Bertobatlah



Minggu V sesudah Efifania
Bacaan Lukas 11:1-13)
Pengantar
Berbeda dengan Injil Matius, Lukas mencatat bahwa ajaran Yesus tentang hal berdoa disampaikan ketika dalam perjalanan. Yesus berhenti di suatu tempat untuk berdoa. Dari permintaan seorang murid Yesus ini, kita mendapat gambaran bahwa murid ini minta diajari berdoa karena ia melihat Yesus berdoa. Pada saat iut ada pemahaman yang berkembang, bahwa seorang guru umumnya akan mengajarkan muridnya berdoa, karena itulah murid tersebut menjadikan Yohanes sebagai acuan. Yesus tidak keberatan memenuhi permintaan murid-Nya itu. Bahkan, dalam doa yang diajarkan Yesus, kita diajak memasuki suatu pemahaman yang kaya mengenai Kerajaan Allah.
Pemahaman Teks
Ayat 2. Sapaan ‘Bapa’ menjadi hal yang ‘mengangkat status’ pendengar (=murid-murid Yesus pada waktu itu) mengingat bahwa mereka adalah kelompok yang sedang dicari-cari kesalahannya (=’dikritisi’) oleh para pemuka agama pada waktu itu (Lukas 5:21, 30). Sebagai manusia pada umumnya, sikap para pemuka agama itu dapat saja membuat murid-murid Yesus meragukan ‘status’ mereka di hadapan Allah. Itulah mengapa, ketika Yesus mengajarkan mereka untuk menyapa Allah dengan sebutan ‘Bapa” dalam doa. Mereka seperti disadarkan bahwa mereka tetap dianggap ‘anak’ oleh Tuhan, Allah yang mereka sembah. Sehubungan dengan hal itu, ungkapan “dikuduskanlah nama-Mu” menunjukkan bahwa sekalipun mereka ‘boleh’ memanggil Tuhan sebagai ‘Bapa’ namun sapaan itu tidak mengurangi wibawa Allah di hadapan umat-Nya. Umat yang adalah anak-anak Allah tetap harus mengutamakan kekudusan nama TUHAN.
Orang pada umumnya berpikir bahwa hal Kerajaan Allah adalah sesuatu yang ilahi, yang akan ‘didatangi’ setelah kematian namun Yesus menghadirkan Kerajaan Allah justru pada saat mereka masih hidup. Dampak psikologis dari ungkapan ini adalah murid-murid dibawa kepada ‘nuansa’ yang lain yaitu ilahi ketika berdoa.
Ayat 3. Umumnya orang berdoa karena ingin untuk meminta sesuatu. Yesus tidak menyalahi maksud itu. Kita boleh meminta, tetapi sebatas pada apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Itu artinya dalam jumlah yang cukup, tidak kurang supaya kita tidak mengeluh tetapi tidak juga berlebihan supaya tidak pongah.
Ayat 4. Yesus mengajarkan murid-murid-Nya untuk minta ampun. Secara tidak langsung, Yesus memberi gambaran hubungan yang penuh pengampunan dengan Tuhan haruslah juga sejalan dengan hubungan kita dengan orang lain. Dalam doa, kita dapat menjalin hubungan yang akrab dengan Tuhan dan hubungan yang sama pun harus terjalin dengan sesama.
Ayat 5-13. Yesus sedang meyakinkan murid-murid-Nya tentang bagaimana doa yang diajarkan-Nya itu pasti ‘dikabulkan’ oleh Allah.
Ayat 5-10. Hal pengabulan doa: Yesus mengibaratkan orang yang didatangi sahabatnya untuk meminta roti, orang itu akan memberikannya karena ia tidak  mau malu terhadap sahabatnya itu. Begitu juga Allah terhadap orang yang meminta kepada-Nya. Mekanismenya sangat wajar : bahwa orang yang meminta pasti akan menerima.
Ayat 11-13. Yesus mengibaratkan seorang ayah hanya memberikan yang baik kepada anak-anak. Sedangkan Allah lebih dari tiu. Roh Kudus, pemberian Allah dapat dikatakan sebagai ‘pemberian serba guna’ bagi kita anak-anak-Nya.
Renungan dan Penerapan
Wajar jika kita baru mau melakukan sesuatu setelah diberi jaminan bahwa apa yang kita lakukan itu akan membawa hasil yang memuaskan atau yang menguntungkan. Demikian juga dengan berdoa. Banyak orang baru mau berdoa ketika dalam keadaan terdesak atau punya keinginan tertentu. Berdoa menjadi pelihan terakhir setelah kita kehabisan ide untuk berusaha. Bacaan ini membawa kita kepada sisi doa yang lain, bahwa doa bukan sekadar tentang ‘meminta’ melainkan:
