TIDAK ADA KESEMBUHAN TETAPI KENGERIAN

Bacaan : Yeremia 8: 14-15
Saudara ....  
Jika hukuman sudah di depan mata dan tidak lagi bisa terhindarkan maka reaksi orang umumnya adalah: Pertama, bersikap pasrah menerima kenyataan. Apalagi didasari bahwa hukuman tersebut akibat dosa yang telah dilakukan. Kedua, bersikap melawan atau membela diri karena tidak menerima kenyataan yang terjadi. Kedua sikap ini ditunjukkan oleh umat Yehuda ketika menyadari bahwa hukuman Tuhan tidak lagi bisa terhindarkan. Ada yang duduk-duduk saja; seolah-olah tidak percaya akan hukuman yang sudah di depan mata. Mereka pun merenung dan mengakui bahwa hukuman tersebut akibat dosa yang mereka lakukan. Namun, ada yang kecewa dan gelisah karena tidak menerima kenyataan bahwa umat Tuhan pun dihukum. Mereka mengungkapkan kekecewaannya kepada Tuhan. Mengapa Tuhan membiarkan umat-Nya binasa? Mengapa Tuhan tega membinasakan umat-Nya? Sebagai umat Tuhan, mereka mengharapkan damai dan waktu kesembuhan. Tetapi mengapa yang mereka terima dan alami justru sesuatu yang tidak baik dan yang mengerikan? Tuhan tidak pernah memberikan sesuatu yang tidak baik kepada kita umat-Nya. Tuhan selalu memberikan yang terbaik dan sesuai kerinduan hati kita. Jika kita mengharapkan damai, Tuhan pasti akan memberikan damai; mengharapkan kesembuhan akan mendapatkan kesembuhan. Masalahnya, ketika sudah menerima yang terbaik dari Tuhan, kita justeru melupakan Dia dan mengabaikan semua perintah-Nya. Dalam setiap hal yang dilakukan, kita tidak berusaha menyenangkan hati Tuhan. Sebaliknya, menyakitkan hati-Nya. Inilah yang menyebabkan kita mengalami hal-hal tidak baik dan tidak sesuai harapan dalam hidup kita.
Tuhan sudah mengutus Roh Kudus-Nya untuk mengurapi dan membaharui kita. Karena itu, mari kita selalu meminta pertolongan Roh Kudus agar semua yang kita lakukan adalah kebenaran dan kehendak Tuhan saja. Maka apa pun yang kita harapkan dalam hidup kita, itulah yang akan Tuhan berikan.

JANGAN BERLAKU TIDAK SETIA

Bacaan : Lukas 19:21-24
Dalam perumpamaan ini Yesus menjelaskan bahwa sikap tidak setia menggunakan pemberian bangsawan itu akan menuai risiko hukuman dari tuannya. Ada berbagai alasan yang menyebabkan hamba ini berlaku tidak setia pada tugasnya. Antara lain karena tuannya dianggap memiliki sifat keras, sehingga menimbulkan rasa takut. Ia berdiam diri dengan harapan tidak akan salah bertindak dan menadpat hukuman dari tuannya. Padahal tuannya berharap agar ia mau berusaha dan bertanggungjawab. Kehadiran Yesus utusan Allah Bapa, menampakkan hadirnya Kerajaan Allah.
 Ia akan datang kembali sebagai Raja Kerajaan Allah yang sempurna. Masa antara kenaikan Yesus ke sorga dengan kedatangan-Nya kembali merupakan masa di mana kita sebagai anak-anak-Nya memiliki tugas panggilan mempertanggungjawabkan pemberian-Nya. Persoalannya bagaimana kita sungguh-sungguh menyadari tugas ini dan berusaha secara optimal melaksanakannya? Bagi kita yang berusaha menggunakan pemberian-Nya demi mewujudkan tanda-tanda Kerajaan Allah yang penuh dengan damai sejahtera itu, akan mendapatkan berkat yang setimpal dari Tuhan kita Yesus Kristus. Sebaliknya bagi kita yang telah menerima pemberian Tuhan, mendiamkan dan tidak menggunakannya, membuat Tuhan kecewa. Ia akan mengambil kembali pemberian tersebut dari kita, sementara bagi orang lain yang setia pada-Nya akan mengalami nilai tambah daripada-Nya. Kesadaran untuk melaksanakan tugas panggilan-Nya dengan tanggungjawab mendorong kita dengan sungguh-sungguh melaksanakan tugas panggilan-Nya, sehingga kita semua dan sebanyak mungkin mengalami damai sejahtera-Nya. Maka jika anda dicobai untuk tidak setia, lawanlah godaan itu agar anda bisa bebas dari hukuman-Nya.
KJ. 260: 3
Doa: Kita mendoakan umat yang tidak setia pada tugas panggilan Tuhan supaya sadar melaksanakan tugas itu dengan bertanggungjawab

MENCINTAI, MENERIMA, MEMBINA

Kidung Agung 4: 8-15
Jumat, 15 Jul 2011

Perikop kita menunjukkan bagaimana sang mempelai laki-laki menyapa mempelai perempuan. Ada dua kali sapaam menggunakan kata 'pengantinku'. Tapi ada tiga kali sapaan menggunakan kata 'dinda pengantinku'. Penulis mau menunjukkan pandangan pengantin laki-laki terhadap pengantin perempuan. Bahwa pengantin perempuan memang pengantinnya. Tetapi pasti pengantin perempuan lebih muda daripada pengantin laki-laki.
 Dalam hubungan itulah maka pengantin perempuan dipanggil dinda. Dinda setara dengan adik yang pasti berarti lebih muda. Orang yang lebih muda, pasti lebih kurang pengalaman hidupnya dan karenanya rentan terhadap pengaruh zaman. Kadang-kadang ini bisa berakibat pada perilaku yang sembrono. Tapi dengan tuntunan yang baik pasti yang muda ini akan berkembang pesat dan menjadi arif dalam menghadapi kehidupan. Beginilah cara Tuhan memandang Gereja-Nya. Gereja selalu dihargai dan dicintai Tuhan Allah selayaknya mempelai perempuan dicintai oleh mempelai laki-laki. Gereja juga selalu rentan terhadap pengaruh zaman. Namun tetap saja Gereja ini dicintai oleh Tuhan. Orang-orang yang lebih muda memang lebih rentan terhadap pengaruh zaman dan karena itu bisa saja khilaf. Tapi mereka tetap saja dicintai oleh Tuhan. Ini yang penting.
Hari ini kita merayakan HUT Pelayanan Kategorial Gerakan Pemuda. Orang-orang muda, adalah masa depan Gereja. Gereja harus mencintai, menerima, dan membina orang-orang muda ini dengan segala kekurangan dan kelemahan mereka. Sebab pada diri mereka sendiri mereka juga tidak ingin tetap ada dalam kekurangan dan kelemahan. Suatu gerak maju baik dari orang muda, baik dari Gereja secara keseluruhan akan memungkinkan kita memiliki orang-orang terbaik, kuat dan tangguh di masa depan. Selamat Ulang Tahun Pelkat GP.
KJ. 355:3
Doa: Agar Tuhan memberkati pelayanan pelkat GP sebagai dasar bagi kiprah Pemuda Gereja dalam masyarakat

"CINTA, CANTIK, CITA"

Bacaan : Kidung Agung 1: 2-6.

