YANG HILANG DITEMUKAN



Minggu VI PRAPASKAH

Bacaan Kitab Lukas 15:8 – 10

Pengantar Nas

Pasal 15 Injil Lukas ini mengandung tiga kisah mengenai kepedulian Tuhan Allah bagi mereka yang terhilang. Mereka yang hilang itu adalah orang-orang berdosa serta para pemungut cukai. Mereka dianggap sebagai komunitas terbuang dan terpinggirkan oleh sebagian orang Yahudi pada waktu itu. Kisah tentang mereka yang hilang diceritakan Yesus Kristus dengan menggunakan perumpamaan. Pertama, “domba yang hilang”n(ayat 1-7). Kedua, “dirham yang hilang” (ayat 8-10). Ketiga, “anak yang hilang” (ayat 11-32). Yang tersingkat dari cerita mereka yang hilang ini adalah perumpamaan “dirham yang hilang.” Tema utama Injil Lukas mengenai cerita mereka yang hilang ini berkaitan erat sekali dengan kegembiraan atau sukacita besar. Termasuk juga sukacita besar terjadi dalam lingkup malaikat Tuhan. Karena apa dan siapa yang hilang telah ditemukan kembali. Tentang dirham yang hilang itu barangkali adalah dirham yang ada pada penutup kepala perempuan tersebut. Tentu saja perempuan ini sangat miskin, karena hanya memiliki sepuluh mata uang. Perumpamaan tentang dirham yang hilang itu sangat mirip dengan perumpamaan domba yang hilang. Kedua kisah tentang yang hilang itu tetap diupayakan untuk di cari dengan serius oleh pemiliknya agar supaya ditemukan. Berbeda dengan anak yang hilang, yang berinisiatif untuk kembali ke rumah bapanya adalah anak itu sendiri.



Penjelasan Nas.

Ayat 8. Orang yang kehilangan satu dirham adalah seorang perempuan. Pasti dia sangat bersedih hati karena kehilangan uang tersebut dan sangat gembira jika uangnya diketemukan lagi. Karena itu perempuan tersebut berusaha seteliti mungkin mencari uangnya yang hilang dengan menyalakan pelita serta menyapunya. Mengingat bagi perempuan itu uang yang hilang sangat penting, berharga dan berguna dalam hidup serta penghidupannya. Memang dia masih memiliki sembilan dirham namun tidaklah mudah melupakan atau membiarkan begitu saja satu dirham yang hilang. Rasa kehilangan satu dirham bagi perempuan ini tidak dapat digantikan dengan sembilan dirham yang masih ada padanya.

Ayat 9. Apabila perempuan ini menemukan kembali satu dirhamnya yang hilang, maka sukacita besar menguasainya dengan melimpah. “Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dirhamku yang hilang itu telah kutemukan.. “ Adalah wajar jika orang yang bersukacita  pasti ingin supaya orang lain juga bersukacita bersamanya. Demikian pula orang yang bergembira bersamanya. Perasaan dan pikiran perempuan ini sangat dipenuhi kegembiraan yang luar biasa. “Heureka, heureka ... Aku telah menemukannya, aku telah menemukannya ! Begitulah ungkapan bahasa sukacita tersebut .

Ayat 10. Disinilah letak maksud dan makna perumpamaan tentang yang hilang. “... akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat.” Peristiwa ini melebihi sukacita bagi banyak orang benar yang tidak memerlukan pertobatan. Pertobatan para pemungut cukai dan orang berdosa bukanlah peristiwa yang biasa-biasa saja. Akan tetapi kejadian yang sungguh luar biasa dan tidak menganggapnya sia-sia.

