DISURUH DAN DITUGASKAN


Bacaan Kisah Para Rasul 11 : 19 – 30
PENGANTAR
Pokok pikiran Kisah Para Rasul dapat dikatakan tentang bagaimana murid-murid menyaksikan Kristus, khususnya pada Kis 1 : 8. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, ... Ayat ini menunjukkan bagaimana saksi-saksi Kristus diutus, diberi perlengkapan rohani dan daerah-daerah pemberitaan Injil. Di samping itu dalam kitab ini perkembanganInjil yang diberitakan serta diringkaskan dengan, “Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Dalam Kisah Para Rasul 2 – 7 kesaksian itu dilakukan di Yerusalem. Dalam Kisah Para Rasul 8 – 12 dilakukan di Yudea dan Samaria. Dan dalam Kisah Para Rasul 13 – 28 dilakukan sampai ujung bumi.
Secara garis besar Kisah Para Rasul terdiri dari dua bagian. Bagian pertama pasal 1 s/d  12 dan bagian kedua pasal 13 s/d 28. Pada bagian yang pertama kesaksian berpusat di Yerusalem dan pada bagian kedua di Antiokhia dan sekitarnya. Dengan demikian kita dapat melihat bagaimana proses perkembangan Injil dari Yerusalem dan di kalangan orang-orang Yahudi kemudian tersebar atau meluas kepada bangsa-bangsa lain. Hal ini oleh karena esensi dari berita Injil itu sendiri, yaitu bahwa keselamatan bagi bangsa segala bangsa. Namun tingkat penyebarannya yang luas tidak lepas adanya tekanan dan penganiayaan terhadap para pengikut Kristus.
PEMAHAMAN PERIKOP
Pada waktu itu penganiayaan dan penderitaan terhadap orangKristen mula-mula semakin hebat. Namun, justru karena hal itu penyebaran orang-orang Kristen ke berbagai tempat makin meluas (19). Mereka yang melarikan diri dari penganiayaan pada saat Stefanus mati, kemudian tersebar ke kota-kota di Libanon, Siprus, Asia Kecil. Salah satu tempat yang diangkat oleh Penulis adalah Antiokhia. Di sana mereka menjadi saksi tentang Yesus. Akan tetapi mereka membatasi kesaksian mereka, hanya kepada kaum Helenistik yang berlatar belakang Yahudi. Kemudian berkembang kepada non-Yahudi (Yunani) yang dilakukan oleh orang-orang Siprus dan orang Kirene. Yang berbicara secara langsung kepada orang-orang Yunani dan orang-orang bukan Yahudi/Yunani lainnya dan sejumlah orang menjadi percaya.
Kemudian Jemaat di Yerusalem mendengar hal itu. Mereka mengutus Barnabas untuk membina jemaat baru di Antiokhia tersebut. Barnabas, seorang pemimpin yang baik dan berkualitas. Hal pertama yang dilakukan ketika sampai di Antiokhia ialah mengingat Paulus. Ia melihat adanya potensi yang luar biasa di dalam diri Paulus. Akan sangat disesalkan jika potensi itu diabaikan. Maka dapat dipahami bagaimana   Jemaat Yerusalem telah mengirim seorang pelayan terbaik mereka kepada jemaat baru di Aniokhia. Secara tersirat di sinilah Saulus (Paulus) berlatih melayani, mengajar  dan dipersiapkan, dan kelak disebut disebut sebagai rasul yang memberitakan Injil bagi orang-orang non Yahudi.
Hal menarik, di Jemaat Aniokhia adalah kesediaan mereka memberi yang terbaik bagi orang lain. Saat itu Yerusalem adalah kota besar. Pusat peradaban. Sedangkan Anthiokhia adalah  sisa puing-puing kota yang penuh dengan berhala (36AD terjadi gempa besar yang beruntun, menyebabkan  kota Antiokhia hancur, dan banyak orang mengungsi). Dalam keberadaan mereka juga yang sulit, namun tetap memberikan bantuan kepada jemaat Yerusalem yang dikabarkan mengangalami bencana kelaparan.  Dalam keberadaan mereka juga yang sulit, namun tetap memberikan bantuan kepada Yerusalem yang dikabarkan mengalami bencana kebakaran. Jadi pada perikop, Kis. 11 : 19 – 30, kita dapat melihat bagaimana pembentukkan gereja yang terbuka unruk segala bangsa. Kita juga memahami bagimana  gereja mulai mengembang sayapnya Kita juga khususnya kepada orang-orang bukan yahudi, termasuk kita pada masa kini.
PEMAHAMAN TEKS.
Setelah Stefanusdibunuh, penyiksaan orang Kristen dimulai. Banyak orang Kristen lalu melarikan diri ke Fenisia, Siprus dan Antiokhia (ay. 19). Di Antiokhia mereka menyebarkan injil ke orang-orang Yunani, dan sejumlah besar orang menjadi percaya. Akan tetapi mereka membatasi kesaksian mereka, hanya kepada kaum Helenistik yang berlatar belakang Yahudi. Penganiayaan tidak menghentikan semangat Kristen memberitakan Injil kepada orang Yahudi (19). Di antara yang memberitakan injil, ternyata sudah ada orang sebelum mereka yang juga memberitakan Injil kepada orang Yunani, dan pelayanan ini pun diberkati Tuhan (ay. 20-21).
Saat jemaat di Yerusalem mendengar itu, mereka mengutus Barnabas untuk membina jemaat baru di Antiokhia tersebut (ay. 23). Kita mengenal karakter Barnabas dari kesaksian yang diberikan mengenai dia (4:36), dan bagaimana kasih kebapakannya menjadi penghubung antara para Rasul dan Saulus (9:27). Dalam bacaan ini penulis menyaksikan bahwa Barnabas adalah seorang yang saleh, yang menaikkan doa di antara jemaat dan memberitakan Injil dengan kepenuhan Roh    Kudus (ay. 24). Ia menyadari panggilannya untuk membina dan menuntun orang-orang yang baru percaya itu, kepada kedewasaan iman dengan penuh kasih.
