GEMBALA ITU MEMBERIKAN NYAWA-NYA


Bacaan : Kitab Yohanes 10:14-18
Materi persiapan Ibadah Pelayanan Kategorial

1.            Sekalipun hanya ayat 14-18 yang dibaca, namun keseluruhan perikop bacaan dari ayat 1 – 21 hendaknya dibaca secara utuh. Maksudnya agar  Presbiter  memahami keseluruhan tulisan Yohanes tentang alasan dibalik judul perikop Gembala yang baik. Itu berarti ketika membaca ayat 14-18, maka perhatikan juga ayat-ayat lainnya di dalam perikop itu. Bukan tanpa alasan jika LAI memberi judul terhadap perikop ini Gembala Yang Baik. Pertanyaan yang harus dijawab, mengapa Gembala? Ayat 11 dan ayat 14 menyatakan Akulah Gembala yang baik. Yesus mengidentifikasikan diriNya sebagai Gembala. Itu berarti, Yesus menggunakan dunia agraris (pertanian) tepatnya dunia peternakan hewan sebagai contoh (ayat 6), lalu untuk apa? Namun sebelum sampai pada bagian tafsiran, perlu dipahami dulu dunia peternakan saat itu. Jika ada gembala, tentu ada domba dan domba pun tentu ada pemilik / majikannya. Selaku pemilik, maka dia memiliki kuasa (ayat 18). Selaku gembala, maka dia memiliki fungsi, tugas dan tanggungjawab (ayat 3 dan 4). Sementara domba ya sangat bergantung pada siapa gembalanya, artinya tidak mungkin domba mencari makan sendiri, “nasib”nya sangat bergantung pada bagaimana gembala menjalankan fungsi, tugas dan tanggungjawabnya. Dengan catatan awal ini, semoga cepat dimengerti konteks penulisan Yohanes tentang dunia peternakan itu (khususnya interaksi gembala dan domba).

2.            Jika kita memperhatikan pernyataan Yesus dalam perikop ini, maka sebenarnya Yesus tengah menggunakan dunia peternakan sebagai perumpamaan (ayat 6). Mengapa begitu, hal ini terkait dengan latar belakang orang-orang yang mendengar pengajaran Yesus. Artinya karena dunia Palestina saat itu hidup secara agraris, dan dalam dunia agraris seperti waktu itu, mudah bagi Yesus untuk mengajar. Alasan lain, tentu para pendengarnya hidup dalam dunia peternakan (bandingkan dengan kisah kelahiran Yesus terkait dengan gembala). Maka Yesus menghendaki pesan intinya sampai ketelinga dan hati pendengarnya. Nah sekarang intisari dari perumpamaan-Nya itu adalah Yesus sesungguhnya mau memperkenalkan diri selaku Gembala Agung dan umat adalah domba-Nya. Perhatikan ayat 18, dengan pernyataan “……..inilah tugas yang KU-terima dari Bapa-Ku.” Maka Yesus mau menunjukkan siapa sebenarnya diri-Nya itu dan untuk apa Dia ada. Dengan dua kali menyatakan diri “Akulah gembala yang baik.” Ayat 11 dan 14, jelas Dia mau meyakinkan umat bahwa Dialah Gembala yang menjamin kehidupan domba-domba-Nya. Interaksi Gembala dan domba yang saling mengenal suara itu, mau menunjukkan hubungan kedekatan terutama dari pihak gembala yang dengan penuh kerelaan mau mendekatkan dirinya dalam kehidupan domba, tinggal dan hidup bersama dengan kawanan domba. Kedekatan hubungan itu dapat dimengerti karena gembala tahu persis seluruh hidup domba, keadaan domba, kebutuhan domba bahkan mau berkorban nyawa untuk menjaga domba dari serangan serigala. Jelas dan tepat penjelasan Yesus tentang siapa Dia jika diidentifikasikan selaku Gembala yang baik. Sedangkan maksud “domba-domba yang lain” (ayat 16) dimengerti dalam konteks kawanan domba yang tanpa gembala. Sebenarnnya yang dimaksudkan Yesus, bukan hanya kaum Yahudi yang diselamatkan-Nya, tetapi umat yang lain (para pendatang bukan Yahudi) dan Yesus menyatakan “domba-domba itu harus KU-tuntun juga …” bukan domba yang lain itu yang mau, tetapi Yesus itu sendiri yang berkehendak, maka jika inisiatifnya datang dari Yesus, maka misi Kristus pun digenapi (Yohanes 3:16).

3.            Lalu apa artinya Yohanes 10:14-18 ini bagi kita? Mendahului pesan utama, maka penting untuk mengingat bahwa ibadah yang dilakukan, adalah yang pertama bagi Pelkat PKB dan PKP di tahun 2021. Mengawali perjalanan panjang di tahun 2012 itu, maka selalu disertai dengan banyak harapan, keinginan dan kebutuhan atas pemenuhan hidup. Sejujurnya kebutuhan pokok atas hidup adalah meningkatnya kualitas kehidupan itu sendiri. Apa pun kebutuhan  terhadap sandang, pangan, papan, pekerjaan, pergaulan dls, maka pesan Firman utamanya adalah “carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka segala sesuatu akan ditambahkannya kepadamu.” Mengapa kerajaan perlu didahulukan, karena apa pun yang kemudian diterima dan dinikmati bukankah itu datangnya dari Dia yang memiliki kehidupan? Jadi, fungsi Firman Tuhan (Yohanes 10)  ini mau memberi arahan sekaligus tuntunan kehidupan yang jelas dan tegas bagi kita. Dan untuk itulah ada Dia selaku Gembala yang Baik yang akan menjaga, menuntun, memelihara bahkan mengawasi domba serta menjamin kehidupan domba. Tidak perlu ada keraguan, kekuatiran juga ketakutan untuk terus melangkah di tahun 2012.