Penerapan Nas

Dirham yang hilang itu bukan karena kemauan dan kesalahannya sendiri sehingga dia hilang. Demikian pula keberadaan serta keadaan pemungut cukai dan mereka yang terpinggirkan waktu itu. Merekalah yang disebut “yang hilang.” Mereka dianggap serta dicap oleh sebagian besar orang Yahudi saat itu adalah orang berdosa. Rupanya pemahaman sebagian orang Yahudi seperti ini sangat keliru. Injil Lukas hendak mengajak kita mengenal kasih Tuhan Allah yang luar biasa terhadap mereka yang hilang dan merasa berdosa. Tuhan Allah sangat peduli dengan mereka yang terpinggirkan serta dipinggirkan oleh para petinggi, tokoh agama dan tokoh masyarakat waktu itu. Sehingga apabila mereka yang hilang itu ditemukan dan bertobat, maka terjadilah sukacita serta kegembiraan Surgawi yang melimpah. Karena itu bagi kita seorang pendosa terbesar sekalipun bisa dituntun untuk bertobat. Selagi dia masih memiliki hidup pasti selalu terbuka harapan baginya agar bertobat. Jika orang berdosa bertobat dan berbalik kepada Tuhan Allah pasti mendapatkan pengampunan serta belas-kasihanNya yang tak terbilang.

Tuhan Allah begitu rela menunjukkan belas-kasih-Nya kepada mereka yang bertobat. Kebaikan serta kemurahan-Nya diberikan kepada mereka yang hilang dan ditemukan kembali. Seperti satu dirham yang hilang dan diketemukan, begitu pula satu orang yang diketemukan dan bertobat membuat sukacita Surgawi yang besar. Meskipun hanya satu orang saja yang bertobat kita juga bersukacita dalam Tuhan. Sehingga kita dewasa ini mencari mereka yang terhilang adalah tugas panggilan dan pengutusan Gereja yang serius dan cermat. Tugas gereja ini tidak mudah, sebab itu harus memiliki perhatian dan kepedulian semua kita secara bersama-sama. Patut kita sadari mencari mereka yang hilang dalam kegelapan dunia yang fana ini tidaklah gampang dan gampangan.  Kita membutuhkan sinar cahaya yang menerangi juga menuntun kita dalam kegelapan mencari yang hilang adalah Firman dan Roh Tuhan. Dengan Firman dan Roh Tuhan kita diberikan kearifan menyisir, memilah serta memilih agar menemukan mereka yang hilang untuk bertobat, berbalik kepada Tuhan Allah.

H.L.T/Maji|SGD|GPIB|edisi 138|



LATAR BELAKANG KITAB

Penulis : Lukas.

Waktu Penulisan : Antara tahun 68 M dan 70 M.

Rentang Waktu : Sekitar 38 tahun ( 5 SM – tahun 33 Masehi)

Judul Kitab : Dari penulis kitab ini : Lukas.

Latar Belakang : Lukas merupakan kitab terpanjang dan terperinci dari keempat Injil. Lukas adalah seorang dokter non Yahudi yang menulis Injil ini dan Kitab Kisah Para Rasul untuk membantu seorang Kristen baru yang bernama Teofilus. Sebagai seorang rekan dalam penginjilan Rasul Paulus, Lukas dapat mempresentasikan kisah sejarah hidup Yesus secara terperinci. Lukas membahas kemanusiaan Yesus lebih banyak dari pada Injil Injil lain.

Tempat Penulisan : Kemungkinan di Kaiserea atau di Roma.

Mulanya ditujukan Kepada : Secata spesifik kepada Teofilus, secara khusus kepada orang orang Yunani; dan secara umum kepada semua orang non Yahudi.

