TIGA YANG ESA

Bacaan : 1 Korintus 2 : 6 – 16
PENGANTAR

Kota Korintus terletak di sebuah daratan sempit yang memiliki pelabuhan di bagian timur dan bagian barat. Korintus pada waktu itu, bisa dikatakan merupakan kota yang sangat duniawi sebab ada banyak pengaruh dari berbagai budaya. Penduduk kota ini memiliki tradisi yang kuat dalam hal penyembahan berhala, khususnya dewi cinta yang bernama Afrodite. Surat Paulus ini antara lain berisi berbagai pergumulan yang terus dihadapi jemaat Korintus berhadapan dengan berbagai pengaruh gaya hidup di kota besar.

            Paulus pernah mengunjungi Korintus dan tinggal beberapa lama di sana dalam rangka pemberitaan Injil. Sekarang, ia tidak lagi bersama-sama mereka, namun ia berusaha untuk tetap menjaga hubungan yang baik dengan mereka, oleh sebab itu ia tekun menulis surat ini kepada mereka.

            Ia sempat mendengar dari beberapa sahabat yang datang mengunjunginya tentang situasi dan kondisi yang cukup tegang dalam jemaat Korintus saat itu, bahkan sampai-sampai timbul “perselisihan” yang dapat mengancam keutuhan persekutuan. Rasul Paulus sedih karena ternyata ada beberapa jemaat yang masih meragukan kerasulannya. Ia mencoba meyakinkan mereka lewat suratnya ini. Ia juga menjelaskan beberapa hal di sekitar kehidupan perkawinan dan tentang makanan-makanan yang dipersembahkan kepada berhala. Akhirnya, ia menyampaikan rencananya untuk kembali lagi ke Korintus dan tinggal beberapa lama dengan mereka.

PENJELASAN NATS

Ayat 6 – 9: Hikmat yang disebutkan rasul Paulus di sini adalah suatu “rahasia Allah”. Hikmat ini terbagi atas dua jenis. Pertama, ia tidak serupa dengan hikmat dunia – dan oleh karenanya ditolak oleh Paulus. Kedua, ia hanya diberitakan di kalangan orang yang “sempurna” (Filipi 3:5), yaitu yang menerima Roh Kudus. Rasul Paulus memahami bahwa hikmat itu pada hakekatnya berasal dari Allah, sehingga oleh hikmat itulah iman menjadi sempurna. Hikmat itu belum nampak pada orang-orang yang sudah dewasa dan matang imannya, hikmat membuat imannya itu menjadi semakin “sempurna”.


Jemaat di Korintus pada waktu itu suka sekali dengan hikmat dunia. Padahal dunia ini hidup di luar aturan Allah dan tidak menuruti kehendak-Nya sehingga hikmat yang seperti itu sebetulnya tidak berguna bagi orang Kristen. Hikmat seperti itu dimiliki oleh raja-raja di dunia ini dan bertentangan dengan hikmat Allah. Sebaliknya, hikmat Allah tidak dikenal oleh para penguasa dunia, sebab sekiranya mereka mengenalnya, mereka tentu tidak akan menyalipkan Yesus.

Hikmat Allah itu hanya disediakan bagi orang-orang yang mengasihi Dia. Kasih kepada Allah itu ialah “kunci”  yang dapat membuka “rahasia Allah”. Dunia dengan para penguasanya yang angkuh dan lalim, tidak mengenal ‘kasih’ sehingga mereka kelak akan binasa.


Ayat 10-16 : Hikmat Allah hanya dapat diperoleh sebagai karunia (pemberian) dari Allah saja. Oleh sebab itu ia dikaruniakan oleh Roh Allah kepada orang percaya. Kepada orang yang ‘sempurna’, Allah sudah menyatakan rahasia hikmat-Nya dengan Roh-Nya. Di dalam Roh-Nya tidak sesuatu pun yang tersembunyi karena Roh itu menyelidiki segala sesuatu. Menurut rasul Paulus, Allah hanya dapat dikenal oleh Roh-Nya saja. Orang yang percaya dianugerahi Roh Allah, yang mengatasi dunia ini dan para penguasanya. Roh Allah menjadi pembuka jalan kepada kedalamn pengenalan akan Allah.

Makna yang terkandung di dalam Roh Allah itu ialah, bahwa orang Kristen dapat mengenal karunia Allah. Hikmat ialahi itu hanya dapat dikatakan oleh orang yang mempunyai Roh. Hanya dengan perkataan yang dikaruniakan oleh Roh saja, kita dapat berkata-kata tentang hikmat.