“… karena cintamu lebih nikmat dari pada anggur, harum bau minyakmu, bagaikan minyak yang tercurah namamu…”  (ay. 2b,3a)
Orang bisa bertanya, apa makna rohani nas ini. Yang terbaca hanya yang lahiriah belaka, yang lumrah ketika orang jatuh cinta. Yang wanita menyatakan dirinya cantik, walaupun hitam kulitnya. Hitam karena teriknya matahari, katanya, ketika disuruh menjaga kebun anggur (ay.5-6). Ia tidak menyembunyikan kekagumannya terhadap pria yang didambakannya. Kata-kata sanjungan atas sosok dan penampilan pria terucapkan. Cita rasa tercetus serta merta karena hubungan cinta.
Karena cinta terjalin hubungan antara dua insan. Hubungan yang istimewa itu adalah bagian dari pada hidup, yang menjadi cikal bakal kehidupan baru. Ketika Adam dipertemukan dengan pendampingnya, seorang perempuan, tercetus gejolak cintanya: “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki” (Kej. 2:33). Perempuan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari laki-laki. Ia menjadi sesama yang melekat dan dekat pada diri laki-laki. Tuhan sudah menetapkan bahwa kehidupan ini selalu dalam kebersamaan, bukan dalam keseragaman.
Tidak dapat dihindari perjumpaan antar sesama dalam kebersamaan hidup yang begitu majemuk. Acapkali orang merasa lebih aman dan tenteram pada kehidupan yang serba seragam dengan latarbelakang yang sama. Sesama dalam cita rasa itu biasanya  dimaksudkan ‘orang-orang sebangsa’ dengan budaya dan agama yang sama (baca Imamat 19:18).
Ketika Yesus mengutip nas dari Imamat dan menyebutnya ‘hukum yang kedua’. Tidak ada pemahaman di dalamnya bahwa sesama itu orang yang berlatarbelakang sama. Bahkan musuh pun adalah sesama (Mat.5:44), cita rasa yang begitu akrab antara Kristus dan jemaat digambarkan oleh Paulus, laksana hubungan kasih antara suami dan isteri. Kasih adalah  sendi hidup yang tertuju kepada sesama, tanpa menuntut balas jasa (Yoh.3:16). Di bukit Golgota Ia wujudkan kasih itu sepenuhnya.

BERANI BERTANGGUNG JAWAB

Bacaan : Keluaran 22 : 14-17
      Masalah yang sering terjadi dalam kehidupan manusia, dari dulu sampai sekarang adalah terkait pinjam meminjam dan sewa menyewa. Demikian juga masalah seksual, seperti seorang laki-laki membujuk seorang anak perempuan untuk tidur dengannya. Jika dicermati maka tampak bahwa masalah tersebut sangat kena mengena dengan kebutuhan manusiawi. Artinya, orang meminjam uang atau menyewa sesuatu barang, seperti rumah atau kendaraan, karena belum memiliki, dan sangat membutuhkan. Juga dalam hal seorang laki-laki membujuk seorang perempuan adalah karena ia (laki-laki) membutuhkan teman tidur, sekaligus untuk melampiaskan nafsunya.
 
     Upaya pemenuhan kebutuhan tersebut terkadang menjadi masalah yang mengancam kerukunan dan ketentraman masyarakat oleh karena belum adanya aturan baku yang mengaturnya. Apalagi orang yang meminjam atau menyewa tidak bertanggung jawab. Terkadang barang yang dipinjam rusak atau hilang, tanpa penggantian yang layak.
     Dalam kehidupan masyarakat Israel sebagai masyarakat agamis, Musa memandang perlu mengatur masalah tersebut. Pertama, supaya masing-masing pihak tahu hak dan kewajibannya, terutama dalam hal meminjam dan menyewa. Kedua, agar kehidupan moral etis warga Israel terjaga dan tertata dengan baik. Inti dari aturan yang ditetapkan Musa adalah bahwa orang yang meminjam atau yang ditetapkan Musa adalah bahwa orang yang meminjam atau yang menyewa atau yang meniduri seorang perawan harus bertanggung jawab.
    Firman Tuhan mengingatkan kita selalu bertanggung jawab dalam segala hal yang kita lakukan. Dengan melakukan segala sesuatu secara bertanggung jawab maka dipastikan bahwa kehidupan kita di tengah masyarakat akan makin tentram, damai dan sejahtera. Karena kita melakukan sesuatu bukan hanya untuk diri kita semata tetapi juga kepada sesama.

KEKERASAN FISIK DAN PENGANIAYAAN SESAMA

(Keluaran 21 : 26 – 27)
Minggu, 26 Jun 2011
Saudara terkasih...
     Masih adakah perasaan belas kasihan dan nilai-nilai luhur untuk memper-tahankan kehidupan yang saling menghargai sesama manusia? Masih adakah nilai-nilai manusiawi tertanam dalam hati setiap manusia, sehingga hukum rimba tidak berlaku dalam hidup sesama manusia? Jika dikatakan bahwa belas kasihan dan nilai-nilai manusia masih ada dalam kehidupan mengapa masih banyak manusia yang lebih senang menciptakan penderitaan sesama daripada sukacita bagi sesama? Sekarang ini banyak sekali penderitaan yang dialami oleh manusia akibat dari perbuatan manusia sendiri. Bahkan tidak sedikit manusia yang harus kehilangan organ tubuh sehingga menjadi cacat karena kekerasan fisik dan penganiayaan yang terjadi. Yang sangat mengenaskan mereka yang menjadi korban adalah masyarakat kecil bahkan mereka yang harus menjadi tulang punggung keluarga untuk memenuhi kebutuhan hidup.
 
