YESUS BINTANG PENUNTUN JALAN HIDUP



Bacaan : Kitab Matius 2: 1 – 6
PENGANTAR
Injil Matius ditulis dan ditujukan kepada jemaat Kristen yang berlatar belakang Yahudi.
Orang-orang Yahudi selalu menganggap/mengakui diri sebagai anak-anak / keturunan Abraham secara lahiriah, dan Abraham adalah Bapa leluhur mereka. Orang-orang Yahudi juga masih selalu menganggap Daud sebagai raja idaman. Mereka tetap memiliki pengharapan mesianis; bahwa raja/mesias dari keturunan Daud masih akan datang untuk memerintahdan memulihkan kerajaan Israel. Ini menjelaskan bahwa orang-orang Yahudi belum mengakui Yesus sebagai Mesias/Raja dari keturunan Daud.
Injil Matius ditulis untuk meyakinkan jemaat Kristen bahwa Yesus adalah keturunan Abraham. Yesus juga adalah Mesias/Raja dari keturunan Daud; Yang Diurapi; Anak Allah. Hal ini tampak dalam kisah kehidupan-Nya; sejak kelahiran, pelayanan, penderitaan, kematian, kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga. Itu sebabnya, penginjil secara sadar memulai tulisannya dengan menyajikan silsilah Yesus, anak Abraham, anak Daud.
Dengan cara demikian, jemaat mau diingatkan dan diyakinkan bahwa mereka tidak perlu menunggu mesias yang lain. Karena Mesias yang dinantikan dari keturunan Daud telah datang, yaitu Yesus. Jemaat Kristen juga diingatkan supaya tidak membiarkan orang-orang Yahudi tertentu memengaruhi dan menarik mereka kembali kepada Yudaisme yang terus menanti kedatangan Mesias dari keturunan Daud.
MEMAHAMI TEKS DALAM KONTEKS
Teks bacaan kita dimulai dengan tempat Yesus Lahir, yaitu di Betlehem, di tanah Yehuda. Betlehem (Rumah Roti), pada zaman dulu disebut Efrat atau Efrata. Betlehem adalah rumah atau kota Daud (1 Samuel 16:1; 20:6). Hal ini menjelaskan bahwa Yesus adalah Raja dari keturunan
Daud; sebagaimana telah dinubuatkan oleh nabi Mikha. “Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, daripadamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.” (Mikha 5:1)
Teks kita juga menyebut nama raja yang berkuasa pada saat Yesus lahir, yaitu Herodes; seorang keturunan Idumea (Edom), yang di-Yahudi-kan. Ia sangat berjasa kepada Roma dalam peperangan melawan Palestina. Sehingga menjadi gubernur pada tahun 47 sM dan mendapat gelar raja pada tahun 40 sM dan memerintah sampai tahun 4 sM. Herodes adalah raja yang keras, kejam dan selalu curiga. Ia tidak segan membunuh orang-orang lain, bahkan anggota keluarganya sendiri, jika dianggap dan dicurigai ingin mengambil kedudukan dan kuasanya. Meskipun kejam dan tirani, tetapi Herodes selalu berusaha menyenangkan dan mengambil hati orang-orang Yahudi dengan membangun Bait Allah, meringankan pajak, menyediakan pangan. Tujuannya agar orang-orang tidak berontak melawan dia, tetapi selalu patuh dan mendukung pemerintahnya.
Dengan mengisahkan demikian, penginjil ingin mempertentangkan antara Yesus, raja Yehuda dari keturanan Daud yang sesungguhnya dengan Herodes, raja Yehuda yang bukan dari keturunan Daud. Yesus adalah  raja damai dipertentangkan dengan Herodes sebagai raja tirani dan kejam.
Kisah selanjutnya menampilkan kedatangan orang-orang majus dari Timur, ke Yerusalem. Mereka adalah orang-orang pintar dan bijak yang bisa melihat tanda-tanda di langit melalui bintang dan meramalkan kejadian yang akan datang. Karena itu, ketika melihat bintang raja terbit di langit, mereka yakin bahwa seorang raja Yahudi telah lahir. Seorang raja yang besar dan penuh kuasa. Oleh karena itu, mereka rela meninggalkan negeri dan pekerjaan, menempuh perjalanan jauh dan datang ke Yerusalem. Mereka yakin bahwa Yesus sebagai raja orang-orang Yahudi telah lahir di Yerusalem. Sebab Yerusalem adalah pusat kekuasaan politik dan keagamaan orang-orang Yahudi. Herodes juga bertempat tinggal di dalam kompleks Yerusalem. Mereka tidak tahubahwa Yesus lahir di Betlehem. Tetapi dengan cara hadir di Yerusalem dan bertanya-tanya, “Di mana Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah-Nya” para majus telah memberitakan tentang kelahiran Yesus, raja dari keturunan Daud kepada Herodes dan orang-orang di Yerusalem.
