YESUS: Sang Penyelamat dan IMANUEL


Bacaan Matius 1 : 18 – 25

Latar Belakang Singkat Injil Matius.

Menulis injilnya sesuadah injil Markus sekitar tahun 80-90 Sebelum Zaman Bersama (SZB). Matius berhadapan dengan kenyataan orang-orang Yahudi yang percaya Yesus sebagai Kristus. Kata Kristus adalah bahasa Yunani atau Mesias dalam bahasa Ibrani dan dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai Raja. Bangsa Yahudi yang disingkirkan itu dinilai tidak murni lagi. Mereka dianggap sudah tidak setia lagi kepada hukum dan agama Yahudi yang merupakan tradisi bangsa Yahudi turun temurun sejak nenek moyang mereka yang ditarik sampai ke Abraham. Bangsa Yahudi beranggapan bahwa Mesias belum datang, sedangkan para pengikut Yesus percaya bahwa Yesus itulah Mesias yang dinanti-nantikan bangsa Yahudi. Perbedaan inilah yang membuat bangsa Yahudi menganggap para pengikut Yesus tidak murni lagi. Mereka tercemar dengan ajaran itu sehingga mereka perlu diisolasi.

Tantangan terhadap identitas ke Yahudian mereka menyebabkan mereka berada dalam krisis identitas. Apakah mereka masih bangsa Yahudi, ataukah mereka sudah tidak lagi. Masalah kemurnian ini penting bagi bangsa Yahudi. Bangsa Yahudi beranggapan bahwa mereka adalah bahwa mereka adalah Umat (am) Tuhan sedangkan bangsa-bangsa lainnya, asing (goyim). Karena itu kehilangan status sebagai umat Tuhan itu sangatlah menyedihkan bagi mereka, karena bangsa Yahudi pengikut Yesus ini sama dengan goyim.

Sehubungan dengan permasalahan identitas Yahudi inilah Matius menuliskan Injilnya tentang Yesus Kristus. Dapat dipahami kalau dalam situasi seperti itu, Matius menekankan dengan sangat keberadaan Yesus bukan sebagai penyesat agama Yahudi, bahkan menegaskan kebenaran keYahudian yang sejati. Oleh karena itu dapat dipahami kalau dalam pemahamannya atas Yesus Kristus sehubungan dengan tradisi bangsa Yahudi, terutama Taurat, ia menolak pemahaman seolah Yesus hendak menjungkirbalikkan Taurat. Dalam Matius 5:17-48 jelas sekali Matius menggambarkan sikap Yesus yang tidak bertentangan dengan Taurat, bahkan mendukungnya, kalau tidak dapat dikatakan memurnikannya.

Yesus juga digambarkan sebagai yang mengeritik perilaku bangsa Yahudi yang tidak melakukan Taurat secara sempurna, bahkan cenderung menunjukkan gejala kemunafikan, seolah suci dan benar, padahal sebenarnya tidak (Matius 23).

Dengan kritik itu, Matius ingin membesarkan hati para pengikut Kristus untuk tidak berkecil hati ketika mereka dituduh tidak murni lagi. Mereka bahkan patut bangga bahwa Yesus, Mesias mereka itu bahkan lebih murni dari bangsa Yahudi yang dikatakan munafik lewat berbagai cara beragama mereka seperti berdoa yang panjang-panjang, di jalan-jalan, dsbnya.