     Ada banyak kekuasaan dan materi yang banyak dimiliki manusia bukan menciptakan kepedulian di antara sesama manusia tetapi justru digunakan untuk menguasai dan berbuat sewenang-wenang kepada orang lain, akibatnya nilai-nilai kemanusiaan yang melekat pada diri sesama manusia menjadi hilang. Kekerasan dilakukan untuk merampas harkat manusia. Sesama manusia menjadi sangat menderita, di pihak lain ada kebanggaan yang hadir pada saat mampu membuat orang lain menjadi menderita. Inilah kenyataan hidup masa kini di mana manusia merasa berhak untuk melakukan apa saja yang disukainya, tanpa ada rasa takut akan tanggungjawabnya kepada Allah.
     Menciptakan atau membuat sesama manusia menderita memang bukan sesuatu hal yang baru dalam kehidupan sesama manusia. Maksudnya adalah bahwa sejak jaman bangsa Israel atau dalam Perjanjian Lama situasi ini telah berlangsung. Para tuan memberlakukan budaknya laki-laki dan perempuan dengan tidak lagi manusiawi. Mereka bukan lagi hanya bekerja keras pagi, siang dan malam untuk mengikuti kemauan tuannya dan bukan pujian atau upah yang mereka terima. Namun banyak yang masih menerima kekerasan fisik dan penganiayaan dari tuannya; bukan hanya rasa sakit yang harus mereka tanggung, tetapi juga kehilangan organ tubuh yang membuat mereka menjadi cacat seumur hidupnya. Walaupun mereka hanya budak yang tidak memiliki hak atas diri mereka sendiri bukan berarti bahwa mereka layak untuk menerima perlakuan yang keji. Bagaimanapun mereka juga adalah manusia ciptaan Allah yang harus dihargai kemanusiaannya. Inilah yang menjadikan Alkitab yang adalah Peraturan Allah memuat tentang hukum yang mengatur tentang kekerasan fisik dan penganiayaan yang dialami oleh budak-budak pada waktu itu. Peraturan ini memuat tentang hak budak untuk menerima kemerdekaan dan pembebasan jika mereka mengalami kekerasan fisik dan penganiayaan serta membuat mereka harus kehilangan organ tubuhnya. Para majikan harus melaksanakan aturan ini tanpa syarat dan tentunya ini akan mengakibatkan kerugian bagi majikan itu sendiri, karena mereka akan kehilangan budak yang harus didapatkan dengan harga yang mahal. Dengan perhitungan akan mengalami kerugian yang besar, maka para majikan akan berhati-hati lagi memberlakukan budak mereka dan menghindari kekerasan fisik dan penganiayaan terhadap budaknya apalagi sampai menghilangkan salah satu organ tubuh mereka. Peraturan Allah ini akan meminimalkan bahkan akan menghilangkan kekerasan fisik dan penganiayaan bagi budak-budak pada waktu itu serta menjunjung nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri. Ada yang lebih utama lagi dari Peraturan Allah ini yang memelihara, menjaga dan melindungi hak manusia untuk hidup sebagai ciptaan Allah yang sering terabaikan dan terlupakan oleh manusia sendiri.
     Kekerasan fisik dan penganiayaan manusia terbukti masih terus terjadi sekarang ini. Sudah banyak korban yang berjatuhan akibat dari tindak kekerasan yang dilakukan oleh manusia terhadap sesamanya. Bahkan bukan hanya kehilangan organ tubuh saja tetapi juga harus kehilangan nyawa. Perlindungan Hukum Allah dan hukum negara sekarang ternyata tidak memberikan kesadaran bagi para majikan untuk lebih bersikap manusiawi terhadap buruh dan pekerja. Hal ini sangat memprihatinkan, karena nilai-nilai kemanusiaan berada dalam titik yang terendah. Jeritan dan perjuangan buruh dan pekerja seolah-olah hilang oleh semakin kejamnya perlakuan terhadap tindakan para majikan. Akibatnya banyak kehidupan para buruh dan pekerja yang berasal dari masyarakat bawah semakin menderita, karena tidak memiliki daya untuk keluar dari kekerasan fisik dan penganiayaan yang datang dari masyarakat atas yang memiliki kuasa yang besar. Praktek-praktek perdagangan manusia juga menambah daftar kekerasan fisik dan penganiayaan yang dialami dalam kehidupan sesama manusia. Menyedihkan sekali karena yang menjadi korban mereka yang berada di bawah umur. Peristiwa ini bukan hanya membuat korban perdagangan manusia yang ikut menderita tetapi penderitaan itu juga dialami oleh setiap keluarga yang kehilangan anggota keluarganya. Melihat realitas yang ada sekarang ini maka bisa kita simpulkan bahwa penderitaan dalam kalangan masyarakat bawah semakin meningkat dan perlu mendapat perhatian dari semua pihak dan perlu meningkatkan kesadaran kepada para majikan agar lebih manusiawi terhadap kehidupan para pekerja dan buruh.
     Kekerasan fisik dan penganiayaan sesama manusia di Indonesia sekarang ini ternyata tidak hanya dialami oleh mereka yang berasal dari masyarakat kalangan bawah saja, tetapi juga harus dialami oleh masyarakat yang berasal dari kelompok penganut agama yang kecil, karena kekerasan fisik dilakukan oleh masyarakat penganut agama terbesar. Hal ini mengakibatkan tidak adanya lagi kebebasan dan kemerdekaan untuk menjalankan ibadah. Seharusnya pemerintah yang adalah alat Allah (lih. Roma 13:1) memberikan perlindungan yang nyata bagi setiap warga negaranya, sehingga tercipta suasana damai dan suka cita dalam kehidupan ini, terlebih warga negara tidak diliputi oleh kekhawatiran dan ketakutan.

Pertanyaan untuk Diskusi :
1. Apa yang ingin disampaikan oleh firman Allah hari ini ?
2. Sebutkan bentuk-bentuk kekerasan fisik dan penganiayaan yang terjadi dalam hidup sesama manusia dan terjadi di sekitar kita !
3. Apa yang harus dilakukan Gereja dan orang percaya sekarang ini dengan semakin meningkatnya kekerasan fisik dan penganiayaan yang terjadi ?
(Sabda Guna Krida)