Dalam pelayanannya di Antiokhia, Barnabas sebagai guru Paulus menyempatkan diri dan menjemput Paulus untuk melayani bersama, karena melihat adanya potensi dan karunia dalam diri Paulus untuk melayani. Saat itu Barnabas adalah penginjil yang baik dan setia, serta memiliki hubungan baik dengan para rasul. Dengan demikian dipahami bagaimana Jemaat Yerusalem telah mengirimkan orang terbaik kepada jemaat baru di Antiokhia untuk melayani (ay. 25-26).
Barnabas sangat bersukacita ketika ia melihat kehidupan yang baru di dalam jemaat di Antiokhia. Ia bersukacita bersama dengan mereka yang dilahirkan kembali. Artinya Pemberian Label  “Kristen” di jemaat ini memberikan  suatu identitas baru bagi kelompok ini yang semakin memisahkan mereka dari pola ibadah dan ritual agama Yahudi, sehingga mereka bisa terus berada di dalam kepenuhan Kristus. Identitas yang dilekatkan dan dikenal itu memberikan arah dan tujuan hidup yang dinamis bagi Kerajaan Allah.
Kemudian pada Ayat 27 – 30 diceritakan  adanya beberapa nabi dari Yerusalem datang dan menubuatkan bencana kelaparan di seluruh dunia. Dan jemaat mula-mula di Antiokhia     memutuskan untuk mengumpulkan sumbangan dan mengirimkannya kepada jemaat di Yudea. Padahal Antiokhia baru saja mengalami bencana alam yang hebat. Bahkan raja mereka terpaksa mengungsi ke kemah-kemah sirkus karena gempa gempa itu. Di tengah kehancurkan itu, mereka tetap mau menyumbang untuk sesama. Mereka yang kotanya hancur justru mau menyumbang untuk Yudea (Yerusalem dan Sekitarnya) yang membangunnya lebih baik kondisinya. Ini menunjukkan bagaimana mereka menyadari sebagai bagian dari persekutuan   dan yang penuh dengan kasih terhadap sesama.  
URAIAN KHOTBAH
Melalui Kisah 11:19 – 30 memberikan gambaran bagi kita tentang gereja mula-mula yang teguh sebagai cerminan bagi kita saat ini. Ada beberapa ciri khas yang menonjol dari gereja mula-mula yang dapat kita pelajari, yaitu : Pertama,   :    Gereja, gereja yang bergumul. Oleh karena adanya penganiayaan yang timbul sesudah Stefanus dibunuh. Mereka tersebar sampai di Fenesia, Siprus dan Antiokhia:    namun mereka memberitakan injil kepada orang Yahudi saja pada awalnya (Kisah 11:19). Penganiayaan yang dialami oleh gereja mula-mula   merupakan salah satu bentuk tantangan yang ada pada saat itu  tetapi tantangan itu tidak membuat mereka meninggalkan imannya. Sebaliknya semakin banyak orang menjadi percaya dan bertobat justru karena perlakuan tidak manusiawi dari orang-orang yang tidak  mengenal Tuhan.  Kita harus menjadi gereja yang siap menghadapi setiap tantangan. Sebab tantangan tidak akan dapat menghambat pertumbuhan        orang percaya, justru malah mengembangkan dan menumbuhkan kehidupan beriman.
Kedua,  Gereja yang bersaksi. Dalam Kisah 11 : 20-21 diungkapkan bagaimana pemberitaan Injil disampaikan bukan hanya kepada orang-orang Yahudi tetapi juga kepada orang-orang Yunani. Mereka memberitakan Injil, dan berkata bahwa Yesus adalah Tuhan. Dan oleh karena penyertaan Tuhan sejumlah besar orang menjadi percaya dan berbalik kepada Tuhan (Isah 11:20-21). Maka dapat dipahami bagaimana penyertaan Tuhan dalam pelayanan di tengah aniaya yang dihadapi. Meski secara phisik didera habis-habisan, mereka tetap menyaksikan Injil. Sesungguhnya kita juga dipanggil untuk menjadi saksi-Nya dalam segala situasi yang kita hadapi.
Ketiga, Gereja yang menjadi berkat. Oleh karena adanya bahaya kelaparan yang dihadapi, maka murid-murid di Antiokhia memutuskan untuk mengumpulkan sumbangan, sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing dan mengirimkannya kepada saudara-saudara yang diam di Yudea (Kisah 11:28-29). Kita tahu bahwa Jemaat Antiokhia memberi bantuan dalam kondisi mereka juga yang mengalami kehancuran, namun tetap sedia menolong dan memberi bantuan Jemaat di Yudea yang membutuhkan. Inilah contoh orang-orang yang mengasihi. Mereka mau menolong sesama meskipun keadaan mereka hancur.  
Dengan demikian kita memahami keberadaan kita sebagai gereja yang hadir di tengah-tengah masyarakat, yaitu menjadi gereja yang senantiasa bergumul, bersaksi dan menjadi berkat. Gereja tidak hanya mewujudkan persekutuannya sebagai umat Allah, namun dalam persekutuannya dengan Allah (Communion) kita disuruh atau diberi tugas oleh Allah (commission). Maka komuni dan komisi menjadi bagian penting dari kehadiran Gereja. Demikianlah keberadaan GPIB sebagai gereja yang mewujudkan pelayanannya tidak hanya membawa umat dalam persekutuan dengan Allah, namun menyadari tugas yang diberikan, juga untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan umat dan masyarakat sekitar, sebab demikianlah kita ber-PELKES tidak bisa menutup mata, bahkan harus melakukan sesuatu terhadap sesama yang membutuhkan.  
A.S.P/MAJI/SGDK/edisi45

