TEGAS BERHIKMAT

Bacaan : 1 Raja-raja 2 : 22 – 27

PENGANTAR
Kenyataan yang tumbuh di tengah kehidupan masyarakat kita sungguh sangat memprihatinkan. Khusus masalah korupsi dan terorisme tumbuh di negeri ini dan sepertinya sulit diberantas. Korupsi yang terus merajalela merupakan penyakit akut yang telah menjangkiti setiap sendi kehidupan bangsa. Banyak orang menyadari dan mengakui merupakan hal yang berbahaya, namun hukum dalam pemberantasan korupsi masih terbilang lemah. Ada juga yang berpendapat bahwa korupsi terus merajalela, karena adanya mata rantai "kleptokrasi" (diperintah para pencuri) belum terputus sehingga menyebar kemana-mana. Demikian pula masalah terorisme. Indonesia masih menjadi surga bagi para teroris, salah satu penyebabnya adalah karena lemahnya penegakan hukum bagi para pelaku aksi terorisme tersebut. Lemahnya sistem hukum dan penegakannya di negeri ini dinilai menjadi penyebab tumbuhnya aksi korupsi oleh para koruptor dan aksi teror oleh para teroris.
 
TELAAH PERIKOP

Tujuan dari I & II Raja-Raja adalah untuk menunjukkan apabila raja menunjukkan kesetiaan kepada Allah dan memerintah dengan adil, maka bangsanya akan diberkati. Sebaliknya pada saat raja tidak mengindahkan firman Allah dan memerintah dengan semena-mena, maka bangsanya mengalami kemerosotan, terpecah, dan ditaklukkan oleh musuh-musuhnya. Kedua kitab ini menjelaskan berkat-berkat yang diterima akibat kesetiaan dan ketaatan kepada Tuhan, dan hukuman yang ditimpakan-Nya karena ketidaksetiaan dan ketidak-taatan.
Sebelas fasal pertama dengan kitab I Raja-Raja membahas sekitar pemerintahan Salomo. Kitab I Raja-Raja diawali dengan laporan bahwa Daud telah memerintah kira-kira 40 tahun. Sekarang ia telah lanjut usia dan sakit-sakitan. Adonia, anaknya yang tertua yang masih hidup bersekongkol dengan Yoab, keponakan Daud dan panglima pasukan, dan Abyatar, imam kepala untuk menjadikan dirinya sebagai raja walaupun ia tahu bahwa Allah telah memilih Salomo sebagai pengganti raja Daud (1 Raja-Raja 2:15). Nabi Natan mengingatkan Batsyeba akan persekongkolan ini dan Natan sendiri menghadap Daud untuk memberitahukannya tentang hal ini. Daud langsung mengangkat Salomo sebagai raja.
Pesan terakhir Daud kepada Salomo agar ia melakukan kewajibannya dengan setia terhadap Tuhan dan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dengan tetap mengikuti segala ketetapan, perintah, peraturan dan ketentuan-Nya supaya ia berhasil dalam segala yang dilakukan dan yang dituju (1 Raja-Raja 2:2-4).
Perikop I Raja-Raja 2:22-27 berisi tindakan tegas Salomo terhadap Adonia, saudaranya dan Abyatar, imam kepala. Dua orang yang pernah bersongkol untuk menduduki takhta Daud melawan penetapan Allah. Salomo agaknya membaca bahwa kedua orang ini memanfaatkan Batsyeba, ibundanya untuk mengajukan permohonan yang bertentangan dengan rencana Allah. Tindakan tegas dengan menghukum mati Adonia dan memecat Imam Abyatar ditunjukkan Salomo di awal pemerintahannya sebagai Raja Israel. Keputusan untuk mengeksekusi kedua orang tersebut dilakukan Salomo berlandaskan kebenaran yang diyakininya direstui Tuhan demi keselamatan kerajaan Israel. Tentang eksekusi Adonia, Salomo mengatakan "Oleh sebab itu, demi Tuhan yang hidup, yang menegakkan aku dan mendudukkan aku di atas takhta Daud, ayahku, dan yang membuat bagiku suatu keluarga seperti yang dijanjikan-Nya: pada hari ini juga Adonia harus dibunuh." (ay. 24). Tentang pemecatan Abyatar, Alkitab menyaksikan bahwa Abyatar pantas mendapatkannya, "Lalu Salomo memecat Abyatar dari jabatannya sebagai imam Tuhan. Dengan demikian Salomo memenuhi firman Tuhan yang telah dikatakan-Nya di Silo mengenai keluarga Eli." (ay. 27)
RENUNGAN DAN PERTANYAAN PENDALAMAN
Tindakan Salomo di awal pemerintahannya sebagai raja Israel terkesan sangat kejam dan sewenang-wenang. Keputusan Salomo untuk tidak mengabulkan permintaan ibundanya, bahkan mengeksekusi mati Adonia dan memecat imam kepala Abyatar dari jabatannya merupakan keputusan yang sangat berani. Tindakan ini dilakukan Salomo dalam kesadaran bahwa rencana masa depan Israel yang telah dinyatakan Tuhan kepada ayahnya, Daud, akan hancur jika ia tidak mengambil tindakan hukum yang tegas terhadap kedua orang itu. Demi masa depan Israel yang damai sejahtera, aman dan tenteram sesuai rancangan Allah, Salomo berani mengambil tindakan hukum tersebut. Kebijakan Salomo ini di akhir perikop (ay. 46) menyatakan bahwa kerajaan Israel semakin kokoh di tangan Salomo dan Salomo pun semakin disegani dan dihormati rakyatnya karena kebijaksanaannya itu (3:28).
Dilatarbelakangi oleh kebijakan raja Salomo ini, mari kita diskusikan dengan panduan pertanyaan-pertanyaan di bawah ini.
1. Apakah Saudara dapat menerima tindakan hukum yang dilakukan Salomo demi keselamatan masa depan Israel?
2. Apakah ketegasan kebijakan model Salomo ini harus menjadi pola bagi pemimpin bangsa di mana pun?
3. Bagaimana pandangan Saudara terhadap kebijakan hukum yang harus ditempuh para pemimpin dalam upaya pemberantasan korupsi dan aksi terorisme di negeri ini?(Sabda Guna Krida)