KERAGAMAN ADALAH RAHMAT ILAHI

1 Korintus 12;12-26

Saudara terkasih....
      Realitas (kenyataan) serta Otoritas (kuasa) Ilahi yang memberikan pencerahan (hikmat dan pengetahuan) perihal makna kehidupan bagi semua makhluk ciptaan Tuhan melalui kisah penciptaan mula-mula sebagaimana yang dicatat dalam Kitab Kejadian, menyatakan bahwa Allah menghendaki "kepelbagaian". Bahwa "keragaman" atau "keberagaman" itu adalah dari Allah. Karena  ia berasal dari Allah atau karena ia adalah juga bagian dari ordo penciptaan Allah-meski tidak langsung, namun terdapat di dalam keberadaan seluruh ciptaan Allah -, maka "kemajemukan" atau "pluralistik" atau "keragaman" itu adalah indah dan baik adanya. Sedangkan, karena kehidup[an yang "seragam"  atau uniform atau cuma satu rupa/bentuk itu adalah bukan merupakan bagian dari ordo penciptaan Allah (bukan kehendak Allah), maka bila ia dipaksakan untuk secara mutlak dan terus-menerus diberlakukan dalam kehidupan ini, akan menimbulkan masalah kemanusiaan bahkan akan menimbulkan kejahatan kemanusiaan yang menyebabkan celaka, petaka dan bencana yang mengerikan. Sebutlah misalnya : kengerian dari bencana kemanusiaan yang dialami oleh kaum Yahudi dari rezim Nazi yang dipimpin Adolf Hitler sebelum perang duania ke dua; kengerian yang terjadi di 'ladang pembantaian' warga non komunis oleh rezim komunis Khemer Merah di Veitnam pada sekitar tahun 1970-an; kengerian akibat gnosida : pembersihan (dengan pembantaian) etnis Bosnia oleh penguasa Hersegovina; kengerian dari tindak kekerasan atas nama agama di negeri ini sebagaimana yang pernah terjadi di Ambon dan di Poso serta yang terjadi beberapa waktu lalu di Cikeusik (pembantaian terhadap umat Ahmadiah) dan di Temanggung : pengrusakan dan pembakaran Gereja. Inilah contoh-contoh daari kenyataan yang terjadi akibat pemaksaan kehendak dari apa yang Tuhan tidak kehendaki.
     Selain dari pada beberapa catatan mengenai bencana kemanusiaan yaang mengerikan tersebut diatas, bila kecerdasan kita juga kita gunakan untuk menelaah catatan sejarah tentang kegagalan dua perang besar bermotif agama pada zaman dulu untuk tujuan "Kristenisasi" dan Islamisasi"' menunjukan bahwa, Tuhan tetap tidak berjkehendak umat ciptaan-Nya menggunakan kekerasan atas nama agamauntuk memaksakan kehendak guna terjadinya keberdaan hidup yang 'seragam'; bukan 'beragam' sebagaimana yang Tuhan mau. Akibatnya yang terjadi adalah bukan kedamaian dan kesejahteraan hidup melainkan kesusahan dan penderitaan yang tiada berujung, sampai peperangan demi pewujudan ambisi dan nafsu kedagingan yang berkedok petahuan pada perintah agama itu manusia hentikan.
     Akan halnya "kepelbagaian" atau "keragaman" yang terjadi di Korintus  akibat dorongan semangat dan kreatifitas untuk membangun dan meningkatkan pelayanan sehingga bermunculan kelompok-kelompok pelayanan di jemaat Korintus. Secara teologis dan secara sistematika (managemen-pelayanan) bagi Paulus merupakan hal yang sebenarnya dapat bermakna positif dan prospektif (menjanjikan); suatu dinamika berjemaat yang berpotensi dapat merubah kelemahan menjadi kekuatan dan tantangan menjadi peluang untuk mewujudkan kebersamaan yang berdaya-guna dan berhasil-guna menghadirkan shalom bagi pembangunan jemaat (pembangunan tubuh Kristus). Itulah sebabnya dalam bagian dari perikop bacaan kita Paulus menulis : "...Allah telah memberi kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya. Andaikata semuanya adalah satu anggota, di manakah tubuh? Memang ada banyak anggota, tetapi hanya satu tubuh... Supaya jangan terjadi perpecahan di dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan." (ayat 18-21, 25).
     Perhatikan kalimat : "... Allah telah memberi kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya.."  dalam nas bacaan kita. Dengan menganalogikan (mengibaratkan) kepelbagaian (keragaman) peran dan fungsi serta tanggung-jawab dalam berjemaat atau dalam menanggung-jawabi pelayanan dalam berjemaat bagaikan "anggota-anggota tubuh" yang Tuhan tempatkan pada tempat dan fungsinya masing-masing secara unik (secara khas/khusus) dalam keberadaannya yang berbeda tapi satu dalam semangat; "semua untuk satu" dan 'satu untuk semua". Seharusnya "kepelbagaian" tersebut adalah 'aset' atau 'modal' untuk dapat mewujudkan karya-karya yang besar yang menyukacitakan hati Tuhan dan hati sesama; namun karena "kepelbagaian" atau "keragaman" (perbedaan) itu lantas digunakan untuk tujuan persaingan yang tidak sehat serta digunakan untuk kepentingan diri dan kelompok sendiri maka yang mewujud adalah realitas (kenyataan) yang bertentangan dengan apa yang dikatakan di ayat 25 : supaya jangan terjadi perpecahan di dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan.."
     Yang terjadi di Korintus adalah ibarat masing-masing anggota tubuh saling menyombongkan diri dan melecehkan yang lain; yang satu merasa tidak memerlukan bantuan anggota tubuh yang lain; ibarat kaki bilang pada mata : aku tidak membutuhkan engkau. Maka selanjutnya yang terjadi adalah tubuh yang celaka dan lumpuh atau tubuh yang cacat/tubuh yang tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Itulah realitas Korintus dalam konteks penulisan surat 1 dan 2 Korintus; komunitas yang terpecah; komunitas yang kehilangan toleransi; komunitas kehilangan kerukunan; komunitas yang mengalami kematian solidaritas serta mengalami kematian kesatuan dan persatuan. Akibatnya, menjadi komunitas atau jemaat yang gagal; gagal menghadirkan diri menjadi rahmat bagi alam semesta. Buktinya, mereka adalah jemaat yang kaya dan mapan tapi tidak kunjung dapat mengumpulkan dana kemanusiaan atau bantuan diakonia bagi jemaat Yerusalem yang tengah dilanda bencana kelaparan yang dasyat. Mereka sebenarnya kaya dan banyak memiliki tokoh intelektual, tapi menjadi miskin dan tampak begitu lamban dan bodoh serta memalukan.
     Pesan spiritual atau pesan etis-teologis dari nas bacaan kita adalah : (1) Sadarilah akan realitas "keragaman" atau realitas "kebhinekaan" yang ada dalam kehidupan berumah-tangga dan berjemaat kita lalu bersyukur dalam doa (ibadah ritual) maupun dalam kegiatan pelayanan yang konkret (ibadah aktual) untuk saling melengkapi, saling bertolong-tolongan, bergandengan trangan serta bahu-membahu demi mencapi visi dan misi pelayanan ber GPIB kita bersama, yakni hadir mewujudkan damai sejahtera Allah bagi seluruh ciptaan melalui praktik hidup sebagai gereja  yang terus menerus diperbaharui. Kita hadir untuk memberlakukan kesetiakawanan-sosial serta kerukunan serta melalui kehadiran  yang membangun keutuhan ciptaan dalam memberi perhatian terhadap lingkungan hidup, semangat keesaan dan semangat kesatuan dan persatuan. (2) Bawa dan berkelakuan pula pola serta semangat kehidupan "rupa-rupa karunia tapi satu Roh" itu ke ranah kehidupan sosial kemasyarakatan dengan turut berperan membangun dan memperkuat jejaring dialog lintas iman (dialog antar umat beragama) baik di tingkat sinodal, mupel maupun lokal jemaat oleh masing-masing Majelis Jemaat setempat baik berupa dialog dengan perkataan tapi utamanya  dialog dalam program kegiatan kemasyarakatan yang konkret. (3) Berhentilah berbantah-bantahan dan hidup dalam perselisihan/ketidak-akuran; bangunlah dengan tulus dan jujur persekutuan jemaat Tuhan; karena hidup dalam perbantahan dan perselisihan/hidup dalam ketidak-aturan hanyalah akan mendatangkan celaka. Kita Amsal mengingatkan : "lebih baik sekerat roti disertai dengan ketentraman, dari pada makan daging serumah disertai dengan perbantahan. Orang yang serong hatinya akan jatuh kedalam celaka." (Amsal 17:1 dan 20). (4) Kelola dan manfaatkan semaksimal mungkin "kebhinekaan" atau "keragaman" yang Tuhan anugerahkan dalam kehidupan  ini untuk mewujudkan "kesatuan" dan "kekompakan" serta "kerukunan". Karena jelas hukumnya : bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Hidup dalam "kerukunan" adalah hidup yang baik dan indah di mata Tuhan. Mengenai hal ini, dengan gamblang Alkitab kita katakan : "Sungguh alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun .... sebab kesanalah TUHAN akan memerintahkan berkat, kehidupan untuk selaman-lamanya." (mazmur 133). ++++E.R.R+++++SGD.