TIGA YANG ESA

Bacaan : 1 Korintus 2 : 6 – 16
PENGANTAR

Kota Korintus terletak di sebuah daratan sempit yang memiliki pelabuhan di bagian timur dan bagian barat. Korintus pada waktu itu, bisa dikatakan merupakan kota yang sangat duniawi sebab ada banyak pengaruh dari berbagai budaya. Penduduk kota ini memiliki tradisi yang kuat dalam hal penyembahan berhala, khususnya dewi cinta yang bernama Afrodite. Surat Paulus ini antara lain berisi berbagai pergumulan yang terus dihadapi jemaat Korintus berhadapan dengan berbagai pengaruh gaya hidup di kota besar.

            Paulus pernah mengunjungi Korintus dan tinggal beberapa lama di sana dalam rangka pemberitaan Injil. Sekarang, ia tidak lagi bersama-sama mereka, namun ia berusaha untuk tetap menjaga hubungan yang baik dengan mereka, oleh sebab itu ia tekun menulis surat ini kepada mereka.

            Ia sempat mendengar dari beberapa sahabat yang datang mengunjunginya tentang situasi dan kondisi yang cukup tegang dalam jemaat Korintus saat itu, bahkan sampai-sampai timbul “perselisihan” yang dapat mengancam keutuhan persekutuan. Rasul Paulus sedih karena ternyata ada beberapa jemaat yang masih meragukan kerasulannya. Ia mencoba meyakinkan mereka lewat suratnya ini. Ia juga menjelaskan beberapa hal di sekitar kehidupan perkawinan dan tentang makanan-makanan yang dipersembahkan kepada berhala. Akhirnya, ia menyampaikan rencananya untuk kembali lagi ke Korintus dan tinggal beberapa lama dengan mereka.

