DISELAMATKAN OLEH ANUGERAH



            Pemahaman Reformed terhadap Alkitab dimulai dengan pengakuan terhadap kedaulatan Allah atas segala hal, termasuk atas keselamatan kita. Salah  satu ajaran inti di dalam Alkitab, yang berkali-kali digemakan, seperti suatu tema utama dari suatu simfoni, yaitu bahwa kita diselamatkan sepenuhnya oleh anugerah,  melalui karya Roh Kudus yang penuh kuasa, berdasarkan karya sempurna Juruselamat kita, Yesus Kristus.
            Namun demikian, pada waktu yang sama, Alkitab juga mengajarkan bahwa Allah menyelamatkan kita bukan sebagai boneka tetapi sebagai pribadi-pribadi, dan oleh karenanya kita pastilah bersikap aktif di dalam keselamatan kita. Alkitab, dengan cara yang misterius, menggabungkan kedaulatan Allah dan tanggung jawab kita dalam proses keselamatan. Kita dapat mengasihi-Nya hanya karena Dia terlebih dahulu mengasihi kita. Karena itu, semua pujian haruslah ditujukan hanya bagi Dia semata.

Pembenaran
            Marthin Luther menyebut doktrin pembenaran oleh iman ini sebagai “artikel yang menentukan berdiri atau runtuhnya gereja.” Terkandung dalam pernyataan ini adalah pemikiran bahwa jika gereja memelihara doktrin ini dengan benar, maka gereja secara mendasar akan benar di dalam semua ajarannya yang lain, tetapi jika gereja tidak setia kepada doktrin ini, maka gereja akan salah di semua ajarannya yang lain. Dengan keyakinan yang sama, Calvin menyatakan bahwa doktrin pembenaran adalah “engsel utama yang padanya agama berputar,”.

Ajaran-ajaran Alkitab tentang Pembenaran
          Ayat di Perjanjian Lama yang paling menonjol dalam kaitannya dengan pembenaran adalah Kejadian 15:6.  Penulis kitab Kejadian mengatakan, “Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan [ suatu bentuk dari kata kerja chashabh] hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Paulus mengutipnya di dalam Roma 4:3 dan 22 dan Galatia 3:6 untuk menunjukkan bahwa Abraham, bapa orang percaya, dibenarkan oleh iman dan bukan oleh perbuatan. Yakobus juga menggunakan Kejadian 15:6 (Yak. 2:23) dalam merujuk kepada pembenaran atas Abraham, meskipun tujuan Yakobus mengutip bagian ini berbeda dari tujuan Paulus.
          Meskipun kelihatannya seperti terdapat kontradiksi antara Paulus dan Yakobus, tetapi sebenarnya di antara keduanya terdapat kesatuan yang mendasar dan mendalam. Paulus pasti sepakat dengan Yakobus bahwa hanya iman yang hidup yang membenarkan. Baik Paulus maupun Yakobus pasti akan menyetujui pernyataan Calvin ini: “Oleh karena itu, hanya iman saja yang membenarkan, akan tetapi iman yang membenarkan itu bukanlah iman yang tanpa perbuatan. 

Pembenaran di dalam Pengakuan-pengakuan Iman Reformed
A.      Katekismus Heidelberg (1563)
Katekismus ini, yang ditulis atas perintah Fredrick III, Elektor Jerman dan Palatinate, oleh Zacharias Ursinus seorang profesor dari Universitas Heidelberg, dan Caspar Olevianus, pengkhotbah istana, telah dikenal sebagai pengakuan iman Reformed yang paling pastoral dan personal. Uraiannya tentang pembenaran yang diberikan di Pertanyaan dan Jawaban 60.
B.       Pengakuan Iman Belanda (1561)
Pengakuan iman ini ditulis oleh Guido de Bres, seorang pengkhotbah di geraja-gereja di Belgia, sebagai suatu ringkasan dari kepercayaan orang-orang Kristen Reformed yang sedang mengalami penganiayaan oleh pemerintahan Katolik Roma. Pernyataannya tentang pembenaran dapat ditemukan di dalam dua artikel. Dari Artikel 22  dan artikel 23.
C.       Pengakuan Iman Westminster (1647)
Sebuah pengakuan iman kaum Calvinis Puritan, yang ditulis oleh 131 pendeta dan 30 orang Kristen awam di Westminster Abbey di London. Pengakuan Iman ini merupakan yang terakhir dari pengakuan iman Reformed yang Klasik.

