Diteguhkan oleh Roh untuk membaharui

Bacaan 2 Raja-Raja 18 : 1-8

Saudara  yang  dikasihi  Tuhan  Yesus  Kristus  ……..

  Hizkia dikenal sebagai seorang pembaharu dalam perjanjian lama. Bagaimana  Tuhan  memakai  kekuatan (karakter) Hizkia untuk pembaharuan ?  Kunci  yang kita temukan dalam bacaan  ini      ialah, bahwa  ia “melakukan apa yang benar dihadapan Tuhan.”  Melakukan apa yang di hadapan Tuhan berarti melakukan yang benar, nyaman atau tidak      nyaman.  Kita telah diajar tentang apa yang benar secara politis atau benar yang sesuai dengan norma umum.  Hizkia  melakukan yang benar dihadapan Tuhan — ia melakukan pembaharuan yang membawa umat  pada pertobatan dan taat kepada Tuhan, bukan kepada yang lain.       

      Ia “menjauhkan bukit-bukit pengorbanan dan meremukkan tugu - tugu       berhala dan menebang  tiang-tiang  berhala dan menghancurkan ular tembaga yang dibuat Musa.”  Pembaharuan itu berarti menyingkirkan apa-apa yang  menghalangi  atau  menjadi  batu  sandungan  dalam  hidup  umat  untuk  taat  kepada Tuhan.  Ada keberanian dalam diri Hizkia untuk  menyingkirkan,      meremukkan, menebang dan menghancurkan  apa - apa yang menghalangi  ketaatan dan pengabdian  kepada  Tuhan.     

      Bila  seseorang  sungguh  percaya  dan  taat  kepada  Tuhan,  maka  ia  mempunyai keyakinan mendalam tentang hal-hal yang benar.  Inilah  alasan dari “percaya” dan “taat”.  Kepercayaan dan ketaatan  pada Tuhan itulah yang   membuat  seseorang  berbeda - tampil beda, “tidak ada lagi yang sama seperti dia.”   Artinya, bahwa kepercayaan dan ketaatan pada Tuhan itu akan nampak dalam kesaksian hidup yang  utuh. Kepercayaan Hizkia menyediakan baginya arah dan Tuhan menyertai.           

      Bila  ada  sesuatu yang  diperlukan gereja untuk pembaharuan, maka          itu  adalah  mengetahui  ke arah  mana  Tuhan  mau  memimpin.  Hizkia          mengetahui  bahwa  ada hal-hal  yang  telah  merampas  pengabdian  total  kepada   Tuhan,  itulah  yang  ia  hancurkan.  Mungkin  ada  hal-hal  yang  telah merampas pengabdian   total  kita  kepada  Tuhan.  

PEMBERITA PEMBEBASAN


Bacaan Keluaran 6 : 1 – 18

Oleh sebab itu, pergilah Aku menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kau katakan. ” (Keluaran 4 :12)

            Ketika Presiden Barack Hussein Obama terpilih menjadi Presiden Amerika serikat, ada pendapat bahwa peristiwa sangat fenomenal,  karena Obama merupakan Presiden Amerika pertama yang beretnis negro, padahal kaum negro selalu jadi kelompok marjinal. Ada yang berpendapat hal tersebut terjadi karena track record Obama sebagai anggota Senat, yang memiliki kapabilitas, dedikasi dan intergritas yang tinggi. Gambaran tentang Obama direpresentasikan dengan motto kampanyenya: ”Yes, We Can”. Obama memotivasi banyak orang bahwa perubahan dapat terjadi sekalipun seolah tidak ada peluang untuk itu.
            Lain Obama lain pula Musa; Musa lahir dari lingkungan orang Ibrani yang terpinggirkan bahkan berada dalam ancaman genocide pada zaman Firaun. Nmaun, dalam situasi dan kondisi yang seolah tanpa harapan, Musa diselamatkan melalui tangan bidan, kasih ibunya,  dan kasih ibu ”mesir”nya. Situasi paradox yang dialaminya, tidak membuat Musa terlena dengan kenyamanan Istana Mesir. Musa dikehendali Allah menjadi Penyampai Berita Pembebasan bagi umat Allah. Apakah yang pertama-tama harus dibereskan oleh Musa? Bukan lobby kepada Firaun, atau kampanye kepada Israel, melainkan mengalami pembebasan dari Allah; dibebaskan dari ego, ketakutan, kedangkalan, serta keterbatasannya. Seorang Pemberita Pembebasan dalam arti yang sesungguhnya, tak ada bedanya dengan seorang entertainer yang memberi penghiburan semu atau politisi opportunis yang sering memberi janji kosong. Seorang Pemberita Pembebasan adalah orang yang mau dibebaskan untuk membebaskan orang lain.
            Tanggal 15 Juli, 60 tahun lalu di Bubutan – Surabaya, dalam Konferensi Pemuda GPIB, lahirlah  satu Pilar Pelayanan yaitu GERAKAN PEMUDA GPIB. Sebuah peristiwa penting yang hendak menyatakan bahwa ada karya Allah dalam gereja-NYA melalui orang mudaNya. Gerakan Pemuda adalah wadah pribadi Muda yang telah mengalami Pembebasan Allah dan siap dipakaiNYA memberitakan Pembebasan Allah bagi banyak orang. Soli Deo Gloria!!! Happy Blessed Birthday GP GPIB!! (arp)