4.            Dalam konteks kaum bapak dan kaum perempuan, hendaknya dimengerti dengan baik, apa sebenarnya kebutuhan pokok dari kaum bapak dan kaum perempuan itu. Bapak itu punya fungsi dan tugas serta tanggung jawab yang multi fungsi dan guna, kepala rumah tangga, Ayah juga suami. Begitu pun perempuan selaku IRT, istri dan juga ibu dari anak-anaknya. Disamping kebutuhan orang lain (suami-istri, orang tua), dia juga perlu memperhatikan kebutuhan terhadap dirinya sendiri (Bapak selaku Imam dan Perempuan Bijak). Kebutuhan apa pun, baiklah dimengerti Tuhan itulah Gembala yang memastikan bahwa semua fungsi, tugas dan tanggung jawab dalam keluarga ada dalam pimpinan, penyertaan dan pemeliharaan Tuhan. Biar Tuhan yang mengatur hidupnya, rumah tangganya, pekerjaannya dan juga persekutuaannya. Dan jangan pernah mengatur Tuhan dengan selera, kehendak dan kemauannya sendiri. -----AW-03/01/12------

Batu Kecil dan Mutiara

Pada suatu ketika, hiduplah seorang pedagang batu-batuan. Setiap hari dia berjalan dari kota ke kota untuk memperdagangkan barang-barangnya itu. Ketika dia sedang berjalan menuju ke suatu kota, ada suatu batu kecil di pinggir jalan yang menarik hatinya. Batu itu tidak bagus, kasar, dan tidak mungkin untuk dijual. Namun pedagang itu memungutnya dan menyimpannya dalam sebuah kantong, dan kemudian pedagang itu meneruskan perjalanan nya.

Setelah lama berjalan, lelahlah pedagang itu, kemudian dia beristirahat sejenak. Selama dia beristirahat, dia membuka kembali bungkusan yang berisi batu itu. Diperhatikannya batu itu dengan seksama, kemudian batu itu digosoknya dengan hati-hati. Karena kesabaran pedagang itu, batu yang semula buruk itu, sekarang terlihat indah dan mengkilap. Puaslah hati pedagang itu, kemudian dia meneruskan perjalanannya.

Selama dia berjalan lagi, tiba-tiba dia melihat ada yang berkilau-kilauan di pinggir jalan. Setelah diperhatikan, ternyata itu adalah sebuah mutiara yang indah. Alangkah senangnya hati pedagang tersebut,mutiara itu diambil dan disimpannya tetapi dalam kantong yang berbeda dengan kantong tempat batu tadi. Kemudian dia meneruskan perjalanannya kembali. Adapun si batu kecil itu merasa bahwa pedagang itu begitu memperhatikan dirinya, dan dia merasa begitu bahagia.

Namun pada suatu saat mengeluhlah batu kecil itu kepada dirinya sendiri. "Tuan begitu baik padaku,setiap hari aku digosoknya walaupun aku ini hanya sebuah batu yang jelek, namun aku merasa kesepian. Aku tidak mempunyai teman seorangpun, seandainya saja Tuan memberikan kepadaku seorang teman".

Rupanya keluhan batu kecil yang malang ini didengar oleh pedagang itu. Dia merasa kasihan dan kemudian dia berkata kepada batu kecil itu "Wahai batu kecil, aku mendengar keluh kesahmu, baiklah aku akan memberikan kepadamu sesuai dengan yang engkau minta".

Setelah itu kemudian pedagang tersebut memindahkan mutiara indah yang ditemukannya di pinggir jalan itu ke dalam kantong tempat batu kecil itu berada. Dapat dibayangkan betapa senangnya hati batu kecil itu mendapat teman mutiara yang indah itu. Sungguh betapa tidak disangkanya, bahwa pedagang itu akan memberikan miliknya yang terbaik kepadanya.

Waktu terus berjalan dan si batu dan mutiara pun berteman dengan akrab. Setiap kali pedagang itu beristirahat, dia selalu menggosok kembali batu dan mutiara itu.Namun pada suatu ketika, setelah selesai menggosok keduanya, tiba-tiba saja pedagang itu memisahkan batu kecil dan mutiara itu. Mutiara itu ditempatkannya kembali di dalam kantongnya semula, dan batu kecil itu tetap di dalam kantongnya sendiri.

Maka sedihlah hati batu kecil itu. Tiap-tiap hari dia menangis, dan memohon kepada pedagang itu agar mengembalikan mutiara itu bersama dengan dia. Namun seolah-olah pedagang itu tidak mendengarkan dia. Maka putus asalah batu kecil itu, dan di tengah-tengah keputusasaan nya itu, berteriaklah dia kepada pedagang itu "Oh tuanku, mengapa engkau berbuat demikian? Mengapa engkau mengecewakan aku?"