Konsep Pembenaran
            Pembenaran dapat didefinisikan sebagai tindakan anugerah dan yudisial Allah yang dengannya Dia menyatakan orang-orang berdosa yang percaya sebagai benar berdasarkan kebenaran Kristus yang diperhitungkan kepada mereka, mengampuni semua dosa mereka, mengadopsi mereka sebagai anak-anak-Nya, dan memberikan kehidupan kekal kepada mereka.
Kita akan melihat sejumlah pengamatan berikut :
1.             Doktrin pembenaran mempresuposisikan adanya pengakuan atas realitas dari murka Allah.
2.          Pembenaran merupakan suatu tindakan deklaratif atau yudisial dari Allah dan bukan merupakan suatu proses.
3.        Pembenaran diterima hanya diterima oleh iman, dan tidak pernah merupakan bagi perbuatan kita (Roma 3:28).
4.             Pembenaran berakar dalam kesatuan dengan Kristus.
5.             Pembenaran didasarkan kepada karya substitusi (penggantian) Kristus bagi kita.
6.             Pembenaran meliputi pengimputasian kebenaran Kristus kepada kita.
7.             Di dalam pembenaran, kasih karunia dan keadilan Allah dinyatakan bersama-sama.
8.             Pembenaran memiliki sisi negatif dan positif.
9.             Pembenaran memiliki implikasi eskatologis.
10.     Walaupun pembenaran tidak pernah boleh dipisahkan dari pengudusan, tetapi kedua berkat ini berbeda.

Sisi Negatif dan Positif dari Pembenaran
          Hal ini akan membuat kita bertanya: Dosa mana yang diampuni di dalam pembenaran – apakah hanya dosa yang dilakukan di masa lalu sampai masa sekarang ( termasuk kesalahan karena dosa asal), atau juga dosa yang dilakukan di masa yang akan datang? Sejumlah teolog Reformed merasa keberatan atas pemikiran bahwa semua dosa-dosa yang dilakukan oleh orang percaya di masa yang akan datang diampuni di saat pembenaran atas dirinya, karena kuatir pangajaran ini akan menyebabkan moralitas yang longgar dan kemalasan dalam melawan dosa. Karena alasan inilah maka sejumlah teolog mengajarkan bahwa pembenaran bukan merupakan tindakan tunggal, melainkan suatu tindakan yang harus terus menerus diulang setiap kali seorang berdosa mengakui dosanya.
          Poin ini memiliki nilai penting karena permasalahan yang sulit dalam hubungan antara pembenaran dan pengakuan dosa kita. Jika kita dibenarkan satu kali untuk selamanya, mengapa kita masih harus mengakui dosa-dosa kita? Di sisi lainnya, jika kita perlu mengakui dosa kita setiap hari, apakah hal ini mengimplikasikan bahwa dosa-dosa yang kita lakukan di masa yang akan datang tidak termasuk di dalam pembenaran kita?
          Akan tetapi pembenaran meliputi labih dari sekadar pengampunan dosa; pembenaran juga mencakup sisi positifnya, yaitu pengadopsian kita menjadi anak-anak Allah dan penganugerahan hak atas hidup kekal. Dalam hubungannya dengan hal ini, kita harus melihat dua aspek karya Kristus bagi kita, yang umumnya disebut ketaatan Kristus yang aktif dan pasif.

Pengadopsian Kita menjadi Anak-anak Allah
          Katekismus Singkat Westminster mendefinisikan adopsi sebagai : “Adopsi merupakan satu tindakan dari anugerah bebas Allah, yang mana dengannya kita terima sebagai salah satu anak Allah, dan memiliki hak atas semua hak-hak istimewa anak-anak Allah.” Katekismus Heidelberg membedakan antara pengadopsian kita sebagai anak-anak Allah dengan keperanakan Kristus; “Hanya Kristus yang yang adalah Anak Allah yang kekal dan natural; tetapi kita adalah anak-anak Allah oleh adopsi, melalui anugerah, demi Kristus.”
          Manfaat-manfaat apa yang muncul dari pengadopsian kita menjadi anak-anak Allah? (1) Sekarang kita memiliki hak untuk datang menghadap takhta anugerah dengan keberanian (Ibr. 4:16; 1 Yoh. 5:14). (2) Kita menikmati berkat perlindungan dan pemeliharaan Allah (Mat. 6:25-34; 1 Ptr. 5:7). (3) Kesulitan-kesulitan yang masih harus kita lalui bukan lagi merupakan hukuman atas dosa-dosa kita, melainkan disiplin dari Bapa (Ibr. 12:5-11). (4) Kita dimeteraikan oleh Roh Kudus  dan dengan  demikian dijaga oleh kuasa Allah (2Kor. 1:22; Ef. 1:13; 4:30).