Berita ini membuat Herodes terkejut, gusar, gelisah dan marah karena takhta dan kedudukannya terancam oleh raja yang baru lahir. Hal ini mengemparkan seluruh Yerusalem karena takut terhadap tindakan kejam yang akan diambil Herodes. Namun, sebelum bertindak, Herodes berusaha mencari informasi dari para imam, farisi dan ahli Taurat tentang kapan dan di mana raja orang Yahudi dilahirkan. Herodes pun mengetahui bahwa Yesus, raja orang Yahudi, lahir di Betlehem.
KHOTBAH
Tahun ini Hari Natal bertepatan dengan Hari Minggu. Banyak warga gereja mungkin kecewa dan mengeluh karena hari libur Natal berkurang. Namun jika kita merenung bahwa Yesus Kristus, Tuhan atas waktu, bahkan Dia sebagai sang Waktu telah menciptakannya demikian maka sesungguhnya ada hikmat yang bisa kita peroleh. Sehingga perayaan Natal tahun ini mesti menjadi perayaan besar sarat makna bagi perjalanan hidup kita.
Hari Natal adalah hari  Lahir Yesus Kristus. Allah mengambil rupa manusia dan lahir sebagai seorang bayi yang polos, miskin dan hina. Hari Minggu adalah hari kebangkitan Yesus Kristus dari kematian; mengalahkan segala kuasa dunia; baik dunia orang hidup, maupun dunia orang mati. Jadi, jika dua Hari Raya ini dirayakan bersamaan maka maknanya jelas, bahwa Yesus Kristus lahir untuk menjadi pemenang. Apa dan bagaimana pun keadaan ketika Ia lahir, tidak menghalangi atau merintangi-Nya untuk meraih kemenangan. Bahwa kemenangan yang diraih bukan tanpa pengorbanan, tetapi justru dengn pengorbanan besar. Bahwa kemenangan Yesus Kristus merupakan kemenangan Allah, bahkan kemenangan seluruh ciptaan; kemenangan gereja dan orang percaya atas kuasa dosa yang merusak dan mematikan. Oleh karena itu, perayaan Hari Natal tahun ini mesti menjadi moment kelahiran baru bersama Yesus Kristus. Sehingga, kita pun akan mengalami kemenangan di setiap langkah dan jalan serta seluruh karya-layan hidup kita, meskipun banyak tantangandan rintangan menghadang.
Mencapai kemenangan tanpa tantangan, rintangan dan hambatan iman adalah kemenangan murahan. Kemenangan sejati akan diraih jika kita berjuang dalam hidup melawan kekuatan-kekuatan dunia yang kejam dengan memandang pada Yesus, sang Bintang Penuntun jalan hidup. Sebab hanya Yesus yang mampu menuntun sampai ke tujuan akhir, yaitu kemenangan sejati. Mseperti para majus yang rela meninggalkan tempat tingal dan menmpuh perjalanan jauh karena melihat bintang raja terbit di Timur. Bintang itu menuntun mereka sampai ke Yerusalem, pusat kekuasaan politik dan keagamaan. Di tengah situasi yang mencekam, karena berita tentang kelahiran Yesus, raja orang Yahudi disampaikan kepada Herodes, para majus tidak takut. Mereka sangat yakin bahwa kekuatan yang terpancar dari bintang yang mereka lihat akan menarik dan menuntun mereka sampai tujuan, yakni berjumpa dengan Yesua. Keinginan dan motivasi mereka tulus murni untuk menyembah Yesus, sang Raja Damai, membuat mereka mampu melewati setia hambatan dalam ketidaktahuan dengan tenang.
Tidak sedikit dari kita telah sampai di tujuan pencarian dalam hidup. Ada yang sesuai rencana-rencana yang kita susun di awal melangkah. Tetapi mesti diakui bahwa ada lebih banyak yang tidak kita rencanakan sebelumnya, itulah yang kita capai. Itulah mujizat karena kita menjalani kehidupan dan melakukan seluruh aktifitas kita dengan memandang pada Yesus. Karena itu, kita tidak perlu berbangga diri atas semua pencapaian diri. Kita tidak perlu resah, kecewa dan berkeluh karena Hari Natal bertepatan dengan hari Minggu. Sebaliknya, kita tetap tenang dan tetap mengarahkan pandangan dan visi hidup kita selanjutnya kepada Yesus, sang  Bintang Penuntun Jalan Hidup. Jalani setiap jejak hidup dengan motivasi yang tulus dan murni, yakni sebagai sebuah model penyembahan kepada Yesus. Dengan demikian, kita akan mampu mengatasi dan melewati setiap rintangan dan hambatan sebesar apa pun.
Yesus adalah “Bintang” yang menerangi dan menuntun jalan hidup kita menuju masa depan yang pasti cerah. Mari terima Yesus di hati kita dan serahkan hidup kita dibimbing dan dituntun oleh-Nya serta dapat bersaksi tentang nama-Nya bagi semua orang, termasuk para penguasa. A.F/asp|GPIB|SGDK|20161225