Isi : Lukas disebut sebagai “Kitab paling indah yang pernah ditulis”. Ia menulis dengan bercerita kepada kita tentang orang tua Yesus; kelahiran saudara sepupu-Nya, Yohanes Pembaptis; perjalanan Maria dan Yusuf ke Bethlehem dan silsilah Yesus dari Yusuf. Pelayanan Yesus kepada umum mengungkapkan belas kasihan dan pengampunanNya yang sempurna melalui kisah orang Samaria yang baik hati (Pasal 10); anak yang hilang (pasal 15); orang kaya dan Lazarus (pasal 16), Ketika orang banyak percaya atas kasih Yesus yang tanpa prasangka, yang melampaui semua batas batas manusia, banyak pula yang menentang dan melawan pernyataan-Nya. Para pengikut Yesus di dorong untuk menghitung harga pemuridan mereka, ketika musuh musuh-Nya berusaha membunuh-Nya di atas kayu salib. Akhirnya, Yesus pun dikhianati, diadili, dijatuhi hukuman mati, dan disalibkan. Akan tetapi, kubur tidak dapat menahan-Nya! Kebangkitan-Nya menjamin kelanjutan pelayanan-Nya untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang (19:10). Setelah kemunculan-Nya pada sejumlah kesempatan kepada murid-murid-Nya, Roh Kudus pun dijanjikan dan Kristus naik kepada Bapa.

Kata Kunci : “Yesus”;”Anak Manusia”. Sebagai inkarnasi Allah, “Yesus” sering dirujuk sebagai “Anak Manusia”. Silsilah Yesus dari Yusuf begitu terperinci, demikian juga karakter kemanusiaan dan kehidupan-Nya yang lain.

Tema :

  • Yesus mengerti kelemahan, godaan dan percobaan atas diri kita.
  • Yesus datang untuk menyelamatkan baik orang Yahudi maupun non Yahudi.
  • Yesus menyelamatkan orang-orang yang terbuang …. dan yang diterima masyarakat.
  • Yesus datang untuk menyelamatkan baik yang miskin dan kaya.
  • Yesus datang untuk menyelamatkan baik orang dewasa maupun kanak-kanak.
  • Yesus datang untuk menyelamatkan baik pria maupun wanita.
  • Yesus datang untuk menyelamatkan baik orang merdeka maupun tertindas.
  • Yesus datang untuk menyelamatkan setiap orang!

Garis Besar :

  • Pengantar.  1:1-4.
  • Kelahiran dan masa kecil Yohanes Pembaptis dan Yesus.  1:5-2:52.
  • Pelayanan Yohanes Pembaptis.  3:1-20.
  • Pembaptisan, silsilah dan pencobaan terhadap diri Yesus.  3:21-4:13.
  • Pengajaran dan pelayanan kesembuhan yang dikerjakan Yesus.   4:14-9:50.
  • Perjalanan Yesus dari Galilea ke Yerusalem.  9:51-19:27.
  • Penderitaan dan penyaliban Yesus  19:28-23:49.
  • Penguburan, kebangkitan dan kenaikan Yesus ke Sorga.   23:50-24:53.

Sumber : Lembaga Alkitab Indonesia.