GARIS BESAR KHOTBAH

Sebenarnya, ketidakbersihan bangsa Yahudi itu sudah digambarkan Matius bahkan sejak pasal 1 seperti dalam silsilah Yesus (Matius 1:1-17). Disitu diringkaskan dari sejarah bangsa Israel dan Yahudi bahwa garis keturunan mereka juga tidak sepenuhnya murni dan bersih. Paling sedikit ada empat nama perempuan yang  dalam Alkitab Perjanjian Lama cerita tentang mereka tidak menyenangkan. Mereka adalah Tamar, Rut, Rahab, dan istri Uria. Nama-nama yang diungkit Matius dalam silsilah itu menyebabkan orang Yahudi yang merasa dirinya kudus dan murni itu patut mengerenyitkan dahinya. Keempat perempuan itu dalam perjanjian lama digambarkan sebagai perempuan-perempuan yang tidak murni seperti yang diklaim oleh bangsa Israel itu. Mereka bahkan dihubungkan dengan hal-hal yang “kotor” alias tidak sempurna. Tamar adalah sosok yang digambarkan keturunannya dengan menjalankan peran sebagai seorang pelacur. Rut adalah seorang Moab, orang asing (Goyim) yang tidak layak digauli umat Tuhan (am), bahkan terkutuk karena kematian suaminya. Rahab sudah jelas adalah pelacur yang menyelamatkan juru intai bangsa Israel. Dan terakhir istri Uria yang diperistrikan Daud karena cara-cara yang tidak terpuji dengan upaya sehingga memungkinkan suaminya Uria dibunuh. Itu sejarah bangsa Yahudi yang dianggap suci dan murni.

Dalam Injilnya Matius ingin bertanya, apakah yang dapat dibanggakan dengan kesucian dan kemurnian itu dengan adanya empat perempuan itu?

Perempuan terakhir yang disebut Matius dalam injilnya di pasal 1 adalah Maria. Berbeda dengan empat perempuan lainnya, Maria tidak punya cerita “kotor”. Ia bahkan   hamil oleh Roh Kudus. Begini cara Matius menggambarkannya “ternyata ia mengandung    dari Roh Kudus,sebelum mereka hidup sebagai suami istri”. Matius 1:18b. Kalau keempat perempuan lainnya dihubungkan dengan konotasi yang “kotor” sebagai perempuan, Maria dalam hubungannya berasal dari Ro Kudus. Keperempuanannya malah disucikan. Jadi Yesus yang disebut Kristus, atau Mesias, yang dipercayai para pengikut-Nya yang Yahudi itu tidak salah. I a berasal dari keturunan yang kudus. Ia adalah yang diurapi  Tuhan, berasal dari Tuhan.

Apakah para pengikut Yesus harus malu mempercayainya sebagai Mesias, sebagai Tuhan perlu rendah diri dengan pengakuannya itu? Matius mengatakan tidak! Pilihan itu tidak salah. Pilihan itu benar karena pilihan itu adalah suci, karena keberadaan Yesus, anak Maria itu adalah keberadaan yang kudus, keberadaan karena pekerjaan Roh Kudus.

Itu pulalah kesaksian Paulus sendiri dalam 1 Korintus 12:3b “dan tidak ada seorangpun, yang dapat mengaku: “Yesus adalah Tuhan,” selain oleh Roh Kudus.”
Merayakan hari kelahiran Yesus dengan demikian adalah perayaan tentang kesucian, kekudusan Tuhan dan setiap orang yang percaya kepada-Nya.  Itulah ciptaan, perjanjian baru antara Tuhan dengan umat-Nya. Tuhan yang suci dan kudus itu telah hadir bersama umat-Nya sehingga umat-Nya tidak perlu merasa ragu karena kesendirian. Tuhan yang suci dan kudus itu telah hadir bersama umat-Nya yang dinilai tidak suci lagi hanya karena percaya kepada Yesus sebagai Kristus. JT/20161224/SGDK-GPIB

