MEKANISME POLA KERJA PELAYANAN KATEGORIAL GEREJA PROTESTAN di INDONESIA bagian BARAT


PENDAHULUAN
Pelayanan Kategorial Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (PelKat GPIB) adalah unit Misioner GPIB sebagai wadah pembinaan dan pemberdayaan warga gereja dalam keluarga dan masyarakat sesuai kategori agar para anggotanya berperan aktif dalam pengembangan panggilan dan pengutusan gereja secara utuh dan berkesinambungan. Maka PelKat GPIB hendaknya dipahami sebagai wadah Pembinaan Warga Gereja (PWG) yang sangat strategis dan sebagai pelaksana misi gereja, kepada:
a.    Anak-anak (usia sampai dengan 12 tahun) disebut Pelayanan Anak disingkat PA.
b.    Teruna (13-17 tahun) disebut Persekutuan Terunan disingkat PT;
c.    Pemuda (18-35 tahun) disebut Gerakan Pemuda disingkat GP;
d.  Kaum Perempuan (sudah menikah, usia >35 tahun) disebut Persekutuan Kaum Perempuan disingkat PKP;
e.  Kaum Laki-laki (sudah menikah, usia > 35 tahun) disebut Persekutuan Kaum Bapak disingkat PKB;
f.     Kaum lanjut usia (usia diatas 60 tahun) disebut Persekutuan Kaum Lanjut Usia disingkat PKLU.
Pengurus PelKat GPIB berfungsi membantu Majelis Sinode atau Majelis Jemaat untuk membuat kebijakan (tingkat Siondal), memikirkan penjabaran kegiatan (tingkat Jemaat), merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi program pembinaan, pelayanan dan kesaksian warga gereja sesuai kategori.
VISI, MISI DAN TEMA
Melalui pergumulan yang berdasar paham teologi dan pertimbangan atas nilai dan tanda zaman diusulkan rumusan Visi dan Misi berdasarkan kajian Firman dari Injil Yohanes 14 : 27 “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.
Dalam sejarah GPIB, Lukas 13:29 telah dijadikan motto/semboyan yang diterakan pada logo GPIB yang berbunyi “Dan orang akan datang dari Timur dan Barat dan dari Utara dan Selatan dan mereka akan duduk makan di dalam Kerajaan Allah.”
Mengalami damai sejahtera Yesus Kristus harus dicapai dengan citra diri sebagai pembawa damai sejahtera Yesus Kristus. Karena itu, dalam kehadirannya ia harus selalu melakukan tindakan damai sejahtera agar selalu menjadi berkat di tengah bangsa, Negara dan masyarakat serta dunia. Dalam pergumulannya, gereja dan umatnya masih terbelenggu dengan rasa gelisah dan kuatir akan tantangan dan ancaman dunia, sehingga ia merasa jauh dan belum penuh mengalami damai sejahtera Tuhan Yesus Kristus.
Gereja terlena dengan damai sejahtera yang diberi oleh dunia. Karena itu, menuju masa depan diakhir cerita PKUPPG jangka panjang II, tahun 2026, diharapkan GPIB sungguh-sungguh mengalami damai sejahtera Yesus Kristus, dimana kehadirannya tidak lagi dipenuhi dengan rasa takut, gelisah dan kuatir. Justru ia hadir dengan citra pembawa damai sejahtera Yesus Kristus. Menuju masa depan GPIB memastikan bahwa ia tetap hadir dan menjadi Gereja yang Misioner. Menjadi Gereja Misioner juga berarti memberi diri untuk selalu diperbarui Roh Kudus. Dalam pembaruan terus menerus oleh Roh Kudus ini maka GPIB diharapkan menjadi “Persekutuan yang dinamis, proaktif dalam melayani dan bersaksi, baik di dalam gereja maupun masyarakat serta bagi dunia” sekaligus “Persekutuan yang mewujudkan terciptanya masyarakat yang damai sejahtera menuju kehadiran Kerajaan Allah di dunia ini dengan rumusan visi dan misi sebagai barikut:
Visi: “GPIB menjadi gereja yang mewujudkan damai sejahtera Allah bagi seluruh ciptaan-Nya.”