Rupanya keluh kesah ini didengar oleh pedagang batu tersebut. Kemudian dia berkata kepada batu kecil itu "Wahai batu kecil, kamu telah ku pungut dari pinggir jalan. Engkau yang semula buruk kini telah menjadi indah. Mengapa engkau mengeluh? Mengapa engkau berkeluh kesah? Mengapa hatimu berduka saat aku mengambil mutiara itu daripadamu? Bukankah mutiara itu miliku, dan aku bebas mengambilnya setiap saat menurut kehendakku? Engkau telah kupungut dari jalan, engkau yang semula buruk kini telah menjadi indah. Ketahuilah bahwa bagiku, engkau sama berharganya seperti mutiara itu, engkau telah kupungut dan engkau kini telah menjadi milikku juga. Biarlah aku bebas menggunakanmu sekehendak hatiku. Aku tidak akan pernah membuangmu kembali".

Mengertikah apakah maksud cerita di atas ? Yang dimaksud dengan batu kecil itu adalah kita-kita semua, sedangkan pedagang itu adalah Tuhan sendiri. Kita semua ini buruk dan hina di hadapanNya, namun karena kasihnya itu Dia memoles kita, sehingga kita dijadikannya indah di hadapanNya. Sedangkan yang dimaksud dengan mutiara itu adalah berkat Tuhan bagi kita semua. Siapa yang tidak senang menerima berkat? Berkat itu dapat berupa apa saja dalam kehidupan kita sehari-hari, mungkin berupa kegembiraan, kesehatan, orangtua, saudara dan sahabat, dan banyak lagi. Apakah kita pernah bersyukur, setiap kali kita mendapat berkat itu? Dan apakah kita tetap bersyukur, jika seandainya Tuhan mengambil semuanya itu dari kita? Bukankah semua itu milikNya dan Ia bebas mengambilnya kembali kapanpun Ia mau? Bersyukurlah selalu kepadaNya, karena Dia tidak akan pernah mengecewakan kita semua.

Yeremia  29:11-12
Bukankah Aku ini mengetahui rencana-rencanaKu kepadamu ? Yaitu rencana keselamatan dan bukannya rencana kecelakaan untuk memberikan kepadamu hari esok yang penuh harapan. Maka kamu akan berseru dan datang kepadaKu untuk berdoa dan Aku akan mendengarkan kamu.