Menurut pengajaran rasul Paulus, Roh Allah itu sama dengan Roh Kudus. Oleh karena Roh Kristus, kita dapat mengenal kehendak Allah dan hikmat-Nya. Allah Bapa, Kristus (Anak) dan Roh Kudus merupakan Allah yang menyatakan diri sebagai Pencipta (Allah Bapa), Penyelamat (Yesus Kristus) dan penolong, Penuntun atau Penghibur (Roh Kudus). Jadi ketiganya bekerja sama – saling terkait, satu dengan yang lain, saling melengkapi dan saling meneguhkan.

PENERAPAN
  Mungkin untuk memudahkan kita memahami hal ini, mari kita perhatikan “matahari”. Pertama, matahari itu memiliki cahaya yang sangat terang sehingga dengan cahaya itu manusia dapat mematikan semua lampu dalam rumah ketika matahari bersinar terang lagi, siang bahkan hingga sore hari. Tetapi pada malam hari itu, lampu-lampu perlu dinyalakan karena cahaya matahari sudah tidak ada lagi. Kedua, matahari juga mempunyai bentuk yaitu bulat, sehingga dari kecil kita menggambarkan matahari itu selalu bulat dan tidak segitiga atau kotak. Ketiga, matahari memiliki panasyang luar biasa sehingga kita dapat menjemur pakaian, kasur, bantal, karpet dan lain-lain sehingga kering. Dari satu benda yang disebut matahari kita mengenal 3 komponen yaitu : cahaya, bentuk dan panas.  Ketiga hal ini melekat pada satu benda yang disebut Matahari dan ketiganya tidak terpisahkan, tetapi dapat dibedakan satu dengan lainnya.  Demikian pula halnya dengan Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus, ketiganya berbeda tetapi ketiganya Esa.


URAIAN KHOTBAH

Saudara-sauSaudara-sauSaudara-saudara yang kekasih di dalam Tuhan Yesus Kristus, hari ini kita memasuki minggu Trinitas. Apa artinya minggu Trinitas? Minggu Trinitas adalah minggu pertama sesudah Pentakosta yang di dalamnya Gereja diajak untuk menghayati kembali makna Allah yang Esa atau Allah Tritunggal (Bapa, Anak dan Roh Kudus). Adapun simbol yang digunakan pada hari minggu Trinitas ini adalah Segitiga (Triquetra) dengan    warna dasar putih yang menjadi simbol dari Ketritunggalan. Bila kita perhatikan, ada tiga buah lekukan yang tidak terputus, saling bersambung – yang menyatakan kekekalan dari Allah itu sendiri.

Pemahaman tentang Allah Tritunggal memang tidak mudah dimengerti dengan menggunakan “akal pikiran” manusia. Hal seperti ini hanya dapat dimengerti dengan “iman” . di dalam iman, hikmat Allah bekerja sehingga kita akhirnya yakin bahwa benar, Allah telah datang ke dalam dunia ini dalam wujud manusia yaitu Yesus Kristus. Yesus Kristus, Anak Allah yang hidup itu telah menyatakan kehendak Allah bagi manusia dan mengajarkan manusia untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya agar manusia memperolah pengampunan, penebusan dan keselamatan. Tanpa iman kepada Yesus Kristus, kita tidak akan memperoleh keselamatan (Yohanes 14:6). Untuk mengimani Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, kita membutuhkan tuntunan kuasa Roh Kudus yang membuka hati dan pikiran kita agar mengerti dan percaya bahwa Kristus telah datang mengobarkan diri-Nya, mati di kayu salib Golgota demi keselamatan kita.

Bagi orang dunia, kematian Kristus di kayu salib adalah sebuah lambang kesalahan dan kebodohan. Bagaimana mungkin seorang yang disebut “Anak Allah”, matinya sangat memalukan, seperti halnya seorang penjahat – mati di tiang gantungan? Tetapi bagi kita, yang percaya justru kematian seperti itulah yang dengan jelas menunjukkan: di satu sisi, besarnya kasih Allah bagi kita yang berdosa ini dan di sisi   lain : betapa kejam dan hinanya kita di hadapan Allah sehingga dengan sadar “membunuh” seorang yang tidak bersalah. Namun Dia tetap mengasihi kita, bagaimana pun keberadaan kita. Terpujilah Allah Bapa, Yesus Kristus dan Roh Kudus sekarang dan selama-lamanya. Amin. S.P.D/hlt/SGDK/Edisi45