Misi:
1.      Menjadi Gereja yang terus menerus diperbaharui dengan bertolak dari Firman Allah, yang terwujud dalam perilaku kehidupan warga gereja, baik dalam persekutuan, maupun dalam hidup bermasyarakat.
2.      Menjadi gereja yang hadir sebagai contoh kehidupan, yang terwujud melalui inisiatif dan partisipasi dalam kesetiakawanan sosial serta kerukunan dalam masyarakat, dengan berbasis pada perilaku kehidupan keluarga yang kuat dan sejahtera.
3.      Menjadi Gereja yang membangun keutuhan ciptaan yang terwujud melalui perhatian terhadap lingkungan hidup, semangat keesaan dan semangat persatuan dan kesatuan warga Gereja sebagai warga masyarakat.
Artinya, melalui PKUPPG Jangka Panjang tahap kedua (tahun 2006-2026) GPIB diharapkan dapat melakukan tugas misinya, “Memantapkan spiritualitas umat untuk membangun dan mengembangkan GPIB sebagai Gereja Misioner yang membawa damai sejahtera Yesus Kristus di tengah-tengah masyarakat dan dunia”.
Dalam memenuhi Visi dan melaksanakan Misi, maka PKUPPG Jangka Panjang II itu, berdasar dan bersumber dari Tema Firman Allah : “Yesus Kristus adalah Sumber Damai Sejahtera” (Yohanes 14 : 27 ).
PKUPPG
Pokok-pokok Kebijakan Umum Panggilan dan Pengutusan Gereja (disingkat PKUPPG) adalah garis besar atau pokok-pokok kebijakan umum Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) dalam memenuhi tugas panggilan dan pengutusannya di tengah-tengah gereja, masyarakat dan dunia dalam suatu periode waktu tertentu (dhi. 20 tahun).
Rentang wilayah pelayanan GPIB dari Raha (timur) sampai Sabang (barat) dan dari Nunukan (utara) sampai ke Cilacap (selatan) memastikan bahwa ada keunikan kontekstual dan kearifan lokal. Ini semua sangat dihargai dan diakomodasi dalam pelayanan tingkat jemaat sendiri. Ini keharusan yang harus dihormati. Tapi keharusan ini dilihat dalam konteks Sinodal. Karena itu maka GPIB merumuskan PKUPPG sebagai acuan jangka panjang. Pelaksanaannya menjadi keputusan sinodal, akan tetapi prakteknya oleh jemaat secara parakhial. Bahkan sampai perilaku warga jemaat sebagai pribadi. Dapat dikatakan bahwa PKUPPG merupakan pilihan yang menggabungkan pikiran-pikiran teologis secara historis-oikomenis, tantang-jawab GPIB yang berciri nasionalistik, dan kekhasan-kekhasan kontekstual.
Sebagaimana hakekat gereja, maka PKUPPG merupakan dasar dan pedoman dari setiap perangkat organisasi yang mengembangkan tugas dan tanggungjawab serta kewajiban gereja dalam menjabarkan program-program kerja, sehingga ia lebih terarah, terencana dan berkesinambungan.
PKUPPG adalah merupakan perwujudan dari Gereja Misioner yang selalu menghadirkan misinya, yaitu Gereja yang selalu menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah dan menjadi garam dan terang bagi dunia serta mengharapkan umat-Nya dapat duduk, makan bersama menikmati persekutuan kerajaan Allah. kehadirannya diharapkan dalam wujud nyata melalui program-program kerja sesuai fungsi utama dan pokok gereja.