DOSA, ANUGERAH, PERTOBATAN, PENGAMPUNAN DAN HIDUP BARU


Materi Katekesi ke - 18
Pokok Bahasan          : Manusia
Sub Pokok Bahasan  : Dosa, Anugerah, Pertobatan, Pengampunan dan Hidup Baru
Tujuan Pembelajaran Khusus
  1. Mengetahui dan memahami ajaran Gereja tentang dosa dan anugerah.
  2. Menghayati pengorbanan Kristus bagi manusia.
  3. Menjelaskan pentingnya pertobatan dan hidup baru
Pengertian Dosa
Kita mulai dengan pertanyaan dari mana datangnya dosa? Yang pertama, pandangan bahwa dosa adalah bagian dari penciptaan dan dengan demikian dosa berasal dari Allah. Dasarnya ialah bahwa “segala sesuatu di dunia ini dari Dia dan oleh Dia dan untuk Dia” (Roma 11:36). Mengapa dosa dapat hadir dan terus ada di dunia, kalau Allah tidak menghendakinya? Pandangan ini tidak dapat diterima, sebab bagaimanakah Allah dapat memurkai dosa, bila ternyata Ia sendiri menghendakinya? Yang kedua, anggapan bahwa dosa berasal dari iblis, atau malaikat yang telah jatuh ke dalam dosa dan menjadi iblis. Yohanes 8:44, Yudas 6,  2 Petrus 2:4. Namun anggapan ini pun tidak dapat diterima, sebab nas-nas itu tidak bermaksud menjelaskan asal-usul dosa.
Untuk itu kita perlu mencermati apa yang terjadi dalam kitab Kejadian 1 s/d 3. Ketika manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, ia diberi kebebasan dan tanggung jawab untuk mengembangkan kehidupan bersama ciptaan Allah yang lain (Kejadian 1:27-28). Dengan gambar dan rupa Allah itu ia pun mendapat kesempatan untuk merealisasikan dirinya sebagai mitra Allah. Namun ia memilih untuk melawan Allah dan perintah-Nya (Kejadian 3:6). Inilah yang menyebabkan manusia jatuh ke dalam dosa. Dari nas ini dosa dipandang sebagai perbuatan yang berasal dari dalam diri manusia sendiri, dan bukan berasal dari luar. Dosa lahir oleh karena manusia, dalam kebebasannya, memiliki kehendak (keinginan) yang berlawanan dengan perintah Allah. Jadi dapat diterangkan bahwa dosa adalah sikap hati dan perbuatan manusia melawan perintah Allah yang dilakukan dalam kebebasannya sebagai makhluk ciptaan. Ketika kebebasan dilepaskan dari tanggung jawab maka ia jatuh ke dalam dosa. Dosa terjadi bukan karena sesuatu yang datang dari luar, tetapi berdasarkan keputusan dan pilihan manusia sendiri, oleh karena ia merasa tidak bebas berada di bawah perintah Allah. Ia ingin menjadi otonom yang sama seperti Allah, bebas menentukan pilihannya sendiri.
Di dalam Alkitab, salah satu akar kata dosa ialah: “chatat” (Ibrani) dan “amartia” (Yunani) yang artinya pelanggaran atau pemberontakan terhadap hukum Allah. Dosa adalah sifat dan motivasi yang terkandung dalam hati manusia, yang menyatu dengan kodratnya sebagai manusia berdosa, sedangkan kesalahan adalah perbuatan yang tampak dari hati yang berdosa.
Kejatuhan manusia pertama ke dalam dosa telah membuat semua manusia menjadi pendosa (Roma 5:19). Ini disebut dosa asal atau turunan atau warisan, yang membuat semua manusia, bahkan sejak dari dalam kandungan sudah bertabiat dosa (Mazmur 51:7). Jadi, ajaran Pelagius yang mengatakan bahwa dosa Adam hanya mencelakakan dirinya saja dan tidak menyebar pada keturunannya, bahwa dosa itu ada bukan karena diwariskan melainkan karena ditiru, adalah pandangan yang tidak dapat diterima. Sejak dosa pertama manusia sudah menempatkan dirinya di bawah hukuman Allah, yaitu maut (1 Korintus 15:21-22). Maut adalah terputusnya hubungan dengan Allah dan bukan hanya menyangkut kematian badani. Maut lebih dari itu, yakni manusia menjadi seteru Allah dan mati secara rohani.
Anugerah dan Pengampunan
Oleh karena dosa telah menempatkan manusia di bawah hukuman Allah, Alkitab menunjukkan bahwa manusia mencari jalan untuk keluar dari hukuman itu melalui hukum Taurat atau berdasarkan perbuatan (Roma 3:20). Namun semua hikmat dan usaha manusia tidak dapat menyelamatkannya dari kutuk dan hukuman Allah (Roma 9:16). Keselamatan itu hanya diperoleh melalui rencana dan tindakan Allah yang membebaskan dan menyelamatkan manusia dari hukuman maut. Alkitab menyaksikan berkali-kali Allah berjanji untuk membebaskan dan menyelamatkan. Perjanjian Allah dengan Nuh (Kejadian 9), Abraham (Kejadian 15), dan Israel di gunung Sinai (Keluaran 24) menyatakan janji keselamatan itu. Nabi Yehezkiel menegaskan: “Bukan karena kamu Aku bertindak,..” (Yehezkiel 36:22,32). Ini berarti tindakan penyelamatan yang dikerjakan Allah tidak didasari atas perbuatan baik manusia; melainkan tindakan itu didorong oleh kemurahan hati Allah sendiri. Dia bertindak berdasarkan perjanjian kasih karunia-Nya.
Keseluruhan janji Allah tadi berpuncak dan terwujud di dalam kematian Yesus Kristus. Sebab itu keselamatan adalah anugerah Allah semata-mata, dan manusia tidak ikut di dalam karya tersebut. Kristus menyatakan keselamatan itu melalui pengorbanan-Nya di kayu salib. Yesus Kristus telah menjadi Perantara yang mendamaikan hubungan Allah dengan manusia dan dunia. Berdasarkan pekerjaan pendamaian yang dilakukan Kristus, Allah memulihkan kembali kedudukan manusia, bukan menurut garis keturunan Adam tetapi berdasarkan gambar Allah yang tampak dalam Kristus (I Korintus 15:45-47). Dengan demikian salib menunjukkan dua kebenaran: Pertama, bahwa di hadapan Allah kita adalah orang-orang berdosa. Kedua, bahwa dosa kita diampuni. Bukan kita sendiri yang tahu akan dosa kita, melainkan ketika manusia berjumpa dengan Allah melalui Roh Kudus (bandingkan Yesaya 6:5, Lukas 5:8). Perjumpaan ini menghasilkan kesadaran bahwa manusia sudah diampuni hanya oleh anugerah Allah dan ia dapat terus hidup berdasarkan kasih karunia Allah saja (Efesus 2:8).
