahabatan yang dilarang Tuhan :

  • Jangan mengikuti cara hidup orang dunia (Maz. 1:1)
  • Orang yang bersahabat dengan dunia dimurkai Tuhan (2 Taw. 19 : 2)
  • Orang yang bersahabat dengan dunia adalah orang yang tidak setia dan menjadi musuh Tuhan (Yak. 4:4)

Orang yang mau menjadi sahabat Yesus Kristus yaitu orang yang memiliki kualitas dan pengharapan. TUHAN menginginkan agar setiap orang percaya makin hari makin meningkatkan hubungan dengan Tuhan, semakin hari semakin intim dan karib dengan DIA seperti hubungan seorang sahabat. TUHAN ingin kita menjadi sahabat-sahabat yang senantiasa bergaul karib dengan DIA, seia-sekata di segala keadaan, sahabat selalu ada baik itu suka maupun duka, sedih atau susah, senang atau sukacita, selalu mengatakan sesuatu secara terus terang dan apa adanya, tidak merahasiakan atau menutupi sesuatu apapun, saling memahami, saling berbagi. Ada unsur kesetiaan dan juga komitmen di dalamnya. Jadi hubungan persahabatan yang sangat khusus atau spesial, di mana kedua belah pihak membagi isi hati, bahkan tidak ada hal yang dirahasiakan. Penulis Amsal menggambarkan, “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.” (Amsal 17:17), bahkan “ ... ada juga sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara.” (Amsal 18:24). Itulah arti seorang Sahabat!.

Tuhan Yesus berkata, “...(Yoh. 15:14-15). Pada saat kita belajar menjadi sahabat Yesus kita sedang belajar untuk mengenal dan memahami isi hati, pikiran, perasaan dan juga kehendak-Nya. Bagaimana kita bisa mengenal dan memahami isi hati, pikiran, perasaan, dan kehendak TUHAN? Yaitu melalui Firman-Nya. Kita harus tinggal di dalam Firman-Nya, artinya kita tidak lupa memperkatakan kita Taurat tersebut, merenungkan itu siang dan malam dan bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya.

APLIKASI

Marilah kita mengasihi semua orang tanpa terkecuali, kasihilah seseorang yang mengasihi, mencintai terlebih yang membenci kita dan jadikan diri kita sebagai sahabat yang karib pada setiap waktu.

Seberapa dekat hubungan kita dengan TUHAN? Apakah kita mendekat kepada-Nya hanya ketika sedang dalam permasalahan yang berat? Ataukah kekariban kita dengan Tuhan seperti hubungan antar sahabat di setiap waktu? Sudahkah kita layak disebut sebagai sahabat YESUS KRISTUS. ==GR==

DOA; sangat besar kuasanya

YESUS MEMBUATMU BERHARGA