PENJELASAN NATS

Ayat 6 – 9: Hikmat yang disebutkan rasul Paulus di sini adalah suatu “rahasia Allah”. Hikmat ini terbagi atas dua jenis. Pertama, ia tidak serupa dengan hikmat dunia – dan oleh karenanya ditolak oleh Paulus. Kedua, ia hanya diberitakan di kalangan orang yang “sempurna” (Filipi 3:5), yaitu yang menerima Roh Kudus. Rasul Paulus memahami bahwa hikmat itu pada hakekatnya berasal dari Allah, sehingga oleh hikmat itulah iman menjadi sempurna. Hikmat itu belum nampak pada orang-orang yang sudah dewasa dan matang imannya, hikmat membuat imannya itu menjadi semakin “sempurna”.


Jemaat di Korintus pada waktu itu suka sekali dengan hikmat dunia. Padahal dunia ini hidup di luar aturan Allah dan tidak menuruti kehendak-Nya sehingga hikmat yang seperti itu sebetulnya tidak berguna bagi orang Kristen. Hikmat seperti itu dimiliki oleh raja-raja di dunia ini dan bertentangan dengan hikmat Allah. Sebaliknya, hikmat Allah tidak dikenal oleh para penguasa dunia, sebab sekiranya mereka mengenalnya, mereka tentu tidak akan menyalipkan Yesus.

Hikmat Allah itu hanya disediakan bagi orang-orang yang mengasihi Dia. Kasih kepada Allah itu ialah “kunci”  yang dapat membuka “rahasia Allah”. Dunia dengan para penguasanya yang angkuh dan lalim, tidak mengenal ‘kasih’ sehingga mereka kelak akan binasa.


Ayat 10-16 : Hikmat Allah hanya dapat diperoleh sebagai karunia (pemberian) dari Allah saja. Oleh sebab itu ia dikaruniakan oleh Roh Allah kepada orang percaya. Kepada orang yang ‘sempurna’, Allah sudah menyatakan rahasia hikmat-Nya dengan Roh-Nya. Di dalam Roh-Nya tidak sesuatu pun yang tersembunyi karena Roh itu menyelidiki segala sesuatu. Menurut rasul Paulus, Allah hanya dapat dikenal oleh Roh-Nya saja. Orang yang percaya dianugerahi Roh Allah, yang mengatasi dunia ini dan para penguasanya. Roh Allah menjadi pembuka jalan kepada kedalamn pengenalan akan Allah.

Makna yang terkandung di dalam Roh Allah itu ialah, bahwa orang Kristen dapat mengenal karunia Allah. Hikmat ialahi itu hanya dapat dikatakan oleh orang yang mempunyai Roh. Hanya dengan perkataan yang dikaruniakan oleh Roh saja, kita dapat berkata-kata tentang hikmat.

Menurut pengajaran rasul Paulus, Roh Allah itu sama dengan Roh Kudus. Oleh karena Roh Kristus, kita dapat mengenal kehendak Allah dan hikmat-Nya. Allah Bapa, Kristus (Anak) dan Roh Kudus merupakan Allah yang menyatakan diri sebagai Pencipta (Allah Bapa), Penyelamat (Yesus Kristus) dan penolong, Penuntun atau Penghibur (Roh Kudus). Jadi ketiganya bekerja sama – saling terkait, satu dengan yang lain, saling melengkapi dan saling meneguhkan.

PENERAPAN
  Mungkin untuk memudahkan kita memahami hal ini, mari kita perhatikan “matahari”. Pertama, matahari itu memiliki cahaya yang sangat terang sehingga dengan cahaya itu manusia dapat mematikan semua lampu dalam rumah ketika matahari bersinar terang lagi, siang bahkan hingga sore hari. Tetapi pada malam hari itu, lampu-lampu perlu dinyalakan karena cahaya matahari sudah tidak ada lagi. Kedua, matahari juga mempunyai bentuk yaitu bulat, sehingga dari kecil kita menggambarkan matahari itu selalu bulat dan tidak segitiga atau kotak. Ketiga, matahari memiliki panasyang luar biasa sehingga kita dapat menjemur pakaian, kasur, bantal, karpet dan lain-lain sehingga kering. Dari satu benda yang disebut matahari kita mengenal 3 komponen yaitu : cahaya, bentuk dan panas.  Ketiga hal ini melekat pada satu benda yang disebut Matahari dan ketiganya tidak terpisahkan, tetapi dapat dibedakan satu dengan lainnya.  Demikian pula halnya dengan Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus, ketiganya berbeda tetapi ketiganya Esa.