BERAKAR UNTUK MEMBAWA SESAMA BERAKAR



Bacaan : Kitab Filipi 1 : 18 – 26
TEKS
Dengan berpikir positif Rasul Paulus mengatakan bahwa ia akan bersukacita atas apa yang ia kerjakan (akibat pekabaran Injil ia dipenjara) dan atas apa yang dialami jemaat Filipi. Bagi Paulus suatu kematian dalam Kristus bukanlah perkara sia-sia.
Teks Filipi 1:18-26 menjelaskan tentang harapan Rasul Paulus kepada jemaat  Filipi. Walupun Paulus berada di dalam penjara ia tidak takut mati karena memberitakan Injil. Akan tetapi ia ingin terus hidup karena ia ingin memberikan yang terbaik kepada Tuhan dan juga kepada jemaat Filipi (ayat 24 – 26).
Tantangan eksternal berasal dari para tetangga yang memusuhi jemaat Filipi dan juga datangnya para pengganggu (para penginjil lain) membawa keresahan dalam jemaat. Dari dalam penjara Paulus menasehatkan agar jemaat Filipi terus berjuang memenuhi suatu hidup yang berpadanan dengan Injil. “apapun yang terjadi” tulis Paulus “hiduplah dengan cara yang membawa hormat bagi kabar baik tentang Kristus” (ayat 27).
Rasul Paulus yang dipakai Tuhan untuk memberitakan Injil pada perjalananpenginjilannya yang kedua (kis. 16 : 12), berhasil membentuk sebuah komunitas Yesus Kristus di Filipi (jemaat Filipi). Namun, ia terpaksa meninggalkan jemaat itu karena ada penganiayaan (1 Tesalonika 2:2). Tetapi jemaat Filipi tetap setia kepada Paulus, paling kurang ada dua (2) kesempatan gereja Filipi membantu Paulus, ketika ia ada di Tesalonika (Filipi 4 : 16). Hal ini menunjukkan bahwa hubungan Rasul Paulus dengan jemaat Filipi sangat erat dan hangat (berakar). Karena biasanya Rasul Paulus dengan cermat membiayai penginjilannya sendiri.
KONTEKS
Reaksi orang saat itu terhadap pemenjaraan Paulus tidak sama. Ada yang sedih dan prihatin. Itu adalah reaksi yang wajar,  sebab dipenjara berarti dibatasi ruang gerak kebebasannya. Mereka kuatir bahwa pemenjaraan Paulus akan berakibat buruk pada kelangsungan perwartaan Injil (ayat 12-13). Akan tetapi, ada pula orang tertentu yang karena iri terhadap pelayanan Paulus, malah senang bila Paulus dipenjara. Mereka senang bila Paulus susah karena melihat bahwa tugas pewartaan Injil yang dilakukannya kini diambil alih oleh orang-orang itu (ayat 17). Ternyata kedua hal itu sama sekali tidak menyusahkan Paulus. Pertama, karena di dalam penjara ia tetap bebas bicara menyaksikan Injil (ayat 12). Kedua, karena menjadi jelas bahwa ia dipenjara karena Injil bukan karena kesalahan (ayat 13). Ketiga, karena keterpenjaraan Paulus malah menyemangati orang Kristen untuk berani bersaksi bagi Yesus (ayat 14). Keempat, karena pewartaan Injil dengan motivasi salah pun tetap berisikan kabar keselamatan Kristus. Itulah alasan mengapa ia bersukacita (ayat 18).
Surat Paulus kepada Jemaat Filipi ditulis +/- tahun 50 M dari penjara. Komunitas Kristen di kota Filipi hidup dalam keadaan yang cukup rumit, di satu pihak mereka berjuang melawan tetangga-tetangga mereka yang memusuhi mereka. Di pihak lain mereka disusahkan oleh para penginjil yang datang kepada mereka dengan mengatakan hal-hal yang berbeda dan bertentangan dengan ajaran Rasul Paulus.
Karena ia berada di dalam penjara, maka ia hanya dapat menasehatkan mereka agar waspada terhadap pengganggu (para penginjil itu) secara internal (ayat 27) dan terhadap lingkungan eksternal (ayat 28).
PEMAHAMAN TEOLOGIS
1. Keberadaan Rasul Paulus di dalam Penjara dapat manjadi alasan untuk dia mengeluh kepada Allah atas apa yang dialami. Akan tetapi, Paulus tidak menunjukkan keluh-kesah sebagai pewarta Injil Kristus, sebaliknya ia berusaha untuk sebisa mungkin bersukacita dalam penderitaan.
2. Bagi Rasul Paulus hidup atau mati: demi dan dalam Kristus adalah kerinduan terdalam Paulus, yaitu bahwa hidup atau matinya boleh mempermuliakan Kristus (ayat 20-21). Karena hubungannya dengan Kristus begitu akrab maka kondisi-kondisi yang berubah-ubah tidak mempengaruhi kesetiaannya, kualitas kerohaniannya maupun semangat pelayanannya. Sebaliknya penderitaan adalah kesempatan untuk mengalami keindahan persekutuan yang lebih dalam bersama Allah dan orang percaya (jemaat Filipi, ayat 18-19), dan membuat ia lebih berharap berjumpa Kristus (ayat 23).
3. Untuk Rasul Paulus yang penting dalam pengalaman hidup adalah ia tetap menyatakan Kristus dan ia ingin memberi dirinya bermanfaat sebanyak-banyaknya bagi jemaat Tuhan. Alangkah hebatnya prinsip dalam kualitas pelayanan Paulus.
SBTDWI/GPIB/edisi30/april – juni 2016/JK.