1.    Dalam nuansa doa, diperbolehkannya kita memanggil Allah dengan sebutan ‘Bapa’ bukan sekadar untuk ‘menaikkan status’       dari manusia berdosa menjadi anak Allah melainkan memperkenalkan kita kepada cara Allah memperlakukan kata yaitu bagaikan bapa kepada anaknya. Pemahaman ini akanmenjadi hal yang sangat menguatkan bagi kita yang sehari-hari seringkali dipersalahkan orang, semua yang kita lakukan tidak benar, selalu salah di mata orang dan akhirnya menjadi bahan bulan-bulanan. Kita yang mengalami hal itu seringkali menjadi pribadi yang randah diri, tidak percaya diri bahkan sulit menerima kebaikan orang lain. Kita bahkan menjadi cepat curiga terhadap perlakuan orang yang baik sekalipun. Kepada kita yang demikian, Yesus menyampaikan bahwa ada Allah yang ‘ mengangkat’ kita sebagai anak-Nya. Dalam kekudusan-Nya dan demi pembenaran dalam Kristus, Allah tidak mempersalahkan kita karena itu datanglah kepada-Nya dalam doa. Hanya doalah kita dapat berdiri sebagaimana adanya di hadapan Allah.
2.   Kita diarahkan untuk merasakan bahwa kita ini sudah atau sedang berada di dalam Kerajaan Allah. Bagi kita yang percaya, dunia tempat kita  sehari-hari adalah Kerajaan Allah.  Jika demikian maka kita seharusnya hidup berkecukupan dalam hal jasmani dan berkelimpahan dalam hal rohani. Inilah yang membuat kita tidak perlu meminta yang berkelebihan  dalam Kita diarahkan untuk merasakan bahwa kita ini sudah atau sedang berada di dalam Kerajaan Allah. Bagi kita yang percaya, dunia tempat kita  sehari-hari adalah Kerajaan Allah.  Jika demikian maka kita seharusnya hidup berkecukupan dalam hal jasmani dan berkelimpahan dalam hal rohani. Inilah yang membuat kita tidak perlu meminta yang berkelebihan  kepada Bapa melainkan mulai berpikir bahwa didalam Kerajaan Allah yang seharusnya terjadi adalah apa yang dikehendaki Allah bukan apa yang kita minta atau inginkan. Dalam hidup, kita mengalami banyak hal yang mengilhami kita untuk meminta hal itu kepada Tuhan tetapi dalam doa yang diajrkan Yesus, mari mulai meyakinkan diri bahwa semua yang kita butuh untuk menghadapi hidup sudah Tuhan sediakan tinggal kita bertaruh iman dengan selalu mengucapkan : “jadilah kehendak-MU...”
3.   Menyadari diri sebagai pendosa yang memerlukan pengampunan, kita sering meminta pengampunan kepada Allah namun pelit    dalam memberi ampunan kepada sesama. Secara sederha, Yesus mengajarkan kita bahwa hubungan yang penuh ampun  dari Bapa seharusnya terjadi juga antara kita dengan orang lain. Kita mendambakan suasana yang penuh kasih, penuh maklum, penuh pengertian dan akhirnya ampunan     ketika berhubungan dengan Bapa lewat doa.   Oleh karena itu ciptakanlah suasana yang sama ketika kita berhubungan dengan orang lain.
4.   Meyakinkan adanya jawaban terhadap permohonan kita bahwa Allah akan memberi yang terbaik bagi anak yang meminta kepada-Nya. Namun ada kalanya tidak semua doa dijawab Tuhan sesuai permintaan atau harapan kita. Pertanyaannya : salah di mana? Umumnya, kesalahan terletak pada pemahaman kita tentang doa. Berdoa yang kita pahami  adalah tindakan yang untuk meminta dan mendapatkan padahal dalam bacaan ini, Yesus mengajak  kita terlebih dahulu masuk ke dalam hubungan Bapa-anak, baru setelah itu kita akan mengetahui bagaimana sebenarnya cara pertimbangan sebenarnya cara atau pertimbangan Tuhan dalam menjawab doa.  SGD&SGD 2016,CTvM/SGRS