PKUPPG adalah penetapan Kebijakan Umum atas Panggilan dan Pengutusan Gereja untuk dapat menjalankan Visi dan Misi GPIB yang telah ditentukan. Kebijakan Umum ditetapkan karena harus menindaklanjuti adanya Panggilan dan Pengutusan Gereja. Kebijakan yang ditetapkan mengikuti fungsi yang ada di GPIB selaku Gereja. Jadi PKUPPG disusun berdasarkan fungsi gereja yang dikenal dengan “Tri Dharma Gereja”, yaitu Persekutuan, Pelayanan dan Kesaksian. Ketiga fungsi ini merupakan fungsi utama dalam gereja yang disebut juga fungsi misioner. Agar fungsi misioner tersebut dapat terwujud dengan baik maka perlu ditunjang oleh Sumber Daya Gereja. Jadi Sumber Daya Gereja berfungsi sebagai penunjang terhadap proses administrasi dalam pengertian yang luas. Penunjang dimaksud adalah: Sumber Daya Insani, Fasilitas dan Sistem Informasi. Adapun pokok-pokok program disesuaikan dengan 6 (enam) bidang kegiatan pada PKUPPG, yaitu :
1.    TEOLOGI, meliputi bidang Iman dan Ajaran, Ibadah dam Musik Gereja serta Pengkajian Teologi;
2. PELAYANAN dan KESAKSIAN (PelKes), meliputi bidang Pengembangan dan Penatalayanan Pos PelKes, PMKI, Diakonia Crisis Centre (Penanggulangan Bencana SatGas BENCANA).
3.   GEREJA, MASYARAKAT dan AGAMA-AGAMA (GerMaSa), meliputi keesaan Gereja (Oikomene), Kemasyarakata: HAM, Hukum, Lingkungan Hidup, dan Lintas Agama-Agama (Hubungan agama lain)
4.    PEMBINAAN dan PENGEMBANGAN SUMBER DAYA INSANI serta PENINGKATAN PERANAN KELUARGA (PPSDI-PPK), meliputi bidang Pembinaan dan Pengembangan Warga Gereja (Warga Jemaat, Kategorial dan Presbiter), Peningkatan Peran Keluarga (bapak, Ibu, Pemuda, Teruna dan Anak), Kelompok Profesi dan Fungsional, Pendidikan serta Pengembangan Personalia GPIB.
5.   PEMBANGUNAN EKONOMI GEREJA, meliputi bidang Keuangan (perbendaharaan dan akuntansi), Daya dan Dana, Pemanfaatan dan Pengembangan Harta Milik Gereja, Badan Usaha/Badan Hukum GPIB.
6.  INFORMASI, ORGANISASI DAN KOMUNIKASI (InfOrKom) meliputi bidang Sistem Informasi Manajemen (SIM), Perencanaan Organisasi dan Komunikasi serta Penilitian dan Pengembangan (LitBang).
Arah dan tujuan KUPPG-GPIB Jangka Pendek II, tahun 2011-2016 dijabarkan dengan memperhatikan Pemahaman Iman GPIB. Untuk tahun pertama tantang Manusia. Untuk tahun kedua tentang Gereja, Misi dan Pemerintahan Allah. Untuk tahun ketiga tentang Negara, Bangsa dan Masyarakat. Untuk tahun keempat tentang  Masa Depan. Dan untuk tahun kelima tentang Alam dan Sumber Daya. Dengan tetap mengarah pada teema Utama dan tema KUPPG Janga Pendek II 2011-2016: “Membangun tatanan kehidupan masyarakat yang rukun dan adil” (Roma 15:5-7), maka tema Lima Tahunan Alkitabiah disusun sebagai berikut:
1.        2011-2012 : Manusia Baru yang terus menerus dibaharui (Efesus 4:23,24)
2.        2012-2013 : Kepemimpinan yang membangun masyarakat (Kejadian 1:28, 29).