KASIH ALLAH MEMPERSATUKAN KELUARGA

Bacaan :1 Samuel 20: 35-43
Saudara terkasih .....
Yonatan dan Daud harus berpisah sebagai dua orang sahabat. Hidup Daud jauh lebih berharga sebab Allah punya rencana indah di masa depan. Yonatan sekalipun sedih, melepas Daud dalam doa dan pengharapan bahwa berkat Tuhan beserta. Persahabatan mereka berdimensi ilahi sebab nama Tuhan disebut dan bersifat kekal. Janji yang mengikat mereka berdua dan segenap keturunan. Yonatan percaya hidup Daud selamat dalam kasih karunia Allah sekalipun berhadapan bahaya maut. Berapa banyak sahabat saudara? Dalam jejaring sosial, seseorang bisa memiliki 1000 teman atau lebih, namun sahabat semacam apa yang kita punya?
 Sekedar mengucapkan "hai", ataukah sahabat yang turut bersama menangis dan bersukacita. Sahabat yang membantu dengan sekuat tenaga dan perhatian tanpa ada udang di balik batu. Sahabat yang memberikan saran berharga dan mendoakan keselamatan pribadi dan keluarga besar. Dalam lingkungan internal, sudahkah kita membantu anggota keluarga kita yang terjepit dan terancam hidupnya? Apakah kita berusaha mencari anggota keluarga kita dengan kesungguhan dan mendukung keberhasilan mereka di masa depan? Terputusnya hubungan keluarga bukanlah suatu prestasi yang membanggakan, karena Allah sendiri mau menjalin relasi damai dengan manusia. Tidakkah kita menyadari betapa kita hidup di luar kehendak Allah? Hanya kasih Allah yang dapat mempersatukan perbedaan sosial dan pendapat dalam keluarga. Suadara tidak perlu malu dengan kaum keluarga yang hidupnya berjuang dari bawah. Mendoakan mereka dengan kasih Allah dan mengulurkan tangan kasih yang penuh berkat, menjadi cara otentik bahwa kita saling mengasihi di dalam Kristus. Kebencian dan permusuhan hanya memalukan identitas keluarga kita dan kesaksian buruk tentang lambatnya kita menjadi pelaku Firman yang benar.
SBU, Kamis 15 September 2011

PESAN HUT KE-52 PELKAT PELAYANAN ANAK GPIB – 6 SEPTEMBER 2011


Salam Sejahtera,
Kita bersyukur dan bersukacita atas pertambahan usia yang diberikan Tuhan bagi karya Pelayanan kategorial (Pelkat) Pelayanan Anak (PA) GPIB pada 6 September 2011. 52 tahun sudah Pelayanan Anak GPIB berkreasi dan berkarya. Sebuah perjalanan waktu yang penuh dengan pemeliharaan dari sahabat sejati, Tuhan Yesus Kristus.