AKTIF DALAM PENANTIAN



MINGGU VI PRAPASKAH
Bacaan Lukas 12 : 35 – 48
PENGANTAR
Parousia atau saat Yesus Kristus datang kembali ke dunia ini merupakan masa-masa penantian yang sangat dirindukan gereja perdana. Walaupun mereka menyadari bahwa umat Israellah yang menjadi prioritas utama dari tujuan peristiwa parousia tersebut. Namun oleh karena umat Israel belum percaya, maka gereja perdana meyakini parousia akan terjadi di masa mendatang yang belum diketahui waktunya. Sehingga terjadi penundaan saat Yesus Kristus datang kembali. Dalam masa penantian kesempurnaan parousia Kristus, gereja melihat ada kejadian-kejadian yang menunjuk kepada parousia secara khusus. Misalnya peristiwa Pentakosta atau datangnya Roh Kudus maupun juga dengan orang yang meninggal karena “berjumpa dan didatangi” Tuhannya. Bagi kita sangat sulit memahami untuk menentukan parousia manakah yang dimaksudkan Injil Lukas ini. Memang sulit kita mengerti parousia Kristus, namun kuatnya nada merindukan “Surga” tidak bisa dilupakan begitu saja dari gereja perdana. Karena itulah setiap saat membuat gereja Tuhan sejak dahulu penuh ketegangan dengan masa penantian akan Tuhan Yesus Kristus. Pengertian spesifik mengenai Parousia menunjuk kepada kedatangan Yesus Kristus kembali ke dunia. Sedangkan pemahaman luasnya mengacu pada panggilan Tuhan Allah memasuki kehidupan manusia agar manusia siap siaga berjumpa dengan Tuhan Allah bila manusia dipanggil oleh-Nya.
PENJELASAN NAS
Ayat 35-38. Merupakan sebuah perumpamaan yang mengandung arti simbolis. “Pinggang yang terikat” melambangkan seorang musafir yang menyingsingkan bajunya pada pangkal pahanya supaya bebas berjalan menuju Tanah Perjanjian (Kel. 12:11). “Pelita” melambangkan terang yang menghalau kegelapan malam. “Hamba” menunjuk kepada Gereja yang sedang menanti Tuannya. “Tuan yang sedang pergi” mengartikan Yesus Kristus yang bangkit dan naik ke Surga. Sedangkan “Tuan yang pulang kembali” menunjuk pada kedatangan Ysus Kristus kembali. Kemudian tuannya “melayani” mereka menggambarkan ganjaran yang Yesus berikan bagi Gereja-Nya di luar dugaan.
Ayat 39-40. Adalah suatu perumpamaan atau kiasan tentang Pemilik rumah yang sedang berada di rumahnya dan selalu tetap siaga berjaga-jaga. Karena dia tidak menghendaki kalau rumahnya dibiarkan dan kemudian dibongkar pemcuri yang datang diam-diam di malam hari. Demikian pula setiap saat Anak Manusia bisa menyatakan diri dalam kemuliaan-Nya.

Ayat 41-42. Menyebutkan kedudukan Petrus murid Yesus selaku penata layan atau pengurus rumah yang setia dan bijaksana. Serta bertugas dalam tanggung jawab penuh mengepalai karyawan sebagai anak buahnya dan patut mempedulikan kebutuhan hidup mereka setiap hari.

Ayat 43-46. Perumpamaan ini hendak mengajarkan kita, bahwa menantikan kedatangan-Nya bukanlah kehidupan yang bermlas-malas, tetapi suatu kehidupan yang sangat aktif. Hamba yang rajin bergiat melaksanakan tugas tanggung jawabnya dengan baik dan benar akan dipromosikan menjadi supervisor atau pengawas milik tuannya. Sebaliknya hamba yang malas dan jahat juga kasar terhadap sesamanya serta kerjanya hanya makan minum, mabuk-mabukan akan dienyahkan. Hamba jahat itu senasib dengan orang – orang yang tidak setia.

Ayat 47-48. Di samping menanti kedatangan-Nya patut juga mendapat perhatian para hamba-Nya dan pemimpin Gereja terhadap tanggung jawabnya selaku orang orang Kristen. Tanggung jawab berkaitan erat dengan panggilan dan pengutusan Gereja. Artinya orang-orang Kristen khususnya para pemimpin Gerejanya harus menyadari, bahwa dia mempunyai tanggung jawab labih besar dan berat daripada orang lain. Sementara Gereja menantikan kedatngan-Nya kembali ke dunia tugas kenabian kerasulan gerejawi harus dilaksanakan secara sinambung dengan baik dan benar. Gereja dan umatnya musti memproklamasikan terus menerus dengan penuh gembira dan bahagia tanda-tanda Surgawi dalam realita hidup di dunia nyata : yaitu menyatakan damai sejahtera, cinta-kasih, keadilan, sukacita dan pengharapan sejati.