3.        2013-2014 : Kemitraan dan kesetaraan demi kesetiakawanan sosial (Galatia 3:28)
4.        2014-2015 : Membangun Kemitraan antar umat beragama demi keselamatan bangsa (Roma 10:14-15)
5.        2015-2016 : Menata alam secara adil demi kelangsungan hidup sejahtera (Mazmur 8:6-9)
SASARAN, KUALITAS SDI, POKOK KEGIATAN PELKAT
Berdasarkan Pemahaman Iman, Tata Gereja dan PKUPPG maka disusun sasaran, kualitas dan profil SDI serta pokok-pokok setiap PelKat sbb:
§   PA : Anak berkarakter positif dalam mewujudkan damai sejahtera Allah.
§   PT : Teruna kreatif dan dinamis yang menjadi berkat
§   GP : Pemuda yang Misioner
§   PKP : Perempuan yang menjadi teladan dalam keluarga dan masyarakat
§  PKB : Bapak yang membangun dan menjaga keutuhan keluarga guna menjadi berkat di masyarakat demi kemuliaan Allah
§   PKLU : Komunikasi PKLU sebagai teladan bagi anak, cucu dan keluarga
Kualitas SDI setiap PelKat Sbb :
§   PA : Pelayan > komitmen, peduli dan mengupayakan yang terbaik. Anak > andalkan Tuhan, cinta keluarga, pantang menyerah dan menjadi berkat
§  PT : Pelayan > komitmen, peka, peduli dan memiliki kerendahan hati. Teruna > memiliki relasi yang baik dengan Tuhan dan berani bersaksi, menjadi berkat dalam keluarga, percaya diri, kreatif, dinamis dan mandiri
§   GP : Menjadi kader gereja dan masyarakat yang bisa diandalkan
§   PKP : Mampu membina suasana yang baik di lingkungan sekitar keluarga dan masyarakat
§   PKB : Bapak yang melindungi keluarga
§   PKLU : Spiritualitas kuat dan selalu bersyukur
Profil SDI setiap PelKat :
§   PA : Senantiasa berdoa dan bersyukur, taat dan hormat, ramah dan rendah hati, rajin dan bertanggungjawab, berani dan pantang menyerah
§   PT : Kesukaannya adalah Firman Tuhan, menjadi partner bagi orang tua, energik, kreatif dan dinamis, memahami perbedaan, mampu memilih yang positif
§   GP : Pemuda yang dinamis, kreatif, setia dan berani
§   PKP : Rendah hati, membina keluarga, berpikir konstruktif, aktif dalam persekutuan, membuka diri terhadap masyarakat sekeliling
§   PKB : Bapak yang Tangguh dan luwes
§  PKLU : Percaya diri sendiri dan mampu membawa perubahan dalam keluarga dan masyarakat
Profil PelKat secara menyeluruh
PelKat menjadi ujung tombak pelaksana visi dan misi GPIB, spritualitas yang teguh, mandiri, kreatif, peduli, mampu bekerjasama, berpikir secara global dan bertindak secara lokal
Pokok – pokok Kegiatan setiap PelKat :
§   PA : Spiritual dan Sosial
§   PT : Spiritual, Sosial, Kreatif
§ GP : Spiritual, Sosialisasi, Wawasan Kebangsaan dan Global, Kader Gereja dan Masyarakat, Pembinaan yang tepat guna
§   PKP : Kegerejaan, Kekeluargaan, Kewirausahaan, Kemasyarakatan
§   PKB : Kegerejaan, Kekeluargaan, Kewirausahaan, Kemasyarakatan
§   PKLU : Spiritual, Sosial, Intelektual, Fisik

BERKARYA BERSAMA ORANG LAIN


Minggu Epifani III
Minggu, 20  Januari 2013
Bacaan Alkitab : Kitab Markus 7:14-16
14  Lalu Yesus memanggil lagi orang banyak dan berkata kepada mereka: "Kamu semua, dengarlah kepada-Ku dan camkanlah.  
15 Apapun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya."  
16  (Barangsiapa bertelinga untuk mendengar hendaklah ia mendengar!)