Hak Atas Kehidupan Kekal
          Dengan demikian, hak atas kehidupan kekal yang telah didapatkan Kristus bagi kita dan dikaruniakan kepada kita di dalam pembenaran kita, sama seperti berkat pengadopsian menjadi anak-anak Allah, merujuk kepada masa kini dan masa yang akan datang. Secara kualitatif, kita memiliki hidup kekal kini dan di sini, saat kita menganal Allah di dalam anugerah-Nya yang ajaib dan mengalami persekutuan yang begitu kaya dengan-Nya di dalam kepercayaan dan pelayanan kepada-Nya, di dalam doa dan pujian.

Hubungan Iman dengan Pembenaran
          Jadi, apa yang menjadi dasar bagi pembenaran kita? John Stott, misalnya, mengatakan bahwa dasar itu adalah darah Kristus, yang menekankan ketaatan dalam penderitaan Kristus. John Murray menegaskan bahwa yang menjadi dasar adalah ketaatan Kristus, dengan demikian memberikan penekanan kepada ketaatan Kristus terhadap hukum Taurat. Mungkin yang terbaik adalah mengatakan, seperti Louis Berkhof, bahwa dasar bagi pembenaran kita adalah kebenaran Kristus yang sempurna, yang dimaksudkan adalah keseluruhan karya yang Kristus lakukan bagi kita di dalam menderita hukuman yang harus dijatuhkan atas dosa kita, dan secara sempurna menaati hukum Taurat bagi kita. Kebenaran yang sempurna ini, yang diimtasikan atau diperhitungkan kepada kita ketika kita melalui iman menjadi satu dengan Kristus, adalah dasar yang memadai secara total bagi pembenaran kita.


Materi 22 Tentang Pembenaran Kita oleh Iman kepada Yesus Kristus.
Tinjauan Buku
Judul               : Diselamatkan oleh Anugerah
Karangan         : Anthony A. Hoekema.
Cetakan           : Mei 2010
Penerbit           : Momentum
 