Dibawah payung tema Manusia Baru Yang Terus Menerus Dibaharui  dan sub tema Aku Diperbaharui, kiranya Pelayanan Anak GPIB dapat meng-aktualisasikan  gerak kreasi dan karya untuk meng-Asah-Asih-Asuh baik diantara pelayan,orangtua, presbiter dan secara khusus bagi adik-adik layan.
Gerak kreasi dan karya yang turut melibatkan peran aktif orangtua dan anggota Pelkat lainnya diharapakan dapat diwujudkan oleh Pelayanan Anak GPIB. Sehingga melaluinya kualitas diri sebagai pelayan dapat ditingkatkan serta anak-anak memiliki rasa bangga atas orangtuanya dan dapat menjadi pembawa damai  sejahtera dimanapun berada.

Sebagai upaya dalam  menjawab Aku Diperbaharui, saat ini sedang dilpersiapkan terbitnya kembali Sabda Bina Anak Harian (SBAH). Melalui SBAH ada sebuah harap, yaitu akan terwujud pola Asah-Asih-Asuh antara pelayan, orangtua dan adik layan. Selain itu berbagai pembinaan bagi pelayan (melalui Pembinaan Tingkat Dasar, Pembinaan Tingkat Lanjutan,dll) serta bagi anak (melalui materi bina anak unggul),  sudah, sedang dan masih dilaksanakan. Semua upaya ini dilakukan agar cinta kasih Allah dapat sungguh-sungguh kita maknai dan kita bagikan dalam semangat mewujudkan Aku Diperbaharui.

Perjalanan waktu pelayanan masih terbentang luas, semangat Pelayanan Anak GPIB sebagai Gereja Yang Melayani tetap harus berkobar. Kita tidak sendiri, kita mempunyai Sahabat Sejati, Tuhan Yesus Kristus. IA akan memperlengkapi dan menyempurnakan Pelayanan Anak GPIB dengan kasih dan kuasa Roh Kudus.
Bernyanyi dan Bercerita untuk Kemuliaan Allah.
Dirgahayu Pelayanan Anak GPIB, Tuhan beserta.

Medio Agustus 2011
Majelis Sinode GPIB – Dewan Pelayanan Anak 2010-2015
Rebeka Tumakaka – Tanti Tiendas – Venda Menajang – Marlene Kapahang – Ester Terroe – Olivia Fransisca – Jimmy Laurens – Benno Aipassa

SEMAKIN MENGENAL TUHAN

Bacaan Amsal 8: 22-31


Mari mengenal lebih jauh jati diri hikmat. Pertama, Ia telah ada sebelum segala sesuatu diciptakan. Hikmat ada bersama-sama Allah sejak awal sampai kekal. Kedua, apapun yang diperbuat oleh Allah, hikmat memainkan perannya secara khusus. Dengan hikmat Allah merancang dan membentuk ciptaan-Nya, lalu lahirlah sebuah mahakarya yang sempurna. Ketiga, himmat mendekatkan anak-anak manusia dengan Allah.

Begitulah hikmat memperkenalkan dirinya. Siapa yang mau mengenal dan memperoleh hikmat Allah, ia harus lebih dulu mengenal Allah.
Hikmat tak dapat diberikan tanpa lebih dulu mengenal Allah, sebab hikmat tak lebih besar dari Allah. Apakah mengenal hikmat sama dengan mengenal Allah? Hati-hati, sebab ada hikmat duniawi yang amat berbeda dengan hikmat Allah. Ingatlah firman Tuhan ini: "Karena hikmat dunia ini adalah kebodohan bagi Allah." (I Kor 3:19a). Hikmat dunia adalah pikiran manusia yang bisa disusupi oleh kelicikan, sedangkan hikmat Allah itu tulus, murni dan kudus. Hikmat dunia hanya menjangkau ruang dan waktu tertentu, sedangkan hikmat Allah menjangkau kekekalan. Hikmat Allah mengerjakan sesuatu sampai tuntas, tidak setengah-setengah atau tidak berhenti di tengah jalan. Hikmat Allah mendekatkan kita pada diri-Nya, sebab itulah tujuan dan sasarannya. Kita menjadi pusat perhatian Allah oleh karena Ia melihat gambar-Nya sendiri di dalam diri kita. Dengan hikmat Allah merangkul kita untuk mengenal diri-Nya lebih dalam, untuk mengerti pikiran dan perasaan-Nya, dan untuk memahami perbuatan-Nya yang mahabesar.