PENJELASAN TATA IBADAH

       Istilah 'Ibadah' berasal dari bahasa Arab, yang mempunyai akar kata yang sama dalam bahasa Ibrani 'abodah' yang berarti pengabdian kepada Tuhan (perhatikan akar kata yang sama digunakan : ' b d ). Jadi, beribadah berarti mengabdi kepada Tuhan. Istilah 'ibadah' mempunyai arti yang sama dengan 'kebaktian' yang diturunkan dari bahasa Sansekerta, yang artinya berbuat bakti kepada Tuhan.
     GPIB menggunakan istilah ibadah bukan kebaktian; karena itu salah satu perangkat teologi adalah 'Tata Ibadah'; bukan Tata Kebaktian.
     Ibadah merupakan kegiatan utama yang dapat ditemui dalam semua agama. Walaupun demikian, pemahaman tentang ibadah serta bentuk dan tatanan ibadah di masing-masing agama, berbeda yang satu dengan yang lainnya; baik bentuk, isi, maupun tujuannya. Jika, di dalam agama-agama non Kristen, ibadah dipahami sebagai upaya manusia untuk memperoleh berkat dari Tuhan maka ibadah Kristen dipahami sebagai suatu ungkapan syukur atas berkat yang Tuhan sudah berikan kepadaa umat-Nya; khususnya atas karya penyelamatan Allah dalam Yesus Kristus.
     Ibadah adalah perayaan (ritual)  dan penghayatan (aktual) umat atas perbuatan penyelamatan Allah bagi seisi bumi, khusus manusia melalui hidup dan karya Kristus. Karena itu, Ibadah bukan upaya umat untuk memperoleh atau menggapai keselamatan, melainkan sebagai jawaban umat atas keselamatan yang telah  dikaruniakan Allah. Itu sebabnya GPIB meletakan 'Pokok Keselamatan' sebagai pokok pertama dalam 'Pemahaman Iman-nya.
     Ibadah sebagai perayaan ( Ritual) terjadi dalam pertemuan umat dengan Tuhan untuk memperingati perbuatan penyelamatan Allah dalam kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Karena itu pusat ibadah adalah Yesus Kristus, Firman yang hidup itu.
     Kata 'memperingati' disini bukan dalam arti mengenang kembali atau menggali ingatan kita tentang peristiwa yang pernah terjadi di masa lampau. Tetapi, 'memperingati' mengandung arti menghadirkan atau mengaktualisasikan peristiwa yang pernah terjadi di masa lalu untuk dialami kembali pada masa kini. Peristiwa yang diaktualisasikan dalam ibadah adalah peristiwa kematian  dan kebangkitan Yesus. Walaupun telah terjadi di waktu lampau namun kematian dan kebangkitan Kristus tetap aktual di masa kini.
    Ketika umat mengaktualisasikan kematian dan kebangkitan Kristus, Tuhan berkenan hadir. Oleh sebab itu, ibadah menjadi pertemuan antara umat dengan Tuhan, dimana pertemuan itu berlangsung secara dialogis; bukan monolog. Itulah hakekat ibadah bagi gereja.
     Ibadah sebagai pertemua umat dengan Tuhan yang telah dialami, akan mempengaruhi serta mewarnai  kehidupan umat setiap hari. Dengan perkataan lain, ibadah ritual selalu harus bermuara dalam kehidupan sehari-hari. Ibadah ritual berlanjut menjadi ibadah sebagai kehidupan nyata atau disebut ibadah aktual.
     Jelas bahwa ibadah mempunyai arti ganda, yakni ibadah sebagai perayaan (ritual) dan ibadah sebagai kehidupan nyata (aktual). Keduanya adalah ibadah umat. Yang satu mengambil bentuk perayaan, sedangkan yang lain mewujudnyata dalam kehidupan sehari-hari. Keduanya tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain; sebaliknya saling menujang, melengkapi, mempengaruhi dan mewarnai.

KEUNGGULAN KRISTUS

Bacaan : Ibrani 1 : 1 -4
Bacaan selama satu minggu berbicara dan memberi pemahaman pada KEUNGGULAN KRISTUS. Yesus Kristus yang adalah Tuhan dan Juruselamat. Hal ini oleh penulis Ibrani memberi tekanan mendasar dan berfokus pada dan tentang "KARYA atau TINDAKAN PENYELAMATAN" dan dikembangkan dengan tema 2011-2012 : "MANUSIA YANG TERUS MENERUS DIPERBAHARUI" dan khususnya tema Mei - Juni 2011 "MANUSIA BARU MENJADI BERKAT BAGI LINGKUNGAN".