PEMBAHARUAN RAJA YOSIA BAGI ISRAEL


Bacaan II Tawarikh 34 : 1 – 7
TEKS
II Tawarikh 34 : 1 – 7 merupakan teks yang menceritakan tentang masa Pemerintahan Raja Yehuda. Raja Yosia merupakan raja yang cukup unik, hal ini dikarenakan pengangkatannya sebagai Raja dalam usia yang sangat muda yaitu 8 tahun (ayat 1). Meskipun dalam usia muda, Ia tetap memiliki cara pemerintahan yang berbeda dengan ayah maupun kakeknya sebelumnya. Ayat 2 menegaskan bahwa Ia selalu melakukan apa yang benar di mata Tuhan dan tidak menyimpang ke kanan maupun ke kiri. Karena itulah masa Pemerintahan Yosia sangat dikenal dengan kejayaannya untuk melakukan Pembaharuan besar-besaran di tengah kehidupan bangsa Yehuda.
Masa Pembaharuan yang dilakukan oleh Yosia tidak dilakukan semau dia tanpa perhitungan yang baik.  Raja Yosia melakukan Pembaharuan dengan langkah-langkah praktik yang sangat baik; antara lain

  1. Langkah 1: Pada tahun ke delapan adalah tahun 631 sM masa Pemerintahannya Ia mulai mencari Allah(ayat 3). Artinya bahwa dasar pembaharuan yang akan dibuatnya tetap diawali dengan penyerahan diri dan pertolonganAllah. Sikap Raja Yosia ini menunjukkan bahwa Pembaharuan hanya bisa terjadi ketika Allah sang Pemilik kehidupan berperan di dalam proses pembaharuan tersebut; karena dasar pembaharuan itu harus sesuai kehendak Allah.
  2. Langkah 2 : Pada Tahun kedua adalah tahun 627 sM, Ia mulai mentahirkan Yehuda dan Yerusalem dari bukit-bukit pengorbanan, merobohkan mezbah baal, menghancurkan pedupaan-pedupaan, menghancurkan tiang-tiang berhala, menghancurkan patung-patung pahatan dan menghancurkan patung – patung tuangan di berbagai daerah sampai pelosok. (ayat 3-7).
Raja Yosia berhasil melakukan Pembaharuan hidup bagi bangsa Yehuda karena Ia memulai segala rencana Pembaharuannya dengan menjadikan Allah sebagai kunci dasar tolak ukur dari sebuah Pembaharuan. Pembaharuan dilakukan oleh Raja Yosia bagi bangsa Yehuda, karenaIa rindu bangsanya mengalami pertobatan yang sejati. Sebab pertobatan sejati tidak hanya cukup sadar akan dosa, mengaku dosa, menyesal akan dosa dan mohon pengampunan dan pemulihan hidup saja seperti yang selama ini selalu dilakukan oleh bangsa Yehuda. Pertobatan sejati tanpah buah Pembaharuan diri tidak akan pernah membawa hidup seseorang berjalan di jalan Allah. Hal ini dikarenakan Pembaharuan diri merupakan sebuah sikap nyata seseorang untuk merubah perilaku hidupnya secara total dari hal yang tidak baik menjadi pribadi yang berkenan di hadapan Allah. Memang bukan hal yang mudah melakukan Pembaharuan hidup, namun dari pengalaman Iman Yosia kita diajak untuk berani melakukan Pembaharuan hidup melalui langkah-langkah berikut:

  1. Serahkan hidup secara total kepada Allah, karena hanya Allah kunci tolak ukur pembaharuan hidup kita.
  2. Tanamkan pemahaman bahwa hidup adalah Anugerah Allah, maka hidup bagi orang percaya adalah melayani Allah agar nama Allah dimuliakan.
  3. Perdalam hidup dengan ketekunan akan pengetahuan tentang Firman Allah. Jadikanlah Firman Allah sebagai cermin dalam segala pikiran, perkataan dan perilaku kita maupun cermin bagi segala hal yang datang dari lingkungan luar kehidupan kita.
  4. Berani katakan putus dengan kehidupan masa lalu yang bertentangan dengan Allah (jangan pernah berkompromi kembali).
  5. Bukalah hati dalam persekutuan bersama Allah.
Teks ini mengajak kita untuk siap melakukan pembaharuan hidup sekaligus siap menjadi Yosia-Yosia masa kini yang selalu siap menjadi agen Pembaharuan hidup bagi sesamanya.
KONTEKS
Kitab II Tawarikh merupakan kitab yang didalamnya berisi tentang sejarah kehidupan bangsa Israel dibawah kepemimpinan para Raja. Jelas sekali dari II Tawarikh 12 – II Tawarikh 36 tergambar dengan jelas alur cerita sejarah kepemimpinan Yehuda di bawah para pemimpin yang memiliki beragam perilaku baik maupun yang tidak baik. dari tahun 930 sM hingga 586 sM ada 19 laki-laki dan 1 orang perempuan yang menduduki tahta sebagai seorang pemimpin. Kehidupan bangsa Yehuda sangat dipengaruhi oleh pola kepemimpinan dari Sang Raja/Pemimpin. Jika pemimpin itu memiliki kepribadian kokoh takut akan Allah maka arah kepemimpinan sesuai dengan kehendak Allah; jika tidak maka rakyatpun akan hidup tidak sesuai kehendak Allah.
Kitab Tawarikh ini sebenarnya Kitab yang bertujuan untuk memberikan dorongan agar para umat hidup dengan menyerahkan diri kepada Allah. Hal ini didasarkan pada segala pertolongan Allah dalam kehidupan umat. Namun, realitanya bukan hal yang mudah membawa umat hidup takut akan Allah. Umat cenderung berkompromi dengan dunia, bersikap acuh terhadap Hukum Taurat dan bertindak menyimpang dari Tuhan. Sebab pola dasar dari sejarah Yehuda adalah kemerosotan religius. Dari sekian banyak Pemimpin yang dipercayakan untuk memimpin bangsa Yehuda, munculah salah satu sosok Pemimpin yang berkenan di hadapan Allah yaitu Yosia. Ia adalah raja saleh terakhir dari Yehuda, dan di dalam hal tertentu dia juga merupakan Raja Yehuda yang terbesar (II Tawarikh 34 : 2). Karena pembaharuan yang diadakannya pada tahun 612 sM itulah yang mampu memulihkan komitmen Israel kepada Allah. Yosia dalam bahasa ibrani Yoshiyahu; dalam bahasa Yunani iwsias, Yosias, yang artinya “TUHAN menopang” adalah raja kerajaan Yehuda.
Raja Yosia lahir ketika ayahnya, Raja Amon, berusia 16 Tahun dan kakeknya Manasye, masih memerintah di Yerusalem dalam usia 61 tahun. Ibunya ialah Yedida binti Adaya, dari Bozkat. Sewaktu Yosia berusia 6 tahun, raja Manasye (67 tahun) mangkat dan Amon (22 tahun) menggantikannya menjadi raja. Amon hanya memerintah selama 2 tahun, karena dibunuh di istananya oleh pegawai-pegawainya yang mengadakan persepakatan melawan dia dikarenakan sikap dan cara kepemimpinannya yang tidak berkenan di hadapan Tuhan dan banyak melakukan kesalahan. Tetapi rakyat negeri itu membunuh semua orang yang mengadakan persepakatan melawan raja Amon; dan rakyat negeri itu mengangkat Yosia, anaknya, menjadi raja menggantikan dia (II Tawarikh 33 : 23-25).
Yosia menjadi raja pada usia 8 tahun (II Tawarikh   34 : 1), sekitar tahun 639 – 609 sM. Ia merupakan penganut Theokrasis yang artinya bahwa Pemimpin sebuah bangsa adalah Allah, sehingga seorang Raja didunia harus menyadari bahwa dirinya adalaj wakil Allah di dunia ini.  Dalam   kesadaran  inilah maka ia selalu melakukan apa yang benar di mata TUHAN. Dalam Pemerintahannya Yosia melakukan reformasi dalam hal keagamaan.
PEMAHAMAN TEOLOGIS

  1. Kunci Dasar Tolak ukur sebuah Pembaharuan Hidup adalah Allah, karena itu Pembaharuan Hidup hanya bisa dilakukan dengan abik  jika seseorang benar-benar datang kepada Allah dan menyerahkan hidupnya secara total kepada Allah.
  2. Pembaharuan hidup merupakan  sebuah perubahan hidup secara total dari perilaku hidup lama yang jahat menjadi perilaku hidup baru yang sesuai kehendak Allah. Artinya perubahan dari Hitam menjadi Putih dan bukan dari hitam menjadi abu-abu. Ingat hidup yang dibaharui adalah hidup yang tanpa kompromi terhadap hal-hal yang bertentangan dengan kehendak Allah (tidak menyimpang ke kanan maupun ke kiri).
  3. Pembaharuan Hidup merupakan salah satu unsur Pertobatan sejati, karena tanpa Pembaharuan hidup seringkali seseorang bisa kembali melakukan dosa yang dilakukannya.
  4. Setiap orang yang telah menerima anugerah Keselamatan dari Allah dipanggil untuk menjadi Agen Pembaharuan hidup bagi sesama seperti yang dilakukan oleh Raja Yosia. SBT/GPIB/kelas eka/edisi 30/2016