“Hakku dalam Keluarga”



Tema               : Memberikan yang terbaik bagi Keluarga
Gagasan Tema : Ikut serta menciptakan Hidup Rukun dengan Keluarga
Topik               : “Hakku dalam Keluarga”
Bacaan            : Efesus 6 : 4

TEKS
Teks Efesus 6:4 merupakan bagian dari perikop Efesus 1-9 yang diberi judul “Taat dan Kasih”. Secara khusus ayat 1 – 4 mengatur hubungan antara anak dan orangtua. “Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan (Efesus 6:4)
Ayat 4 ini tidak dapatterlepas dari ayat 1-3 dimana anak diminta menaati dan menghormati ayah dan ibu, sebagaimana yang telah diperintahkan dalam Hukum Taurat ke-5 (keluaran 20:12). Sedangkan orang-tua (Yun. Pater; jamak.  pateres, dapat berarti “ayah-ayah” atau “ayah dan ibu”) diharapkan memberikan kepada anak mereka ajaran dan teguran yang termasuk pengasuhan Kristen. Teks ini terdiri dari 2 pesan utama, yang terdiri dari pesan negatif: “Jangan bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu,” dan pesan positif “didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan”. Jangan bangkitkan amarah mengandung makna bahwa orangtua diharapkan tidak memberikan kesan negatif pada anak-anaknya melalui kata dan perbuatan yang kasar. Namun orngtua justru harus mendidik dan memberikan disiplin pada anak (Lihat Ibrani 12:5-11, Amsal 13:24; 23:13-14).
KONTEKS
Kitab Efesus merupakan salah satu kitb yang ditulis Paulus di dalam penjara pada saat ia berada di Roma. Kitab ini ditujukan kepada orang-orang Kudus yang berada di Efesus. Ditulis sekitar tahun 60 setelah Masehi. Tujuan Paulus menulis surat ini kepada jemaat Efesus, didukung oleh keadaan masyarakat Efesus pada saat itu. Keadaan masyarakat Efesus pada saat itu adalah masih melakukan penyembahan terhadap Dewa Yunani (dewi Artemis). Mereka memahami dan mempercayai bahwa dewi Artemis ini adalah Dewa kesuburan. Selain itu juga mereka melakukan penyembahan dan tunduk kepada Kaisar. Melihat keadaan ini tergeraklah hati Paulus untuk mengirimkan suratnya kepada jemaat di Efesus.
Surat ini berisikan nasihat, perintah, dan himbauan untuk hidup dalam Kristus. Surat ii merupakan juga seruan kepada umat Tuhan supaya mereka menghayati makna rencana agung dari Tuhan itu untuk mempersatukan seluruhumat manusia melalui Yesus Kristus.
PEMAHAMAN TEOLOGIS
Dalam pemahaman iman GPIB, hubungan suami-istri-anak memiliki kekhususan, dalam bentuk hubungan segi tiga sama sisi yang kokoh. Dalam hubungan ini nilai-nilai kekristenan ditumbuhkembangkan.
Pendidikan Kristiani dalam keluarga menjadi tanggungjawab bersama orangtua. Seorang ayah tidak bisa meninggalkan tanggungjawab pendidikan  anak dan menyerahkan   seluruh aspek pendidikan kepada ibu karena dia sendiri berperan  sebagai wakil Allahdalam keluarga. Alkitab secara konsisten dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru tidak pernah mengabaikan perenan Ayah dalam mendidik anak. Orang-tua harus menjadi        teladan dalam kehidupan dan perilaku Kristen, serta lebih mempedulikan keselamatan anak mereka    daripada pekerjaan, profesi, pelayanan mereka di gereja atau kedudukan sosial mereka (bandingkan Mazmur 127:3).
ASP/SBT/eka