URAIAN KHOTBAH

Saudara-sauSaudara-sauSaudara-saudara yang kekasih di dalam Tuhan Yesus Kristus, hari ini kita memasuki minggu Trinitas. Apa artinya minggu Trinitas? Minggu Trinitas adalah minggu pertama sesudah Pentakosta yang di dalamnya Gereja diajak untuk menghayati kembali makna Allah yang Esa atau Allah Tritunggal (Bapa, Anak dan Roh Kudus). Adapun simbol yang digunakan pada hari minggu Trinitas ini adalah Segitiga (Triquetra) dengan    warna dasar putih yang menjadi simbol dari Ketritunggalan. Bila kita perhatikan, ada tiga buah lekukan yang tidak terputus, saling bersambung – yang menyatakan kekekalan dari Allah itu sendiri.

Pemahaman tentang Allah Tritunggal memang tidak mudah dimengerti dengan menggunakan “akal pikiran” manusia. Hal seperti ini hanya dapat dimengerti dengan “iman” . di dalam iman, hikmat Allah bekerja sehingga kita akhirnya yakin bahwa benar, Allah telah datang ke dalam dunia ini dalam wujud manusia yaitu Yesus Kristus. Yesus Kristus, Anak Allah yang hidup itu telah menyatakan kehendak Allah bagi manusia dan mengajarkan manusia untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya agar manusia memperolah pengampunan, penebusan dan keselamatan. Tanpa iman kepada Yesus Kristus, kita tidak akan memperoleh keselamatan (Yohanes 14:6). Untuk mengimani Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, kita membutuhkan tuntunan kuasa Roh Kudus yang membuka hati dan pikiran kita agar mengerti dan percaya bahwa Kristus telah datang mengobarkan diri-Nya, mati di kayu salib Golgota demi keselamatan kita.

Bagi orang dunia, kematian Kristus di kayu salib adalah sebuah lambang kesalahan dan kebodohan. Bagaimana mungkin seorang yang disebut “Anak Allah”, matinya sangat memalukan, seperti halnya seorang penjahat – mati di tiang gantungan? Tetapi bagi kita, yang percaya justru kematian seperti itulah yang dengan jelas menunjukkan: di satu sisi, besarnya kasih Allah bagi kita yang berdosa ini dan di sisi   lain : betapa kejam dan hinanya kita di hadapan Allah sehingga dengan sadar “membunuh” seorang yang tidak bersalah. Namun Dia tetap mengasihi kita, bagaimana pun keberadaan kita. Terpujilah Allah Bapa, Yesus Kristus dan Roh Kudus sekarang dan selama-lamanya. Amin. S.P.D/hlt/SGDK/Edisi45