YESUS: Sang Penyelamat dan IMANUEL


Bacaan Matius 1 : 18 – 25

Latar Belakang Singkat Injil Matius.

Menulis injilnya sesuadah injil Markus sekitar tahun 80-90 Sebelum Zaman Bersama (SZB). Matius berhadapan dengan kenyataan orang-orang Yahudi yang percaya Yesus sebagai Kristus. Kata Kristus adalah bahasa Yunani atau Mesias dalam bahasa Ibrani dan dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai Raja. Bangsa Yahudi yang disingkirkan itu dinilai tidak murni lagi. Mereka dianggap sudah tidak setia lagi kepada hukum dan agama Yahudi yang merupakan tradisi bangsa Yahudi turun temurun sejak nenek moyang mereka yang ditarik sampai ke Abraham. Bangsa Yahudi beranggapan bahwa Mesias belum datang, sedangkan para pengikut Yesus percaya bahwa Yesus itulah Mesias yang dinanti-nantikan bangsa Yahudi. Perbedaan inilah yang membuat bangsa Yahudi menganggap para pengikut Yesus tidak murni lagi. Mereka tercemar dengan ajaran itu sehingga mereka perlu diisolasi.

Tantangan terhadap identitas ke Yahudian mereka menyebabkan mereka berada dalam krisis identitas. Apakah mereka masih bangsa Yahudi, ataukah mereka sudah tidak lagi. Masalah kemurnian ini penting bagi bangsa Yahudi. Bangsa Yahudi beranggapan bahwa mereka adalah bahwa mereka adalah Umat (am) Tuhan sedangkan bangsa-bangsa lainnya, asing (goyim). Karena itu kehilangan status sebagai umat Tuhan itu sangatlah menyedihkan bagi mereka, karena bangsa Yahudi pengikut Yesus ini sama dengan goyim.

Sehubungan dengan permasalahan identitas Yahudi inilah Matius menuliskan Injilnya tentang Yesus Kristus. Dapat dipahami kalau dalam situasi seperti itu, Matius menekankan dengan sangat keberadaan Yesus bukan sebagai penyesat agama Yahudi, bahkan menegaskan kebenaran keYahudian yang sejati. Oleh karena itu dapat dipahami kalau dalam pemahamannya atas Yesus Kristus sehubungan dengan tradisi bangsa Yahudi, terutama Taurat, ia menolak pemahaman seolah Yesus hendak menjungkirbalikkan Taurat. Dalam Matius 5:17-48 jelas sekali Matius menggambarkan sikap Yesus yang tidak bertentangan dengan Taurat, bahkan mendukungnya, kalau tidak dapat dikatakan memurnikannya.