TATA IBADAH GPIB



Materi ke – 40
Pokok Bahasan : Ibadah dan Doa
Sub Pokok Bahasan : Tata Ibadah GPIB
Tujuan Pembelajaran Khusus :
  1. Mengetahui dan memahami Tata Ibadah GPIB.
  2. Mampu menghayati setiap rumpun Ibadah dalam Tata Ibadah GPIB dengan benar.
  3. Dapat merefleksikan Ibadah seremonial dalam ibadah aktual sehari-hari.
TATA IBADAH GPIB
I.           PENGANTAR
Kegiatan ibadah tidak serta merta dapat dilakukan begitu saja tanpa pemahaman dan penghayatan yang sungguh dan benar. Karena itu Rasul Paulus menulis : “Latihlah dirimu beribadah” (1 Timotius 4:7b). Lebih lanjut Rasul Paulus berkata, “……. ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini, maupun untuk hidup yang akan datang. (1 Timotius 4:8). Dengan demikian ibadah adalah suatu hal yang amat penting bagi hidup orang-orang percaya, karena ibdah itu ternyata tidak hanya sekedar kita berkumpul di dalam ruangan ibadah (gedung gereja) semata-mata melainkan juga menyangkut kehidupan sehari-hari masa kini dan masa depan orang Kristen. Karena itu maka Ibadah orang Kristen harus diatur atau ditata dengan baik.

II.          IBADAH SEBAGAI PERJUMPAAN ALLAH DENGAN UMAT.
Mengapa Ibadah orang Kristen harus berlangsung dengan hikmat dan tertib? Karena Ibadah merupakan media yang dikuduskan oleh anugerah kasih Allah, sehingga melalui ibadah tersebut Allah berkenan menyatakan diri-Nya kepada Umat.
Dengan demikian makna Ibadah pada prinsipnya bukan sekedar suatu perbuatan ritual atau seremonial kerohanian, tetapi lebih tepat dalam ibadah tersebut terjadi pengalaman iman orang percaaya yaitu perjumpaan Allah dan manusia.
Banyak kosa kata tentang ibadah dalam Alkitab. Diantaranya adalah kata Yunani “Latreuo” atau “Latreia “ (Roma 12 : 1 ; Filipi 3 : 3). Kata Latreuo atau Latreia dapat berarti melayani ; mengabdikan seluruh hidup kepada Allah ; pelayanan kepada Allah atau ibadah kepada Allah.
Jadi ibadah adalah, menyembah Allah atau mengabdi kepada Allah. Dan dalam rangka mempersembahkan ibadah kepada Allah, para hambaNya harus menundukkan diri untuk mengungkapkan rasa takut penuh hormat, kekaguman dan ketakjuban penuh puja kepada Tuhan. (Kejadian 24 : 26 … berlutut dan sujud menyembah Tuhan). Hal itu dapat dilakukan secara pribadi, tapi juga melalui ibadah umat (bersama).
Umat datang menyembah Tuhan karena Tuhan datang dalam kemuliaan dan menyatakan kebesaran kasih-Nya. Inilah sebuah perjumpaan kudus yang terjadi antara Tuhan dengan umat-Nya. Perjumpaan ini dihayati orang Kristen dalam Ibadah.