DISURUH DAN DITUGASKAN


Bacaan Kisah Para Rasul 11 : 19 – 30
PENGANTAR
Pokok pikiran Kisah Para Rasul dapat dikatakan tentang bagaimana murid-murid menyaksikan Kristus, khususnya pada Kis 1 : 8. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, ... Ayat ini menunjukkan bagaimana saksi-saksi Kristus diutus, diberi perlengkapan rohani dan daerah-daerah pemberitaan Injil. Di samping itu dalam kitab ini perkembanganInjil yang diberitakan serta diringkaskan dengan, “Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Dalam Kisah Para Rasul 2 – 7 kesaksian itu dilakukan di Yerusalem. Dalam Kisah Para Rasul 8 – 12 dilakukan di Yudea dan Samaria. Dan dalam Kisah Para Rasul 13 – 28 dilakukan sampai ujung bumi.
Secara garis besar Kisah Para Rasul terdiri dari dua bagian. Bagian pertama pasal 1 s/d  12 dan bagian kedua pasal 13 s/d 28. Pada bagian yang pertama kesaksian berpusat di Yerusalem dan pada bagian kedua di Antiokhia dan sekitarnya. Dengan demikian kita dapat melihat bagaimana proses perkembangan Injil dari Yerusalem dan di kalangan orang-orang Yahudi kemudian tersebar atau meluas kepada bangsa-bangsa lain. Hal ini oleh karena esensi dari berita Injil itu sendiri, yaitu bahwa keselamatan bagi bangsa segala bangsa. Namun tingkat penyebarannya yang luas tidak lepas adanya tekanan dan penganiayaan terhadap para pengikut Kristus.
PEMAHAMAN PERIKOP
Pada waktu itu penganiayaan dan penderitaan terhadap orangKristen mula-mula semakin hebat. Namun, justru karena hal itu penyebaran orang-orang Kristen ke berbagai tempat makin meluas (19). Mereka yang melarikan diri dari penganiayaan pada saat Stefanus mati, kemudian tersebar ke kota-kota di Libanon, Siprus, Asia Kecil. Salah satu tempat yang diangkat oleh Penulis adalah Antiokhia. Di sana mereka menjadi saksi tentang Yesus. Akan tetapi mereka membatasi kesaksian mereka, hanya kepada kaum Helenistik yang berlatar belakang Yahudi. Kemudian berkembang kepada non-Yahudi (Yunani) yang dilakukan oleh orang-orang Siprus dan orang Kirene. Yang berbicara secara langsung kepada orang-orang Yunani dan orang-orang bukan Yahudi/Yunani lainnya dan sejumlah orang menjadi percaya.
Kemudian Jemaat di Yerusalem mendengar hal itu. Mereka mengutus Barnabas untuk membina jemaat baru di Antiokhia tersebut. Barnabas, seorang pemimpin yang baik dan berkualitas. Hal pertama yang dilakukan ketika sampai di Antiokhia ialah mengingat Paulus. Ia melihat adanya potensi yang luar biasa di dalam diri Paulus. Akan sangat disesalkan jika potensi itu diabaikan. Maka dapat dipahami bagaimana   Jemaat Yerusalem telah mengirim seorang pelayan terbaik mereka kepada jemaat baru di Aniokhia. Secara tersirat di sinilah Saulus (Paulus) berlatih melayani, mengajar  dan dipersiapkan, dan kelak disebut disebut sebagai rasul yang memberitakan Injil bagi orang-orang non Yahudi.