Agustinus mengajarkan bahwa anugerah Allah mendahului semua perbuatan baik dari manusia, termasuk kesadaran untuk mengakui dosa. Jadi manusia diampuni bukan karena ia memliki kemauan untuk mengakui dosanya, namun sebelum hal itu terjadi anugerah Allah sudah diberikan kepadanya. Gagasan ini kemudian dilanjutkan oleh Calvin dengan menekankan pentingnya kemauan dari pihak manusia untuk bertobat dan hidup baru. Menurutnya, kalau kemauan itu dihapus, itu tidak berarti bahwa kemauan hilang oleh karena ketika manusia bertobat, apa yang termasuk kodrat aslinya tidak berubah, yakni pendosa. Di lain pihak, kemauan tidak boleh ditonjolkan sebab seluruh kebaikan yang terdapat di dalam diri manusia pun adalah hasil anugerah Allah semata-mata.
Pertobatan dan Hidup Baru
Perjumpaan manusia dengan Allah melalui Roh Kudus selanjutnya menuntun manusia untuk sampai kepada pertobatan dan hidup baru. Menurut Calvin, pertobatan ialah membalikkan kehidupan kita kepada Allah, dengan digerakkan oleh rasa takut yang tulus dan sungguh-sungguh akan Dia. Ada tiga unsur pertobatan: 1] terjadi perubahan dalam jiwa, bukan hanya perubahan perbuatan lahiriah, 2] harus ada rasa takut yang sungguh-sungguh akan Allah, 3] pematian daging dan dihidupkannya kita oleh Roh.
Yang dimaksud oleh Calvin dengan pertobatan sama dengan kelahiran kembali. Ia memakai istilah yang ditulis oleh rasul Paulus: “menanggalkan manusia lama” dan “mengenakan manusia baru” (Efesus 4:22,24) atau “mati dalam tubuh dan hidup dalam Roh” (Roma 8:10). Namun di dalam diri orang yang telah dilahirkan kembali itu masih tetap ada tempat yang subur untuk kejahatan, yang daripadanya terus menerus timbul nafsu-nafsu yang menggodanya untuk berbuat dosa. Oleh karenanya, pertobatan atau pembaruan itu tidak selesai dalam sekejap mata atau sehari dan setahun, tetapi terus menerus (Kolose 3:10). Terkadang lambat jalannya, sebab Allah hendak membersihkan kotoran dalam diri mereka dan menguduskannya, supaya di sepanjang hidup mereka belajar bertobat, dan mengetahui bahwa perjuangan ini tidak berakhir sebelum kita mati.
Calvin memang menginginkan semua orang Kristen hidup bernafaskan Injil. Namun tekanannya bukanlah pada kesempurnaan, sebab jika demikian menurutnya, gereja akan tertutup bagi semua orang, karena belum ada seorang pun yang dekat dengan kesempurnaan itu. Walaupun demikian, hendaklah kesempurnaan itu menjadi tujuan hidup orang kristen yang harus diusahakan dengan tekun. Menurutnya, janganlah kita berhenti berupaya supaya kita terus menerus maju di jalan Tuhan, dan jangan kita berputus asa karena kecilnya kemajuan itu. Jadi, yang penting bukanlah kesempurnaan melainkan ketekunan. Dalam hal itulah Calvin menekankan pentingnya kesalehan (pietis) bagi hidup orang Kristen. Bahkan menurutnya, Allah tidak dapat dikenal bila tidak ada kesalehan, dalam arti rasa hormat dan kasih kepada-Nya. Jadi kesalehan dimaknai sebagai kebajikan yang terpuji, yang timbul dari kesadaran, hormat, cinta, tunduk dan patuh kepada Allah yang hidup, berdaulat dan berkuasa. Allah yang telah melakukan kebaikan-kebaikan kepada kita.
Luther mengatakan, siapa yang sudah dianugerahi pengampunan oleh Kristus terbebas dari segala sesuatu yang memperbudaknya, tidak tunduk terhadap siapapun, tetapi pada saat yang sama ia terikat untuk melayani sesamanya. Pernyataan itu berarti iman membebaskan manusia dari setiap peraturan, tetapi kebebasannya tidaklah tanpa kendali. Manusia dibimbing sedemikian rupa oleh Kristus, sehingga dengan bebas ia melakukan lebih daripada yang dituntut oleh hukum (Galatia 5:18).
Maknanya Bagi Katekisan
Pedoman hidup bagi orang percaya yang telah diampuni dosanya oleh Allah dan yang telah dibarui di dalam Kristus, ialah sebagai berikut:
• Memiliki etika yang baru
Kristus telah memulihkan citra Allah yang rusak oleh dosa. Pemulihan citra Allah itu berdampak pada pemberian kemampuan untuk melakukan hal-hal yang baik. Dengan kata lain, hidup dalam pengampunan adalah hidup dalam rahmat dan kasih karunia untuk mempersembahkan hidup itu sendiri demi kemuliaan Allah (Roma 12:1, Galatia 2:19). Hidup yang demikian adalah hidup yang memiliki etika baru dalam dunia dan masyarakat. Hidup dalam etika yang baru ialah hidup yang mengampuni dan menghargai hak-hak orang lain.
• Bertumbuh, berkembang dan berbuah.
Orang yang sudah dibarui harus menampakkan proses pertumbuhan (bertumbuh) dan perkembangan (berkembang), dan akhirnya berbuah, sebab memang demikianlah maksud panggilan Tuhan bagi kita, yakni bekerja (melayani) dan memberi buah (Galatia 5:22).
Kepustakaan :
  1. Buku Pemahaman Iman GPIB.
  2. Dr. Harun Hadiwijono, Iman Kristen, BPK-Gunung Mulia
  3. Dr. J.L.Ch. Abineno,  Pokok-Pokok Penting Dari Iman Kristen, BPK-Gunung Mulia.
  4. Dr. J.L.Ch. Abineno, Aku Percaya Kepada Allah, BPK-Gunung Mulia.
  5. Dr. R. Soedarmo, Ikhtisar Dogmatika, BPK-Gunung Mulia.