PENERAPAN NAS
Aktivitas yang cukup membuat kita bosan, jenuh dan menyebalkan adalah kegiatan menunggu atau menanti. Apakah menanti seseorang yang sangat kita harapkan ? Ataukah menunggu suatu peristiwa penting dalam hidup kita ? Begitu terpusatnya perhatian terhadap yang ditunggu dan dinantikan itu membuat karya kerja kita yang lain terbatas. Sehingga hampir tidak ada aktivitas yang kita lakukan selain hanya menunggu dan menanti. Perasaan kita yang meninjol ketika dalam proses menunggu dan menanti itu adalah harap-harap cemas. Sebab itu supaya kita tetap setia dalam penantian perlu memiliki suatu pengharapan pasti terhadap terwujudnya panantian itu. Tanpa adanya pengharapan yang jelas dan pasti akan membuat kita lengah dalam penantian. Dengan memiliki pengharapan yang kuat bagaikan sauh kita akan terhindar dari arus pesimistis menunggu kedatangan Yesus Kristus kembali ke dunia ini. Sebab tanpa suatu pengharapan kokoh bisa membuat kita jatuh pada sikap dan sifat masa-bodoh. Sehingga aktivitas dalam proses penantian itu hanya diisi dengan kegiatan-kegiatan semau hati. Memang benar kalau menunggu kedatangan-Nya kembali tanpa suatu kepastian dalam pengharapan bisa membuat kita terjebak pada dua pemahaman yang ekstrim. Pada satu sisi pemahaman yang hanya terpaku pada masa kini saja. Hari esok tidak menjadi masalah yang penting di hari ini dalam dinamika kekiniannya. Di pihak lain pemahaman yang hanya semata-mata tertuju pada masa akan datang. Masa kini tidak begitu penting sebab yang sangat dinanti-nantikan adalah masa akan datang dan itulah saat paling menentukan. Yaitu, masa yang hanya terarah kepada kedatangan-Nya kembali ke dunia.
Melalui Injil Lukas ini Tuhan Yesus mengajarkan serta menegaskan kepada kita, bahwa menantikan kedatangan-Nya kembali harus secara aktif. Janganlah dihalangi oleh jubah atau pakaian yang terkadang menyulitkan kita berkarya serta melayani. Ikatlah pinggang dan singsingkanlah lengan baju kita agar leluasa bekerja melayani pekerjaan-Nya dengan baik juga benar. Sumbu pelita selalu berminyak dan menyala supaya kita tetap bersinar, bercahaya menghalau segala bentuk kegelapan serta kepalsuan dunia ini. Biarlah dengan penuh kebahagiaan dan gembira ria kita selaku hamba-hambaNya menanti dengan yakin kedatangan-Nya. Sambil menanti dengan setia kita aktif pula melaksanakan tugas panggilan dan pengutusan Gereja-Nya di dunia ini. Sebagaimana Tuhan Yesus Kristus berinisiatif mendatangi kita dengan cinta Kasih-Nya yang besar, demikian juga secara aktif dan bersukacita kita melaksanakan karya-Nya dalam masa penantian. Kita ditantang agar selalu siap sedia dan tetap berjaga-jaga setiap waktu. “Karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak amu sangkakan ...” Marilah bersama-sama kita tetap aktif, inovatif, kreatif dan positif berkarya serta melayani terus menerus dalam menatikan Parousia. Kita menatikan-Nya dalam pengharapan pasti menyongsong kesempurnaan serta kebahagiaan kekal!
H.L.T/Maji | SGD edisi 139 | GPIB