RENCANA ALLAH TERHADAP HUBUNGAN SUAMI ISTRI DALAM KELUARGA


Pendahuluan
Apa tujuan dari pernikahan dan keluarga Kristen? Untuk maksud apa, orang Kristen menikah dan berkeluarga? Apa maksud rencana Allah terhadap hubungan suami-istri Kristiani? Pertanyaan yang sering kita dengar ini sudah coba dijawab, baik melalui konseling pranikah, ceramah-ceramah maupun seminar-seminar. Bahkan hampir setiap buku tentang pernikahan dan keluarga Kristen selalu dimulai dengan membahas pertanyaan ini. Meskipun demikian selalu ada saja hal semacam ini ditanyakan. Pertanyaan demikian menunjukkan adanya keraguan yang tak dapat disingkirkan dari dalam hati banyak orang karena mungkin realitanya mereka sendiri menjalani kehidupan suami-istri dan keluarga yang sekali-kali tidak berbeda dari orang-orang yang bukan Kristen. Yaitu kehidupan pernikahan dan keluarga yang ‘alami’ di mana orang bertemu, saling mencinta, membuat tekad bersama, meresmikan ikatan mereka, hidup bersama, bekerja, melahirkan anak, mendidik, membesarkan, dan mempersiapkan mereka untuk kehidupan yang mandiri dan berbahagia.
Tujuan kehidupan suami-istri dan keluarga ‘yang alami’ yang memang secara praktis sudah coba dijalani banyak orang, termasuk suami-istri Kristen. Tidak heran jikalau pergumulan mereka dalam pernikahan dan keluarga mereka yang ‘hampa’ untuk membentuk pernikahan dan membangun keluarga yang bahagia adalah suatu kesia-siaan jikalu itu semata-mata manifestasi proses alami, tanpa tujuan seperti yang telah direncanakan dan ditetapkan Allah.
Pernikahan dan keluarga Kristen mempunyai tujuan yang jelas karena memang untuk maksud itulah Allah menciptakan lembaga pernikahan. Bahkan Allah menetapkan bahwa lembaga pernikahan dan keluarga menjadi pusat kehidupan manusia seutuhnya.
Pemahaman Alkitab tentang dasar dan tujuan pernikahan
1.      Kesadaran akan kehendak Tuhan yang menciptakan manusia sebagai pasangan laki-laki dan perempuan.
Pasangan yang sepadan. “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” (Kej. 1:27). TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." (Kej. 2:18)
Manusia yang diciptakan segambar Allah tentu mempunyai sisi persamaan tertentu dengan Allah, walaupun dalam tingkat kemuliaannya jauh berbeda. Karena sifat Allah adalah kasih, maka manusia juga mempunyai kasih. Kasih selalu membutuhkan partner untuk dikasihi dan mengasihi. Itulah salah satu rencana Allah menciptakan manusia dengan kehendak bebas. Allah mau berada dalam hubungan  kasih dengan manusia. tetapi Allah menyadari bahwa manusia juga membutuhkan partner yang sepadan untuk bisa berada dalam hubungan kasih yang saling melengkapi. Untuk itulah Allah menciptakan manusia berpasangan. Sepadan maksudnya pasangan yang serasi, seimbang, sesuai, pantas, dalam hakekat dan dalam hak serta kewajiban. Dalam Kejadian 2:18-25, pasangan yang sepadan ini sebagai kesatuan dan keutuhan yang indah:
·           Penolong yang sepadan, dari tulang rusuk, tulang dari tulangku,
·           Daging dari dagingku, meninggalkan ayahnya dan ibunya,
·           Bersatu dengan istrinya, keduanya menjadi satu daging, keduanya telanjang (transparansi dalam komunikasi).
2.      Kesadaran akan rencana Allah memberkati pasangan suami-istri
“Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.  
Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi."
Allah memberkati lebih dahulu manusia yang disatukan-Nya untuk segala tugas panggilannya yang harus dijalankan (Kej 1:28). Tetapi hidup yang sepadan/serasi, kesatuan yang indah ini “hilang” karena manusia menurunkan derajatnya menjadi hamba dosa (Kej 3:1-15). Hanya oleh Anugerah, dalam pengorbanan Yesus Kristus, manusia ini dikembalikan kepada citra yang semula, makhluk yang mulia.
 3.      Tindakan Allah yang mempersatukan Pasangan suami-istri
Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia." (Matius 19:6b)
Allah sendiri yang bertindak mempersatukan suami-istri. Jadi sekalipun kita sendiri telah memilih teman hidup, menjalin dan memelihara hubungan, mempersiapkan segala sesuatu untuk pernikahan kita, secara iman kita harus mengakui bahwa dibalik semua usaha kita sebenarnya Allah yang  bertindak.  Hal ini menjadi dasar yang penting dari pernikahan yaitu: membentuk suatu persekutuan yang mendukung tindakan Allah tersebut. Salah satunya tetap memelihara keutuhan dan keharmonisan keluarga.
Bagi seorang laki-laki dan seorang perempuan memasuki pernikahan, maka keduanya menajdi pelaksana prinsip monogami. Satu suami untuk satu istri dan satu istri untuk satu suami. Inilah pernikahan Kristiani, monogami.
 Ditegaskan dalam Injil Matius 19:5,6 bahwa pernikahan Kristen itu tanpa reserve, yang harus disadari sepenuhnya oleh semua pasangan suami istri Kristen. Pasangan suami-istri ini harus menjaga kekudusan/kesucian pernikahan seperti dikatakan dalam 1 Korintus 6:15, 16; Ibrani 13:4.
15  Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah anggota Kristus? Akan kuambilkah anggota Kristus untuk menyerahkannya kepada percabulan? Sekali-kali tidak!  
16  Atau tidak tahukah kamu, bahwa siapa yang mengikatkan dirinya pada perempuan cabul, menjadi satu tubuh dengan dia? Sebab, demikianlah kata nas: "Keduanya akan menjadi satu daging."
Ibrani 13:4.
Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah.
 4.      Teladan hubungan Kristus dengan jemaat-Nya
Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh”.(Efesus 5:22-23)