PESAN NATAL BERSAMA PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA (PGI) KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA (KWI) TAHUN 2011


Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar
(Yes. 9:1a)
 
 
 
Saudara-saudari yang terkasih,
segenap umat Kristiani Indonesia di mana pun berada,
Salam sejahtera dalam kasih Tuhan kita Yesus Kristus.
 
Telah tiba pula tahun ini hari Natal, perayaan kedatangan Dia, yang dahulu sudah dinubuatkan oleh Nabi Yesaya sebagai “seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putra telah diberikan untuk kita, lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai”[1]. Tokoh inilah yang disebutnya juga di dalam nubuatan itu sebagai “Terang yang besar” dan “yang dilihat oleh bangsa-bangsa yang berjalan dalam kegelapan”[2]. Inilah Kabar Gembira tentang kedatangan Sang Juruselamat, Yesus Kristus, Tuhan kita.
 
Pada hari Natal yang pertama itu, para gembala di padang Efrata, orang-orang kecil, sederhana dan terpinggirkan di masa itu, melihat terang besar kemuliaan Tuhan bersinar di kegelapan malam itu[3]. Mereka menanggapi sapaan ilahi “Jangan takut” dengan saling mengajak sesama yang dekat dan senasib dengan mereka dengan mengatakan satu sama lain: “Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita”[4]. Para Majus yang masing-masing telah melihat terang besar di langit negara asal mereka, telah menempuh perjalanan jauh untuk mencari dan mendapatkan Dia yang mereka imani sebagai Raja yang baru lahir. Mereka bertemu di Yerusalem dan mengatakan: “Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia”[5].  Sayang sekali, bahwa di samping para gembala dan para Majus dari Timur yang tulus itu, ada pula Raja Herodes. Ia juga mendapat tahu tentang kedatangan Yesus, bukan hanya dari para Majus, tetapi juga dari keyakinan agamanya, tetapi ia malah merasa tersaingi dan terancam kedudukannya. Maka dengan berpura-pura mau menyembah-Nya, ia mau mencari-Nya juga dengan maksud untuk membunuh-Nya. Ketika niat jahatnya ini gagal, ia malah melakukan keja hatan lain dengan membunuh anak-anak tak bersalah dari Bethehem[6].
 
Kepada kitapun, yang hidup di Negara Kesatuan Republik Indonesia dan merayakan Natal pada tahun 2011 ini, telah disampaikan Kabar Gembira tentang kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus, yang adalah “Firman, yang di dalamnya ada hidup dan hidup itu adalah terang bagi manusia”[7]. Memang, yang kita rayakan pada hari Natal itu adalah: “Terang yang sesungguhnya yang sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya”[8]. Tetapi sayangnya ialah bahwa, “dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya”[9]. Dan kita tidak bisa, bahkan tidak boleh,  menutup mata untuk itu. Kita juga menyaksikan, bahwa bangsa kita masih mengalami berbagai persoalan. Kemiskinan sebagai akibat ketidakadilan masih menjadi persoalan sebahagian besar bangsa kita, yang mengakibatkan masih sulitnya menanggulangi biaya-biaya bahkan kebutuhan pokok hidup, apalagi untuk pendidikan dan kesehatan. Kekerasan masih merupakan bahasa yang digemari guna menyelesaikan masalah relasi antar-manusia. Kecenderungan penyeragaman, ketimbang keanekaragaman masih merupakan pengalaman kita. Akibatnya, kerukunan hidup, termasuk kerukunan antar-umat beragama, tetap masih menjadi barang mahal. Korupsi, bukannya dihapuskan, tetapi malah makin beranak-pinak dan merasuki segala aras kehidupan bangsa kita bahkan secara membudaya. Penegakan hukum yang berkeadilan dan penghormatan terhadap hak-hak asasi manusia masih merupakan pergumulan dan harus tetap kita perjuangkan. Pencemaran dan perusakan lingkungan yang menyebabkan bencana alam,seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya,tetap mencemaskan kita. Mereka yang diberi amanat dan kekuasaan untuk memimpin bangsa kita ini dengan benar dan membawanya kepada kesejahteraan yang adil dan merata,malah cenderung melupakan tugas-tugasnya itu.
Oleh karena itu, saudara-saudari yang terkasih, dalam pesan Natal bersama kami tahun ini, kami hendak menggarisbawahi semangat kedatangan Kristus tersebut dengan bersaksi dan beraksi, bukan hanya untuk perayaan Natal kali ini saja, tetapi hendaknya juga menjadi semangat hidup kita semua:
·      Sederhana dan bersahaja: Yesus telah lahir di kandang hewan, bukan hanya karena “tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan”[10], tetapi justru karena Dia yang “walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia”[11].
·      Rajin dan giat: seperti para gembala yang setelah diberitahu tentang kelahiran Yesus dan tanda-tandanya, lalu  “cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria, Yusuf dan bayi itu”[12].
·      Tanpa membeda-bedakan secara eksklusif: sebagaimana semangat kanak-kanak Yesus yang menerima para Majus dari Timur seperti adanya, apapun warna kulit mereka dan apapun yang menjadi persembahan mereka masing-masing[13].
·      Tidak juga bersifat dan bersikap mengkotak-kotakkan, karena Yesus sendiri mengajarkan bahwa “barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu"[14].
 
Saudara-saudari yang terkasih,
Tuhan Yesus, yang kedatangan-Nya sudah dinubuatkan oleh Nabi Yesaya hampir delapan ratus tahun sebelum kelahiran-Nya, disebut sebagai “terang besar” yang “dilihat oleh bangsa-bangsa yang berjalan di dalam kegelapan”[15]. Nubuat itu direalisasikan-Nya sendiridenganbersabda: “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, me-lainkan ia akan mempunyai terang hidup”[16]. Di samping penegasan tentang diri-Nya sendiri itu, barangkali baik juga kita senantiasa mengingat apa yang ditegaskannya tentang kita para pengikut-Nya: "Hanya sedikit waktu lagi terang ada di antara kamu. Selama terang itu ada padamu, percayalah kepa-danya, supaya kegelapan jangan menguasai kamu; barangsiapa berjalan dalam kegelapan, ia tidak tahu ke mana ia pergi”[17].
 