MENERIMA MAHKOTA KEMENANGAN


Bacaan : 1 Petrus 1: 3 – 12

LATAR BELAKANG NAS

Surat ini ditujukan kepada jemaat Kristen yang berstatus sebagai pendatang dan perantaudi daerah Asia Kecil di bagian utara. Mereka hidup di tengah kondisi dan situasi masyarakatserta penguasa yang cenderung menolak bahkan memusuhi mereka. Sebab itu penulisan surat ini memiliki tujuan penting agarjemaat sadar dan siap sedia dalam mengalami tantangan dan menanggung derita oleh sebab iman kepada Kristus. Namun demikian penulis mengingatkan dan menguatkan bahwa segala penderitaan mereka tidak akan membuat mereka kalah karena kekuatan iman mereka terletak pada Kristus yang telah mengalami derita sengasara dan kematian dalam menebus manusia dan mengampuni dosa manusia. Kristus yang telah bangkit dan menang atas maut menjadi sumber pengharapan setiap orang percaya akan kebangkitan dan kehidupan kekal yang jauh melebihi apapun juga. Kristus yang hidup, menyertai dan menguatkan umat-Nya dalam pengharapan iman mereka untuk tetap tekun dan setia sampai perwujudan kemuliaan sorgawi dinyatakan kepada mereka yang tekun beriman.

PENJELASAN NAS

Ayat 3 – 4

Penulis Petrus menyampaikan pujian kepada Allah atas anugerah keselamatan yang diberikan melalui kebangkitan Kristus sebab dengan itu manusia, khususnya orang percaya beroleh pengharapan untuk dapat menerima bagian dalam kehidupan kekal yang sudah disiapkan di sorga. Kekayaan rohani ini tidak dapat dibandingkan dan disejajarkan dengan apapun. Juga tidak ada satu derita dan sengsara apapun yang dapat merebutnya dari hati orang percaya.

Ayat 5

Orang-orang percaya dipelihara oleh kekuatan Allah. Dipelihara punya makna dilindungi, dijagai. Orang-orang percaya sesungguhnya mengalami pemeliharaan Allah selama masa penantiaannya akan perwujudan keselamatan dan hidup kekal di zaman akhir. Orang-orang percaya dikuatkan akan penjelasan ini sehingga siap sedia dalam menghadapi apapun yang dapatterjadidalam hidupnya. Mereka yang terus berharap dan mengandalkan kekuatan Allah, merekalah yang akan menang dan menerima mahkota kemenangan Allah dalam kerajaan-Nya.

Ayat 6 – 7

Orang-orang percaya diajak untuk bergembira dalam hal pengharapan akan hidup kekal dan pemeliharaan dalam kekuatan Allah sehingga berbagai-bagai pencobaan yang secara manusiawi menimbulkan derita dan sengsara, tetapi mereka yang sungguh dalam Kristus memiliki kekuatan pengharapan yang tak tertandingi. Tetap dikedepankan di sini tentang peranan dan porsi orang-orang percaya dalam menjalani kehidupan yang diperhadapkan pada berbagai-bagai tantangan. Artinya iman yang proaktif dari setiap orang percaya sangat diperlukan, bahkan perlu diuji dan dibuktikan tatkala pergumulan dan tantangan itu datang melanda apakah imannya memiliki kemurnian jauh melebihi emas yang diuji dengan api. Di sini orang-orang percaya ditantang untuk membuktikan kemurnian iman dalam mengikuti Kristus. Hanya iman yang dilandasi atas kasih kepada Kristus sajalah yang akan tahan uji.

Ayat 8 – 9

Iman sejati bukanlah iman yang karena melihat baru percaya tetapi iman yang percaya karena mendengar dan dengar-dengaran akan Allah dan firman-Nya. Iman itu akan membawa setiap orang percaya akan sikap kasih kepada Allah yang telah terlebih dahulu menyentuh umat-Nya dengan kasih. Ada suatu kegembiraan yang tak terperikan tatkala umat-Nya menyelam dan tenggelam dalam relasi cinta kasih ilahi seperti ini yang hanya dapat dirasakan oleh setiap mereka yang telah mengalami keselamatan jiwa melalui kematian dan kebangkitan Kristus.