Yesus juga digambarkan sebagai yang mengeritik perilaku bangsa Yahudi yang tidak melakukan Taurat secara sempurna, bahkan cenderung menunjukkan gejala kemunafikan, seolah suci dan benar, padahal sebenarnya tidak (Matius 23).

Dengan kritik itu, Matius ingin membesarkan hati para pengikut Kristus untuk tidak berkecil hati ketika mereka dituduh tidak murni lagi. Mereka bahkan patut bangga bahwa Yesus, Mesias mereka itu bahkan lebih murni dari bangsa Yahudi yang dikatakan munafik lewat berbagai cara beragama mereka seperti berdoa yang panjang-panjang, di jalan-jalan, dsbnya.

GARIS BESAR KHOTBAH

Sebenarnya, ketidakbersihan bangsa Yahudi itu sudah digambarkan Matius bahkan sejak pasal 1 seperti dalam silsilah Yesus (Matius 1:1-17). Disitu diringkaskan dari sejarah bangsa Israel dan Yahudi bahwa garis keturunan mereka juga tidak sepenuhnya murni dan bersih. Paling sedikit ada empat nama perempuan yang  dalam Alkitab Perjanjian Lama cerita tentang mereka tidak menyenangkan. Mereka adalah Tamar, Rut, Rahab, dan istri Uria. Nama-nama yang diungkit Matius dalam silsilah itu menyebabkan orang Yahudi yang merasa dirinya kudus dan murni itu patut mengerenyitkan dahinya. Keempat perempuan itu dalam perjanjian lama digambarkan sebagai perempuan-perempuan yang tidak murni seperti yang diklaim oleh bangsa Israel itu. Mereka bahkan dihubungkan dengan hal-hal yang “kotor” alias tidak sempurna. Tamar adalah sosok yang digambarkan keturunannya dengan menjalankan peran sebagai seorang pelacur. Rut adalah seorang Moab, orang asing (Goyim) yang tidak layak digauli umat Tuhan (am), bahkan terkutuk karena kematian suaminya. Rahab sudah jelas adalah pelacur yang menyelamatkan juru intai bangsa Israel. Dan terakhir istri Uria yang diperistrikan Daud karena cara-cara yang tidak terpuji dengan upaya sehingga memungkinkan suaminya Uria dibunuh. Itu sejarah bangsa Yahudi yang dianggap suci dan murni.

Dalam Injilnya Matius ingin bertanya, apakah yang dapat dibanggakan dengan kesucian dan kemurnian itu dengan adanya empat perempuan itu?

Perempuan terakhir yang disebut Matius dalam injilnya di pasal 1 adalah Maria. Berbeda dengan empat perempuan lainnya, Maria tidak punya cerita “kotor”. Ia bahkan   hamil oleh Roh Kudus. Begini cara Matius menggambarkannya “ternyata ia mengandung    dari Roh Kudus,sebelum mereka hidup sebagai suami istri”. Matius 1:18b. Kalau keempat perempuan lainnya dihubungkan dengan konotasi yang “kotor” sebagai perempuan, Maria dalam hubungannya berasal dari Ro Kudus. Keperempuanannya malah disucikan. Jadi Yesus yang disebut Kristus, atau Mesias, yang dipercayai para pengikut-Nya yang Yahudi itu tidak salah. I a berasal dari keturunan yang kudus. Ia adalah yang diurapi  Tuhan, berasal dari Tuhan.

Apakah para pengikut Yesus harus malu mempercayainya sebagai Mesias, sebagai Tuhan perlu rendah diri dengan pengakuannya itu? Matius mengatakan tidak! Pilihan itu tidak salah. Pilihan itu benar karena pilihan itu adalah suci, karena keberadaan Yesus, anak Maria itu adalah keberadaan yang kudus, keberadaan karena pekerjaan Roh Kudus.