Keunggulan Kristus berawal bahwa "oleh DIA" Allah telah menciptakan alam semesta (ayat 2). Dia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah (ayat2). Seluruh katya ciptaan-Nya tidak dibiarkan terlantar dan punah. Firman-Nya yang penuh kekuatan menopang seluruh ciptaan-Nya. Termasuk lingkungan hidup sekitar manusia. Manusia yang mendapat tugas untuk memelihara dan mengelola ciptaan secara bertanggung-jawab. Bertanggungjawab kepada Sang Pencipta (kejadian 1:28). Memelihara dan mengelola. Tugas pokok manusia bertitik tolak dari tindakan Allah yang memelihara dan memerintah ciptaan-Nya. Pemeliharaan dan pemerintahan ini disimpulkan dalam pengertian "PROVIDENTIA" (PROVIDENSIA). Providensia : Kepercayaan bahwa diatas segala perubahan kehidupan manusia dan perkembangan  jagat ada tujuan kebaikan dari Allah. Untuk segala sesuatu ada alasan, betapapun pahitnya. Allah tidak saja bertanggungjawab menciptakan tetapi juga memelihara tata ciptaan itu. Dan sejarah adalah suatu perkembangan yang terus maju ke suatu tujuan yang Tuhan ketahui sebelumnya (mazmur 104:31-33)

Dalam Perjanjian Baru Providensia Allah itu terutama nyata dalam Yesus. Yesus adalah jaminan bahwa janji Allah dari sediakala digenapi dan akan membawa umat manusia kepada keselamatan (1 Petrus 1:3-9). Ibrani menulis pengertian menopang bermuatan dan berdasarkan Providensia Allah tersebut diatas.

Selanjutnya harus dikemukakan bahwa pemeliharaan dan pemerintahan Allah tersebut mempunyai maksud bahwa Allah menunjuka seluruh umat manusia itu menjadi sasaran perawatan-Nya dan yang dijaga-Nya. Kita (=gereja) wajib dan layak menjadi berkat bagi lingkungan hidup/lingkungan sekitar kita. Kita(=gereja) wajib bertanggungjawab untuk bekerja dalam rangka memelihara dan melestarikan alam. Tuhan mempercayakan pemeliharaan dan pemerintahan (Providensi) tersebut kepada kita ( =gereja) dengan penuh tanggungjawab demi kesejahteraan manusia dan kelangsungan hidup sesama ciptaan-Nya.

Kalau Tuhan mencipta dengan Firman-Nya. Ia memelihara dan memerintah serta menata ciptaan-Nya dengan karya dan tindakan-Nya. Maka kita (=gereja) mendengarkan dan memberlakukan Firman-Nya dalam kata dan karya kita.  ====G.J.S.+++ SGU mei 2011)

HANYA OLEH KASIH KARUNIA ALLAH

Efesus 2 : 1 - 7
Minggu, 22 Mei 2011
       Pernahkah kita melihat putra-putri kita atau anak-anak mudah jatuh cinta dan dia menjadi sangat semangat untuk melakukan apa saja demi orang yang dicintainya atau demi kekasihnya? Apa yang mereka lakukan kadang menurut kita tidak masuk akal. Misalnya walau hari hujan lebat tetapi demi janji dengan sang kekasih seorang pemuda rela kehujanan untuk berjumpa dengan kekasihnya. Suatu tindakan yang belum tentu dilakukannya terhadap saudaranya atau bahkan orang tuanya. Siapa pun pasti akan mengerti hal seperti itu kalau dia pernah merasakan kekuatan cinta kasih. Kekuatan kasih itu sungguh luar biasa dan itulah yang sesungguhnya dialami oleh setiap orang beriman. Tuhan Allah di dalam Kristus telah memilih untuk mencintai atau mengasihi manusia walaupun sesungguhnya manusia tidak layak untuk dicintai atau dikasihi.
       Paulus memulai pasal ini dengan pernyataan "kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa." Pernyataan ini menegaskan bahwa setiap orang sebelum berada dalam Kristus, ia telah mati karena pelanggaran dan dosanya. Mati berarti berada di luar harkat diri sebagai manusia yang serupa dan segambar dengan Sang Khalik. Sebelum orang berada dalam iman kepada Kristus, ia hidup menurut keinginan-keinginan manusianya yang dikendalikan oleh nafsu dunia.
     Berada di luar Kristus digambarkan oleh Paulus sebagai mati. Tidak mampu membawa diri dan kehidupannya ke arah yang baik dan menyenangkan. Berada di luar Kristus membuat setiap orang selalu mengarahkan dirinya  kepada kehancuran diri sendiri. Menurut Paulus, kita semua sebenarnya ada dalam keadaan seperti itu. Mati karena dosa dan pelanggaran kita. Kita menjadi terpisah dari Allah. Keterpisahan dari Allah dapat membuat kita lama kelamaan tidak lagi kuatir terhadap akibat dosa dan pelanggaran kita; membuat kita tidak lagi merasa ngeri atau takut, bahkan makin menyenangi hal-hal yang semula kita anggap dosa dan pelanggaran. Kita senang dan suka melakukannya dengan pengetahuan dan kesadaran penuh. Akibatnya kita kehilangan tujuan dan arah hidup kita sebagaimana tujuan Tuhan menciptakan kita.
    Allah menciptakan kita dengan tangan kasih-Nya. Dia menciptakan kita sehakekat atau serupa dan segambar dengan-Nya, yang dirasakan-Nya dalam hati, yang penuh kasih, dituangkan-Nya dengan dengan polesan tangan kasih-Nya ketika dia membentuk kita dari debu. Atau ketika kita dibentuk dalam rahim ibu, orang tua kita tidak mampu menentukan bagaimana kita dibentuk, tetapi yang pasti pertumbuhan kita di dalam rahim ada di dalam perhatian Kasih-Nya; di sana pun tangan kasih Allah membentuk kita. Mengapa? Karena Dia melalui hidup kita, dunia mengenal Dia yang mengasihi dunia. Melalui kehadiran kita, dunia mengenal cinta-kasih dan kehendak-Nya serta menerima semua yang baik yang diberikan Allah bagi dunia.
     Hal ini hilang ketika dosa menyebabkan kita terpisah dari Allah. Kita kehilangan tujuan penciptaan-Nya atas kita dan kehilangan arah hidup kita. Namun kita bersyukur karena Allah, di dalam kasih-Nya yang luar biasa telah menjatuhkan pilihan hati-Nya untuk mengasihi kita kembali. Allah di dalam Yesus Kristus memilih kita untuk menjadi milik-Nya yang dipulihkan. Ia memilih kita, bukan karena kita pantas dan layak; bukan karena Ia menghargai apa yang kita buat setiap waktu. Dia memilih kita karena Ia mau. Ia ingin agar kita mengalami lagi kasih-Nya; memiliki lagi citra kita sebagai 'serupa dan segambar dengan_nya.' Itulah anugerah yang dilimpahkan Allah kepada kita. Di dalam Kristus, Allah melakukan karya besar yang sulit dimengerti oleh dunia dan manusia. Karya besar yang didasarkan pada kasih yang tidak terbandingkan, yang melampaui segala sesuatu dan sangat berlimpah. Kasih yang sangat lebar dan panjang, tinggi dan dalam, dan yang tidak terselami. (band. 3 : 18).
     Demi pilihan kasih-Nya atas kita Ia rela mengambil rupa seorang hamba, lahir di kandang, dewasa dalam pengembaraan untuk berkarya walau tidak punya tempat untuk membaringkan kepala-Nya, lalu menderita dan mati di salip. Sebuah pilihan cinta kasih yang tidak dapat dan tidak mampu dilakukan oleh siapa pun dan tidak dapat ditiru oleh siap pun.Dan itulah yang telah dilakukan oleh Allah di dalam Kristus. Karena kasih-Nya, Allah di dalam Kristus telah dan selalu melakukan hal-hal yang sungguh indah dan berguna bagi kita. Kini sebagai wujud kasih kita atas anugerah yang telah memilih kita dan menguduskan kita untuk mengalami kebaikan-Nya maka mari kita pakai kehidupan kita untuk melakukan hal-hal yang baik, indah dan berguna bagi semua orang dan untuk kemuliaan Tuhan. S.H.R.  SGD 