Akhirnya marilah kita menyambut kedatangan-Nya dengan sederhana dan tidak mencolok karena kita tidak boleh melupakan, bahwa sebagian besar bangsa kita masih dalam kemiskinan yang ekstrim. Dengan demikian semoga terjadilah kini seperti yang terjadi pada Natal yang pertama:
”Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya”[18].
 
 
 
 
SELAMAT NATAL 2011 DAN TAHUN BARU 2012
 
Jakarta, 17 November 2011    
 
 
Atas nama
 
PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA
DI INDONESIA  (PGI),
KONFERENSI WALIGEREJA
INDONESIA (KWI),
 
 
 
 
Pdt. Dr. A.A. Yewangoe
Ketua Umum
Mgr. Martinus D. Situmorang, OFMCap.
Ketua
 
 
 
 
Pdt. Gomar Gultom, M.Th.
Sekretaris Umum
Mgr. Johannes Pujasumarta
Sekretaris Jendral

Serahkan Tahun Baru ke dalam Penyelenggaraan Tuhan


Bacaan Lukas 2:21-24
Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan,
(ayat 22)

Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus …….
            Tahun baru, tahun rahmat Tuhan, 2012, telah tiba. Semua orang di seluruh dunia, tanpa mengenal latar-belakang agama, ras atau golongan bersukaria menyambut kedatangan tahun baru 2012 dengan berbagai cara. Ada dengan pesta kembang api yang warna-warni menghiasi angkasa malam; ada juga dengan jamuan makan bersama rekanan, teman dan sahabat atau sanak keluarga; ada pula dengan konser musik dll. Bagaimana dengan kita? Apakah kita juga menyambutnya dengan acara-acara yang disebutkan di atas? Sebagai bentuk luapan sukacita, sebagian dari kita pasti akan menjawab ya! Tentu, hal itu tidak salah. Namun, alangkah indah dan bahagianya lagi jika kita sebagai orang beriman mau menyambutnya dengan sujud dan menyembah serta bersyukur dalam ibadah keluarga sesuai tata ibadah yang disediakan oleh gereja. Hal ini penting karena menjalani kehidupan sepanjang tahun tidaklah mudah. Kalau bukan Tuhan menuntun, menyertai, menolong dan memberkati maka tidak mungkin kita bisa memasuki tahun baru hari ini.
            Semua orang, termasuk kita pasti sepakat memulai lembaran hidup yang baru di tahun 2012 dengan penuh pengharapan. Semua berharap bahwa kehidupan di tahun baru ini akan lebih baik dari tahun yang lalu. Namun, pertanyaan kritis adalah siapa yang bisa menjamin hal itu ? Diri sendiri tak mungkin bisa menjamin karena tantangan yang kita hadapi kian besar. Pemerintah dan para pemuka negeri pun tidak mungkin bisa menjamin. Sebab mereka masih berada dalam lingkaran setan masalah korupsi yang telah terjalin bagaikan benang kusust sehingga sulit terurai. Satu-satunya yang bisa menjamin harapan kita tercapai adalah Sang Penyelamat yang telah lahir ke dunia yaitu YESUS. Mengapa hanya YESUS? Karena tanggal 1 januari bukan saja kita rayakan Tahun Baru, tetapi juga merayakan hari kedelapan dihitung dari tanggal 25 desember.  Menurut bacaan Alkitab, pada hari ini Yusuf menyunat puera mereka dan memberi nama YESUS, sesuai nama yang diperintahkan malaikat.
            Mari memulai langkah baru, hidup baru di tahun baru ini bersama YESUS dan tetapkan seluruh pengharapan kita kepada-Nya. Pujilah dan agungkan nama-Nya, karena di dalam nama YESUS ada keselamatan dan pembaharuan..----AF---SBU---

PESAN NATAL 2010 DAN TAHUN BARU 2012


Manusia Baru yang terus menerus diBaharui
Saudara-Saudari yang dikasihi dalam Tuhan,
Salam Sejahtera dalam Yesus Kristus,