Itu pulalah kesaksian Paulus sendiri dalam 1 Korintus 12:3b “dan tidak ada seorangpun, yang dapat mengaku: “Yesus adalah Tuhan,” selain oleh Roh Kudus.”
Merayakan hari kelahiran Yesus dengan demikian adalah perayaan tentang kesucian, kekudusan Tuhan dan setiap orang yang percaya kepada-Nya.  Itulah ciptaan, perjanjian baru antara Tuhan dengan umat-Nya. Tuhan yang suci dan kudus itu telah hadir bersama umat-Nya sehingga umat-Nya tidak perlu merasa ragu karena kesendirian. Tuhan yang suci dan kudus itu telah hadir bersama umat-Nya yang dinilai tidak suci lagi hanya karena percaya kepada Yesus sebagai Kristus. JT/20161224/SGDK-GPIB

DISURUH DAN DITUGASKAN


Bacaan Kisah Para Rasul 11 : 19 – 30
PENGANTAR
Pokok pikiran Kisah Para Rasul dapat dikatakan tentang bagaimana murid-murid menyaksikan Kristus, khususnya pada Kis 1 : 8. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, ... Ayat ini menunjukkan bagaimana saksi-saksi Kristus diutus, diberi perlengkapan rohani dan daerah-daerah pemberitaan Injil. Di samping itu dalam kitab ini perkembanganInjil yang diberitakan serta diringkaskan dengan, “Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Dalam Kisah Para Rasul 2 – 7 kesaksian itu dilakukan di Yerusalem. Dalam Kisah Para Rasul 8 – 12 dilakukan di Yudea dan Samaria. Dan dalam Kisah Para Rasul 13 – 28 dilakukan sampai ujung bumi.
Secara garis besar Kisah Para Rasul terdiri dari dua bagian. Bagian pertama pasal 1 s/d  12 dan bagian kedua pasal 13 s/d 28. Pada bagian yang pertama kesaksian berpusat di Yerusalem dan pada bagian kedua di Antiokhia dan sekitarnya. Dengan demikian kita dapat melihat bagaimana proses perkembangan Injil dari Yerusalem dan di kalangan orang-orang Yahudi kemudian tersebar atau meluas kepada bangsa-bangsa lain. Hal ini oleh karena esensi dari berita Injil itu sendiri, yaitu bahwa keselamatan bagi bangsa segala bangsa. Namun tingkat penyebarannya yang luas tidak lepas adanya tekanan dan penganiayaan terhadap para pengikut Kristus.
PEMAHAMAN PERIKOP
Pada waktu itu penganiayaan dan penderitaan terhadap orangKristen mula-mula semakin hebat. Namun, justru karena hal itu penyebaran orang-orang Kristen ke berbagai tempat makin meluas (19). Mereka yang melarikan diri dari penganiayaan pada saat Stefanus mati, kemudian tersebar ke kota-kota di Libanon, Siprus, Asia Kecil. Salah satu tempat yang diangkat oleh Penulis adalah Antiokhia. Di sana mereka menjadi saksi tentang Yesus. Akan tetapi mereka membatasi kesaksian mereka, hanya kepada kaum Helenistik yang berlatar belakang Yahudi. Kemudian berkembang kepada non-Yahudi (Yunani) yang dilakukan oleh orang-orang Siprus dan orang Kirene. Yang berbicara secara langsung kepada orang-orang Yunani dan orang-orang bukan Yahudi/Yunani lainnya dan sejumlah orang menjadi percaya.
Kemudian Jemaat di Yerusalem mendengar hal itu. Mereka mengutus Barnabas untuk membina jemaat baru di Antiokhia tersebut. Barnabas, seorang pemimpin yang baik dan berkualitas. Hal pertama yang dilakukan ketika sampai di Antiokhia ialah mengingat Paulus. Ia melihat adanya potensi yang luar biasa di dalam diri Paulus. Akan sangat disesalkan jika potensi itu diabaikan. Maka dapat dipahami bagaimana   Jemaat Yerusalem telah mengirim seorang pelayan terbaik mereka kepada jemaat baru di Aniokhia. Secara tersirat di sinilah Saulus (Paulus) berlatih melayani, mengajar  dan dipersiapkan, dan kelak disebut disebut sebagai rasul yang memberitakan Injil bagi orang-orang non Yahudi.