Injil ini ditulis oleh Markus yang ditujukan untuk pembaca orang-orang bukan Yahudi pada umumnya maupun untuk pembaca orang Roma pada khususnya. Siapa pun para pembaca Injil ini, Fokus yang diberitakan adalah Pribadi Yesus. Ia menghadirkan diri-Nya sebagai Hamba (Bandingkan Yesaya 52 13 – 53:12) yang rendah hati terutama dalam melaksanakan pelayanan-Nya. Pelayanan Ilahi Yesus mengedepankan: ‘etiket hidup’. Semua orang haruslah memasuki persekutuan hidup seperti di dalam ‘Kerajaan Allah’, tanpa ada kesombongan hati melainkan selalu rendah hati (bdn. Markus 9:47; 10:23).
Saat ini, gambaran ‘Kerajaan Allah’ mengungkapkan kesediaan untuk saling melakukan ketergantungan hidup satu sama lain, dalam kerangka saling menghargai yang dilandasi kesucian hidup (kekudusan hidup). Bacaan hari ini mengungkapkan adanya perjumpaan Yesus dengan orang Farisi yang memperbincangkan hal mengenai hukum Taurat dan adat istiadat. Yesus memandang mereka sebagai golongan rabi (guru keagamaan) dan sebagai ahli Taurat di mana hukum Taurat dan adat istiadat, sangat dihargai dan dipegang teguh.
Dalam hal ini, Yesus tidak berprasangka apa-apa pada orang Farisi, terutama mengyangkut: ‘hal’ yang dapat menajiskan yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari  perbincangan itu. Namun satu hal yang paling penting bagi Yesus, bahwa; Hukum Taurat dan adat istiadat yang diselenggarakan oleh Musa, merupakan bentuk keagamaan yang mengedepankan legalitas. Maksudnya; keagamaan yang mengedepankan pembenaran atas hidup, tanpa terlebih dahulu secara utuh memehami hidup pribadi. Secara lahir: jika ada ‘hal’ yang datangnya dari luar-dan masuk ke dalam hidup bukan ‘hal’ yang dapat menajiskan. Jadi: ‘hal’ yang dapat menajiskan selalu dianggap datangnya dari bathin (hati) – bukan datang dari luar.
Kita tidak berprasangka pada pemeluk agama yang mengedepankan legalitas dengan keagamaan yang ada pada kita. Tapi saatnya bagi kita; untuk berkarya bersama orang lain dengan melakukan perjumpaan keagamaan. Dengan begitu; pribadi kita dapat mengambil langkah maju dalam hidup bersama – tanpa mengalami persoalan keagamaan. Sebagaimana Yesus dengan orang Farisi telah melakukan perjumpaan keagamaan, sehingga ada hidup bersama yang lebih maju. Dengan begitu; pribadi kita bersama orang lain tidak saling mendatangkan ‘hal’ yang dapat menajiskan hidup. Tetapi ada hidup bersama yang menghantarkan kesombongan hati, melainkan hidup bersama yang memiliki: rendah hati, kesucian hidup (kekudusan hidup), dan memiliki rasa saling menghargai hukum keagamaan dan adat istiadat yang sudah ada dalam tataran masyarakat majemuk di bumi ciptaan Tuhan ini.
------------SGD/K|GPIB|R.A.S/js-------------

INJIL MARKUS
Penulis : Markus
Waktu Penulisan : Antara tahun 50 dan 70 Masehi
Rentang Waktu : Sekitar 3½ tahun (Tahun 29 – 33 Masehi)
Latar Belakang : Kitab Markus adalah kitab terpendek dari ke empat Injil dan merupakan sebuah kitab tentang tindakan yang lebih berfokus pada perbuatan Yesus daripada perkataan-Nya. Secara umum diterima bahwa khotbah Petrus, sahabat Markus, merupakan sumber utama materi Injil ini. Markus juga menghabiskan waktu dengan Paulus dan Barnabas ketika ia kembali bersama mereka dari Yerusalem ke Anthiokia dalam perjalanan pengabaran Injil mereka yang pertama. Akan tetapi, Markus pulang lebih dulu dan kembali ke Yerusalem. Kemudian Barnabas ingin membawa saudara sepupunya Markus, dalam perjalanan penginjilan kedua. Namun, Paulus tidak setuju dan berangkat dengan Silas. Paulus dan Barnabas berdamai kembali di kemudian hari, dan Markus menjadi sahabat dekat dan penolong Paulus.