Allah senang memberitahukan apa yang dipikirkan-Nya kepada kita, sekalipun kita tak dapat mengerti semuanya secara sempurna. Tidak ada seorangpun yang mampu masuk ke dalam rahasia ilahi tanpa dibimbing oleh hikmat Allah. Bila kita sudah dibawa ke sana, kita akan berkata: "O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah!" (Rom 11:33).
SBU 10 September 2011

”MEMULIAKAN TUHAN DENGAN HARTA”

Bacaan : Amsal 3 : 9 – 10
PENGANTAR
Salah satu yang disoroti oleh kitab Amsal adalah bahwa orang harus berhikmat agar dapat mengelola hartanya dengan benar, sebab tanpa hikmat harta hanya akan menimbulkan masalah. Tuhan tidak pernah melarang kita untuk memiliki harta benda dan kekayaan karena itu juga adalah karunia Tuhan. Kita tidak disuruh menjauhkan harta benda. Sebaliknya, kita diajak untuk mengelolanya dengan benar sehingga bisa menjadi berkat, baik bagi hidup kita sendiri, bagi orang lain dan bagi pekerjaan Tuhan. Kalau nas ini mengajak kita untuk memuliakan Tuhan dengan harta maka yang dimuliakan bukan hartanya, tetapi Tuhan, sang Pemberi. Hal ini melegakan sekaligus menegangkan. Melegakan oleh karena di satu sisi berarti hartabenda juga berharga di mata Tuhan, bukan hanya doa, iman, kesalehan, perbuatan baik, dan hal-hal terpuji lainnya. Di sisi lain yang menegangkan adalah karena biasanya apa yang sudah 'masuk' susah untuk 'keluar' lagi.

TELAAH PERIKOP
Sejak zaman nenek moyang Israel, umat diajarkan untuk mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan, baik hasil bumi, hewan, bahkan persepuluhan. Itu bukan karena Tuhan ingin meminta kembali apa yang sudah Ia berikan, tapi karena dua alasan. Pertama, karena di dalam berkat yang diterima ada hak Tuhan yang harus disisihkan dan dikhususkan dari situ. Kedua, agar umat tahu bersyukur atas pemeliharaan Tuhan. Setiap pemberian harus dilandasi rasa syukur, ini yang penting. Kalau begitu memuliakan Tuhan dengan harta adalah sebuah tindakan iman, dan karena itu bila dikatakan bahwa "lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah" harus diimani juga sebagai janji Tuhan yang pasti. Masalahnya sekarang, kita suka kuatir dalam memberi kepada Tuhan. Padahal kalau kita mau jujur, ada banyak pengeluaran kita dalam sebulan yang tidak ada 'budget'nya seperti makan di restoran, mentraktir orang, beli ini dan itu, ikut arisan sana-sini, tapi itu tidak jadi soal bagi kita. Mengapa kita mesti berhitung ketika memberi persembahan, apalagi memberi persepuluhan dengan jujur? Mengapa kita tidak berani membuktikan kebenaran janji Tuhan itu? Memang ini soal iman dan kalau mau bertumbuh dalam iman kita harus segera memperbaiki pemahaman kita tentang memberi. Jangan kita merekayasa ayat ini dengan menganggap memuliakan Tuhan cukup dengan mulut yang memuji, hati yang besyukur, atau rajin berbuat baik. Itu saja! Kalau mesti memberi sesuai berkat yang diterima, "sekedarnya saja!" Bukan karena kita tidak mampu, tapi karena tidak mau. Lama-lama orang tanpa sadar lebih cenderung memuliakan harta daripada Tuhan!
Bagi kita harus jelas, memuliakan Tuhan tidak hanya soal hati dan mulut, atau dengan menolong sesama, tapi juga mempersembahkan sebagian harta kita untuk pekerjaan pelayanan Gereja. Sasarannya ialah melalui persembahan, baik persembahan dalam ibadah, persembahan persepuluhan maupun semua jenis persembahan syukur yang kemudian dikelola oleh Gereja untuk pelayanan dan kesaksian. Bukan kepada individu atau yayasan sosial, bukan pula kepada orang miskin dan para hamba Tuhan karena itu soal lain. Kalau sekarang GPIB menerapkan persembahan persepuluhan bagi warganya, maka berikanlah dengan taat dan tidak usah takut. Ini sekaligus menjadi tantangan iman, apakah kita mau taat atau terus berhitung. Mereka yang dengan setia sudah melakukannya sejak dulu dapat membuktikan kebenaran janji Tuhan ini. Apakah orang yang taat memberi persepuluhan - berapa pun jumlahnya - akan dibiarkan menjadi miskin? Tidak pernah! Kita harus jujur dalam hal ini.
SGU, Minggu, 04 September 2011 