III.         APA ITU TATA IBADAH ?
Tata Ibadah adalah sarana yang dipergunakan umat dalam rangka menata jalannya Ibadah, sebagai perjumpaan Allah dengan umat-Nya. Kalau kita mau bertemu / menghadap Presiden pasti ada aturan (protokoler) yang mengatur jalannya pertemuan tersebut, apalagi kita mau bertemu/menghadap Tuhan, tentu tidak boleh sembarangan.
Tata Ibadah bermuasal dari apa yang disebut dengan “liturgi”. Liturgi berasal dari kata Yunani: leitourgia (Kisah Para Rasul 13:2). Asal katanya adalah “laos” (artinya rakyat) dan “ergon” (artinya pekerjaan). Jadi, liturgi adalah pekerjaan yang dilakukan oleh rakyat / umat secara bersama-sama. Dalam konteks ibadah Kristen, liturgi adalah kegiatan peribadahan di mana seluruh umat yang dating beribadah terlibat secara aktif dalam pekerjaan bersama untuk menyembah dan memuliakan Tuhan.
Oleh karena semua anggota jemaat harus terlibat secara aktif, maka perlu ditentukan kapan giliran mereka berpartisipasi dalam ibadah dan bagaimana bentuk partisipasi itu (apakah bernyanyi, berdoa, mendengar Firman Tuhan, memberi persembahan, dengan cara berdiri, duduk dll). Penata jalannya ibadah tersebut adalah TATA IBADAH, yang menata dengan rapi dan tertib proses jalannya peribadahan Umat. Dapatkah kita membayangkan kalau pelaksanaan ibadah tanpa penataan yang baik?, pasti kacau balau. Karena itu agar tidak terjadi kekacauan dalam ibadah umat maka semua pelaksanaan atau pelayanan perlu didasari pada sikap dan spiritualitas yang baik, sopan dan tertib, “Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera” (1 Korintus 14:33). Rasul Paulus juga menyampaikan suatu nasihat agar kita mengutamakan ketertiban yang dilandasi oleh kasih. Ia menasehatkan “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban” (2 Timotius 1:7).

IV.        TATA IBADAH GPIB
Tata Ibadah sebagai penata jalannya perjumpaan Tuhan dengan umat dikemas dalam 4 (empat) “babak”. Dalam Tata Ibadah dipakai istilah “rumpun”, yaitu:
Rumpun I             : MENGHADAP TUHAN
Rumpun II            : PELAYANAN FIRMAN /SAKRAMEN
Rumpun III           : JAWABAN UMAT
Rumpun IV          : PENGUTUSAN
Setiap Rumpun terdiri dari beberapa unsur. Selengkapnya (Tata Ibadah Hari Minggu) adalah :

I. M E N G H A D A P  T U H A N
Nyanyian Umat datang menghadap Tuhan

VOTUM
PF : Pertolongan kepada kita adalah dalam nama Tuhan yang menjadikan langit dan bumi
U : 1 . 1
A – min

NAS PEMBIMBING
PF :
 . . .
SALAM
PF        : Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita dan dari Tuhan kita Yesus Kristus, menyertai Saudara sekalian

U : 1 . 7 . 1
A – min
U : (menyanyi) duduk

PENGAKUAN DOSA
P : (mengajak umat mengaku dosa)
U : menyanyi (Kyrie Eleison)

BERITA PENGAMPUNAN DOSA
PF : Sebagai Pelayan Yesus Kristus, kami memberitakan, bahwa pengampunan dosa telah berlaku dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus ~ disertai nas tentang Berita Pengampunan
U : menyanyi . . .
AMANAT HIDUP BARU
PF     : (mengajak umat berdiri, membaca Amanat Hidup Baru) .......    Kiranya Roh Kudus menolong kita untuk mewujudkan kemuliaan Allah dalam hidup kita dan diseluruh dunia
U : menyanyi (Nyanyian Kemuliaan)
Duduk
II. PELAYAN FIRMAN & SAKRAMEN
DOA MOHON BIMBINGAN ROH KUDUS
PF :
PEMBACAAN ALKITAB
Pembaca : (mengajak umat membaca Alkitab) ..
Demikianlah Firman Tuhan,Terpujilah Kristus, Maranatha / Hosiana / Haleluya
Umat : menyambut dengan nyanyian Maranatha / Hosiana / Haleluya