DITUNTUN OLEH ROH UNTUK TAAT


Bacaan 1 Raja-Raja 20 : 35 – 37

Saudara ........
Banyak cara Allah untuk menyatakan kehendakNya kepada manusia, tetapi karena keterbatasan manusia maka cara Allah sering sulit dimengerti. Oleh karena itu, Allah sealu memberikan penjelasan melalui kejadian nyata disekitar manusia, agar manusia dituntun untuk memahami cara Allah menyatakan kehendakNya.
            Contohnya tampak dalam bacaan kita. Sesuai perintah Tuhan, salah seorang nabi menyuruh temannya untuk memukul dirinya. Nabi yang diminta memukul, tidak mau memukul, karena merasa bahwa itu bukan perbuatan yang baik. Anehnya, bahwa justru nabi yang tidak mau memeukul temannya tersebut menerima hukuman, yaitu dimakan binatang. Bacaan saat ini mengajarkan kepada kita bahwa melaksanakan kehendak Tuhan tidak tergantung pada kemampuan kita untuk mengerti kehendak Tuhan, Firman Tuhan tetap harus dilaksanakan, karena dengan melaksanakan kebenaran Firman Tuhan, kita sedang merancang dan membangun kehidupan masa depan.
            Melangkah dalam pimpinan Tuhan membuat setiap langkah yang kita ayunkan adalah langkah iman. Langkah iman yang kita ayunkan dapat saja membuat orang lain menjadi sakit, tetapi dapat juga membuat kita sendiri sakit dan menderita atau berada pada situasi yang tidak enak. Yang penting di sini adalah lakukanlah kehendak Tuhan, maka kita akan membangun masa depan dalam pimpinan Roh Allah.
Saudara yang Tuhan Kasihi...
Allah turun ke dunia menjadi manusia, merupakan cara penyelamatan Allah yang sulit dimengerti oleh akal kita. Allah menjelaskan bahwa tindakan penyelamatan itu membawa manusia memahami Allah yang tidak terbatas dan kekal. Melalui tindakan Allah menjadi manusia, manusia di tuntun untuk Mengenal Allah.
            Memahami kehendak Allah kalau tidak dengan pimpinan Roh Allah sering kita tidak mengerti. Oleh karena itu, manusia dipenggil untuk berjalan dalam tuntunan Roh Allah, sehingga dalam keterbatasan, kita dimampukan untuk mengerti Allah dan cara Allah menyatakan kehendakNya. Dengan mengerti Allah dan cara Allah menyatakan kehendakNya, maka langkah kita ke depan adalah langkah membangun bersama Allah.
            Ketika nabi bertemu orang dan ia menyuruh orang tersebut memukul dirinya, maka orang yang disuruh langsung memukul, sehingga nabi mengalami memar di mata. Memar yang dialami adalah dalam rangka melakukan kehendak Allah, yaitu supaya ia tidak dikenali oleh raja Ahab. Dengan demikian, pada waktu ia berbicara menyampaikan Firman Tuhan, Ahab tidak menerima Firman Tuhan karena yang menyampaikan firman tersebut bukanlah seorang nabi. Dalam hal ini kita dapat belajar bahwa rencana Allah tak pernah dapat digagalkan oleh kelemahan dan keberdosaan manusia. Jika Allah mau menyatakan kehendakNya, Allah justru dapat memakai manusia berdosa untuk menyatakan kehendakNya. Sama halnya dengan keledai Bileam. Keledai yang tidak memiliki akal justru dipakai Allah untuk menegur Bileam agar melaksanakan tugas dengan akalnya. Dengan cara tersebut, Bileam diajak untuk melihat bahwa Allah tidak dapat dilawan. Hal lain yang dapat kita pelajari dari pokok ini adalah bahwa kita tidak dapat memakai pikiran kita untuk menyaring Firman Tuhan. Yang dapat kita lakukan adalah menyerahkan pikiran kita untuk diproses dengan kekuatan dan kuasa Firman Tuhan.
            Orang yang memukkul dan nabi yang menerima pukulan, semuanya melakukan kehendak Tuhan, meskipun tidak mengenakkan. Di sinilah kita belajar bahwa sebagai orang yang dipakai dan dipilih Allah, kita jangan mempersoalkan situasi enak atau tidak enak, tetapi konsentrasikan diri hanya kepada Allah. Dengan demikian, situasi enak atau tidak enak yang muncul dalam melaksanakan tugas panggilan sebagai orang percaya akan menjadi berkat bagi semua kita.
            Dengan banyak cara, Allah menegur Ahab. Nabi yang dipukul sampai memar dipakai Allah untuk mengingatkan Ahab bahwa jika ia tidak mendengar Firman Tuhan dan melakukan kehendakNya, maka ia juga akan dipukul. Di sinilah kita melihat kasih Allah, bahwa Allah tidak pernah jemu-jemu mengingatkan manusia dengan berbagai cara agar manusia berjalan sesuai dengan kehendak Allah. Allah juga selalu berusaha dengan berbagai cara supaya manusia selamat.
            Belajar dari cerita ini, marilah kita menjadi umat yang selalu mendengar dan melakukan kebenaran Firman Tuhan  agar kita meyakini bahwa Firman Tuhan sangat berkuasa.

PESAN DEWAN PEMUDA HUT GERAKAN PEMUDA GPIB KE 60


Syalom,
Perjalanan panjang yang telah kita tempuh bersama sepanjang enam dasawarsa ini menimbulkan decak kagum betapa kuasa Tuhan sungguh tak terbendung. Kita telah merasakan pimpinan Tuhan dalam setiap langkah yang kita jejakkan. Kita telah mengalami rengkuhan kasih Tuhan dalam setiap karya yang kita nyatakan. Maka tak putusnya ungkapan syukur kita haturkan untuk semua itu.
Berkenaan dengan itu, sudah selayaknya momen ini kita warnai dengan suasana sukacita  tanpa meninggalkan sikap peduli kita atas berbagai pergumulan yang acapkali dihadapi warga GP di seluruh jajaran pelayanannya. Selain itu, momen usia “intan” ini merupakan titik berangkat dalam memandang masa depan BPK GP GPIB saat memaknai panggilan dan pengutusannya. Adakah kemilaunya merupakan refleksi cahaya kasih Tuhan di tubuh BPK GP GPIB  atau sekadar gemerlap yang menyilaukan namun tanpa makna?  Untuk itu dituntut adanya karya nyata dalam setiap gerak kita sehingga kemilaunya dapat dinikmati orang lain, yang menimbulkan rasa aman, yang memunculkan seulas senyum, yang membuat nama Tuhan semakin dimuliakan.
Di dalam mengingatrayakan usia pemeliharaan Tuhan dalam kurun waktu 60 tahun ini kami pun hendak berbagi sukacita itu melalui sejumlah kegiatan berskala sinodal, di antaranya Bina Pengurus tahap II dalam rangka menjaga kesinambungan pembinaan pada tahap sebelumnya, yang akan memperlengkapi para pengurus dalam melaksanakan tugas dan pelayanannya di masing-masing jemaat. Bersamaan dengan itu kami juga ingin menyatakan kepedulian kami bersama masyarakat di sebuah perkampungan nelayan yang membutuhkan bantuan pengobatan. Pada puncaknya kami akan menggelar ibadah syukur yang menampilkan berbagai potensi seni para warga GP yang akan merefleksikan karya Tuhan melalui sebuah drama musikal.  Ini semua tentunya kami laksanakan demi kebersamaan persekutuan kita, yang akan secara padu menaikkan rasa syukur kita kepada Kristus, Sang Pemuda Agung. Kami pun berharap di tingkat jemaat maupun Mupel, cahaya kasih Tuhan dapat pula kita bagikan kepada mereka yang membutuhkannya melalui rangkaian kegiatan HUT ke-60 BPK GP GPIB di seluruh jajaran pelayanannya.
Tahun ini pula tengah berlangsung persiapan Persidangan Sinode XIX yang akan digelar di Ibukota beberapa bulan menjelang, sehingga seluruh perhatian jemaat  mengarah ke sana, mengingat di momen ini pun sedang dipersiapkan perelevansian Tata Gereja GPIB, yang diharapkan akan dapat mengawal  gerak pelayanan GPIB di masa mendatang dengan bermacam tantangannya. Untuk itu, di tengah kebersamaan ini, kami pun mengajak kita semua memberikan dukungan penuh atas penyelenggaraan perhelatan lima tahunan itu.
Akhirnya, Dewan Gerakan Pemuda GPIB hendak menghaturkan terima kasih yang tak terhingga atas segala peran serta dan dukungan yang telah kami rasakan selama periode pelayanan kami sejak tahun 2005. Itu semua sangat membentuk kami, sangat memiliki arti tersendiri. Setelah sekian banyak jejak kami pijak, setelah berbagai hal kami alami, kami menyadari bahwa keindahan kebersamaan di tubuh BPK GP GPIB memiliki kekuatan tersendiri dalam menapaki panggilan dan pengutusan Tuhan ini. Tentu saja ladang pelayanan masih perlu terus digarap. Dengan mengandalkan kekuatan dari Tuhan, akan banyak yang bisa kita lakukan bagi teman-teman kita yang butuh perhatian kita. Mereka yang tersisih dari lingkungan sebagai ODHA, mereka yang belum lepas dari jerat NAPZA, mereka yang bergumul di tengah persaingan kerja dan usaha; mereka butuh cahaya kasih Tuhan yang mesti kita pancarkan dalam pelayanan kita.
Dirgahayu BPK GP GPIB! Tuhan memberkati gerak pelayanan kita!