Hal menarik, di Jemaat Aniokhia adalah kesediaan mereka memberi yang terbaik bagi orang lain. Saat itu Yerusalem adalah kota besar. Pusat peradaban. Sedangkan Anthiokhia adalah  sisa puing-puing kota yang penuh dengan berhala (36AD terjadi gempa besar yang beruntun, menyebabkan  kota Antiokhia hancur, dan banyak orang mengungsi). Dalam keberadaan mereka juga yang sulit, namun tetap memberikan bantuan kepada jemaat Yerusalem yang dikabarkan mengangalami bencana kelaparan.  Dalam keberadaan mereka juga yang sulit, namun tetap memberikan bantuan kepada Yerusalem yang dikabarkan mengalami bencana kebakaran. Jadi pada perikop, Kis. 11 : 19 – 30, kita dapat melihat bagaimana pembentukkan gereja yang terbuka unruk segala bangsa. Kita juga memahami bagimana  gereja mulai mengembang sayapnya Kita juga khususnya kepada orang-orang bukan yahudi, termasuk kita pada masa kini.
PEMAHAMAN TEKS.
Setelah Stefanusdibunuh, penyiksaan orang Kristen dimulai. Banyak orang Kristen lalu melarikan diri ke Fenisia, Siprus dan Antiokhia (ay. 19). Di Antiokhia mereka menyebarkan injil ke orang-orang Yunani, dan sejumlah besar orang menjadi percaya. Akan tetapi mereka membatasi kesaksian mereka, hanya kepada kaum Helenistik yang berlatar belakang Yahudi. Penganiayaan tidak menghentikan semangat Kristen memberitakan Injil kepada orang Yahudi (19). Di antara yang memberitakan injil, ternyata sudah ada orang sebelum mereka yang juga memberitakan Injil kepada orang Yunani, dan pelayanan ini pun diberkati Tuhan (ay. 20-21).
Saat jemaat di Yerusalem mendengar itu, mereka mengutus Barnabas untuk membina jemaat baru di Antiokhia tersebut (ay. 23). Kita mengenal karakter Barnabas dari kesaksian yang diberikan mengenai dia (4:36), dan bagaimana kasih kebapakannya menjadi penghubung antara para Rasul dan Saulus (9:27). Dalam bacaan ini penulis menyaksikan bahwa Barnabas adalah seorang yang saleh, yang menaikkan doa di antara jemaat dan memberitakan Injil dengan kepenuhan Roh    Kudus (ay. 24). Ia menyadari panggilannya untuk membina dan menuntun orang-orang yang baru percaya itu, kepada kedewasaan iman dengan penuh kasih.
Dalam pelayanannya di Antiokhia, Barnabas sebagai guru Paulus menyempatkan diri dan menjemput Paulus untuk melayani bersama, karena melihat adanya potensi dan karunia dalam diri Paulus untuk melayani. Saat itu Barnabas adalah penginjil yang baik dan setia, serta memiliki hubungan baik dengan para rasul. Dengan demikian dipahami bagaimana Jemaat Yerusalem telah mengirimkan orang terbaik kepada jemaat baru di Antiokhia untuk melayani (ay. 25-26).
Barnabas sangat bersukacita ketika ia melihat kehidupan yang baru di dalam jemaat di Antiokhia. Ia bersukacita bersama dengan mereka yang dilahirkan kembali. Artinya Pemberian Label  “Kristen” di jemaat ini memberikan  suatu identitas baru bagi kelompok ini yang semakin memisahkan mereka dari pola ibadah dan ritual agama Yahudi, sehingga mereka bisa terus berada di dalam kepenuhan Kristus. Identitas yang dilekatkan dan dikenal itu memberikan arah dan tujuan hidup yang dinamis bagi Kerajaan Allah.
Kemudian pada Ayat 27 – 30 diceritakan  adanya beberapa nabi dari Yerusalem datang dan menubuatkan bencana kelaparan di seluruh dunia. Dan jemaat mula-mula di Antiokhia     memutuskan untuk mengumpulkan sumbangan dan mengirimkannya kepada jemaat di Yudea. Padahal Antiokhia baru saja mengalami bencana alam yang hebat. Bahkan raja mereka terpaksa mengungsi ke kemah-kemah sirkus karena gempa gempa itu. Di tengah kehancurkan itu, mereka tetap mau menyumbang untuk sesama. Mereka yang kotanya hancur justru mau menyumbang untuk Yudea (Yerusalem dan Sekitarnya) yang membangunnya lebih baik kondisinya. Ini menunjukkan bagaimana mereka menyadari sebagai bagian dari persekutuan   dan yang penuh dengan kasih terhadap sesama.  