Tempat Penulisan : Roma (kemungkinan ketika Petrus dan Markus berada di dalam penjara)
Ditujukan Kepada : Secara umum kepada semua orang non Yahudi, tetapi terutama kepada orang-orang Roma
Isi : Injil menurut Markus memberi gambaran yang hidup atas Yesus dengan pengajaran, penyembuhan, dan pelayanan-Nya terhadap kebutuhan orang –orang. Yesus merupakan contoh yang sempurna dan korban yang sempurna bagi manusia di sepanjang masa. Pelayanan-Nya kepada umum termasuk ketika Ia memperlihatkan kekuasaan Ilahi-Nya atas penyakit, alam, setan-setan, dan bahkan maut. Mujizat – mujizat ini juga menunjukkan belas kasihan Yesus terhadap dunia yang sedang terluka. Namun, perlawanan dan kebencian terhadap Yesus bertumbuh dari pihak Imam Besar, orang – orang Farisi, dan Saduki. Pada akhirnya, Yesus bersedia membiarkan terjadinya penangkapan dan penyaliban atas diri-Nya. Akan tetapi kebangkitan-Nya memeteraikan kemenangan puncak bagi semua yang percaya kepada-Nya untuk menyelamatkan mereka.
Kata Kunci : “Pelayanan”’ “Segera”. Pelayanan Yesus Kristus berpusat di sekitar keberadaan-Nya sebagai “pelayan” bagi semua orang, memberi hidup-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang. Injil Markus menggunakan istilah “segera’ untuk menekankan betapa penting dan mendesaknya mempercayai Anak Allah, yaitu….sekarang!
Tema: Yesus peduli terhadap seluruh aspek hidup kita. Tindakan Yesus sesuai dengan perkataan-Nya, maka kita pun harus berbuat demikian jika kita ingin menjadi seorang saksi yang baik bagi-Nya. Kematian Yesus di atas kayu salip membayar harga setiap dosa kita hanya bila kita berpaling kepada-Nya dengan hati yang bertobat dan mempercayai-Nya sebagai Juruselamat. Tidak ada sebuah pribadi pun yang terlalu rendah dan berada di luar jangkauan tangan kasih Allah. seperti Yesus telah datang untuk melayani kita, maka kita jua harus melayani orang lain.
Garis Besar :
1.     Permulaan pelayanan Yesus Kristus. 1:1-13
2.     Pelayanan Yesus dengan penyembuhan dan pengajaran-Nya. 1:14 – 18:26
3.     Instruksi yang diberikan Yesus kepada murid-murid-Nya. 8:27 – 13:37
4.     Pengkhianatan, pengadilan, dan penyaliban Yesus. 14:1 – 15:41
5.     Penguburan dan kebangkitan Yesus. 15:42 – 16:20

HIDUP BENAR, BAIK DAN KUDUS BERDASARKAN HIKMAT


Minggu Epifani II
Minggu, 13 Januari 2013
Bacaan Alkitab Amsal 2 : 1 – 8
1  Hai anakku, jikalau engkau menerima perkataanku dan menyimpan perintahku di dalam hatimu,  
2  sehingga telingamu memperhatikan hikmat, dan engkau mencenderungkan hatimu kepada kepandaian,  
3  ya, jikalau engkau berseru kepada pengertian, dan menujukan suaramu kepada kepandaian,  
4  jikalau engkau mencarinya seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta terpendam,  
5  maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan TUHAN dan mendapat pengenalan akan Allah.  