PEMBERITAAN FIRMAN

PF : memberitakan Firman
U : menyanyi . . .
Pelayanan Sakramen Baptisan / Perjamuan Kudus
III. JAWABAN UMAT
PENGAKUAN IMAN diucapkan bersama sambil berdiri, sikap sempurna
DOA SYAFAAT  (alternatif : Syafaat, syafaat + Doa Bapa Kami, Doa Bapa Kami)
UNGKAPAN SYUKUR
Diaken : Mengajak umat bersyukur disertai landasan Nas Alkitab dan mengajak jemaat menyanyi
Umat : menyanyi . . . . memberi persembahan (diiringi organ) menyanyi . . .
berdiri
Diaken : Doa Persembahan
duduk
IV. P E N G U T U S A N
WARTA JEMAAT
AMANAT PENGUTUSAN

PF : mengajak umat berdiridan menyampaikan Amanat Pengutusan
U : menyanyi .............
BERKAT
PF : Arahkanlah hatimu kepada Tuhan dan terimalah berkat-Nya : . . . . .
U : menyanyikan : Amin, amin, amin
V. PENJELASAN SETIAP RUMPUN
a. MENGHADAP TUHAN
Votum mengandung arti sebagai proklamasi kehadiran Tuhan dan bahwa Ibadah yang berlangsung adalah dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus. Sedangkan salam diucapkan oleh Pelayan tanpa mengangkat tangan, karena salam bukanlah berkat. Formulasi salam dapat disesuaikan dengan tahun gereja. Nas Pembimbing adalah nas yang berhubungan dengan tahun gereja serta nas khotbah. Ketika mempersiapkan nyanyian dan unsur tetap lainnya, sebaiknya nas pembmbing juga disesuaikan. Pengakuan Dosa merupakan sikap umat yang menyadari akan semua bentuk kegagalan dalam mentaati kehendak Tuhan yang disampaikan dalam doa kepada-Nya. Berita Anugerah merupakan ungkapan penegasan bahwa pengampunan dosa telah Kristus nyatakan melalui pengorbanan-Nya.
Amanat Hidup Baru perlu dipahami sebagai amanat bagi umat yang telah menerima pengampunan. Amanat Hidup Baru disesuaikan dengan Tahun Gereja. Amanat Hidup Baru disambut oleh umat dengan nyanyian Kemuliaan.
b. PELAYANAN FIRMAN
Doa Mohon Bimbingan Roh Kudus atau yang juga disebut Epiklese merupakan doa yang berisi permohonan bimbingan Roh Kudus untuk Pembacaan dan Pemberitaan Firman. Alkitab sebagai landasan Pemberitaan Firman mengikuti jadwal pembacaan Alkitab yang ditetapkan oleh Gereja (GPIB). Pemberitaan Firman perlu dipahami sebagai penjelasan terhadap Bacaan Alkitab dan merupakan petunjuk bagi kehidupan beriman umat sehari-hari.
c. JAWABAN UMAT
Pengakuan Iman bukanlah doa. Karena itu Pengakuan Iman diucapkan sambil berdiri, dengan sikap sempurna dan tidak diakhiri dengan Amin. Pengakuan Iman dipahami sebagai jawaban umat terhadap Firman Tuhan dalam bentuk pengakuan. Pengakuan Iman diucapkan sambil berdiri, adalah simbol dari sikap gereja dan orang percaya yang berdiri dihadapan Tuhan dan di tengah-tengah dunia dengan berbagai macam keyakinan agama, aliran, tantangan, hambatan dan pengaruh. Di hadapan Tuhan dan di tengah dunia ini gereja dan orang percaya mengikrarkan pengakuan imannya.
Gereja mengenal 3 bentuk Pengakuan Iman, yakni Pengakuan Iman Rasuli, Nicea-Konstantinopel dan Pengakuan Iman Athanasius. Pengakuan Iman Nicea dan Athanasius dapat digunakan pada hari-hari Raya Gerejawi.