Teriring salam dan doa,
medio Juli 2010,

Majelis Sinode GPIB,

Dewan Pemuda GPIB 2005-2010,
Leopold Worotikan – Valery Siwy - Raymond Soedira Gloria Utami - Eden Siahaan
Devy Jose - Milkha Seruya

ROH TUHAN SUMBER KEKUATAN UMAT TUHAN


 Bacaan Yesaya 61 : 1-3
Saudara........
Orang sering mudah melupakan pengalaman tertentu, apalagi kalau sudah sibuk dengan hal-hal yang tidak berhubungan dengan pengalaman tertentu tadi. Itu biasa dan manusiawi saja. Termasuk dalam hal ini adalah pengalaman tentang kelepasan atau pembebasan dari situasi yang tidak menyenangkan. Padahal kalau saja mereka mencoba mengingatnya, maka ada peluang mereka dapat menyingkapi situasi itu dengan lebih baik.
            Itu yang terjadi dengan bangsa Yahudi yang berada dalam pembuangan di Babylonia. Pembuangan adalah suatu kehinaan. Bagaimana tidak? Mereka adalah umat dari TUHAN yang telah membuktikan dalam sejarah mereka bahwa Tuhan mereka adalah Tuhan yang Maha Kuasa. Dialah Tuhan yang berhasil membawa mereka keluar dari perbudakan di Mesir; bangsa adikuasa yang telah memperbudak mereka. Dia adalah TUHAN yang tak terkalahkan, Tuhan semesta alam. Tetapi ketika mereka dibuang ke Babylonia, dapat dibayangkan, betapa terhinanya mereka. Bisakah Tuhan semesta alam dikalahkan olleh bangsa Babel? Benarkah itu yang terjadi? Benarkah Tuhan kalah dengan dewa-dewa bangsa Babel?
            Sebenarnya, bukan TUHAN mereka yang kalah dengan dewa-dewa Babel. Bangsa Yahudi sendiri yang bersalah kepada TUHAN karena melakukan dosa, yaitu memperkenankan dewa-dewa asing masuk dalam kehidupan mereka. Dosa terbesar dilakukan oleh Raja Manasye (2 Raja-raja 21:1-17) yang memperkenankan dewa-dewa bangsa Asyur masuk dalam Bait Allah. Itulah sebab utama dalam pemahaman mereka mengapa mereka dibuang. Ketidaksetiaan mereka terhadap TUHAN menyebabkan mereka dihukum TUHAN. Sebab ketika mereka meninggalkan TUHAN mereka, hancurlah mereka. Bangsa-bangsa lain dengan mudah datang menghancurkan mereka, menjajah dan menghina mereka. Bait Allah yang merupakan lambang keberadaan TUHAN dalam kehidupan bangsa Yahudi dihancur-luluhkan rata dengan tanah. Kesedihan terbesar dirasakan dengan pahit. Di manakah TUHAN ketika itu terjadi?  TUHAN tidak ada bersama mereka. Dibuanglah mereka ke Babel, terutama para pemimpinnya. Mereka meninggalkan Yerusalem, kota kediaman TUHAN mereka. Dalam pembuangan mereka harus menghadapi kenyataan menjadi bangsa yang terjajah dan tidak dihargai lagi. Terhina dan terpuruk itulah keadaan mereka. Bangsa yang dahulu pernah dianggap sebagai umat pilihan TUHAN sekarang menjadi bangsa jajahan. Betapa terhinanya mereka. Tidak memiliki harga diri dan sama sekali tak berdaya. Mungkin mereka bisa sukses berbinis dan berusaha di pembuangan itu, akan tetapi apa artinya kalau itu tidak mendatangkan harga diri sebagai suatu bangsa merdeka.
            Sementara kalangan atas di buang ke Babel, kalangan bawah rakyat kecil yang ditinggalkan di Yerusalem hanya bisa beribadah di reruntuhan Bait Allah itu dengan pusat ibadahnya di Batu Karang Sakral (sacred rock). Kemiskinan mereka memperburuk keadaan penjajahan mereka.
            Dengan latarbelakang dan dalam suasana terpuruk dan terhina seperti itulah, Nabi Yesaya datang dan memberithukan janji TUHAN bagi bangsa Yahudi.
”Roh TUHAN Allah ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan dan kepada orang-orang  yang terkurung kelepasan dari penjara.” (ayat 1).