6  Karena Tuhanlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian.  
7  Ia menyediakan pertolongan bagi orang yang jujur, menjadi perisai bagi orang yang tidak bercela lakunya,  
8  sambil menjaga jalan keadilan, dan memelihara jalan orang-orang-Nya yang setia.  
Saudara – Saudara yang terkasih,
            Anda tentu dapat dengan mudahnya mengerti isi dan maksud serta pembicaraan orang lain apabila anda sendiri membuka diri untuk mendengarnya dengan hati. Mendengar dengan hati tanpa emosi adalah cara terbaik yang Tuhan karuniakan sehingga dapat mengerti, baik pikiran mau pun perasan orang tersebut. Itu adalah hikmat. Hikmat adalah anugerah ilahi yang besar manfaatnya bagi kita untuk mempraktekkan kehidupan yang benar, baik dan kudus.
            Kitab amsal menjadi dasar yang menuntun kita pada pengenalan akan Allah sekaligus memahami sebagai mitra hidup dan bukan musuh atau lawan yang harus ditaklukkan akibat ambisi diri. Hikmat menjadi penting karena memberi pengertian, dan pengertian melahirkan pengetahuan serta pengetahuan menghasilkan kepandaian. Hikmat, dengan demikian, memiliki kekuatan tidak saja dari segi manfaat yang dihasilkan, tetapi juga untuk tujuan kehidupan itu sendiri. Namun pesan penting yang disampaikan disini adalah, hikmat itu memberi pertolongan bagi orang yang jujur, menjadi perisai bagi orang yang tidak bercela lakunya juga adil dan setia.
            Jika pesan ini ditempatkan dalam konteks interaksi sosial ditengah pergaulan masyarakat, maka hikmat memiliki kekuatan mendoroang setiap orang percaya untuk berperilaku benar dan baik serta kudus. Realitas kehidupan sehari-hari dipenuhi oleh banyaknya godaan dan rayuan untuk hidup aman dan tenang serta bersenang-senang. Salah sekali pun tetap dinikmati, sebab kenikmatannya selalu dirindukan dan disukai, tetapi banyak orang lupa kesenangan duniawi itu ada batasnya. Akan tiba saatnya semua kenikmatan itu pudar bahkan musnah seiring dengan usia atau kuasa atas jabatan dan kekayaan yang tidak dimiliki lagi. Penyesalan pun tiba tetapi sudah tiada guna. Nah kekuatan hikmat justru memperlengkapi orang kudus dengan moral yang tinggi untuk tetap bersikap jujur, setia dan adil.
            Hikmat juga memberi pengertian untuk menilai dan mengevaluasi diri sehingga tahu mana yang benar, bermanfaat dan berkenan kepada Tuhan dan mana yang tidak. Kepandaian intelektual atau pengetahuan akal budi saja jika tidak dilandasi kejujuran, kesetiaan dan keadilan, hanya menghasilkan hidup aman sesaat namun mengalami kesesatan yang berujung pada penderitaan yang panjang. Mengapa? Karena kecenderungan hidup yang sudah tercemar dengan kenikmatan duniawi sulit keluar malah terus dinikmati sekali pun tahu itu salah. Contoh konkrit tentang ini bagaimana seseorang sulit keluar dari lingkaran Narkoba. Sudah menjadi mata rantai yang tidak terputus mulai dari npencipta, pengedar sampai ke pemakai narkoba. Semua sama-sama menikmatinya.
            Pesan moral firman Tuhan ini adalah bagaimana setiap umat Kristen/warga jemaat mampu menghasilkan kualitas spiritual (pengenalan akan Tuhan) yang dijabarkan dalam kualitas moralnya (hidup jujur, benar, adil, setia) serta kualitas perilaku (etika) yang santun, cerdas dan bermatabat. Sadarilah keterbatasan atau kekurangan dalam diri, jangan sampai membatasi usaha yang baik untuk tetap kosisten mengasihi Tuhan dan sesama. Karena itu citrakanlah diri dengan berlaku hidup benar, baik dan kudus berdasarkan hikmat Tuhan. Tuhan memberkati saudara ….. SGD | GPIB | A.W/JS |
KITAB AMSAL
Penulis: Yang utama adalah Raja Salomo, tetapi Agur, Raja Lemuel, dan lainnya juga memberi kontribusi.