Ayat 10 – 12

Keselamatan yang sekarang diterima itu merupakan sebuah anugerah yang amat sangat berharga sebab jauh-jauh hari sebelumnya telah disampaikan kepada para nabi, diselidiki dan diteliti oleh mereka dan disampaikan oleh mereka kepada umat Allah dengan tuntunan Roh Kudus yang diutus dari sorga. Kesaksian nubuat para nabi kala itu menyebutkan tentang penderitaan yang menimpa Kristus dan segala kemuliaan yang menyusul setelah itu. Penyampaian ini sungguh menarik bagi pembaca surat Petrus sehingga mereka dapat dikuatkan dan disemangati dalam menjalani kehidupan dan keimanan mereka sebagai pengikut Kristus. Keistimewaan orang-orang percaya semakin dipertegas lagi tatkala penulis Petrus menyebutkan bahwa para nabi itu dalam pemberitaannya sebenarnya sedang melayani orang-orang yang percaya kepada Kristus. bahkan berita keselamatan itu sendiri mengundang rasa heran dan penasaran para malaikat.


GAGASAN UTAMA

Kehidupan sebagai orang yang percaya memiliki kemungkinan untuk menghadapi berbagai-bagai tantangan oleh karena imannya kepada Kristus. Namun seberat apapun tantangan dan derita itu tidak akan pernah bisa melebihi kebesaran kemuliaan keselamatan dan hidup kekal di sorga yang dianugerahkan Allah melalui kematian dan kebangkitan Kristus karena besar kasih-Nya. Bahkan Allah dalam kasih-Nya juga berkenan melimpahkan kekuatan yang memelihara iman orang percaya untuk terus menjalani hidup sambil menantikan perwujudan dan penggenapan kehidupan kekal di zaman akhir. Dengan demikian orang-orang percaya melihat dan merasakan betapa besarnya kasih Allah pada dirinya dan memotivasinya untuk hidup dalam kasih kepada Allah. Mereka yang tekun dan setia dalam iman, harap dan kasihnya pada Allah yang akan menang dan menerima mahkota kemenangan yang tak dapat layu, yakni kehidupan kekal di sorga.


TUJUAN KHOTBAH 
1.      Agar warga jemaat bisa menyebutkan bahwa mereka sadar, memahami dan siap bahwa konsekuensi dari iman kepada Kristus bisa saja berupa derita dan sengsara sehingga tidak akan goyah dan kalah karena tahu bahwa Allah telah menyelamatkan dan Allah selalu menyertai mereka. 
2.      Agar warga jemaat dapat menyebutkan bahwa Allah begitu mengasihi umat-Nya sehingga Allah menganugerahkan penebusan dan pengampunan dosa melalui kematian dan kebangkitan Kristus yang telah dinubuatkan kepada dan oleh para nabi. 
3.      Agar warga jemaat bisa menyampaikan tekad untuk tetap tekun dan setia dalam iman kepada Kristus sehingga menarima mahkota kemenangan walau dalam hidupnya harus menghadapi berbagai-bagai tantangan sebab hal yang Kristus sudah siapkan, yakni kehidupan kekal di sorga sangat jauh melebihi semua pergumulan itu.



MENERIMA MAHKOTA KEMENANGAN 
Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
Hal-hal yang ada dalam kehidupan kita sering menggambarkan mengenai suatu perlombaan atau bahkan peperangan. Mau dikatakan di sini bahwa hidup adalah sebuah perjuangan. Hidup bukanlah hidup jika di dalamnya tidak ada perjuangan. Sebab itu mental dan sengat siap dan sedia berjuang merupakan hal yang melekat dalam hidup manusia. Mereka yang bertahan dan tekun sampai akhir dalam kesetiaan akan dikatakan sebagai pemenangnya. Tida ada kemengan tanpa perjuangan, itu yang harus kita senantiasa ingat.


Perjuangan itu ternyata juga menyentuh ranah iman manusia, Ya, beriman berarti berjuang. Berjuang untuk tetap beriman di tengah gencarnya godaan kehidupan. Mempertahankan iman dalam menghadapi kerasnya tantangan dan pergumulan. Tetap setia dalam iman meski ada derita sengsara yang dialami. Tetapi sebagaimana hidup adalah perjuangan.Barangsiapa y ang bisa tekun dan setia dalam perjalanan menuju garis akhir, dialah pemenang. Maka begitu pula dalam kita beriman. 


Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,


Petrus mengawali perikop ini dengan sebuah ungkapan syukur kepada Allah Bapa di sorga atas anugerah keselamatan yang Ia berikan di dalam dan melalui Kristus yang telah mati dan bangkit. Syukur ini hendak mengingatkan umat bahwa keselamatan hanya bisa dimiliki manusia karena Allah yang menganugerahkannya. Ingat, bahwa tidak seorang manusiapun yang dapat menyelamatkan dirinya sendiri, dengan segala kekuatan, kepintaran, kekuasaan dan kekayaan yang dimilikinya. Pemahaman ini penting untuk disadari sebagai pijakan iman kita bahwa oleh karena anugerah Allahlah kita bisamenerima keselamatan. Hidup kita adalah anugerah, maka jangan ada orang yang meninggikan diri di hadapan sesama terlebih Tuhan.