            Sumber kekuatan Nabi Yesaya adalah Roh TUHAN Allah. Kalau nabi berani datang dan bernubuat kepada bangsa Yahudi yang tertawan di Babel, maka itu hanya dimungkinkan oleh kekuatan yang dimilikinya, yaitu Roh TUHAN Allah. Roh TUHAN adalah TUHAN sendiri. Ia hanya bisa bernubuat karena ia diperlengkapi  dengan senjata yang ampuh, yaitu Roh TUHAN Allah. Inilah landasan kokoh bagi pekerjaan TUHAN. TUHAN tidak akan bisa bekerja dengan seseorang kalau orang itu tidak berada dalam satu pemahaman dan satu keadaan dengan TUHAN. Itu hanya terjadi ketika orang itu dipenuhi oleh Roh TUHAN. Karena itu, ia dapat memahami dan menyatakan kehendak TUHAN.  Itu hanya bisa terjadi karena ia telah diurapi TUHAN. Pengurapan adalah tindakan pemberian Roh TUHAN. Pengurapan itu terjadi supaya nabi dimampukan melakukan tugas TUHAN. Tugas tersebut adalah : menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, merawat orang-orang yang remuk hati.
            Bangsa Yahudi yang tertawan dan terhina, baik yang berada di pembuangan di Babel maupun yang tersisa di Yerusalem adalah mereka yang tertawan dan remuk hati ini. Nabi datang bagi mereka dengan kuasa TUHAN. Kepada mereka ada kabar baik, yaitu pembebasan sudah tiba dan masa kegelapan dalam penjara telah lewat. Itulah kabar dari TUHAN.
”untuk memberitakan tahun rahmat TUHAN dan hari pembebasan Allah kita untuk menghibur semua orang berkabung.” (ayat 2).

Tahun rahmat TUHAN adalah masa ketika TUHAN hadir dalam kehidupan bangsa Israel dan bangsa Yahudi dengan segala kemakmuran dan kesejahteraan yang berasal dari TUHAN. TUHAN hadir dalam kehidupan nyata bangsa Israel, tidak lagi lewat perintah para raja manusia yang banyak sekali mendatangkan kesengsaraan dan penderitaan. Mereka memungut pajak, menggunakan kekuasaan secara sewenang-wenang dan menindas rakyat kecil, dsbnya. Tahun Rahmat TUHAN adalah masa ketika TUHAN memerintah bangsa Israel lewat hamba-hamba TUHAN sendiri seperti halnya Samuel tanpa pajak dan penindasan seperti halnya yang dilakukan oleh raja-raja. Bagi bangsa Yahudi yang berada di pembuangan di Babel dan yang tersisa di Yerusalem, sudah tentu ini berita terindah yang dapat mereka harapkan.

”untuk mengaruniakan kepada mereka perhiasan kepala ganti abu, minyak untuk pesta ganti kain kabung, nyanyian puji-pujian ganti semangat yang pudar, supaya orang menyebutkan mereka ”pohon terbantin kebenaran,” ”tanaman TUHAN” untuk memperlihatkan keagunganNya.” (ayat 3 ).

Suatu masa depan yang indah dan menyenangkan adalah bagian dari kehidupan bangsa Yahudi setelah pembuangan. Itu dilukiskan dengan ungkapan-ungkapan berikut. Abu yang selama ini digunakan di dahi sebagai tanda perkabungan karena pembuangn, digantikan dengan perhiasan di kepala yang biasa digunakan untuk pesta. Tidak ada lagi kedukaan, tetapi sukacita. Pesta itu tambah semarak karena kain kabung akibat pembuangan akan digantikan dengan minyak. Juga nyanyian puji-pujian menggantikan semangat yang pudar karena tidak ada harapan akan kelepasan. Semua kedukaan akan hilang digantikan sukacita besar. Oleh sebab itu, bangsa Yahudi akan disebut ”pohon tarbantin kebenaran,” tanaman TUHAN.”  Mereka bukan lagi pohan anggur yang ditebang dan dibakar, tetapi pohon rindang yang menghasilkan kebenaran TUHAN selalu. Tidak ada lagi penindasan atau dosa dewa-dewa asing. Hanya TUHAN saja Allah mereka.
            Yang diharapkan TUHAN dari semuanya ini, yaitu pembebasan, sukacita dan pesta pora itu bukan untuk dinikmati oleh bangsa Yahudi sendiri. Tetapi kalau itu dikaruniakan TUHAN kepada mereka, mereka harus sadar bahwa itu TUHAN lakukan supaya nampak keagunganNYa, supaya TUHAN yang dimuliakan bukan hanya bagi kesenangan bangsa Yahudi.
            Pembuangan terjadi karena kehidupan mereka tidak lagi taat kepada hukum TUHAN. Tidak taat kepada hukum TUHAN sama dengan tidak memperlihatkan keagungan TUHAN. Mereka telah merubah tujuan keterpilihan mereka sebagai umat TUHAN. Mereka tidak memperlihatkan keagungan TUHAN, tetpai keagungan diri sendiri. Ketika keagungan TUHAN sudah digantikan dengan kemuliaan diri sendiri dengan menindas yang lemah, maka disitulah awal kehancuran umat TUHAN. Itu terjadi karena Roh TUHAN sudah tidak lagi mereka miliki. Roh kesenangan dan kepuasan diri sendiri sudah menggantikan Roh TUHAN. Karenanya dapat dipahami bahwa TUHAN mengutus Nabi Yesaya dengan Roh-Nya.
            Gereja terancam melanjutkan kesalahan yang sama dengan bangsa Yahudi, ketika yang menjadi pusat perhatian mereka hanya melayani diri sendiri dan tidak mau melihat ke sesamanya yang membuthkan. Perhatian kepada sesamanya yang membuthkan itulah wujud dari menyatakan keagungan TUHAN. ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk seseorang dari yang paling hina ini, kamu tidak malakukannya juga untuk Aku.” (Matius 25:44).   ------J.T----SGD-----

JALANI HIDUPMU DALAM KEBENARAN TUHAN


Bacaan Amsal 11 : 1 – 6
            Kitab Amsal merupakan suatu kumpulan ajaran tentang cara hidup yang baik. Ajaran-ajaran itu diungkapkan dalam bentuk petuah, peribahasa dan pepatah. Kebanyakan diantaranya menyangkut persoalan-persoalan yang timbul dalam hidup sehari-hari. Selain tentang cara-cara hidup yang baik, kitab ini mengajar orang untuk memakai pikiran sehat dan bersikap santun. Melalui peribahasanya, kita dapat melihat betapa dalamnya pengetahuan guru-guru Israel zaman dahulu mengenai sikap dan tindakan orang bijaksana dalam keadaan-keadaan tertentu. Petuah-petuah itu menyangkut berbagai bidang, termasuk hubungan dalam keluarga, urusan dagang, sopan santun dalam pergaulan, perlunya menguasai diri dsb.
            Memahami isi kitab Amsal berbeda dengan memahami kitab-kitab lain yang berisi cerita, sejarah atau surat-surat rasul sebab pengertian tiap kalimatnya ”terlepas” satu dengan yang lain. Bila di awal kalimat dimulai dengan pernyataan negatif maka pada bagian berikutnya pernyataan positif, atau sebaliknya. Untuk itu kita perlu melihat dan membahasnya ayat per ayat dengan pengertiannya masing-masing.