YESUS MENYERAHKAN NYAWANYA DAN MATI


 Bacaan Matius 27 : 45 - 50
Hari ini semua orang percaya di seluruh dunia memperingati Hari Kematian Yesus Kristus. Ia mati sebagai akibat persekongkolan politik yang dilakukan penguasa agama Yahudi dan penguasa Romawi pada masa itu.  Yesus Kristus dituduh sebagai pemberontak. sebab sepanjang hidup-Nya Dia melakukan aksi-aksi  yang dianggap melawan kekuasaan yang sah; baik kekuasaan agama, maupun politik. Oleh karena itu, Dia dihukum mati secara tersalib. Dalam pikiran mereka para penguasa yang menghukum-Nya, penyaliban dan kematian Yesus akan menghentikan dan bahkan mematikan seluruh aksi dan gerakan-Nya. Sebab para pengikut-Nya tidak akan berani menghadapi resiko disalib seperti yang dialami oleh Yesus.

Para penguasa, tentu tidak merasa sedih karena telah menyalibkan Yesus. Para murid pun, meskipun sedih namun karena diliputi ketakutan maka mereka tidak berani menampakkan kesedihannya di hadapan Yesus yang tersalib. Hanya beberapa perempuan, termasuk ibu Yesus, juga Yohanes, yang tetap berdiri dari jauh sambil memandang Yesus yang sedang tergantung di salib dengan wajah dan hati yang hancur dan sedih. Yang justru sangat memperlihatkan wajah kesedihannya atas penyaliban dan kematian Yesus adalah alam ciptaan-Nya. memang, disadari atau tidak bahwa alam lebih menghormati dan mengagungkan Tuhan, sang Pencipta, daripada manusia. Alam ikut rusak oleh ulah manusia yang jahat dan berdosa. Dan alam sadar dan tahu betul bahwa kematian Yesus di salib adalah juga untuk menyelamatkan dan memulihkan alam semesta dari kerusakan akibat dosa. Itu sebabnya alam sedih dan berduka atas kematian Yesus. Itulah yang kita baca dalam bacaan Alkitab.

Dinyatakan dengan jelas bahwa tiba-tiba hari menjadi gelab. Matahari menyembunyikan wajahnya dan enggan bersinar karena tidak tega melihat derita dan kematian Yesus. Kegelapan meliputi seluruh daerah sekitar Golgota, tempat Yesus disalib selama tiga jam. Guntur dan kilat sahut-menyahut menggemakan bunyi sebagai tanda protes terhadap tindakan manusia, khusus para penguasa yang telah menjatuhkan hukuman mati bagi Yesus.

Peristiwa kegelapan tiga jam  mengingatkan kita pada peristiwa yang sama yaitu kegelapan selama tiga jam  yang terjadi mengawali kematian anak-anak sulung orang-orang Mesir. Perbedaannya adalah jika kegelapan tiga di Mesir mengawali kematian anak-anak sulung orang Mesir, sehingga umat Israel bebas dan selamat maka kegelapan tiga jam di golgota mengawali kematian Anak Sulung Allah sehingga seisi dunia, khusus manusia bebas dan selamat. 

 Disaksikan bahwa kira-kira jam tiga, Yesus berteriak memanggil Bapa-Nya. Sebagai manusia, Yesus sangat merasakan saat itu bahwa  Allah  Bapa meninggalkan Dia sendirian selama di salib. Orang-orang yang hadir di situ ttentu tidak mengerti perasaan hati Yesus. Mereka hanya menyangka bahwa Yesus sedang memanggil Elia untuk menyelamatkan-Nya. Ada juga yang tetap menghina Yesus dengan memberi minum anggur asam kepada-Nya, ketika Ia berkat "Aku haus!" Perasaan ditinggalkan oleh Allah, Bapa-Nya, datang seiring dengan harapan yang besar agar Allah, Bapa segera hadir untuk melenyapkan rasa sakit dan perih yang kian merasuk seluruh tubuh dan sukma. Harapan itulah yang menumbuhkan keyakinan yang makin besar di hati Yesus bahwa Allah tidak pernah meninggalkan Dia. Karena itu, apa pun yang terjadi, Yesus tetap ingin menyerahkan nyawa-Nya ke dalam tangan Allah, Bapa-Nya. Yesus tidak mau mati dalam kebimbangan dan keputusasaan. Dia sudah berkomitmen untuk menjalani semua sesuai lehendak Bapa-Nya. Dia yakin bahwa Allah sanggup menyelamatkan-Nya. Karena itu, dengan suara nyaring, Yesus berseru dan menyerahkan nyawa-Nya.