Hal menarik, di Jemaat Aniokhia adalah kesediaan mereka memberi yang terbaik bagi orang lain. Saat itu Yerusalem adalah kota besar. Pusat peradaban. Sedangkan Anthiokhia adalah  sisa puing-puing kota yang penuh dengan berhala (36AD terjadi gempa besar yang beruntun, menyebabkan  kota Antiokhia hancur, dan banyak orang mengungsi). Dalam keberadaan mereka juga yang sulit, namun tetap memberikan bantuan kepada jemaat Yerusalem yang dikabarkan mengangalami bencana kelaparan.  Dalam keberadaan mereka juga yang sulit, namun tetap memberikan bantuan kepada Yerusalem yang dikabarkan mengalami bencana kebakaran. Jadi pada perikop, Kis. 11 : 19 – 30, kita dapat melihat bagaimana pembentukkan gereja yang terbuka unruk segala bangsa. Kita juga memahami bagimana  gereja mulai mengembang sayapnya Kita juga khususnya kepada orang-orang bukan yahudi, termasuk kita pada masa kini.
PEMAHAMAN TEKS.
Setelah Stefanusdibunuh, penyiksaan orang Kristen dimulai. Banyak orang Kristen lalu melarikan diri ke Fenisia, Siprus dan Antiokhia (ay. 19). Di Antiokhia mereka menyebarkan injil ke orang-orang Yunani, dan sejumlah besar orang menjadi percaya. Akan tetapi mereka membatasi kesaksian mereka, hanya kepada kaum Helenistik yang berlatar belakang Yahudi. Penganiayaan tidak menghentikan semangat Kristen memberitakan Injil kepada orang Yahudi (19). Di antara yang memberitakan injil, ternyata sudah ada orang sebelum mereka yang juga memberitakan Injil kepada orang Yunani, dan pelayanan ini pun diberkati Tuhan (ay. 20-21).
Saat jemaat di Yerusalem mendengar itu, mereka mengutus Barnabas untuk membina jemaat baru di Antiokhia tersebut (ay. 23). Kita mengenal karakter Barnabas dari kesaksian yang diberikan mengenai dia (4:36), dan bagaimana kasih kebapakannya menjadi penghubung antara para Rasul dan Saulus (9:27). Dalam bacaan ini penulis menyaksikan bahwa Barnabas adalah seorang yang saleh, yang menaikkan doa di antara jemaat dan memberitakan Injil dengan kepenuhan Roh    Kudus (ay. 24). Ia menyadari panggilannya untuk membina dan menuntun orang-orang yang baru percaya itu, kepada kedewasaan iman dengan penuh kasih.
Dalam pelayanannya di Antiokhia, Barnabas sebagai guru Paulus menyempatkan diri dan menjemput Paulus untuk melayani bersama, karena melihat adanya potensi dan karunia dalam diri Paulus untuk melayani. Saat itu Barnabas adalah penginjil yang baik dan setia, serta memiliki hubungan baik dengan para rasul. Dengan demikian dipahami bagaimana Jemaat Yerusalem telah mengirimkan orang terbaik kepada jemaat baru di Antiokhia untuk melayani (ay. 25-26).
Barnabas sangat bersukacita ketika ia melihat kehidupan yang baru di dalam jemaat di Antiokhia. Ia bersukacita bersama dengan mereka yang dilahirkan kembali. Artinya Pemberian Label  “Kristen” di jemaat ini memberikan  suatu identitas baru bagi kelompok ini yang semakin memisahkan mereka dari pola ibadah dan ritual agama Yahudi, sehingga mereka bisa terus berada di dalam kepenuhan Kristus. Identitas yang dilekatkan dan dikenal itu memberikan arah dan tujuan hidup yang dinamis bagi Kerajaan Allah.
Kemudian pada Ayat 27 – 30 diceritakan  adanya beberapa nabi dari Yerusalem datang dan menubuatkan bencana kelaparan di seluruh dunia. Dan jemaat mula-mula di Antiokhia     memutuskan untuk mengumpulkan sumbangan dan mengirimkannya kepada jemaat di Yudea. Padahal Antiokhia baru saja mengalami bencana alam yang hebat. Bahkan raja mereka terpaksa mengungsi ke kemah-kemah sirkus karena gempa gempa itu. Di tengah kehancurkan itu, mereka tetap mau menyumbang untuk sesama. Mereka yang kotanya hancur justru mau menyumbang untuk Yudea (Yerusalem dan Sekitarnya) yang membangunnya lebih baik kondisinya. Ini menunjukkan bagaimana mereka menyadari sebagai bagian dari persekutuan   dan yang penuh dengan kasih terhadap sesama.  