”Neraca serong adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi IA berkenan akan batu timbangan yang tepat.” (ayat 1)

Bahwa dalam melakukan kegiatan hidupnya, manusia tidak pernah luput dari pandangan Allah. Oleh karena itu apa pun yang dilakukannya, tidak boleh dilakukan dengan sembarangan, apalagi diwarnai kecurangan. Agar cepat kaya, ada sekelompok orang yang nekad berbuat jahat dan merugikan orang lain. Hal itu merupakan ”kekejian” bukan hanya bagi manusia tetapi terlebih lagi bagi TUHAN.  Ia tidak akan membiarkan hal itu terus menerus berlangsung. Pada waktu-Nya, Tuhan akan bertindak sehingga segala kebusukan dan kejahatan manusia yang tersembunyi akan terbongkar. Tuhan ingin manusia selalu hidup dalam kejujuran demi mencapai kesejahteraan, walaupun untuk itu diperlukan waktu yang panjang dan sarat dengan tantangan.

”Jikalau keangkuhan tiba, tiba juga cemooh, tetapi hikmat ada pada orang yang rendah hati.” (ayat 2)

Dalam kehidupan sehari-hari, bila ada orang yang bersikap sombong, pasti ada orang lain yang akan mencemooh orang yang sombong tersebut. Inilah reaksi normal manusia. Semua manusia pada dasarnya ingin dihargai, bukan direndahkan. Sedangkan orang yang sombong justru ingin meninggikan dirinya ia justru yang mendapat cemoohan. Sebaliknya, orang yang rendah hati biasanya disukai sebab ia mampu menghargai orang lain dan tidak suka meninggikan dirinya. Oleh karenanya ia akan dihargai dan disegani oleh siapa pun juga.

Orang yang jujur dipimpin oleh ketulusannya, tetapi pengkhianat dirusak oleh kecurangannya.” (ayat 3)

Kejujuran biasanya berjalan seiring dengan ketulusan. Sebab perkataan dan sikap jujur biasanya lahir dari hati yang tulus. Sebaliknya, orang yang hatinya tidak tulus , biasanya sulit untuk berkata dan bersikap jujur. Orang seperti ini pada umumnya suka berlaku curang dan selalu ingin mencari keuntungan bagi diri sendiri, karena itu menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan, bahkan menjadi seorang pengkhianat pun ia rela.
Sebaliknya, orang yang berhati tulus dan jujur tidak akan sanggup berkhianat demi apa pun. Karena hal itu sangat bertentangan dengan hati nuraninya sendiri dan tentu akan menyiksa dirinya.

”Pada hari kemurkaan harta tidak berguna, tetapi kebenaran melepaskan orang dari maut.” (ayat 4)

Pemahaman ini sangat khas Yahudi, bahwa manusia diselamatkan oleh amal baktinya semasa hidup. Perlu diingat bahwa kitab Amsal memang ditulis pada zaman perjanjian lama, jauh sebelum Kristus. Ungkapan ”Pada hari kemurkaan” menunjukkan pada malapetaka yang datang tiba-tiba, atau hari ajal, atau ”hari Tuhan” yang sering dikatakan para nabi. Pada waktu itu, yang akan menolong adalah ’kebenaran’ bukan kekayaan. Bagi orang Kristen, keselamatan kita terima hanya di dalam dan melalui Tuhan Yesus Kristus dan oleh sebab itu kita juga dipanggil untuk berlaku dan hidup dalam kebenaranNya setiap saat.

Jalan orang saleh diratakan oleh kebenarannya, tetapi orang fasik jatuh karena kefasikannya.” (ayat 5 )

Sebutan ’orang saleh’ dalam hal ini berarti orang yang tidak bersalah, bersih, jujur dan berhati tulus tentunya. Berkaitan dengan ayat 3, karena perkataan dan sikapnya yang jujur, seseorang akan disenangi oleh siapa pun dan jika ia bepergian, banyak orang yang akan menolong. Sebaliknya, bila seorang ’fasik’ atau jahat maka ia selalu membuat hal-hal yang menjengkelkan orang lain dan karena justru banyak yang akan merintangi jalannya.

”Orang yang jujur dilepaskan oleh kebenarannya, tetapi pengkhianat tertangkap oleh nafsunya.” (ayat 6)

Orang yang selalu berusaha berkata dan bertindak jujur walaupun menghadapi orang-orang jahat di dunia ini, akan selalu mendapat jalan keluar karena pertolongan Tuhan. Tetapi lain halnya dengan para ’Pengkhianat’ yang selalu terjerat oleh berbagai keinginannya yang jahat dan pada akhirnya melilit dan mencelakakan dirinya sendiri. Dalam Hosea 8:7 tertulis, ”siapa menabur angin, ia akan menuai puting beliung”. Itu berarti setiap orang yang dengan sadar melakukan hal-hal yang jahat, akan menuai hasil yang menyakitkan bagi dirinya sendiri.

Sebagai kesimpulan dari semua pengajaran ini, Amsal mengingatkan kita selaku umat Tuhan di mana pun dan dalam keadaan apa pun, hendaknya kita tetap menjunjung tinggi ”kebenaran Tuhan”. Jagalah diri kita untuk tetap hidup dalam ketulusan dan kejujuran. Dengan menjalani hidup yang demikian, pertolongan dan kehadiran Tuhan akan selalu kita alami. Kita pun akan membawa damai sejahtera dan sukacita serta menjadi berkat bagi sesama. Selamat berjuang dan praktekkanlah pengajaran yang indah ini daloam kehidupanmu, setiap kata-kata.