URAIAN KHOTBAH
Melalui Kisah 11:19 – 30 memberikan gambaran bagi kita tentang gereja mula-mula yang teguh sebagai cerminan bagi kita saat ini. Ada beberapa ciri khas yang menonjol dari gereja mula-mula yang dapat kita pelajari, yaitu : Pertama,   :    Gereja, gereja yang bergumul. Oleh karena adanya penganiayaan yang timbul sesudah Stefanus dibunuh. Mereka tersebar sampai di Fenesia, Siprus dan Antiokhia:    namun mereka memberitakan injil kepada orang Yahudi saja pada awalnya (Kisah 11:19). Penganiayaan yang dialami oleh gereja mula-mula   merupakan salah satu bentuk tantangan yang ada pada saat itu  tetapi tantangan itu tidak membuat mereka meninggalkan imannya. Sebaliknya semakin banyak orang menjadi percaya dan bertobat justru karena perlakuan tidak manusiawi dari orang-orang yang tidak  mengenal Tuhan.  Kita harus menjadi gereja yang siap menghadapi setiap tantangan. Sebab tantangan tidak akan dapat menghambat pertumbuhan        orang percaya, justru malah mengembangkan dan menumbuhkan kehidupan beriman.
Kedua,  Gereja yang bersaksi. Dalam Kisah 11 : 20-21 diungkapkan bagaimana pemberitaan Injil disampaikan bukan hanya kepada orang-orang Yahudi tetapi juga kepada orang-orang Yunani. Mereka memberitakan Injil, dan berkata bahwa Yesus adalah Tuhan. Dan oleh karena penyertaan Tuhan sejumlah besar orang menjadi percaya dan berbalik kepada Tuhan (Isah 11:20-21). Maka dapat dipahami bagaimana penyertaan Tuhan dalam pelayanan di tengah aniaya yang dihadapi. Meski secara phisik didera habis-habisan, mereka tetap menyaksikan Injil. Sesungguhnya kita juga dipanggil untuk menjadi saksi-Nya dalam segala situasi yang kita hadapi.
Ketiga, Gereja yang menjadi berkat. Oleh karena adanya bahaya kelaparan yang dihadapi, maka murid-murid di Antiokhia memutuskan untuk mengumpulkan sumbangan, sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing dan mengirimkannya kepada saudara-saudara yang diam di Yudea (Kisah 11:28-29). Kita tahu bahwa Jemaat Antiokhia memberi bantuan dalam kondisi mereka juga yang mengalami kehancuran, namun tetap sedia menolong dan memberi bantuan Jemaat di Yudea yang membutuhkan. Inilah contoh orang-orang yang mengasihi. Mereka mau menolong sesama meskipun keadaan mereka hancur.  
Dengan demikian kita memahami keberadaan kita sebagai gereja yang hadir di tengah-tengah masyarakat, yaitu menjadi gereja yang senantiasa bergumul, bersaksi dan menjadi berkat. Gereja tidak hanya mewujudkan persekutuannya sebagai umat Allah, namun dalam persekutuannya dengan Allah (Communion) kita disuruh atau diberi tugas oleh Allah (commission). Maka komuni dan komisi menjadi bagian penting dari kehadiran Gereja. Demikianlah keberadaan GPIB sebagai gereja yang mewujudkan pelayanannya tidak hanya membawa umat dalam persekutuan dengan Allah, namun menyadari tugas yang diberikan, juga untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan umat dan masyarakat sekitar, sebab demikianlah kita ber-PELKES tidak bisa menutup mata, bahkan harus melakukan sesuatu terhadap sesama yang membutuhkan.  
A.S.P/MAJI/SGDK/edisi45