Sebagai murid Kristus, kita semua terpanggil untuk belajar dan meneladani Guru kita. Tunduknya istri kepada suami tidak pernah boleh dipaksakan, sama seperti jemaat tidak pernah dipaksakan tunduk oleh Kristus. Jemaat tunduk karena mengalami dan menyadari keagungan Kasih Kristus yang sudah mengorbankan seluruh diri-Nya. Demikian juga kasih suami harus meneladani Kasih Kristus yang tidak bersyarat. Atas dasar itu, maka tujuan keempat dari pernikahan ialah menjadi saksi tentang Kasih Kristus. (Yoh. 13:35; 1 Yoh 4:12). Kehidupan keluarga Kristen yang harmonis dan menjadi berkat bagi banyak orang akan merupakan suatu kesaksian yang sangat berarti bagi setiap orang di sekeliling kita.
Pasangan suami-istri merupakan pasangan yang tiada duanya, yang dipakai menggambarkan hubungan Kristus dengan jemaat (Efesus 5:31-33).  Demikian juga posisi suami-istri, suami sebagai kepala keluarga bukanlah yang berlaku sewenang-wenang, melainkan untuk memelihara, melindungi, dan istri “tunduk” kepada suami, karena seperti yang disebutkan tadi. (Efesus:22-23)
 5.      Dasar Pernikahan Kristen ialah Kasih Allah yang menyempurnakan cinta kasih manusia
Sejak kejatuhan dalam dosa, manusia menjadi rusak dan kehilangan kemuliaan Allah. cinta manusiawi saja tidak cukup. Harus ada cinta Allah yang sejati menjadi dasar sebuah hubungan suami-istri. Kita harus belajar untuk memperoleh pemulihan Allah dalam kemampuan kita mengasihi. Dalam bahasa yunani, ada 4(empat) pengertian tentang ‘cinta’/kasih :
Philia : Kasih pertemanan. Ini merupakan pemberian Allah pada semua orang. Manusia tidak perlu mengenal Kristus untuk bisa mempunyai Philia. Dalam kasih ini, ada unsur perasaan. Emosi, kehangatan. Ia ada karena ikatan hubungan tertentu seperti: sahabat, teman kerabat.
Eros : Kasih karena romantisme, keindahan, kekayaan, kepandaian, dan sebagainya. Dalam kasih ini ada banyak unsur perasaan, emosi dan kehangatan, tapi sangat tidak stabil. Eros tergantung pada si kekasih atau yang dikasihi. Selama yang dikasihi masih memiliki daya tarik, harta dan sebagainya tetap dikasihi. Karena Eros merupakan cinta bersyarat atau menuntut adanya timbal balik. Walaupun demikian, eros bukanlah sesuatu yang jelek. Hidup pernikahan tanpa adanya eors bisa dikatakan ‘damai tapi gersang’. Hidup bersama satu rumah tetapi tidak ada kehangatan atau saling menggembirakan.
Storge: Kasih pertalian hubungan darah. Orang tua – anak, saudara kandung, kerabat lainnya.
Agape : Kasih ini merupakan Kasih Ilahi. Allah adalah Kasih (I Yohanes 4:8). Agape bisa dimiliki manusia bila ia sudah mengenal Kristus karena Agape adalah karunia Roh Kudus (Roma 5:5). Agape dapat disertai perasaan. Ia bersifat stabil karena tidak tergantung pada orang  yang dikasihi dan sifatnya tidak bersyarat. Pada Allah, agapae adalah prakarsa Allah atas kehendak bebas-Nya. Pada manusia, agapae tergantung pada anugerah Allah dan kehendak manusia untuk taat pada perintah Allah.
Jadi dalam hidup pernikahan perlu ada Eros, Philia dan Storge, tetapi harus disempurnakan dengan Agape. Selain sifatnya yang berprakarsa, Agape juga memampukan orang untuk memaafkan kesalahan. Agape juga mempunyai banyak sifat. 1 Korintus 13:4-7
4   Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. 5  Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.   6  Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. 7 Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.  
Atas dasar tersebut maka pernikahan adalah menjadi wadah di mana suami istri dan keluarganya belajar mengembangkan kemampuan saling mengasihi dan mengasihi (terutama anak-anak) untuk lebih mampu saling mengasihi.
Hidup Serasi dalam Kenyataan
1.   Tuhan Yesus menjadi pusat kehidupan
Kehidupan Pasangan Suami-Istri dan keluarga Kristen harus terikat erat dalam Kristus, sehingga pemahaman dan pemikiran Pasutri dan keluarga dipengaruhi kasih Kristus.
Janji Tuhan Yesus dalam Matius 18:19-20 “  Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga.  Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.", ditujukan untuk Pasutri dan keluarga yang mau selalu mengalami perjumpaan dengan Tuhan, melalui kesehatian dan doa dan pembacaan Alkitab. Dengan demikian segala yang berkaitan dengan dosa akan dihindarkan karena Yesus Kristus ditempatkan selaku Tuhan yang memimpin pernikahan dan keluarga.
 2.   Menghadapi berbagai hambatan
Kalau tidak ada hal-hal yang buruk maka hidup menjadi kurang gairahnya, tetapi dengan adanya tantangan dan hambatan kita justru berusaha untuk maju terus dengan pemikiran yang positif. Setalah dicermati, maka hanya dua hambatan, yaitu pertama: hambatan dari diri sendiri berupa perangai, sifat dan watak buruk. Kedua: hambatan dari luar atau sekitar/lingkungan.
Menyadari akan hal ini, maka Pasutri harus menampakkan ikatan yang erat dengan Kristus sebagai Sumber kekuatan dan keselamatanya. Pasutri mau membicarakan dan adanya kesediaan untuk saling mendengarkan serta memahami dan kemudian saling memaafkan akan membawa pengaruh baik bagi keutuhan pernikahan dan keluarga Kristen.
Praktekkan ‘rumus’ pernikahan lestari, yaitu dua orang Pasutri yang saling mengasihi adalah dua orang yang bersama-sama mengasihi Kristus. Dengan kata lain, menjadi Pasutri yang takut akan Tuhan. Sehingga tindakan kekerasan dalam rumah tangga tidak akan terjadi.
3.   Membangun komunikasi yang efektif
Kesediaan membicarakan dan mendengarkan, kita dapat melakukannya dengan bahasa tubuh yang bertatap muka dengan ramah, memberi sentuhan, dan aktif dalam pembicaraan dengan kata-kata mendukung:
·      Berdasarkan kasih (Kolose 3:14)
·      Ada keterbukaan hati dan pikiran (Roma 12:16)
·      Saling menerima (Roma 15:7)
·      Saling menghormati (Efesus 4:32)
·      Mau sepenanggungan (Roma 12:15)
·      Memberi semangat (Yesaya 50:4)
·      Saling menyegarkan (Yeremia 32:25)
·      Saling menyembuhkan (Yakobus 5:16)
Disampaikan dalam Seminar sehari Persatuan Wanita Kristen Indonesia (DPD PWKI Propinsi Bali), sabtu, 19 Agustus 2006 oleh Pdt. Emmawati Yulia Baule, S.Th.