Anugerah kasih Allah yang menganugerahkan keselamatan dan hidup kekal itulah yang juga membawa kita dalam relasi dengan Allah yang sepenuhnya diwarnai dengan cinta kasih Allah. Dalam anugerah-Nya itu, kita juga dimampukan untuk beriman. Beriman kepada Allah dalam perjalanan hidup dalam wujud menerima Kristus dan tetap setia dalam menghadapi berbagai pergumulan dan tantangan. Ya, meski anugerah keselamatan itu telah menjadi bagian kita, namun bukan berarti kita terlepas dari pergumulan hidup.


Setiap orang percaya perlu menyadari dengan sesadar-sadarnya bahwa tantangan dan pergumulan masih bisa melanda. Bahwa tantangan imannya pun juga masih akan muncul. Dengan memiliki kesadaran ini, orang percaya akan menjadi pribadi yang dewasa dalam beriman, tidak cengeng dan mudah putus asa sebab ia tahu bahwa pergumulan dan tantangan merupakan bagian dari kehidupan yang harus dijalani dan dihadapi.

Walau demikian, orang-orang percaya tetap bisa tegar karena ia tidak sendirian. Allah tetap menyertai umat-Nya dengan kasih dan kuasa-Nya. Bahkan orang percaya mengalami pemeliharaan dalam kekuatan Allam dalam seluruh segi kehidupannya termasuk dalam imannya. Itulah mengapa Petrus memotivasi pembaca untuk bergembira walau ada derita sengsara yang harus dialami dan dihadapi. Gembira dan sukacita itu sangat berdasar sebab yang pertama bahwa apa yang akan orang percaya terima adalah kehidupan yang tak akan layu, kehidupan kekal bersama dalam kerajaan-Nya. Ini tidak bisa ditukar dengan apapun juga termasuk oleh penderitaan terberat di dunia sekalipun. Orang-orang percaya diingatkan bahwa mereka telah masuk dalam karya keselamatan Allah dalam Kristus sehingga inilah yang tetap menguatkan mereka. Yang kedua, orang-orang percaya tetap dan senantiasa mendapatkan penyertaan, pertolongan dan pemeliharaan Allah dalam kekuatan-Nya yang tak tertandingi.

Jemaat yang dikasih Tuhan Yesus Kristus,

Begitu besarnya kasih Allah pada kita. Hikmat-Nya begitu luas tak terselami dalam segala karya-Nya. Tetapi satu hal, Ia memperlihatkan kepada kita tentang sebuah cinta kasih yang mulia dan megah. Sedemikian Allah mengasihi kita sehingga Ia rela untuk menebus kita melalui kerendahan, penderitaan dan kematian untuk menebus kita dari dosa-dosa kita. Kita bersyukur dalam kuasa kebangkitan-Nya kita dibawa masuk dalam naungan kasih ilahi yang tak tertandingi. Allah merancang hal tersebut dengan penuh kecermatan dan persiapan yang matang. Para nabi telah menerima nubuat itu dan menggerakannya dalam pemberitaan mereka. Para nabi telah meneliti dan mencermati dan menemukan kedalaman kasih Allah di dalam karya yang dilakukan-Nya melalui Kristus. Bahkan karya Allah itu sendiri pun mengundang rasa heran dan penasaran para malaikat-Nya. Betapa mengagumkan segala perbuatanAllah dalam hidup kita. 


Merasakan limpahan kasih ilahi dengan bertubi-tubi seperti ini, rasa-rasanya tepat jika dikatakan bahwa apa yang kita rasakan dan terima itu sangat lebih dari cukup. Yang lebih bagi kita sehingga kita tetap terus berjalan dalam hidup yang sementara ini dan berjuang di dalam hidup yang fana ini. Itu artinya jika karena iman, kita menghadapi tantangan, pergumulan, derita dan aniaya sekalipun, tidak sedikitpun iman kita bergeser dari kasih Allah. Gumul juang derita aniaya bisa berbentuk apapun dan bahkan bagi sebagian orang, itu data silih berganti namun ingatlah satu hal yang pasti, itu semua tak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah. Allah tak pernah meninggalkan kita. Ia menyertai kita dalam badai yang terbesar sekalipun sebab Ia setia. Ia pasti bekerja dalam cara dan kuasa yang begitu luar biasa untuk memelihara dan menguatkan serta memampukan kita menghadapi dan melewati badai itu. Mahkota kemenangan telah Allah persiapkan bagi kita yang tetap bertekun dan setia mengikuti-Nya dalam iman kepada-Nya. Melalui perjuangan ada kemenangan dan kemuliaan. Mari andalkan Dia dan selalu berharap pada-Nya senantiasa. Amin.  D.N.U/lph/SGDK/Edisi 44.

DOA; sangat besar kuasanya

YESUS MEMBUATMU BERHARGA