            Para nabi sudah lama mengharapkan kedatangan Sang Mesias. Lalu, tibalah waktunya, pengharapan itu terjawab dalam Injil Lukas 2:11 “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.” Kelahiran Yesus “so pasti” kita sambut dengan sukacita, namun di sekitar peristiwa kelahiran-Nya sendiri tidaklah sepenuhnya terjadi demikian : Injil Yohanes memberitakan “dunia tidak mengenalNya”, Yohanes 1:10. Oleh karena itu tidak tersedia kamar yang layak bagi Yusuf dan Maria untuk menginap dan menantikan kelahiran Sang Bayi Yesus, yang tersedia hanyalah sebuah kandang hewan. Herodes selaku penguasa yang takut kedudukannya tergeser, ia pun telh bertindak terlalu jauh dengan membunuh semua bayi dibawah 2 tahun, dengan maksud untuk membunuh Sang Bayi Yesus. Namun disekitar peristiwa kelahiran Yesus, kita juga dapat belajar dari orang-orang biasa yang menunjukkan sikap dan perbuatan yang luar biasa. Peristiwa kelahiran itu pastilah menguras perasaan, pikiran dan tenaga Yusuf dan Maria tetap melakukan segala sesuatu dalam terang kehendak Tuhan. Demikian juga  para gembala di padang efrata. Mereka adalah para pekerja keras yang mengandalkan otot dan keberanian untu memelihara kawanan domba milik tuan mereka. Setelah mendengar suara malaikat di malam hari, mereka cepat-cepat mencari Sang Bayi Yesus. Para gembala itu berjumpa denga Sang Bayi Yesus itu. Dan setelah pulang mereka memuji-muji dan memuliakan Allah, Lukas 2:8 dst. Lain lagi para majus yang berdasarkan pengetahuan khusus yang ada pada mereka mencari dan memberi persembahan yang terbaik dari mereka, yakni: emas, kemenyan dan mur.
            Persidangan Sinode GPIB XIX, tanggal 11 – 16 Oktober 2010 di Jakarta telah menetapkan, bahwa tema tahun 2011 – 2012 adalah : “Manusia baru yang terus menerus dibaharui”, Efesus 4:23-24. Dalam terang tema itu pula kita memaknai hari kelahiran Yesus Kristus dan menjelang tahun baru 2012. Bila kita memaknai kelahiran Yesus Kristus, hal itu tidak terlepas dari karya keselamatan Allah dalam Yesus yang hidup, mati dan bangkit untuk kita dan segenap dunia ciptaanNya. Tema tersebut mengandung semangat dan harapan untuk membaharui : pikiran, perasaan, sikap dan perilaku bagi peningkatan kualitas hidup kita dalam keluarga, gereja dan masyarakat.
            Dalam konteks masyarakat; kita masih melihat gejala – gejala kemiskinan dan kesenjangan yang terjadi antar kota – kota dengan desa – desa dan termasuk desa – desa di wilayah perbatasan. Pendidikan, kesehatan dan kualitas hidup yang belum merata di seluruh wilayah Nusantara. Bahaya Narkoba dan penularan HIV/AIDS terhadap kaum muda dan ibu rumah tangga. Penegakan hukum yang jauh dari harapan dan pelanggaran HAM yang terus terjadi, kekerasan terhadap kaum perempuan dan anak, tanah Papua dan sejumlah rakyat kecil yang mengalami tindakan kekerasan. Korupsi yang menyebar ke daerah-daerah, konflik-konflik yang terjadi sesama anak bangsa yang tak kunjung selelsai dan kerusakan lingkungan yang terus berlangsung. Semua hal-hal tersebut, secara bertahap dapat teratasi apabila kesadaran dan upaya-upaya untuk mengatasinya ditekuni secara konsisten dan berkesinambungan. Sementara persoalan-persoalan dalam masyarakat dibenahi, dampak globalisasi terus terjadi, sehingga kita terus mengalami persaingan dalam hal sumber daya insani dan produk-produk nasional bangsa kita. Berdasarkan realitas dan refleksi kita diatas,  perayaan Natal 2011 dan tahun baru 2012, marilah kita maknai perayaan Natal ini dengan memperhatikan hal-hal berikut ini:

            Rayakan Hari Natal dengan sukacita, namun sederhana dan mulia, dengan menyediakan hati dan jiwa baru dan dengan terus menghidupkan kuasa kasih di dalam diri pribadi, keluarga dan persekutuan jemaat.
            Hadapailah realitas kehidupan ini dengan kesungguhan kerja yang cerdas, tekun, bersikap positif tanpa kehilangan pengharapan kepada-Nya.
            Rajutlah persaudaraan dengan sesama, bangunlah rasa kepedulian melintasi batas-batas kelompok suku, golongan dan agama bagi suatu masa depan bersama yang baru, tercerahkan dan mendatangkan kesejahteraan bersama yang adil.
            Kiranya Tuhan Yesus Kristus kepala gereja melengkapi kita semua dengan berkat-berkatNya yang berlimpah ketika kita menjalankan panggilan dan pengutusan olehNya dalam kehidupan kita sehari-hari.

“Selamat merayakan Natal, 25 dan 26 desember 2011 dan Selamat merayakan Tahun Baru, 01 Januari 2012”

Jakarta, medio Desember 2011
Majelis Sinode GPIB :
Ketua Umum            : Pendeta Markus Frits Manuhutu, M.Th.
Ketua I                       : Pendeta Marthinus Tetelepta, S.Th, M.Min.
Ketua II                      : Pendeta Poltak Halomoan Sitorus, S.Th, M.Si.
Ketua III                     : Pendeta Ruddy I. Ririhena, M.Si.
Ketua IV                     : Penatua Drs. Richard van der Muur.
Ketua V                      : Penatua Drs. Tony Waworuntu,MM.
Sekretaris Umum     : Pendeta Adriaan Pitoy, M.Min.
Sekretaris I                : Pendeta Jacoba Marlene Joseph, S.Th.
Sekretaris II               : Penatua Johan Tumanduk, SH, MM, M.Min.
Bendahara                : Penatua Adrie Petrus Hendrik Nelwan
Bendahara I              : Penatua Ronny Hendrik Wayong, SE.

DOA; sangat besar kuasanya

YESUS MEMBUATMU BERHARGA