DOA; sangat besar kuasanya

Sesuatu yang indah terjadi bila kita berdoa, karena doa itu jauh lebih besar kuasanya daripada perkataan yang kita ucapkan.

Iman adalah percaya bahwa YESUS mendengar dan mempedulikan, dan IA menjawab dengan penuh kasih sayang setiap doa yang dipanjatkan dengan tidak bimbang.

Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaranNYA tidak kurang tajam untuk mendengar (Yesaya 59:1)

YESUS MEMBUATMU BERHARGA

Dunia mengatakan bahwa aku hanyalah seperti percikan kembang api,
tetapi TUHAN YESUS mengajarkan bahwa aku bisa menjadi terang dunia.
Dunia mengatakan bahwa aku hanyalah seutas senar,
tetapi TUHAN YESUS mengajarkan bahwa hidupku memperindah petikan harpa.
Dunia mengatakan bahwa aku hanyalah setetes air yang tak berarti,
tetapi TUHAN YESUS mengatakan bahwa aku adalah aliran air yang akan menyegarkan dahaga sesamaku
Dunia mengatakan bahwa aku hanyalah sehelai bulu,
tetapi TUHAN YESUS mengatakan bahwa aku seperti bulu pada sayap rajawali.
Dunia mengatakan bahwa aku hanyalah seorang pengemis,
tetapi TUHAN YESUS menjadikanku sebagai seorang Maharaja