PERAYAAN MEMBAHARUI IMAN


Bacaan Ulangan 16:1-6

Setiap perayaan agama memiliki nilai-nilai penting bagi pemeluk agama itu sendiri. Tetapi, lambat laun perayaan-perayaan agama itu sudah menjadi sebuah tradisi atau formalitas belaka. Dewasa ini perayaan-perayaan agama lebih mengarah kepada materialisme dan konsumerisme daripada nilai-nilai spiritualnya. Bagi GPIB, bulan juni adalah Bulan Pelayanan dan Kesaksian (PelKes). Perayaan Bulan Pelayanan dan Kesaksian tidak cukup hanya diwujudkan melalui ibadah atau pergi ke Pos-Pos Pelayanan dengan membawa berbagai bantuan. Perayaan Bulan pelayanan dan kesaksian ini juga harus diwujudkan dilingkungan di mana kita berada. Pelayanan dan Kesaksian itu tidak hanya dibutuhkan di desa-desa, tetapi di kota juga membutuhkan Pelayanan dan Kesaksian kita melalui perilaku kita yang berkeadilan bagi semua orang, bagi keluarga, persekutuan dan masyarakat di mana kita berada.
            Perayaan-perayaan agama bagi umat Israel sangat berarti bagi pembaruan iman umat. Itulah sebabnya, Allah memerintahkan umat Israel untuk senantiasa merayakan perayaan agama. Tiap perayaan memiliki keunikan dan maknanya masing-masing, namun dengan tujuan yang sama, yaitu agar umat menyadari semua Kasih dan Kebaikan Tuhan dan hidup sesuai dengan perintah Tuhan. Khususnya perayaan Paskah bermaksud untuk mengingatkan kembali peristiwa keluaran dari Mesir. Dalam perayaan ini umat harus melakukan kegiatan-kegiatan ritual seperti mempersembahkan korban hewan, sebagai tindakan simbolis dari penyerahan diri umat kepada Allah Israel satu-satunya. Uniknya, kegiatan ini harus dilakukan di tempat yang dipilih Allah. Pemusatan ibadah di tempat yang dipilih Allah ini bertujuan agar umat tidak memiliki hati dan sikap  bercabang. Melalui merayakan Paskah itu hati, pikiran dan jiwa umat ditujukan kepada Allah saja yang telah membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir. Umat diingatkan untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang bertentangan dengan jalan Tuhan, sesuai dengan berbagai ketetapan, peraturan dan hukum yang relevan pada waktu itu.
            Dari firman Tuhan ini jelas bagi kita bahwa setiap perayaan yang kita rayakan, ulang tahun, ulang tahun perkawinan, ulang tahun Gereja, hari-hari raya Gerejawi, dan seterusnya harus mendatangkan makna iman, iman kita terus dibaharui. Jika tidak demikian, maka perayaan-perayaan yang kita rayakan akan habis begitu saja. Pada umumnya, ketika sedang merayakan sebuah perayaan, sukacita, kebahagiaan, damai sejahtera kita alami. Tetapi setelah perayaan itu berlalu kita kembali hidup seperti orang yang tidak memiliki pengharapan, tidak ada semangat untuk maju dan berkembang, tidak ada semangat membangun dan seterusnya.
            Kasih dan Kebaikan Tuhan tidak pernah jauh dari kehidupan orang yang percaya kepada Tuhan dan yang melakukan semua perintahNya. Ketaatan pada perintah dan ketetapan Tuhan bukan supaya Kasih dan Kebaikan Tuhan itu terus mengalir di dalam kehidupan orang percaya. Tetapi, karena Tuhan telah memberikan Kasih dan KebaikanNya, maka orang percaya itu mendengar dan melaksanakan semua perintah dan kehendak TUHAN. Wujudkanlah Kasih dan Kebaikan Tuhan itu, mulai dari orang-orang terdekat kita, yaitu keluarga. Bukankah kita semua menghendaki kehidupan keluarga yang bahagia, ada keadilan, ada damai sejahtera  dan ada sukacita? Kehidupan yang diwarnai dengan kebahagiaan bukanlah terletak pada harta milik, pangkat atau jabatan serta usaha manusia, tetapi dalam kehidupan yang mensyukuri Kasih dan Kebaikan Tuhan dalam kehidupan kita. Apa artinya sebuah kesuksesan, harta yang melimpah, jabatan yang dihormati tetapi tidak dapat menikmatinya dengan kebahagiaan?
            Dalam bulan Pelayanan dan Kesaksian ini, marilah kita selaku warga GPIB pertama-tama mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan dalam kehidupan kita dan sesudah itu kita nyatakan dalam kehidupan bersama keluarga, jemaat maupun masyarakat. Dengan cara seperti itu, iman kita kepada Tuhan Yesus akan terus diperbaharui.

PEDULI KEPADA SESAMA


Bacaan Amsal 3 : 27 – 28

            Manusia tidak hidup seorang diri. Sejak semula manusia diciptakan dalam kebersamaan. Ia diberi pendamping yang sepadan dalam hubungan yang saling menopang dan saling menghargai. Selalu ada hubungan dengan orang lain, sesama, entah dalam rumah tangga, dengan tetangga, dalam kerja, dalam perjalanan dan pertemuan. Hubungan itu bisa antara orang tua dan anak, atasan dan bawahan, antara sahabat, antara pribumi dan orang asing, entah langsung berhadapan muka atau lewat komunikasi elektronik. Interaksi tidak dapat dihindari, suatu hubungan timbal balik.
            Ada selalu yang membutuhkan bantuan dan yang rela memberi bantuan. Sejak dini seseorang dibantu oleh orang tua, oleh pendidik dan pembina, dan dibekali pengalaman dalam hubungan dengan orang lain. Setinggi apa pun jabatan, seseorang tak akan dapat menjalankan tugasnya tanpa asistensi. Sekalipun orang bunuh diri, selalu ada penyebabnya yang berkaitan dengan orang lain. Orang tidak dapat menghindar dari relasi dengan sesama. Memang orang dapat mengasingkan diri, menyepi, karena kecewa atau putus asa, atau untuk tujuan spiritual, tetapi sekali kelak ia akan berhubungan lagi, bersosialisasi. Itu kodrat, bagian dari kehidupan manusia itu sendiri. Kristus sendiri datang, manjadi manusia (Yohanes 1:14) menjadi sesama, yang menyapa dan disapa.
            Kata ’salign’ muncul dalam hubungan timbal balik itu, seperti memberi dan menerima, permintaan dan penawaran, pertobatan dan pengampunan, kejahatan dan pembalasan atas hukuman, perbuatan baik dan pahala, kemurahan dan rasa syukur, produsen dan konsumen. Sebab akibat seperti itu terjadi pula dalam alam semesta : karena pencemaran yang semakin meningkat, terjadi iklim yang semakin memanas di seluruh dunia, sehinggaa gunung-gunung es di kutub mencair dan naiklah permukaan laut. Setiap segi terjalin dengan segi yang lain, dalam suatu keseimbangan yang menakjubkan. Dalam hubungan antar sesama keseimbangan itu pula terjadi, kata rasul Paulus (2 Korintus 8:13-15). Kita harus rela berbagi segala karunia yang diberikan Tuhan kepada Kita.Kita tergantung pada kemurahan Tuhan (Amsal 3:5-8).
            Memang setiap orang punya ’harga diri’ dan ’kepentingan’. Itu tak dapat disangkaal, sebagaimana ungkapan. ”Ini dadaku, mana dadamu!”, ucapan seorang pemimpin bangsa. Ada harga diri dan kebanggaan diri dalam ucapan itu, yang sekaligus menantang. Keakuan itu bisa begitu kental, entah dalam soal makanan, harta, kuasa, yang menutup segala kemungkinan peran orang lain. Orang bisa saja menyebutnya watak, namun sifat itu mengingkari hakekat hidup bersama. Amanat hidup itu ialah ’berbagi segala karunia Tuhan’, menjadi berkat, bukan laknat.
            Kedatangan Tuhan ke dalam dunia dalam wujud ’manusia’, karena kepedulianNYA kepada umat manusia (Yohanes 3:16), harus dapat dijadikan teladan dan dorongan bagi setiap insan beriman dalam hubungan dengan sesama.