Dalam setiap penderitaan yang kita alami, baik dalam kesusahan hidup sehari-hari, maupun saat penyakit dan kematian mengancam, kita pun sering merasa sendiri. Hati kita sedih dan hancur karena orang-orang terdekat pergi menjauh; bahkan kita anggap bahwa Tuhan pun telah meninggalkan kita. Dalam situasi dan kondisi tersebut, janganlah tergoda untuk menyerahkan diri dan hidup kita kepada manusia dan kuasa apa pun. Penyerahan diri Yesus di salib mengajar kita untuk selalu menyerahkan diri dan hidup kita ke dalam tangan Tuhan Yesus. sebab hanya Dia yang sanggup menyelamatkan kita, baik selama hidup di dunia maupun saat mati. Hidup tidak selamanya gelap, karena ada siang. Tetapi jika saat ini kegelapan sedang menguasai hati, hidup dan usaha-pekerjaan kita, jalani semuanya bersama Yesus maka hanya sesaat saja kegelapan, karena terang mulai merekah dan menerangi selamanya. 

DALAM KELEMAHAN; PELAYANAN KITA SEMPURNA

Bacaan Matius 4 : 1 – 11
Minggu, 09 Januari 2011

     Saat memasuki suatu medan pekerjaan tertentu, setiap orang harus menjalani masa orientasi atau pengenalan. Hal ini dimaksudkan agar sebelum bekerja, seseorang sudah mendapat gambaran dan mengetahui kondisi dan situasi yang akan dihadapinya selama bekerja. Dengan begitu, ia mampu mempersiapkan diri dengan baik, khusus mental spiritualnya, sehingga ketika sudah bekerja ia tetap bertahan untuk bekerja dengan setia dan rajin, meskipun kondisi dan situasi yang dihadapinya sangat sulit dan menantang. Sebab umumnya, setiap orang hanya mau bekerja di dalam situasi dan kondisi yang baik dan aman. Sehingga ketika situasi dan kondisi tidak aman  maka ia akan mundur dan berhenti.
     Apa yang dituliskan oleh penginjil Matius dalam perikop kita dapat juga dipahami sebagai suatu masa orientasi atau pengenalan Yesus terhadap kondisi pelayanan yang akan dihadapi di dalam dunia. Melaluinya kita tahu bahwa kondisi ddan situasi pelayanan yang akan dimasuki dan dihadapi oleh Yesus di dunia bukanlah kondisi yang baik dan aman. Sebaliknya, penuh kesulitan, tantangan dan godaan. Kondisi tersebut akan membuat Yesus sebagai seorang manusia dapat tergoda dan jatuh, jika Ia tidak kuat untuk melawan dan menolaknya. Dikisahkan bahwa Yesus dibawa oleh Roh Allah di padang gurun untuk dicobai oleh iblis. Tidak dikatakan bahwa Yesus harus berpuasa selama empat puluh hari sebelum dicobai oleh iblis. Dan bukan juga suatu resep yang jitu bahwa orang-orang percaya harus berpuasa selama empat puluh hari agar bisa mengalahkan godaan atau cobaan dari iblis. Hanya dijelaskan bahwa setelah berpuasa empat puluh hari, empat puluh malam, maka laparlah Yesus. Jadi, dalam hal ini bukan puasa yang ditekankan, tetapi ’laparlah Yesus’. Sebab ketika Yesus lapar maka datanglah si pencoba dan mencobai-Nya.
     Tiga hal yang iblis pakai sebagai strategi untuk menggoda keinginan manusiawi serta keilahian Yesus adalah: ’merubah batu menjadi roti/makanan’ (ayat 3), ’keinginan untuk mempertontonkan kuasa’ (ayat 6) dan ’keinginan untuk memiliki seluruh kekayaan dan kenikmatan dunia (ayat 8).
Pertam, iblis tahu bahwa Yesus sangat lapar dan membutuhkan makanan, sehingga ia meminta Yesus untuk merubah batu menjadi roti. Sebagai Anak Allah, Yesus pasti bisa melakukannya. Itu hal kecil bagi Yesus. Tetapi karena iblis yang memintanya maka Yesus menolak. Strategi yang dipakai Yesus adalah percaya dan yakin pada firman yang tertulis bahwa ’Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.’
Kedua, iblis tidak mau kalah kepada Yesus. Karena itu, dalam pencobaan kedua, ia memakai strategi Yesus, yaitu mengutip firman yang tertulis. Yesus dibawa ke atas bubungan Bait Allah dan meminta Dia untuk menjatuhkan diri-Nya ke bawah. Yesus bisa mempertontonkan kuasa-Nya dengan terjun ke bawah dan melayang-layang melebihi ’supermen’ atau ’batmen.’ Tetapi Ia sadar bahwa yang meminta hal itu adalah iblis; bukan Allah. Karena itu, Yesus mengutip firman yang tertulis yang menegaskan bahwa iblis tidak boleh mencobai Tuhan Allah.
Ketiga, iblis tahu bahwa manusia sangat ingin kekayaan dan kenikmatan dunia. Bahwa manusia tidak segan-segan untuk berpaling dari Allah demi harta benda duniawi. Karena itu, dalam godaan ketiga iblis berjanji bahwa semua kerajaan dan kenikmatan dunia akan diserahkan kepada Yesus, jika Yesus sujud dan menyembah iblis. Yesus hanya sujud menyembah kepada Allah, Bapa-Nya. Ia tidak terbuai dengan semua kemegahan dan kenikmatan dunia. Apalagi menggantikan kedudukan Allah dengan iblis demi kenikmatan dunia. Maka Yesus meminta iblis untuk lenyap dari hadapan-Nya, sebab bukannya iblis yang berkuasa atas dunia tetapi Allah. Sehingga ada tertulis bahwa seluruh makhluk termasuk iblis harus sujud menyembah kepada Allah.
     Tidak seorangpun yang tahan dengan tawaran yang menggoda. Apalagi semuanya memberikan kemudahan untuk memuaskan diri di dalam dunia. Tawaran iblis sangat menggiurkan, namun akhirnya adalah maut. Iblis tidak pernah mau menunjukkan hasil akhir dari semua tawarannya karena sudah pasti manusia akan menolaknya. Iblis lebih menekankan pada prosesnya yang terkadang cara yang dipakai iblis adalah menipu korbannya. Iblis memberikan gambaran yang indah jika mengikut dia. Padahal kita tahu bahwa iblis sendiri tidak pernah menikmati keindahan itu. Yesus berani menolak semua ajakan dengan tegas, karena ia sadar bahwa Ia hanya mau taat pada perintah Bapa-Nya; bukan perintah iblis. Yesus juga percaya bahwa Bapa-Nya tidak akan pernah meninggalkan Dia dalam keadaan apa pun. Jadi, bersama dan di dalam Yesus, kita pun akan menang terhadan iblis dan semua godaannya. =====sgk===E.P.S.====

DOA; sangat besar kuasanya

YESUS MEMBUATMU BERHARGA