Waktu Penulisan: Antara 1000 dan 700 SM. Akan tetapi, sebagian besar dari kitab Amsal ini ditulis oleh Salomo pada tahun 931 SM. (Kitab ini belum disempurnakan menjadi bentuk seperti saat ini sampai beberapa tahun kemudian).
Rentang Waktu: Tidak diketahui, namun terutama selama tahun-tahun masa hidup Salomo.
Judul Kitab: Judul kitab ini dalam bahasa Ibrani berarti “Amsal Salomo”.
Latar Belakang: Salomo naik takhta menggantikan Daud ayahnya untuk menjadi raja atas Israel. Setelah memohon hikmat dari Allah, ia begitu diberkati sehingga banyak orang datang dari negeri yang jauh untuk belajar darinya. Kumpulan peribahasa bijak merupakan bagian dari pengajaran ini. Kitab Amsal merupakan kumpulan dari seperempat bagian dari 3000 amsal dan 1005 lagu yang ditulis Salomo.
Tempat Penulisan: Kemungkinan di Yudea.
Ditujukan Kepada: Terutama kepada anak-anak muda.
Isi: Amsal merupakan campuran dari peribahasa bijak mengenai kebenaran rohani dan akal sehat. Amsal-amsal ini memberi instruksi mengenai semua aspek hidup manusia yang mungkin ada, seringkali dengan menunjukkan perbedaan yang menyolok antara pandangan orang tak beriman yang bodoh dengan pandangan beriman dari orang bijak. Kebenaran ini memberi nasihat yang membantu untuk mencegah maupun memperbaiki gaya hidup yang tidak beriman. Amsal ini mudah untuk dilakukan, tanpa batas waktu, dan ideal untuk dihafalkan. Kitab ini berakhir dengan sebuah pandangan dari dekat tentang kualitas dari wanita yang beriman dalam hubungannya dengan suami, anak-anak, dan orang-orang di sekitarnya (pasal 31).
Kata Kunci: “Hikmat”, “Kebodohan”. Kemampuan untuk hidup dengan kebenaran yang dilakukan sehari-hari diteliti dengan cermat disini. “Hikmat” ini menolong kita untuk membedakan antara baik dan jahat, benar dan salah, dan sudut pandang Ilahi atau manusiawi. “Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan” (9:10), tetapi “perempuan bebal cerewet … tidak berpengalaman ia dan tidak tahu malu” (9:13).
Tema: Hikmat yang sejati tidak dapat diperoleh di luar Allah. Allah meminta kita menyerahkan bahkan aspek paling tidak penting dari hidup kita ke dalam kekuasaan-Nya sebagai Allah.
Kita seharusnya tidak bersandar pada pengertian kita sendiri, melainkan pada kebenaran yang Allah ajarkan kepada kita. Allah akan memimpin langkah-langkah kita. Orang beriman menjadi sukses dalam hidup karena ketaatan pada Firman dan jalan-jalan Allah. Allah ingin kita berbahagia. Allah telah menyediakan kebahagian bagi kita jika kita takut, percaya, dan taat kepada-Nya.
Garis Besar:
1.    Tujuan dan tema Amsal. 1:1-6
2.    Perbandingan yang menyolok antara hikmat dan kebodohan. 1:7-9:18
3.    Amsal-amsal Salomo. 10:1-24:34
4.    Amsal-amsal Salomo yang dikumpulkan oleh orang-orang Raja Hizkia. 25:1-29:27
5.    Peribahasa Agur. 30:1-33
6.    Peribahasa Raja Lemuel. 31:1-31

DOA; sangat besar kuasanya

YESUS MEMBUATMU BERHARGA