URAIAN KHOTBAH
Melalui Kisah 11:19 – 30 memberikan gambaran bagi kita tentang gereja mula-mula yang teguh sebagai cerminan bagi kita saat ini. Ada beberapa ciri khas yang menonjol dari gereja mula-mula yang dapat kita pelajari, yaitu : Pertama,   :    Gereja, gereja yang bergumul. Oleh karena adanya penganiayaan yang timbul sesudah Stefanus dibunuh. Mereka tersebar sampai di Fenesia, Siprus dan Antiokhia:    namun mereka memberitakan injil kepada orang Yahudi saja pada awalnya (Kisah 11:19). Penganiayaan yang dialami oleh gereja mula-mula   merupakan salah satu bentuk tantangan yang ada pada saat itu  tetapi tantangan itu tidak membuat mereka meninggalkan imannya. Sebaliknya semakin banyak orang menjadi percaya dan bertobat justru karena perlakuan tidak manusiawi dari orang-orang yang tidak  mengenal Tuhan.  Kita harus menjadi gereja yang siap menghadapi setiap tantangan. Sebab tantangan tidak akan dapat menghambat pertumbuhan        orang percaya, justru malah mengembangkan dan menumbuhkan kehidupan beriman.
Kedua,  Gereja yang bersaksi. Dalam Kisah 11 : 20-21 diungkapkan bagaimana pemberitaan Injil disampaikan bukan hanya kepada orang-orang Yahudi tetapi juga kepada orang-orang Yunani. Mereka memberitakan Injil, dan berkata bahwa Yesus adalah Tuhan. Dan oleh karena penyertaan Tuhan sejumlah besar orang menjadi percaya dan berbalik kepada Tuhan (Isah 11:20-21). Maka dapat dipahami bagaimana penyertaan Tuhan dalam pelayanan di tengah aniaya yang dihadapi. Meski secara phisik didera habis-habisan, mereka tetap menyaksikan Injil. Sesungguhnya kita juga dipanggil untuk menjadi saksi-Nya dalam segala situasi yang kita hadapi.
Ketiga, Gereja yang menjadi berkat. Oleh karena adanya bahaya kelaparan yang dihadapi, maka murid-murid di Antiokhia memutuskan untuk mengumpulkan sumbangan, sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing dan mengirimkannya kepada saudara-saudara yang diam di Yudea (Kisah 11:28-29). Kita tahu bahwa Jemaat Antiokhia memberi bantuan dalam kondisi mereka juga yang mengalami kehancuran, namun tetap sedia menolong dan memberi bantuan Jemaat di Yudea yang membutuhkan. Inilah contoh orang-orang yang mengasihi. Mereka mau menolong sesama meskipun keadaan mereka hancur.  
Dengan demikian kita memahami keberadaan kita sebagai gereja yang hadir di tengah-tengah masyarakat, yaitu menjadi gereja yang senantiasa bergumul, bersaksi dan menjadi berkat. Gereja tidak hanya mewujudkan persekutuannya sebagai umat Allah, namun dalam persekutuannya dengan Allah (Communion) kita disuruh atau diberi tugas oleh Allah (commission). Maka komuni dan komisi menjadi bagian penting dari kehadiran Gereja. Demikianlah keberadaan GPIB sebagai gereja yang mewujudkan pelayanannya tidak hanya membawa umat dalam persekutuan dengan Allah, namun menyadari tugas yang diberikan, juga untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan umat dan masyarakat sekitar, sebab demikianlah kita ber-PELKES tidak bisa menutup mata, bahkan harus melakukan sesuatu terhadap sesama yang membutuhkan.  
A.S.P/MAJI/SGDK/edisi45

DOA; sangat besar kuasanya

YESUS MEMBUATMU BERHARGA