Berdasarkan Ketetapan Persidangan Sinode, ada tiga bentuk doa syafaat yang dapat digunakan dalam Ibadah Minggu, yakni Doa Syafaat tanpa Doa Bapa Kami, Doa Syafaat diakhiri dengan Doa Bapa Kami, dan hanya Doa Bapa Kami. Doa Bapa Kami sebaiknya diakhiri dengan Doksologi yang dinyanyikan. Karena berlajar dari sejarah, kalimat terakhir dari doa tersebut merupakan puji-pujian yang dinyanyikan.

Ungkapan Syukur merupakan istilah yang digunakan untuk menggantikan istilah persembahan syukur. Karena syukur umat diungkapkan melalui tiga bentuk ungkapan: menyanyi, memberi persembahan dan doa persembahan. Sebaiknya ketiga ungkapan tersebut tidak diungkapkan secara sekaligus melainkan secara terpisah. Itulah sebab-nya mengapa umat diajak untuk mengungkapkan syukur melalui nyanyian syukur, kemudian memberi persembahan syukur, lalu menaikkan doa syukur.

d. PENGUTUSAN

 Warta Jemaat dipahami sebagai warta pengutusan. Artinya warta jemaat bukan sekedar informasi tentang perkembangan Jemaat, melainkan sebagai panggilan bagi umat untuk berperan serta dalam pelayanan Jemaat. Sebagai contoh, jadwal ibadah keluarga yang diwartakan merupakan panggilan bagi umat untuk berperan di dalamnya. Warta tentang warga Jemaat yang sakit adalah panggilan bagi warga jemaat untuk mendoakannya, baik dalam ibadah keluarga maupun dalam doa masing-masing keluarga.

Pesan Pengutusan adalah rangkuman dari inti pemberitaan Firman yang disampaikan kepada umat untuk diberlakukan sebagai pengutusan dalam kehidupan sehari-hari. Berkat dipahami sebagai janji penyertaan Tuhan bagi umat dalam melaksanakan Firman Tuhan yang telah diberitakan di tengah-tengah kehidupan sehari-hari. Berkat Tuhan diaminkan oleh umat dengan menyanyi amin. Setelah itu umat diberi kesempatan untuk saling bersalaman satu dengan yang lain sebagai wujud persekutuan, dan juga bersalaman dengan para pelayan ibadah. Demikianlah ibadah sebagai ritual telah selesai dan diteruskan dengan ibadah aktual dalam hidup sehari-hari; Karena itu di akhir ibadah tidak ada nyanyian yang biasanya disebut nyanyian pengiring. Fungsi nyanyian bukan untuk mengiring pelayan ke luar ruang ibadah melainkan untuk memuji Tuhan.

Daftar Pustaka
1.     Abineno, JL,Ch, Ibadah Perjanjian Baru, BPK Gunung Mulia, 1997
2.     GPIB, Tap. Persidangan Sinode GPIB tahun 1982 dan 2005.
3.     Rachman, Rasid. Hari Raya Liturgi: Sejarah dan Pesan Pastoral Gereja. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003.
4.     Vatican Council II.The Constitution on the Sacred Liturgy.
5.     White, James F. Introduction to Christian Worship: Third Edition. Nashville: Abingdon, 2000.
6.     Willemon, William H. The Service of God: How Worship and Ethics Are Related. Nashville: Abingdon, 1990

TATA GEREJA
Adalah himpunan dan susunan semua penata aturan gerejayang teranyam dan terurai dengan serasi, seimbang dan selaras untuk mengatur dan memberi arah bagi seluruh kegiatan gereja.
Informasi garis besar Tata Gereja pada halaman berikut hanya terbatas pada Daftar Isi / Pasal-pasal.

DOA; sangat besar kuasanya

YESUS MEMBUATMU BERHARGA