BERAKAR UNTUK MEMBAWA SESAMA BERAKAR



Bacaan : Kitab Filipi 1 : 18 – 26
TEKS
Dengan berpikir positif Rasul Paulus mengatakan bahwa ia akan bersukacita atas apa yang ia kerjakan (akibat pekabaran Injil ia dipenjara) dan atas apa yang dialami jemaat Filipi. Bagi Paulus suatu kematian dalam Kristus bukanlah perkara sia-sia.
Teks Filipi 1:18-26 menjelaskan tentang harapan Rasul Paulus kepada jemaat  Filipi. Walupun Paulus berada di dalam penjara ia tidak takut mati karena memberitakan Injil. Akan tetapi ia ingin terus hidup karena ia ingin memberikan yang terbaik kepada Tuhan dan juga kepada jemaat Filipi (ayat 24 – 26).
Tantangan eksternal berasal dari para tetangga yang memusuhi jemaat Filipi dan juga datangnya para pengganggu (para penginjil lain) membawa keresahan dalam jemaat. Dari dalam penjara Paulus menasehatkan agar jemaat Filipi terus berjuang memenuhi suatu hidup yang berpadanan dengan Injil. “apapun yang terjadi” tulis Paulus “hiduplah dengan cara yang membawa hormat bagi kabar baik tentang Kristus” (ayat 27).
Rasul Paulus yang dipakai Tuhan untuk memberitakan Injil pada perjalananpenginjilannya yang kedua (kis. 16 : 12), berhasil membentuk sebuah komunitas Yesus Kristus di Filipi (jemaat Filipi). Namun, ia terpaksa meninggalkan jemaat itu karena ada penganiayaan (1 Tesalonika 2:2). Tetapi jemaat Filipi tetap setia kepada Paulus, paling kurang ada dua (2) kesempatan gereja Filipi membantu Paulus, ketika ia ada di Tesalonika (Filipi 4 : 16). Hal ini menunjukkan bahwa hubungan Rasul Paulus dengan jemaat Filipi sangat erat dan hangat (berakar). Karena biasanya Rasul Paulus dengan cermat membiayai penginjilannya sendiri.
KONTEKS
Reaksi orang saat itu terhadap pemenjaraan Paulus tidak sama. Ada yang sedih dan prihatin. Itu adalah reaksi yang wajar,  sebab dipenjara berarti dibatasi ruang gerak kebebasannya. Mereka kuatir bahwa pemenjaraan Paulus akan berakibat buruk pada kelangsungan perwartaan Injil (ayat 12-13). Akan tetapi, ada pula orang tertentu yang karena iri terhadap pelayanan Paulus, malah senang bila Paulus dipenjara. Mereka senang bila Paulus susah karena melihat bahwa tugas pewartaan Injil yang dilakukannya kini diambil alih oleh orang-orang itu (ayat 17). Ternyata kedua hal itu sama sekali tidak menyusahkan Paulus. Pertama, karena di dalam penjara ia tetap bebas bicara menyaksikan Injil (ayat 12). Kedua, karena menjadi jelas bahwa ia dipenjara karena Injil bukan karena kesalahan (ayat 13). Ketiga, karena keterpenjaraan Paulus malah menyemangati orang Kristen untuk berani bersaksi bagi Yesus (ayat 14). Keempat, karena pewartaan Injil dengan motivasi salah pun tetap berisikan kabar keselamatan Kristus. Itulah alasan mengapa ia bersukacita (ayat 18).
Surat Paulus kepada Jemaat Filipi ditulis +/- tahun 50 M dari penjara. Komunitas Kristen di kota Filipi hidup dalam keadaan yang cukup rumit, di satu pihak mereka berjuang melawan tetangga-tetangga mereka yang memusuhi mereka. Di pihak lain mereka disusahkan oleh para penginjil yang datang kepada mereka dengan mengatakan hal-hal yang berbeda dan bertentangan dengan ajaran Rasul Paulus.
Karena ia berada di dalam penjara, maka ia hanya dapat menasehatkan mereka agar waspada terhadap pengganggu (para penginjil itu) secara internal (ayat 27) dan terhadap lingkungan eksternal (ayat 28).
PEMAHAMAN TEOLOGIS
1. Keberadaan Rasul Paulus di dalam Penjara dapat manjadi alasan untuk dia mengeluh kepada Allah atas apa yang dialami. Akan tetapi, Paulus tidak menunjukkan keluh-kesah sebagai pewarta Injil Kristus, sebaliknya ia berusaha untuk sebisa mungkin bersukacita dalam penderitaan.
2. Bagi Rasul Paulus hidup atau mati: demi dan dalam Kristus adalah kerinduan terdalam Paulus, yaitu bahwa hidup atau matinya boleh mempermuliakan Kristus (ayat 20-21). Karena hubungannya dengan Kristus begitu akrab maka kondisi-kondisi yang berubah-ubah tidak mempengaruhi kesetiaannya, kualitas kerohaniannya maupun semangat pelayanannya. Sebaliknya penderitaan adalah kesempatan untuk mengalami keindahan persekutuan yang lebih dalam bersama Allah dan orang percaya (jemaat Filipi, ayat 18-19), dan membuat ia lebih berharap berjumpa Kristus (ayat 23).
3. Untuk Rasul Paulus yang penting dalam pengalaman hidup adalah ia tetap menyatakan Kristus dan ia ingin memberi dirinya bermanfaat sebanyak-banyaknya bagi jemaat Tuhan. Alangkah hebatnya prinsip dalam kualitas pelayanan Paulus.
SBTDWI/GPIB/edisi30/april – juni 2016/JK.