YESUS MERINDUKAN KESATUAN UMAT


Minggu, 06 Juni 2010
Bacaan Alkitab Yohanes 17 : 6 – 21

            Yesus adalah satu-satunya pemimpin di dunia yang tidak hanya berpikir tentang kepemimpinan yang berhasil di masa kini, tetapi juga di masa depan. Yang dimaksud di sini, tentu, adalah kepemimpinan Kristen yang terkait dengan tugas pemberitaan Injil seperti diteladankaan oleh Yesus, dan kelak akan dilanjutkan oleh para murid dan pengikutNya. Yesus juga adalah satu-satunya pemimpin di dunia yang sejak awal memiliki visi dan misi untuk mempersatukan umat manusia di dunia. Sebab tanpa persatuan dan kesatuan, tugas apa pun, terlebih tugas pemberitaan firman, tidak akan terlaksana dan mencapai hasil yang baik. Hal tersebut nyata di dalam seluruh karya pelayanan Yesus sejak dari Galilea sampai di Yerusalem; juga tampak dalam doa yang dipanjatkan Yesus kepada Bapa-Nya seperti dicatat oleh penginjil Yohanes.
            Persatuan dan kesatuan yang Yesus perjuangkan melintasi batas-batas primordial: suku, bahasa serta status sosial. Artinya, Yesus tidak mempersatukan semua orang dalam satu suku, bangsa, bahasa atau status sosial tertentu. Misalnya, Yesus adalah seorang Yahudi. Tetapi Yesus tidak berusaha menjadikan semua orang yang mengikutiNya sebagai orang Yahudi. Yesus menerima dan menghargai semua orang dalam segala keperlbagaian mereka, dan menjadikan mereka sebagai umat milik Allah. Dengan kalimat lain, Yesus melakukan transformasi identitas, idiologi, sosial dari para murid dan pengikutNya. Yaitu orang-orang yang telah mendengar firman yang disampaikan oleh Yesus serta menerima dan  percaya bahwa Yesus adalah utusan Allah. Yesus menjadikan mereka semua sebagai umat milik Allah yang hidup dalam Kerajaan Allah dan memiliki hidup kekal.
            Mengapa Yesus berdoa kepada Allah, BapaNya? Jawabanya terkait dengan hari kematian Yeus yang sudah dekat. Yesus sadar bahwa jika Ia tidaak ada lagi bersama para murid dan pengikutNya maka tantangan dan kesulitan dunia akan membuat mereka tercerai-berai. Sebab seperti Yesus bukan berasal dari dunia  sehingga dunia membenciNya maka para murid dan pengikutNya pun akan dibenci oleh dunia sebab mereka ada di dunia tetapi bukan berasal dari dunia. Karena itu, selagi masih ada bersama para murid dan pengikutNya, Yesus berdoa untuk memohon agar kelak Bapa menjaga dana memelihara mereka. Yesus berdoa agar Bapa melindungi mereka dari segala yang jahat. Dengan demikian, sukacita yang pernah mereka alami bersama Yesus akan senantiasa tinggal tetap, dan sukacita Yesus penuh di dalam mereka.
            Yesus juga berdoa supaya Bapa menguduskan mereka dalam kebenaran firman Allah, sebab firman Allah adalah kebenaran. Mengapa Yesus meminta Bapa menguduskan para murid dalam kebenaran firman Allah? Jawabannya terkait pengutusan para murid oleh Yesus. Bahwa seperti Bapa telah mengutus Yesus kedalam dunia untuk menyampaikan firman kepada umat manusia maka Yesus pun telah mengutus para murid dan pengikutNya ke dunia untuk memberitkan firman Allah kepada semua orang. Dalam rang pengutusan tersebut, Yesus telah menguduskan diriNya bagi para murid dan pengikutNya, supaya mereka pun dikuduskan dalam kebenaran, yaitu dengan setia memberitakan firman allah dan bersaksi tentang nama Yesus. Sehingga akan semakin banyak orang mendengar firman dan percaya kepada Yesus serta hidup dalam kebenaran. Oleh karena itu, Yesus berdoa bukan untuk para murid yang ada waktu itu saj tetapi juga semua orang yang percaya kepada Yesus oleh pemberitaan mereka.
            Jelas bahwa kesatuan yang Yesus perjuangkan sesuai visi dan misiNya seperti tampak dalam doaNya adalah kesatuan yang unik dan universal, yang meliputi semua orang percaya di segala waktu dan tempat; bukan hanya percaya kepada Yesus, tetapi terlebih yang hidup dalam kebenaran firman Allah. Keunikan kesatuan tersebut, bukan hanya karena didasarkan pada kesatuan dan keesaan Allah; Bapa di dalam Anak, dan Anak di dalam Bapa. Tetapi juga karena semua orang percaya bersatu di dalam Allah (Tri-Tunggal), dan Allah (Tritunggal) tinggal di dalam persekutuan semua orang percaya.
            Marilah kita maknai pelkes sebagai salah satu cara pemberitaan firman Tuhan melalui perbuatan kasih yang nyata kepada semua orang supaya mereka pun menjadi pengikut Yesus dan hidup dalam kesatuan dan kebenaran. Lakukan semuanya tanpa takut; bukan hanya karena kita telah dikuduskan dan diutus oleh Yesus untuk tugas tersebut, tetapi juga karena Allah di dalam Yesus Kristus bersama Roh Kudus tetap menjaga dan memelihara kita serta melindungi kita dari yang jahat.


bagamana mendidik


Kalau anak hidup diliputi kritikan,
maka ia akan belajar menyalahkan.
Kalau anak hidup diliputi ketidakramahan,
maka ia belajar bertengkar.
Kalau anak hidup diliputi ejekan,
maka ia belajar merasa malu.
Kalau anak hidup dengan perasaan malu,
maka ia belajar merasa bersalah.
Kalau anak hidup diliputi toleransi,
maka ia belajar sabar.
Kalau anak hidup diliputi samangat,
maka ia belajar percaya diri.
Kalau anak hidup diliputi pujian,
maka ia belajar menghargai.
Kalau anak hidup diliputi keadilan,
maka ia belajar berbuat adil.
Kalau anak hidup dengan aman,
maka ia belajar beriman.
Kalau anak hidup diliputi restu,
maka ia belajar menyukai dirinya.
Kalau anak hidup diterima dan diliputi persahabatan,
maka ia belajar menemukan hidup di dunia.