Terbeban Namun Tertopang

Bacaan : Mazmur 55 : 23 – 24
PENGANTAR
Tidak seorang pun di dunia yang tidak pernah kuatir. Jika ada orang yang mengatakan selama hidupnya tidak pernah kuatir, adalah bohong. Kuatir adalah suatu perasaan akan takut, cemas, prihatin dan perasaan ini berhubungan erat dengan pikiran yang negatif yang mungkin terjadi di waktu yang akan datang, seperti: kuatir tidak naik kelas, tidak sembuh dari sakit, terjadi sesuatu dalam perjalanan, dan sebagainya. Kekuatiran adalah sebuah obsesi akan hal buruk yang mungkin terjadi. Kekuatiran suatu perasaan yang diciptakan sendiri dan membuat diri sendiri menjadi susah.
TELAAH PERIKOP
Mazmur ini merupakan ungkapan sebuah hati yang tertekan akibat berbagai tekanan, ancaman, fitnahan dan kejaran. Dalam keadaan hati yang tertekan itu, ia datang kepada Tuhan dalam sebuah permohonan yang disertai dengan keyakinan dan pengakuan.
 
Dengan keyakinan kepada Tuhan akan keselamatan kepada orang benar, Pemazmur mengajak orang lain untuk hidup secara tenang dalam pengharapan keselamatan. Bacaan ini dihubungkan dengan kehidupan Daud. Daud dalam hidupnya mengalami tekanan yang begitu berat, dikejar, diancam oleh raja Saul. Raja Saul dengan kekuasaan yang dimilikinya, tiada henti mengejar Daud. Dalam kondisi seperti itulah, Daud mengalami kekuatiran. Di dalam kekuatiran, terus menerus dikejar dan diancam, Daud datang memohon pertolongan Tuhan. Serahkanlah kuatirmu kepada Tuhan. Lewat pengalaman hidupnya, tertekan, terancam, tertindas, Pemazmur datang kepada Tuhan dan menyerahkan orang-orang yang berlaku jahat terhadap dirinya. Tetapi Engkau, ya Allah, akan menjerumuskan mereka ke lubang sumur yang dalam; orang penumpah darah dan penipu tidak akan mencapai setengah umurnya. Pemazmur begitu yakin bahwa Tuhan memelihara orang-orang benar dan Tuhan tidak akan membiarkan orang-orang benar hidupnya menjadi goyah. Menyerahkan kekuatiran kepada Tuhan merupakan pernyataan iman Pemazmur kepada Tuhan yang memeliharanya.

Secara psikologis, kekuatiran adalah hal yang wajar. Ketika kita sedang mengalami berbagai persoalan hidup, kekuatiran muncul. Sebagai orang yang percaya kepada Tuhan Yesus, kita harus percaya bahwa Tuhan tidak meninggalkan, membiarkan kita hidup dalam kekuatiran terus menerus karena berbagai tantangan dan persoalan hidup. Segala kekuatiran yang ada dalam diri kita, kita serahkan kepada Tuhan karena Tuhanlah yang memelihara hidup umat-Nya.
PERTANYAAN UNTUK DIPERCAKAPKAN
1. Ketika berbagai tantangan dan persoalan muncul dalam kehidupan kita, muncul kekuatiran. Coba percakapkan, mengapa kita kuatir?
2. Kekuatiran itu kita yang menciptakan dan ketika muncul kekuatiran dalam diri kita yang terjadi adalah hidup ini menjadi tidak tenang, was-was dan bingung. Sebagai orang yang percaya kepada Tuhan Yesus, apa yang harus kita lakukan ketika kekuatiran itu terjadi dalam hidup kita?
(Sabda Guna Krida;  Minggu, 28 Agustus 2011)