TIGA YANG ESA

Bacaan : 1 Korintus 2 : 6 – 16
PENGANTAR

Kota Korintus terletak di sebuah daratan sempit yang memiliki pelabuhan di bagian timur dan bagian barat. Korintus pada waktu itu, bisa dikatakan merupakan kota yang sangat duniawi sebab ada banyak pengaruh dari berbagai budaya. Penduduk kota ini memiliki tradisi yang kuat dalam hal penyembahan berhala, khususnya dewi cinta yang bernama Afrodite. Surat Paulus ini antara lain berisi berbagai pergumulan yang terus dihadapi jemaat Korintus berhadapan dengan berbagai pengaruh gaya hidup di kota besar.

            Paulus pernah mengunjungi Korintus dan tinggal beberapa lama di sana dalam rangka pemberitaan Injil. Sekarang, ia tidak lagi bersama-sama mereka, namun ia berusaha untuk tetap menjaga hubungan yang baik dengan mereka, oleh sebab itu ia tekun menulis surat ini kepada mereka.

            Ia sempat mendengar dari beberapa sahabat yang datang mengunjunginya tentang situasi dan kondisi yang cukup tegang dalam jemaat Korintus saat itu, bahkan sampai-sampai timbul “perselisihan” yang dapat mengancam keutuhan persekutuan. Rasul Paulus sedih karena ternyata ada beberapa jemaat yang masih meragukan kerasulannya. Ia mencoba meyakinkan mereka lewat suratnya ini. Ia juga menjelaskan beberapa hal di sekitar kehidupan perkawinan dan tentang makanan-makanan yang dipersembahkan kepada berhala. Akhirnya, ia menyampaikan rencananya untuk kembali lagi ke Korintus dan tinggal beberapa lama dengan mereka.

PENJELASAN NATS

Ayat 6 – 9: Hikmat yang disebutkan rasul Paulus di sini adalah suatu “rahasia Allah”. Hikmat ini terbagi atas dua jenis. Pertama, ia tidak serupa dengan hikmat dunia – dan oleh karenanya ditolak oleh Paulus. Kedua, ia hanya diberitakan di kalangan orang yang “sempurna” (Filipi 3:5), yaitu yang menerima Roh Kudus. Rasul Paulus memahami bahwa hikmat itu pada hakekatnya berasal dari Allah, sehingga oleh hikmat itulah iman menjadi sempurna. Hikmat itu belum nampak pada orang-orang yang sudah dewasa dan matang imannya, hikmat membuat imannya itu menjadi semakin “sempurna”.


Jemaat di Korintus pada waktu itu suka sekali dengan hikmat dunia. Padahal dunia ini hidup di luar aturan Allah dan tidak menuruti kehendak-Nya sehingga hikmat yang seperti itu sebetulnya tidak berguna bagi orang Kristen. Hikmat seperti itu dimiliki oleh raja-raja di dunia ini dan bertentangan dengan hikmat Allah. Sebaliknya, hikmat Allah tidak dikenal oleh para penguasa dunia, sebab sekiranya mereka mengenalnya, mereka tentu tidak akan menyalipkan Yesus.

Hikmat Allah itu hanya disediakan bagi orang-orang yang mengasihi Dia. Kasih kepada Allah itu ialah “kunci”  yang dapat membuka “rahasia Allah”. Dunia dengan para penguasanya yang angkuh dan lalim, tidak mengenal ‘kasih’ sehingga mereka kelak akan binasa.


Ayat 10-16 : Hikmat Allah hanya dapat diperoleh sebagai karunia (pemberian) dari Allah saja. Oleh sebab itu ia dikaruniakan oleh Roh Allah kepada orang percaya. Kepada orang yang ‘sempurna’, Allah sudah menyatakan rahasia hikmat-Nya dengan Roh-Nya. Di dalam Roh-Nya tidak sesuatu pun yang tersembunyi karena Roh itu menyelidiki segala sesuatu. Menurut rasul Paulus, Allah hanya dapat dikenal oleh Roh-Nya saja. Orang yang percaya dianugerahi Roh Allah, yang mengatasi dunia ini dan para penguasanya. Roh Allah menjadi pembuka jalan kepada kedalamn pengenalan akan Allah.

Makna yang terkandung di dalam Roh Allah itu ialah, bahwa orang Kristen dapat mengenal karunia Allah. Hikmat ialahi itu hanya dapat dikatakan oleh orang yang mempunyai Roh. Hanya dengan perkataan yang dikaruniakan oleh Roh saja, kita dapat berkata-kata tentang hikmat.

Menurut pengajaran rasul Paulus, Roh Allah itu sama dengan Roh Kudus. Oleh karena Roh Kristus, kita dapat mengenal kehendak Allah dan hikmat-Nya. Allah Bapa, Kristus (Anak) dan Roh Kudus merupakan Allah yang menyatakan diri sebagai Pencipta (Allah Bapa), Penyelamat (Yesus Kristus) dan penolong, Penuntun atau Penghibur (Roh Kudus). Jadi ketiganya bekerja sama – saling terkait, satu dengan yang lain, saling melengkapi dan saling meneguhkan.