~~Dorothy Law Nolte~~

MINGGU PENTAKOSTA

Minggu Pentakosta ini dirayakan selama 26 minggu. Masa ini disebut masa Gereja berjuang. Ada yang menyatakan bahwa sesudah Minggu Trinitas sudah tidak ada lagi hari raya. Sebenarnya, masih ada yaitu hari Minggu. Di mana melalui setiap hari Minggu, Gereja diingatkan tentang penyertaan TUHAN di dalam perjuangan hidup Gereja. ALLAH selalu beserta dengan GerejaNYA (ALLAH beserta kita) itulah perayaan yang besar dan penuh puji-pujian dan syukur.
Warna dasar : Hijau
Lambang/Logo : Burung merpati dengan ranting-ranting zaitun
diparuhnya, perahu berlayar dan pelangi
Warna pelangi : Merah, kuning hijau; Burung : Putih;
Ranting: Pinggir putih; Salib: Hijau; Ombak: Putih
Perahu:Bergaris putih; Tiang & Layar: Puith (penuh)

Arti :
Pada mulanya dalam sejarah Gereja. Perahu merupakan symbol dari Gereja. Ide ini menjadi berarti bagi orang Kristen mula-mula yang mengalami penganiayaan dan pergumulan, ketika mereka mengetahui bahwa akan ada pertolongan dari TUHAN. Hal ini nyata lewat perpaduan antara perahu dan pelangi. Di sini janji ALLAH tentang pertolonganNYA itu mendapat penekanan yang kuat. Pelangi melambangkan kesetiaan ALLAH atas janjiNYA untuk memelihara bumi, dalam hal ini Gereja. Burung merpati dengan ranting zaitun di paruhnya mengungkapkan tentang janji keselamatan dan kehidupan dari ALLAH (band. Kej. 8:10-11) yang akan terus menyertai sampai ke tempat tjuan. Jadi sekalipun Gereja mengalami berbagai goncangan dan cobaan, Gereja akan tetap hidup di dalam dan oleh janji ALLAH tersebut.
Minggu Sesudah Pentakosta ( II-XXVII ) 29 Mei ; 05 Jun ; 12 Jun ; 19 Jun ; 26 Jun ; 03 Jul ; 10 Jul ; 17 Jul ; 24 Jul ; 31 Jul ; 07 Aug ; 14 Aug ; 21 Aug ; 28 Aug ; 04 Sep ; 11 Sep ; 18 Sep ; 25 Sep ; 02 Okt ; 09 Okt ; 16 Okt ; 23 Okt ; 30 Okt ; 06 Nov ; 13 Nov ; 20 Nov

YESUS MERINDUKAN KESATUAN TERJADI DALAM KEHIDUPAN UMATNYA

 Minggu, 06 Juni 2010
Bacaan : Yohanes 17 : 6 - 21


Saudara  yang  dikasihi  Tuhan  Yesus  Kristus  ……..
Pemimpin yang berhasil adalah pemimpin yang bukan saja berpikir bagaimana ia   harus sukses dalam  kepemimpinannya  saat  ia  memimpin, melainkan ia juga harus     berpikir  bagaimana  ia  harus mempersiapkan  kader-kader  yang  handal  sebagai      penggantinya agar apa yang dikerjakannya saat ini dapat dilanjutkan oleh pemimpin    berikutnya.   
       Dan yang tidak kala pentingnya dari  semua itu adalah bagaimana ia menciptakan kesatuan dalam wadah yang dipimpinnya, baik dalam masa kepemimpinannya, maupun pada masa yang akan datang agar wadah yang dipimpinnya tetap eksis dan berkesinambungan.  Inilah teladan kepemimpinan Yesus yang digambarkan dalam  bacaan ini.
       Ada beberapa hal yang kita pelajari melalui doa Yesus ini  :  1). Doa ini menekankan suasana keberhasilan atau kemenangan.  Tuhan  Yesus menang, Dia berhasil melakukan tugas yang ditetapkan oleh Bapa yaitu dengan adanya  orang-orang yang percaya  pada pemberitaan-Nya (ay.6,8).   2). Dalam doa ini Yesus menyerahkan para murid dan semua orang percaya kepada Bapa karena Yesus akan meninggalkan mereka, agar Bapa tetap memelihara dan menjaga mereka.   3). Dalam doa ini Yesus meminta kepada Bapa        agar orang percaya dikuduskan dalam kebenaran sebab mereka akan diutus untuk     melanjutkan misi-Nya. 4). Doa ini menjelaskan tentang kesatuan antara Bapa  dan Yesus.  Bapa  sebagai Pengutus dan Yesus sebagai Utusan,  namun pada  hakekatnya Bapa dan Yesus  adalah  satu.  Artinya,  doa  ini  selain  mengungkapkan  makna  dogmatis  tetapi  juga  makna praktis, bahwa Yesus merindukan  agar kesatuan  itu  terjadi dalam          kehidupan  para  pengikut-Nya.
       Dengan  demikian dalam doa ini terkandung harapan dan kerinduan Yesus sebagai Pemimpin bahwa setiap orang percaya akan dijadikan  Kawan  Sekerja-Nya  dalam        kelanjutan  misi-Nya  dan  menjadi  pemenang.  Agar  kita  bisa  menjadi  pemenang  dalam  mewujudnyatakan misi Yesus,  marilah  kita hidup dalam kekudusan dan tetap menjaga persatuan  kita.
         Walau  dalam  banyak  hal  terdapat  perbedaan  diantara umat Tuhan,  namun         perbedaan itu jangan  dijadikan  persoalan;  justru  perbedaan  menjadi  kekayaan  dalam  persekutuan  kita.  Mengertilah  bahwa  perbedaan  itu  adalah  anugrah  Tuhan.

DOA; sangat besar kuasanya

YESUS MEMBUATMU BERHARGA