MANUSIA YANG BERAKHIR SEBAGAI HEWAN

Bacaan : Mazmur 49 : 21
Sabtu, 20 Ags 2011
Saudara Terkasih...
Apakah bedanya manusia dan binatang? Seorang ahli antropologi mengatakan bahwa manusia adalah "binatang yang tak tuntas (unfinished animal)." Maksudnya, mungkin agak mirip dengan binatang. Bedanya, kalau binatang itu ibarat barang buatan dia telah selesai dibuat, sedangkan manusia adalah barang belum selesai. Kalau selesai, ya dia menjadi binatang. Lalu pertanyaannya apa beda binatang dengan manusia itu? Bisa dilihat dari seekor anjing. Sekarang ini anjing-anjing sudah dimanjakan sedemikian rupa dengan makanan yang khusus dibuat untuk anjing (dog food). Seharusnya karena makanan-makanan khusus itu, anjing-anjing yang demikian itu tidak akan lagi tertarik pada makanan-makanan yang tidak begitu. Nyatanya tidak demikian. Seekor anjing peliharaan yang sudah dimandikan dan dirawat dengan baik pun, ketika terlepas dari tali pengikatnya, akan mendekati tempat pembuangan sampah yang bau. Mungkin ia akan mencium dan mengorek-ngorek sampah di tempat tersebut. Dia tetap anjing karena siklus hidupnya adalah siklus yang sudah tuntas dna dia hanya bisa hidup mengikuti naluri tersebut. Anjing sama sekali tidak memiliki peluang hidup di luar siklus naluri itu. Karena manusia adalah binatang yang tidak tuntas, karena ia dikaruniai akal dan budi, maka ia bisa terbebas dari siklus naluri itu sehingga tidak seperti anjing atau binatang lainnya. Itulah yang membedakan manusia dari binatang lainnya. Manusia yang nampaknya bergelimang kesuksesan atau kekayaan dalam ayat 17-20, dalam bahasa pemazmur tidak mempunyai pengertian (akal dan budi), sama saja dengan binatang. Bahkan lebih buruk lagi, dibinasakan karena dianggap tidak berguna. Termasuk dalam kategori ini, mereka yang merancang kejahatan karena merasa diri benar. |SBU|

Makna Sebuah DOA

Yeremia 14: 7-9
 
Saudara terkasih.....
Setiap orang percaya tentu tahu pentingnya doa. Tetapi semua orang juga menyadari betapa sulitnya berdoa dengan sungguh hati. Seorang anak misalnya, ketika masih duduk di kelas satu Sekolah Dasar sering diajak berdoa sebelum tidur. Sambil tidur dia mengatakan, "Aku sudah capek nih. Besok saja ya berdoanya, Tuhan juga ngerti kalo aku sudah capek." Yeremia, nabi Tuhan meratapi dengan sungguh pergumulan umat di zamannya. Ia menempatkan diri sebagai umat yang sangat bergumul atas berbagai hukuman Tuhan.
 Sementara itu umat sendiri tidak tergoyahkan oleh berbagai hukuman. Mereka tetap menolah Tuhan. Yeremia tidak lagi berharap umat yang tegar tengkuk itu dapat berbalik kepada Tuhan. Apa yang dapat Yeremia lakukan? Apakah ia membiarkan umatnya merana? Yeremia bertelut dan menaikkan doanya. Ia mewakili umat merendahkan diri di hadapan Tuhan. Mengaku segala dosa dan kesalahan, seraya memohon pengampunan dan pertolongan serta pemulihan. Yeremia menyadari benar bahwa tidak ada yang lain selain Tuhan, yang mampu bertindak. Yesus juga berdoa syafaat bagi dunia. Hal ini menunjukkan betapa doa merupakan nafas kehidupan orang percaya. Doa yang lahir dari hati yang tulus adalah sangat penting bagi kehidupan beriman. Di beberapa jemaat GPIB, diadakan doa subuh. Di GPIB "Sola Gratia" Bogor doa subuh dialihkan menjadi Doa Malam untuk menampung kerinduan jemaat yang ingin bergabung tetapi terhambat jika dilaksanakan di waktu subuh. Apapun namanya doa jemaat yang sehati sepikir adalah kegiatan positif. Melaluinya jemaat terbina mempraktekkan doa. Dalam doa, Roh Kudus mengambil bagian, Roma 8: 26-27. Kiranya kehidupan beriman kita dibarui melalui doa pribadi maupun doa bersama, sehingga kita dimampukan menjadi berkat bagi sesama. (SBU, Kamis 11.08.11)