PEMBAHARUAN RAJA YOSIA BAGI ISRAEL


Bacaan II Tawarikh 34 : 1 – 7
TEKS
II Tawarikh 34 : 1 – 7 merupakan teks yang menceritakan tentang masa Pemerintahan Raja Yehuda. Raja Yosia merupakan raja yang cukup unik, hal ini dikarenakan pengangkatannya sebagai Raja dalam usia yang sangat muda yaitu 8 tahun (ayat 1). Meskipun dalam usia muda, Ia tetap memiliki cara pemerintahan yang berbeda dengan ayah maupun kakeknya sebelumnya. Ayat 2 menegaskan bahwa Ia selalu melakukan apa yang benar di mata Tuhan dan tidak menyimpang ke kanan maupun ke kiri. Karena itulah masa Pemerintahan Yosia sangat dikenal dengan kejayaannya untuk melakukan Pembaharuan besar-besaran di tengah kehidupan bangsa Yehuda.
Masa Pembaharuan yang dilakukan oleh Yosia tidak dilakukan semau dia tanpa perhitungan yang baik.  Raja Yosia melakukan Pembaharuan dengan langkah-langkah praktik yang sangat baik; antara lain

  1. Langkah 1: Pada tahun ke delapan adalah tahun 631 sM masa Pemerintahannya Ia mulai mencari Allah(ayat 3). Artinya bahwa dasar pembaharuan yang akan dibuatnya tetap diawali dengan penyerahan diri dan pertolonganAllah. Sikap Raja Yosia ini menunjukkan bahwa Pembaharuan hanya bisa terjadi ketika Allah sang Pemilik kehidupan berperan di dalam proses pembaharuan tersebut; karena dasar pembaharuan itu harus sesuai kehendak Allah.
  2. Langkah 2 : Pada Tahun kedua adalah tahun 627 sM, Ia mulai mentahirkan Yehuda dan Yerusalem dari bukit-bukit pengorbanan, merobohkan mezbah baal, menghancurkan pedupaan-pedupaan, menghancurkan tiang-tiang berhala, menghancurkan patung-patung pahatan dan menghancurkan patung – patung tuangan di berbagai daerah sampai pelosok. (ayat 3-7).
Raja Yosia berhasil melakukan Pembaharuan hidup bagi bangsa Yehuda karena Ia memulai segala rencana Pembaharuannya dengan menjadikan Allah sebagai kunci dasar tolak ukur dari sebuah Pembaharuan. Pembaharuan dilakukan oleh Raja Yosia bagi bangsa Yehuda, karenaIa rindu bangsanya mengalami pertobatan yang sejati. Sebab pertobatan sejati tidak hanya cukup sadar akan dosa, mengaku dosa, menyesal akan dosa dan mohon pengampunan dan pemulihan hidup saja seperti yang selama ini selalu dilakukan oleh bangsa Yehuda. Pertobatan sejati tanpah buah Pembaharuan diri tidak akan pernah membawa hidup seseorang berjalan di jalan Allah. Hal ini dikarenakan Pembaharuan diri merupakan sebuah sikap nyata seseorang untuk merubah perilaku hidupnya secara total dari hal yang tidak baik menjadi pribadi yang berkenan di hadapan Allah. Memang bukan hal yang mudah melakukan Pembaharuan hidup, namun dari pengalaman Iman Yosia kita diajak untuk berani melakukan Pembaharuan hidup melalui langkah-langkah berikut:

  1. Serahkan hidup secara total kepada Allah, karena hanya Allah kunci tolak ukur pembaharuan hidup kita.
  2. Tanamkan pemahaman bahwa hidup adalah Anugerah Allah, maka hidup bagi orang percaya adalah melayani Allah agar nama Allah dimuliakan.
  3. Perdalam hidup dengan ketekunan akan pengetahuan tentang Firman Allah. Jadikanlah Firman Allah sebagai cermin dalam segala pikiran, perkataan dan perilaku kita maupun cermin bagi segala hal yang datang dari lingkungan luar kehidupan kita.
  4. Berani katakan putus dengan kehidupan masa lalu yang bertentangan dengan Allah (jangan pernah berkompromi kembali).
  5. Bukalah hati dalam persekutuan bersama Allah.
Teks ini mengajak kita untuk siap melakukan pembaharuan hidup sekaligus siap menjadi Yosia-Yosia masa kini yang selalu siap menjadi agen Pembaharuan hidup bagi sesamanya.
KONTEKS
Kitab II Tawarikh merupakan kitab yang didalamnya berisi tentang sejarah kehidupan bangsa Israel dibawah kepemimpinan para Raja. Jelas sekali dari II Tawarikh 12 – II Tawarikh 36 tergambar dengan jelas alur cerita sejarah kepemimpinan Yehuda di bawah para pemimpin yang memiliki beragam perilaku baik maupun yang tidak baik. dari tahun 930 sM hingga 586 sM ada 19 laki-laki dan 1 orang perempuan yang menduduki tahta sebagai seorang pemimpin. Kehidupan bangsa Yehuda sangat dipengaruhi oleh pola kepemimpinan dari Sang Raja/Pemimpin. Jika pemimpin itu memiliki kepribadian kokoh takut akan Allah maka arah kepemimpinan sesuai dengan kehendak Allah; jika tidak maka rakyatpun akan hidup tidak sesuai kehendak Allah.
Kitab Tawarikh ini sebenarnya Kitab yang bertujuan untuk memberikan dorongan agar para umat hidup dengan menyerahkan diri kepada Allah. Hal ini didasarkan pada segala pertolongan Allah dalam kehidupan umat. Namun, realitanya bukan hal yang mudah membawa umat hidup takut akan Allah. Umat cenderung berkompromi dengan dunia, bersikap acuh terhadap Hukum Taurat dan bertindak menyimpang dari Tuhan. Sebab pola dasar dari sejarah Yehuda adalah kemerosotan religius. Dari sekian banyak Pemimpin yang dipercayakan untuk memimpin bangsa Yehuda, munculah salah satu sosok Pemimpin yang berkenan di hadapan Allah yaitu Yosia. Ia adalah raja saleh terakhir dari Yehuda, dan di dalam hal tertentu dia juga merupakan Raja Yehuda yang terbesar (II Tawarikh 34 : 2). Karena pembaharuan yang diadakannya pada tahun 612 sM itulah yang mampu memulihkan komitmen Israel kepada Allah. Yosia dalam bahasa ibrani Yoshiyahu; dalam bahasa Yunani iwsias, Yosias, yang artinya “TUHAN menopang” adalah raja kerajaan Yehuda.
Raja Yosia lahir ketika ayahnya, Raja Amon, berusia 16 Tahun dan kakeknya Manasye, masih memerintah di Yerusalem dalam usia 61 tahun. Ibunya ialah Yedida binti Adaya, dari Bozkat. Sewaktu Yosia berusia 6 tahun, raja Manasye (67 tahun) mangkat dan Amon (22 tahun) menggantikannya menjadi raja. Amon hanya memerintah selama 2 tahun, karena dibunuh di istananya oleh pegawai-pegawainya yang mengadakan persepakatan melawan dia dikarenakan sikap dan cara kepemimpinannya yang tidak berkenan di hadapan Tuhan dan banyak melakukan kesalahan. Tetapi rakyat negeri itu membunuh semua orang yang mengadakan persepakatan melawan raja Amon; dan rakyat negeri itu mengangkat Yosia, anaknya, menjadi raja menggantikan dia (II Tawarikh 33 : 23-25).
Yosia menjadi raja pada usia 8 tahun (II Tawarikh   34 : 1), sekitar tahun 639 – 609 sM. Ia merupakan penganut Theokrasis yang artinya bahwa Pemimpin sebuah bangsa adalah Allah, sehingga seorang Raja didunia harus menyadari bahwa dirinya adalaj wakil Allah di dunia ini.  Dalam   kesadaran  inilah maka ia selalu melakukan apa yang benar di mata TUHAN. Dalam Pemerintahannya Yosia melakukan reformasi dalam hal keagamaan.
PEMAHAMAN TEOLOGIS

  1. Kunci Dasar Tolak ukur sebuah Pembaharuan Hidup adalah Allah, karena itu Pembaharuan Hidup hanya bisa dilakukan dengan abik  jika seseorang benar-benar datang kepada Allah dan menyerahkan hidupnya secara total kepada Allah.
  2. Pembaharuan hidup merupakan  sebuah perubahan hidup secara total dari perilaku hidup lama yang jahat menjadi perilaku hidup baru yang sesuai kehendak Allah. Artinya perubahan dari Hitam menjadi Putih dan bukan dari hitam menjadi abu-abu. Ingat hidup yang dibaharui adalah hidup yang tanpa kompromi terhadap hal-hal yang bertentangan dengan kehendak Allah (tidak menyimpang ke kanan maupun ke kiri).
  3. Pembaharuan Hidup merupakan salah satu unsur Pertobatan sejati, karena tanpa Pembaharuan hidup seringkali seseorang bisa kembali melakukan dosa yang dilakukannya.
  4. Setiap orang yang telah menerima anugerah Keselamatan dari Allah dipanggil untuk menjadi Agen Pembaharuan hidup bagi sesama seperti yang dilakukan oleh Raja Yosia. SBT/GPIB/kelas eka/edisi 30/2016

DOA; sangat besar kuasanya

YESUS MEMBUATMU BERHARGA