PENERAPAN
  Mungkin untuk memudahkan kita memahami hal ini, mari kita perhatikan “matahari”. Pertama, matahari itu memiliki cahaya yang sangat terang sehingga dengan cahaya itu manusia dapat mematikan semua lampu dalam rumah ketika matahari bersinar terang lagi, siang bahkan hingga sore hari. Tetapi pada malam hari itu, lampu-lampu perlu dinyalakan karena cahaya matahari sudah tidak ada lagi. Kedua, matahari juga mempunyai bentuk yaitu bulat, sehingga dari kecil kita menggambarkan matahari itu selalu bulat dan tidak segitiga atau kotak. Ketiga, matahari memiliki panasyang luar biasa sehingga kita dapat menjemur pakaian, kasur, bantal, karpet dan lain-lain sehingga kering. Dari satu benda yang disebut matahari kita mengenal 3 komponen yaitu : cahaya, bentuk dan panas.  Ketiga hal ini melekat pada satu benda yang disebut Matahari dan ketiganya tidak terpisahkan, tetapi dapat dibedakan satu dengan lainnya.  Demikian pula halnya dengan Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus, ketiganya berbeda tetapi ketiganya Esa.


URAIAN KHOTBAH

Saudara-sauSaudara-sauSaudara-saudara yang kekasih di dalam Tuhan Yesus Kristus, hari ini kita memasuki minggu Trinitas. Apa artinya minggu Trinitas? Minggu Trinitas adalah minggu pertama sesudah Pentakosta yang di dalamnya Gereja diajak untuk menghayati kembali makna Allah yang Esa atau Allah Tritunggal (Bapa, Anak dan Roh Kudus). Adapun simbol yang digunakan pada hari minggu Trinitas ini adalah Segitiga (Triquetra) dengan    warna dasar putih yang menjadi simbol dari Ketritunggalan. Bila kita perhatikan, ada tiga buah lekukan yang tidak terputus, saling bersambung – yang menyatakan kekekalan dari Allah itu sendiri.

Pemahaman tentang Allah Tritunggal memang tidak mudah dimengerti dengan menggunakan “akal pikiran” manusia. Hal seperti ini hanya dapat dimengerti dengan “iman” . di dalam iman, hikmat Allah bekerja sehingga kita akhirnya yakin bahwa benar, Allah telah datang ke dalam dunia ini dalam wujud manusia yaitu Yesus Kristus. Yesus Kristus, Anak Allah yang hidup itu telah menyatakan kehendak Allah bagi manusia dan mengajarkan manusia untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya agar manusia memperolah pengampunan, penebusan dan keselamatan. Tanpa iman kepada Yesus Kristus, kita tidak akan memperoleh keselamatan (Yohanes 14:6). Untuk mengimani Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, kita membutuhkan tuntunan kuasa Roh Kudus yang membuka hati dan pikiran kita agar mengerti dan percaya bahwa Kristus telah datang mengobarkan diri-Nya, mati di kayu salib Golgota demi keselamatan kita.

Bagi orang dunia, kematian Kristus di kayu salib adalah sebuah lambang kesalahan dan kebodohan. Bagaimana mungkin seorang yang disebut “Anak Allah”, matinya sangat memalukan, seperti halnya seorang penjahat – mati di tiang gantungan? Tetapi bagi kita, yang percaya justru kematian seperti itulah yang dengan jelas menunjukkan: di satu sisi, besarnya kasih Allah bagi kita yang berdosa ini dan di sisi   lain : betapa kejam dan hinanya kita di hadapan Allah sehingga dengan sadar “membunuh” seorang yang tidak bersalah. Namun Dia tetap mengasihi kita, bagaimana pun keberadaan kita. Terpujilah Allah Bapa, Yesus Kristus dan Roh Kudus sekarang dan selama-lamanya. Amin. S.P.D/hlt/SGDK/Edisi45

DOA; sangat besar kuasanya

YESUS MEMBUATMU BERHARGA