TIDAK ADA KESEMBUHAN TETAPI KENGERIAN

Bacaan : Yeremia 8: 14-15
Saudara ....  
Jika hukuman sudah di depan mata dan tidak lagi bisa terhindarkan maka reaksi orang umumnya adalah: Pertama, bersikap pasrah menerima kenyataan. Apalagi didasari bahwa hukuman tersebut akibat dosa yang telah dilakukan. Kedua, bersikap melawan atau membela diri karena tidak menerima kenyataan yang terjadi. Kedua sikap ini ditunjukkan oleh umat Yehuda ketika menyadari bahwa hukuman Tuhan tidak lagi bisa terhindarkan. Ada yang duduk-duduk saja; seolah-olah tidak percaya akan hukuman yang sudah di depan mata. Mereka pun merenung dan mengakui bahwa hukuman tersebut akibat dosa yang mereka lakukan. Namun, ada yang kecewa dan gelisah karena tidak menerima kenyataan bahwa umat Tuhan pun dihukum. Mereka mengungkapkan kekecewaannya kepada Tuhan. Mengapa Tuhan membiarkan umat-Nya binasa? Mengapa Tuhan tega membinasakan umat-Nya? Sebagai umat Tuhan, mereka mengharapkan damai dan waktu kesembuhan. Tetapi mengapa yang mereka terima dan alami justru sesuatu yang tidak baik dan yang mengerikan? Tuhan tidak pernah memberikan sesuatu yang tidak baik kepada kita umat-Nya. Tuhan selalu memberikan yang terbaik dan sesuai kerinduan hati kita. Jika kita mengharapkan damai, Tuhan pasti akan memberikan damai; mengharapkan kesembuhan akan mendapatkan kesembuhan. Masalahnya, ketika sudah menerima yang terbaik dari Tuhan, kita justeru melupakan Dia dan mengabaikan semua perintah-Nya. Dalam setiap hal yang dilakukan, kita tidak berusaha menyenangkan hati Tuhan. Sebaliknya, menyakitkan hati-Nya. Inilah yang menyebabkan kita mengalami hal-hal tidak baik dan tidak sesuai harapan dalam hidup kita.
Tuhan sudah mengutus Roh Kudus-Nya untuk mengurapi dan membaharui kita. Karena itu, mari kita selalu meminta pertolongan Roh Kudus agar semua yang kita lakukan adalah kebenaran dan kehendak Tuhan saja. Maka apa pun yang kita harapkan dalam hidup kita, itulah yang akan Tuhan berikan.

JANGAN BERLAKU TIDAK SETIA

Bacaan : Lukas 19:21-24
Dalam perumpamaan ini Yesus menjelaskan bahwa sikap tidak setia menggunakan pemberian bangsawan itu akan menuai risiko hukuman dari tuannya. Ada berbagai alasan yang menyebabkan hamba ini berlaku tidak setia pada tugasnya. Antara lain karena tuannya dianggap memiliki sifat keras, sehingga menimbulkan rasa takut. Ia berdiam diri dengan harapan tidak akan salah bertindak dan menadpat hukuman dari tuannya. Padahal tuannya berharap agar ia mau berusaha dan bertanggungjawab. Kehadiran Yesus utusan Allah Bapa, menampakkan hadirnya Kerajaan Allah.
 Ia akan datang kembali sebagai Raja Kerajaan Allah yang sempurna. Masa antara kenaikan Yesus ke sorga dengan kedatangan-Nya kembali merupakan masa di mana kita sebagai anak-anak-Nya memiliki tugas panggilan mempertanggungjawabkan pemberian-Nya. Persoalannya bagaimana kita sungguh-sungguh menyadari tugas ini dan berusaha secara optimal melaksanakannya? Bagi kita yang berusaha menggunakan pemberian-Nya demi mewujudkan tanda-tanda Kerajaan Allah yang penuh dengan damai sejahtera itu, akan mendapatkan berkat yang setimpal dari Tuhan kita Yesus Kristus. Sebaliknya bagi kita yang telah menerima pemberian Tuhan, mendiamkan dan tidak menggunakannya, membuat Tuhan kecewa. Ia akan mengambil kembali pemberian tersebut dari kita, sementara bagi orang lain yang setia pada-Nya akan mengalami nilai tambah daripada-Nya. Kesadaran untuk melaksanakan tugas panggilan-Nya dengan tanggungjawab mendorong kita dengan sungguh-sungguh melaksanakan tugas panggilan-Nya, sehingga kita semua dan sebanyak mungkin mengalami damai sejahtera-Nya. Maka jika anda dicobai untuk tidak setia, lawanlah godaan itu agar anda bisa bebas dari hukuman-Nya.
KJ. 260: 3
Doa: Kita mendoakan umat yang tidak setia pada tugas panggilan Tuhan supaya sadar melaksanakan tugas itu dengan bertanggungjawab