Bertobatlah



Minggu V sesudah Efifania
Bacaan Lukas 11:1-13)
Pengantar
Berbeda dengan Injil Matius, Lukas mencatat bahwa ajaran Yesus tentang hal berdoa disampaikan ketika dalam perjalanan. Yesus berhenti di suatu tempat untuk berdoa. Dari permintaan seorang murid Yesus ini, kita mendapat gambaran bahwa murid ini minta diajari berdoa karena ia melihat Yesus berdoa. Pada saat iut ada pemahaman yang berkembang, bahwa seorang guru umumnya akan mengajarkan muridnya berdoa, karena itulah murid tersebut menjadikan Yohanes sebagai acuan. Yesus tidak keberatan memenuhi permintaan murid-Nya itu. Bahkan, dalam doa yang diajarkan Yesus, kita diajak memasuki suatu pemahaman yang kaya mengenai Kerajaan Allah.
Pemahaman Teks
Ayat 2. Sapaan ‘Bapa’ menjadi hal yang ‘mengangkat status’ pendengar (=murid-murid Yesus pada waktu itu) mengingat bahwa mereka adalah kelompok yang sedang dicari-cari kesalahannya (=’dikritisi’) oleh para pemuka agama pada waktu itu (Lukas 5:21, 30). Sebagai manusia pada umumnya, sikap para pemuka agama itu dapat saja membuat murid-murid Yesus meragukan ‘status’ mereka di hadapan Allah. Itulah mengapa, ketika Yesus mengajarkan mereka untuk menyapa Allah dengan sebutan ‘Bapa” dalam doa. Mereka seperti disadarkan bahwa mereka tetap dianggap ‘anak’ oleh Tuhan, Allah yang mereka sembah. Sehubungan dengan hal itu, ungkapan “dikuduskanlah nama-Mu” menunjukkan bahwa sekalipun mereka ‘boleh’ memanggil Tuhan sebagai ‘Bapa’ namun sapaan itu tidak mengurangi wibawa Allah di hadapan umat-Nya. Umat yang adalah anak-anak Allah tetap harus mengutamakan kekudusan nama TUHAN.
Orang pada umumnya berpikir bahwa hal Kerajaan Allah adalah sesuatu yang ilahi, yang akan ‘didatangi’ setelah kematian namun Yesus menghadirkan Kerajaan Allah justru pada saat mereka masih hidup. Dampak psikologis dari ungkapan ini adalah murid-murid dibawa kepada ‘nuansa’ yang lain yaitu ilahi ketika berdoa.
Ayat 3. Umumnya orang berdoa karena ingin untuk meminta sesuatu. Yesus tidak menyalahi maksud itu. Kita boleh meminta, tetapi sebatas pada apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Itu artinya dalam jumlah yang cukup, tidak kurang supaya kita tidak mengeluh tetapi tidak juga berlebihan supaya tidak pongah.
Ayat 4. Yesus mengajarkan murid-murid-Nya untuk minta ampun. Secara tidak langsung, Yesus memberi gambaran hubungan yang penuh pengampunan dengan Tuhan haruslah juga sejalan dengan hubungan kita dengan orang lain. Dalam doa, kita dapat menjalin hubungan yang akrab dengan Tuhan dan hubungan yang sama pun harus terjalin dengan sesama.
Ayat 5-13. Yesus sedang meyakinkan murid-murid-Nya tentang bagaimana doa yang diajarkan-Nya itu pasti ‘dikabulkan’ oleh Allah.
Ayat 5-10. Hal pengabulan doa: Yesus mengibaratkan orang yang didatangi sahabatnya untuk meminta roti, orang itu akan memberikannya karena ia tidak  mau malu terhadap sahabatnya itu. Begitu juga Allah terhadap orang yang meminta kepada-Nya. Mekanismenya sangat wajar : bahwa orang yang meminta pasti akan menerima.
Ayat 11-13. Yesus mengibaratkan seorang ayah hanya memberikan yang baik kepada anak-anak. Sedangkan Allah lebih dari tiu. Roh Kudus, pemberian Allah dapat dikatakan sebagai ‘pemberian serba guna’ bagi kita anak-anak-Nya.
Renungan dan Penerapan
Wajar jika kita baru mau melakukan sesuatu setelah diberi jaminan bahwa apa yang kita lakukan itu akan membawa hasil yang memuaskan atau yang menguntungkan. Demikian juga dengan berdoa. Banyak orang baru mau berdoa ketika dalam keadaan terdesak atau punya keinginan tertentu. Berdoa menjadi pelihan terakhir setelah kita kehabisan ide untuk berusaha. Bacaan ini membawa kita kepada sisi doa yang lain, bahwa doa bukan sekadar tentang ‘meminta’ melainkan:
1.    Dalam nuansa doa, diperbolehkannya kita memanggil Allah dengan sebutan ‘Bapa’ bukan sekadar untuk ‘menaikkan status’       dari manusia berdosa menjadi anak Allah melainkan memperkenalkan kita kepada cara Allah memperlakukan kata yaitu bagaikan bapa kepada anaknya. Pemahaman ini akanmenjadi hal yang sangat menguatkan bagi kita yang sehari-hari seringkali dipersalahkan orang, semua yang kita lakukan tidak benar, selalu salah di mata orang dan akhirnya menjadi bahan bulan-bulanan. Kita yang mengalami hal itu seringkali menjadi pribadi yang randah diri, tidak percaya diri bahkan sulit menerima kebaikan orang lain. Kita bahkan menjadi cepat curiga terhadap perlakuan orang yang baik sekalipun. Kepada kita yang demikian, Yesus menyampaikan bahwa ada Allah yang ‘ mengangkat’ kita sebagai anak-Nya. Dalam kekudusan-Nya dan demi pembenaran dalam Kristus, Allah tidak mempersalahkan kita karena itu datanglah kepada-Nya dalam doa. Hanya doalah kita dapat berdiri sebagaimana adanya di hadapan Allah.
2.   Kita diarahkan untuk merasakan bahwa kita ini sudah atau sedang berada di dalam Kerajaan Allah. Bagi kita yang percaya, dunia tempat kita  sehari-hari adalah Kerajaan Allah.  Jika demikian maka kita seharusnya hidup berkecukupan dalam hal jasmani dan berkelimpahan dalam hal rohani. Inilah yang membuat kita tidak perlu meminta yang berkelebihan  dalam Kita diarahkan untuk merasakan bahwa kita ini sudah atau sedang berada di dalam Kerajaan Allah. Bagi kita yang percaya, dunia tempat kita  sehari-hari adalah Kerajaan Allah.  Jika demikian maka kita seharusnya hidup berkecukupan dalam hal jasmani dan berkelimpahan dalam hal rohani. Inilah yang membuat kita tidak perlu meminta yang berkelebihan  kepada Bapa melainkan mulai berpikir bahwa didalam Kerajaan Allah yang seharusnya terjadi adalah apa yang dikehendaki Allah bukan apa yang kita minta atau inginkan. Dalam hidup, kita mengalami banyak hal yang mengilhami kita untuk meminta hal itu kepada Tuhan tetapi dalam doa yang diajrkan Yesus, mari mulai meyakinkan diri bahwa semua yang kita butuh untuk menghadapi hidup sudah Tuhan sediakan tinggal kita bertaruh iman dengan selalu mengucapkan : “jadilah kehendak-MU...”
3.   Menyadari diri sebagai pendosa yang memerlukan pengampunan, kita sering meminta pengampunan kepada Allah namun pelit    dalam memberi ampunan kepada sesama. Secara sederha, Yesus mengajarkan kita bahwa hubungan yang penuh ampun  dari Bapa seharusnya terjadi juga antara kita dengan orang lain. Kita mendambakan suasana yang penuh kasih, penuh maklum, penuh pengertian dan akhirnya ampunan     ketika berhubungan dengan Bapa lewat doa.   Oleh karena itu ciptakanlah suasana yang sama ketika kita berhubungan dengan orang lain.
4.   Meyakinkan adanya jawaban terhadap permohonan kita bahwa Allah akan memberi yang terbaik bagi anak yang meminta kepada-Nya. Namun ada kalanya tidak semua doa dijawab Tuhan sesuai permintaan atau harapan kita. Pertanyaannya : salah di mana? Umumnya, kesalahan terletak pada pemahaman kita tentang doa. Berdoa yang kita pahami  adalah tindakan yang untuk meminta dan mendapatkan padahal dalam bacaan ini, Yesus mengajak  kita terlebih dahulu masuk ke dalam hubungan Bapa-anak, baru setelah itu kita akan mengetahui bagaimana sebenarnya cara pertimbangan sebenarnya cara atau pertimbangan Tuhan dalam menjawab doa.  SGD&SGD 2016,CTvM/SGRS

DOA; sangat besar kuasanya

YESUS MEMBUATMU BERHARGA