MENCINTAI, MENERIMA, MEMBINA

Kidung Agung 4: 8-15
Jumat, 15 Jul 2011

Perikop kita menunjukkan bagaimana sang mempelai laki-laki menyapa mempelai perempuan. Ada dua kali sapaam menggunakan kata 'pengantinku'. Tapi ada tiga kali sapaan menggunakan kata 'dinda pengantinku'. Penulis mau menunjukkan pandangan pengantin laki-laki terhadap pengantin perempuan. Bahwa pengantin perempuan memang pengantinnya. Tetapi pasti pengantin perempuan lebih muda daripada pengantin laki-laki.
 Dalam hubungan itulah maka pengantin perempuan dipanggil dinda. Dinda setara dengan adik yang pasti berarti lebih muda. Orang yang lebih muda, pasti lebih kurang pengalaman hidupnya dan karenanya rentan terhadap pengaruh zaman. Kadang-kadang ini bisa berakibat pada perilaku yang sembrono. Tapi dengan tuntunan yang baik pasti yang muda ini akan berkembang pesat dan menjadi arif dalam menghadapi kehidupan. Beginilah cara Tuhan memandang Gereja-Nya. Gereja selalu dihargai dan dicintai Tuhan Allah selayaknya mempelai perempuan dicintai oleh mempelai laki-laki. Gereja juga selalu rentan terhadap pengaruh zaman. Namun tetap saja Gereja ini dicintai oleh Tuhan. Orang-orang yang lebih muda memang lebih rentan terhadap pengaruh zaman dan karena itu bisa saja khilaf. Tapi mereka tetap saja dicintai oleh Tuhan. Ini yang penting.
Hari ini kita merayakan HUT Pelayanan Kategorial Gerakan Pemuda. Orang-orang muda, adalah masa depan Gereja. Gereja harus mencintai, menerima, dan membina orang-orang muda ini dengan segala kekurangan dan kelemahan mereka. Sebab pada diri mereka sendiri mereka juga tidak ingin tetap ada dalam kekurangan dan kelemahan. Suatu gerak maju baik dari orang muda, baik dari Gereja secara keseluruhan akan memungkinkan kita memiliki orang-orang terbaik, kuat dan tangguh di masa depan. Selamat Ulang Tahun Pelkat GP.
KJ. 355:3
Doa: Agar Tuhan memberkati pelayanan pelkat GP sebagai dasar bagi kiprah Pemuda Gereja dalam masyarakat

"CINTA, CANTIK, CITA"

Bacaan : Kidung Agung 1: 2-6.

“… karena cintamu lebih nikmat dari pada anggur, harum bau minyakmu, bagaikan minyak yang tercurah namamu…”  (ay. 2b,3a)
Orang bisa bertanya, apa makna rohani nas ini. Yang terbaca hanya yang lahiriah belaka, yang lumrah ketika orang jatuh cinta. Yang wanita menyatakan dirinya cantik, walaupun hitam kulitnya. Hitam karena teriknya matahari, katanya, ketika disuruh menjaga kebun anggur (ay.5-6). Ia tidak menyembunyikan kekagumannya terhadap pria yang didambakannya. Kata-kata sanjungan atas sosok dan penampilan pria terucapkan. Cita rasa tercetus serta merta karena hubungan cinta.
Karena cinta terjalin hubungan antara dua insan. Hubungan yang istimewa itu adalah bagian dari pada hidup, yang menjadi cikal bakal kehidupan baru. Ketika Adam dipertemukan dengan pendampingnya, seorang perempuan, tercetus gejolak cintanya: “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki” (Kej. 2:33). Perempuan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari laki-laki. Ia menjadi sesama yang melekat dan dekat pada diri laki-laki. Tuhan sudah menetapkan bahwa kehidupan ini selalu dalam kebersamaan, bukan dalam keseragaman.
Tidak dapat dihindari perjumpaan antar sesama dalam kebersamaan hidup yang begitu majemuk. Acapkali orang merasa lebih aman dan tenteram pada kehidupan yang serba seragam dengan latarbelakang yang sama. Sesama dalam cita rasa itu biasanya  dimaksudkan ‘orang-orang sebangsa’ dengan budaya dan agama yang sama (baca Imamat 19:18).
Ketika Yesus mengutip nas dari Imamat dan menyebutnya ‘hukum yang kedua’. Tidak ada pemahaman di dalamnya bahwa sesama itu orang yang berlatarbelakang sama. Bahkan musuh pun adalah sesama (Mat.5:44), cita rasa yang begitu akrab antara Kristus dan jemaat digambarkan oleh Paulus, laksana hubungan kasih antara suami dan isteri. Kasih adalah  sendi hidup yang tertuju kepada sesama, tanpa menuntut balas jasa (Yoh.3:16). Di bukit Golgota Ia wujudkan kasih itu sepenuhnya.

DOA; sangat besar kuasanya

YESUS MEMBUATMU BERHARGA